Skip to main content
Iklan

Asia

'Tak bisa digantikan AI': Mengapa Thailand ingin mereformasi bisnis pijat, termasuk yang 'abu-abu'

Thailand ingin meningkatkan industri pijat dengan memperketat standar, pelatihan dan regulasi. Kepada CNA, para pengusaha dan pekerja di industri ini menyampaikan harapan dan kekhawatiran mereka.

'Tak bisa digantikan AI': Mengapa Thailand ingin mereformasi bisnis pijat, termasuk yang 'abu-abu'

Para peserta pelatihan pijat Thailand di Asosiasi Charawi untuk Pelestarian Pijat Thailand di Bangkok. (Foto: CNA/Jack Board)

BANGKOK: Ruangan itu tipikal kamar pijat pada umumnya di Thailand; matras tipis digelar di lantai kayu, para terapis berseragam oranye terlihat melemaskan jari jemari mereka.

Tapi ini bukan sesi spa biasa. Mereka adalah para pemijat pemula yang menjalani hari pertama pelatihan untuk menjadi terapis di Bangkok.

Terlihat senyum dan sesekali cekikikan terdengar di seluruh ruangan ketika para pemula itu mulai terbiasa dengan dasar-dasar gerakan memijat, tekanan dan sentuhan, yang menjadi inti dari pijat tradisional Thailand.

Mereka akan memasuki industri unggulan Thailand yang menghadapi transformasi besar. Pemerintah Thailand tengah berusaha meningkatkan kualitas, memperbaiki citra internasional pijat tradisional, dan membangun kembali tenaga kerja yang menyusut akibat pandemi COVID-19.

Bagi sebagian peserta, seperti Darunee Bhumidid, ini adalah pengalaman yang benar-benar baru. Perempuan 48 tahun itu mengaku “sama sekali tidak berpengalaman memijat” sebelum mengikuti program pelatihan selama dua minggu di ibu kota Thailand.

Ia bahkan mengaku belum pernah menginjakkan kaki di panti pijat sebelumnya.

“Ini benar-benar pertama kalinya bagi saya. Saya ingin memiliki keterampilan yang selalu bisa saya andalkan. Bahkan jika nantinya saya bekerja sebagai karyawan, saya tetap bisa menjadikannya profesi sampingan,” ujarnya.

Peserta lainnya, Yada Srisanga, sebelumnya bekerja di bandara sebelum memutuskan beralih ke industri pijat atas dorongan ibunya.

“Ibu ingin saya memiliki kehidupan yang lebih baik dan mengatakan bahwa pijat adalah profesi dengan bayaran bagus. Saat saya mencobanya, saya merasa pekerjaan ini cocok untuk saya. Pekerjaan ini nyaman, dan juga membuka peluang bekerja di luar negeri,” ujar peserta pelatihan berusia 25 tahun itu.

Dalam waktu dua minggu, kelompok ini akan memenuhi kualifikasi dan siap bekerja di salah satu dari sekitar 28.000 klinik pijat, spa, dan pusat kebugaran di Thailand.

Pemerintah Thailand telah menetapkan peraturan agar pelatihan pijat lebih konsisten dan terstandarisasi di seluruh negeri. (Foto: CNA/Jack Board)

Mereka merupakan kelompok yang bersemangat melihat peluang di industri yang berkembang cepat dan memiliki akar budaya yang kokoh di tengah masyarakat Thailand.

“Saya ingin membantu melestarikan tradisi Thailand dan saya percaya ini adalah sesuatu yang berkelanjutan. Ini milik kita, dan tidak ada yang bisa mengambilnya,” kata Darunee.

“Jika orang Thailand tidak mempelajarinya, apakah kita akan membiarkan orang lain yang mengambilnya?”

Thailand kehilangan puluhan ribu terapis selama pandemi ketika banyak usaha tutup dan para pekerja beralih ke industri lain.

Namun, sektor itu kini kembali bangkit.

Panti-panti pijat Thailand terlihat di sepanjang Sukhumvit Soi 22 di Bangkok. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

Pada 2024, total pengeluaran tahunan di industri kebugaran Thailand tumbuh lebih dari 10 persen, dengan pasar domestik bernilai US$42,7 miliar, menurut data Global Wellness Institute (GWI).

Pariwisata kebugaran, sebagai bagian penting dari industri ini, juga berkembang pesat.

Belanja pariwisata kebugaran di Thailand mencapai US$14 miliar pada 2024, dengan pertumbuhan 36,4 persen dari 2023—tiga kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global, menurut GWI.

Bisnis terkait pariwisata kebugaran di negara tersebut menghasilkan perkiraan total pendapatan sebesar US$20,5 miliar pada 2025, lapor Kementerian Pariwisata dan Olahraga.

Tiga pasar asing terbesar bagi pelanggan spa di Thailand adalah Malaysia, China, dan Singapura, menurut Asosiasi Spa Thailand.

Pemerintah Thailand memperkirakan terdapat sekitar 200.000 orang di seluruh negeri yang telah menyelesaikan program pelatihan pijat dasar, belum termasuk praktisi informal. Namun, tenaga terampil masih sangat dibutuhkan.

Pemilik tempat pelatihan pijat, Charawi Tisanto dari Charawi Association for the Conservation of Thai Massage, mengatakan bahwa jumlah pendaftar pelatihan pijat meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak siswanya adalah lulusan baru universitas dan memilih berkarier di bidang pijat dan layanan spa daripada bekerja di kantor.

Para profesional pijat berpotensi mengalami peningkatan pendapatan seiring regulasi baru pemerintah. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

“Karena pendapatannya lebih tinggi dan penerimaan terhadap profesi ini juga meningkat. Dulu, pekerjaan ini kurang bergengsi, tetapi sekarang tidak lagi,” kata Charawi.

Namun, industri pijat Thailand masih sangat terfragmentasi. Secara keseluruhan, sektor ini belum kembali ke tingkat sebelum pandemi dan masih bergantung pada dinamika pariwisata.

Pelatihan sangat bervariasi, pengawasan tersebar di berbagai lembaga, dan standar belum konsisten bagi pekerja, pelaku usaha, maupun pelanggan—bahkan ketika permintaan mulai meningkat.

"Perlu direformasi,” ujar Charawi.

Sebagai tanggapan, pemerintah mengusulkan perombakan menyeluruh pada sektor pijat untuk melindungi kualitas dan reputasi globalnya.

“Kita berada di titik balik,” kata Rutchanee Chantraket, direktur Institute of Thai Traditional Medicine di Department of Thai Traditional and Alternative Medicine (DTAM), di bawah Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand.

“Kami sedang beralih dari standar lokal ke standar kelas dunia,” ujarnya kepada CNA.

Tempat pijat banyak ditemukan di kawasan hiburan malam di Bangkok. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

ARSITEK, BUKAN POLISI

Pada Maret, DTAM memaparkan secara terbuka paket reformasi yang dirancang untuk mengatasi persoalan mendasar dalam industri pijat dan spa di Thailand.

Sejumlah perubahan yang diusulkan mencakup sistem tiga tingkat baru bagi terapis, yang dirancang agar terapis mendapatkan bayaran lebih tinggi sesuai tingkatan keahlian mereka.

Ada pula rencana memperluas pelatihan, dengan program yang dijalankan melalui universitas dan rumah sakit, termasuk keterampilan perawatan medis yang lebih terspesialisasi.

Thai Massage College di bawah Kementerian Kesehatan Masyarakat bertujuan memprofesionalkan terapi pijat, dengan pelatihan yang akan dilaksanakan di 18 pusat khusus pengobatan tradisional Thailand dan 38 universitas yang menawarkan gelar di bidang Pengobatan Tradisional dan Integratif Thailand.

Selain itu, sistem identitas digital baru akan digunakan untuk melacak kualifikasi, guna membantu meningkatkan standar di seluruh industri pijat Thailand, menurut DTAM.

Pada praktiknya, regulasi baru ini akan menciptakan jenjang karier, mulai dari praktisi promosi kesehatan dengan minimal 150 jam pelatihan, hingga praktisi spesialis yang berfokus pada keterampilan terapeutik, sampai profesional berlisensi dengan pelatihan hingga empat tahun.

“Tantangan utama ada pada kelompok pekerja. Kami perlu memastikan bahwa apa yang mereka pelajari sesuai dengan standar hukum,” kata Rutchanee, merujuk pada mereka yang hanya pernah menjalani pelatihan 60 jam atau kurang.

“Kami tidak ingin menjadi polisi bagi industri ini. Kami ingin menjadi arsitek ekosistemnya agar memudahkan pelaku usaha.”

“Kami ingin dunia melihat Thailand lebih dari sekadar tempat untuk pijat saat liburan. Kami adalah destinasi wellness premium. Ini adalah soft-power kami. Kami mengambil kearifan kuno Thailand dan mengubahnya menjadi solusi kesehatan modern,” ujarnya.

Rumah Sakit Siriraj berupaya meningkatkan posisi pijat sebagai alat pelengkap bersama pengobatan tradisional. (Foto: CNA/Jack Board)

Pelaku industri berupaya menambah nilai dengan memperkuat penawaran premium dan memosisikan ulang pijat sebagai layanan kesehatan dan terapi.

“Kami fokus pada kualitas, bukan kuantitas,” kata Sunai Wachirawarakarn, presiden Thai Spa Association.

Ia menyambut baik reformasi tersebut sebagai “langkah krusial”, sekaligus peluang meningkatkan keterampilan praktisi dan mempersiapkan mereka menghadapi lingkungan ekonomi yang cepat berubah dan kompetitif.

“Salah satu keunggulan kompetitif utama sektor ini adalah sesuatu yang tak bisa digantikan oleh AI. Bahkan jika ada robot yang memiliki otot, tetap tidak bisa menggantikan sentuhan manusia.

“Orang-orang yang kami miliki sangat berharga, jadi kami harus memastikan mereka mendapatkan keterampilan yang tepat.”

Rumah Sakit Siriraj, rumah sakit pemerintah tertua dan terbesar di Thailand, tengah berupaya memperkuat kredibilitas ilmiah pengobatan tradisional Thailand.

Institusi ini memainkan peran penting dalam memformalkan profesi tersebut dengan menawarkan program sarjana dan pascasarjana di bidang pengobatan tradisional Thailand terapan serta membantu menetapkan standar internasional untuk “Nuad Thai”.

“Nuad Thai” adalah pijat tradisional Thailand yang menggabungkan akupresur, peregangan, dan pengolahan garis energi.

Penerima pijat biasanya tetap berpakaian lengkap dan tidak menggunakan minyak. Praktik ini telah ada sejak sekitar 2.000 tahun lalu dan secara tradisional diajarkan di kuil.

Para praktisi dilatih berdampingan dengan dokter, dan teknik tradisional dipelajari melalui pendekatan ilmiah modern.

Tujuannya adalah mengubah pijat dari layanan kebugaran yang regulasinya longgar menjadi bentuk layanan kesehatan yang diakui, didukung oleh riset dan penerapan klinis, kata Pravit Akarasereenont, kepala Siriraj Center of Applied Thai Traditional Medicine.

Meski bukan jalur yang akan ditempuh oleh sebagian besar terapis pijat, ia yakin pendekatan ini dapat menyebar ke industri yang lebih luas dan membantu meningkatkan standar secara nasional.

Naree Khumphoklang, mengenakan pakaian biru, menerima pijatan dari rekannya di Thanya Aroma Spa di Bangkok. (Photo: CNA/Jack Board)

IDENTITAS GANDA

Saat malam tiba di pusat kota Bangkok, kehidupan mulai ramai di luar deretan panti pijat di kawasan Asok.

Di sini, para perempuan duduk di depan panti pijat di sepanjang jalan, berusaha menarik pelanggan yang kebanyakan wisatawan asing.

Terlepas dari prestise budaya dan warisannya, pijat Thailand masih bergulat dengan identitas ganda. Di samping terapis profesional, terdapat nilai ekonomi bayangan yang mengaburkan batas antara layanan kebugaran dan praktik ilegal.

Dalam dunia pijat Thailand dikenal istilah praktisi “putih”, yaitu sebutan untuk pemijat yang mematuhi hukum, berbeda dengan pemijat “abu-abu". Perbedaan ini dianggap merusak kepercayaan dan memengaruhi persepsi terhadap industri pijat.

“Saat ini ada banyak tempat seperti itu dan mereka berdampak negatif pada bisnis yang legal,” kata Charawi.

“Pelanggan sering meminta hal-hal yang tidak senonoh, ini menjadi tantangan bagi tempat pijat profesional. Kami ingin instansi pemerintah menangani masalah ini dengan lebih serius.”

Darunee mengatakan ia melihat banyak lowongan kerja di daerahnya yang mencari “terapis abu-abu”, situasi yang membuatnya bingung sekaligus berhati-hati.

“Pasangan saya khawatir saya masuk ke bidang ini, takut ada layanan yang tidak pantas,” ujarnya.

“Saya akan menghindari tempat dengan banyak pelanggan asing karena saya masih khawatir dan saya juga masih baru.”

Terapis pijat yang masih dalam pelatihan dapat menemukan pekerjaan di sekitar 28.000 klinik pijat, spa, dan pusat kebugaran di Thailand. (Foto: CNA/Jack Board)

Rutchanee mengakui bahwa pengawasan terhadap aktivitas yang belum diatur ini masih longgar. Menurutnya, pemerintah kini berupaya memperbaiki citra industri pijat melalui branding yang lebih jelas, dengan mendorong penggunaan istilah “Nuad Thai” ketimbang “Thai massage”.

Ia mengatakan perubahan ini serupa dengan bagaimana “Muay Thai” dikenal secara global sebagai seni bela diri Thailand dan memiliki standar yang seragam.

Namun saat ini, banyak panti pijat juga menawarkan berbagai jenis perawatan lain, termasuk aromaterapi, pijat minyak, pijat kaki, atau lulur tubuh.

Secara keseluruhan, regulasi—yang akan berlaku untuk semua jenis layanan pijat—berpotensi menimbulkan konsekuensi. Standar dan upah yang lebih tinggi bagi terapis bisa berarti kenaikan harga bagi pelanggan.

Di tengah ekonomi Thailand yang sedang lesu, beberapa pemilik usaha, seperti Aksika Chantarawinij yang mengelola Thanya Aroma Spa di Bangkok, khawatir kenaikan harga dapat mengurangi jumlah pelanggan.

“Biaya untuk merawat atau menyembuhkan diri sendiri biasanya dipandang sebagai pengeluaran tidak wajib,” ujarnya.

Sebagian besar pelanggannya adalah pekerja setempat yang ingin meredakan “Office Syndrome”, dengan gejala seperti nyeri leher, bahu, dan punggung, sering kali beberapa kali dalam seminggu.

Namun, ia menyadari bahwa kenaikan harga merupakan langkah yang diperlukan agar para terapis bisa memperoleh penghasilan yang layak.

“Sebagian perempuan muda ini adalah tulang punggung keluarga. Semua terapis saya menafkahi keluarga mereka dari penghasilan pijat,” ujarnya.

Seorang staf Rumah Sakit Siriraj melihat mural yang menggambarkan praktik pijat Thailand kuno. (Foto: CNA/Jack Board)

Salah satu stafnya adalah Naree Khumphoklang, 49, yang telah 10 tahun bekerja di industri ini. Saat ini, ia mengatakan biasanya memperoleh penghasilan antara 15.000 baht hingga 25.000 baht per bulan (sekitar Rp8 juta hingga Rp13 juta).

Ia terbuka terhadap regulasi tambahan, selama persyaratannya tidak terlalu menambah beban biaya bulanannya.

“Untuk pelatihan atau sertifikasi tambahan, saya harus mengeluarkan lebih banyak waktu dan uang. Tapi di sisi lain, itu bisa menjadi hal baik karena membuat profesi ini lebih kredibel,” ujarnya.

“Saat ini, penghasilan tidak stabil. Ada hari ramai, ada juga yang sepi. Tapi jika saya harus membayar mahal untuk pelatihan sendiri, itu bisa menjadi sulit.”

Kembali di ruang kelas, perdebatan tentang standar, harga, dan reformasi mungkin masih terasa jauh, tetapi sudah dianggap penting oleh para siswa yang akan memulai karier baru.

Jika reformasi yang dilakukan pemerintah berjalan, industri yang mereka masuki bisa sangat berbeda dari sebelumnya. Namun, saat mereka melenturkan badan dan menekan titik-titik di anggota tubuh pelanggan, unsur kemanusiaan tetap menjadi hal yang paling terasa dalam proses belajar memijat.

“Ketika saya melihat pelanggan menikmati dan senang setelah pijat, itu membuat saya merasa bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain. Itulah yang membuat saya mencintai profesi ini,” kata Yada.

“Saya percaya pijat Thailand adalah kearifan budaya sekaligus cara untuk membantu orang.”

Laporan tambahan oleh Jarupat Karunyaprasit.
 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ew)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan