Skip to main content
Iklan

Asia

Thailand lancarkan serangan udara ke Kamboja, konflik semakin memanas

Sedikitnya satu tentara Thailand tewas sementara empat lainnya terluka dalam bentrokan terkini dengan Kamboja, menurut militer Thailand.

Thailand lancarkan serangan udara ke Kamboja, konflik semakin memanas

Petugas Pusat Aksi Ranjau Thailand (TMAC) mendemonstrasikan peledakan ranjau PMN-2 dalam kunjungan media yang diselenggarakan oleh Angkatan Darat Kerajaan Thailand, menyusul gencatan senjata antara Kamboja dan Thailand, di provinsi Surin, Thailand, 20 Agustus 2025. (Foto arsip: REUTERS/Chalinee Thirasupa)

08 Dec 2025 11:18AM (Diperbarui: 08 Dec 2025 03:25PM)

BANGKOK/PHNOM PENH: Thailand telah melancarkan serangan udara di bagian perbatasan dengan Kamboja yang statusnya masih bersengketa, kata militer Thailand pada Senin (12/8).

Eskalasi tersebut terjadi setelah kedua negara saling menuduh telah melanggar perjanjian gencatan senjata, yang sebelumnya dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menurut pernyataan militer Thailand, sedikitnya satu tentara mereka tewas sementara empat lainnya terluka dalam serangan Kamboja di dua wilayah di provinsi paling timur, Ubon Ratchathani.

“Thailand kini telah mulai menggunakan pesawat untuk menyerang sasaran militer di beberapa area,” demikian bunyi pernyataan itu.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Kamboja mengatakan militer Thailand telah melancarkan serangan fajar terhadap pasukan mereka di dua lokasi, namun pasukan Kamboja tidak membalasnya.

Tapi sebaliknya, militer Thailand mengatakan bahwa Kamboja telah menembakkan roket BM-21 ke area sipil Thailand, meski tidak ada laporan korban jiwa.

RANJAU TERINJAK, GENCATAN SENJATA KANDAS

Sengketa perbatasan Thailand-Kambodia sebelumnya memicu konflik lima hari pada Juli lalu. Gencatan senjata kemudian disepakati melalui mediasi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Perjanjian damai yang diperluas juga ditandatangani oleh kedua negara dengan disaksikan Trump di Kuala Lumpur pada Oktober lalu.

Sedikitnya 48 orang tewas dan sekitar 300.000 orang terpaksa mengungsi selama bentrokan Juli, di mana kedua negara saling menembakkan roket dan artileri berat.

Setelah ledakan ranjau bulan lalu yang melukai parah seorang tentaranya, Thailand memutuskan untuk tidak melanjutkan implementasi pakta gencatan senjata dengan Kamboja.

Mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen — yang juga ayah Perdana Menteri Hun Manet — mengatakan bahwa militer Thailand mencoba memprovokasi serangan balasan, dan meminta pasukan Kamboja untuk menahan diri.

“Batasan untuk merespons sudah ditetapkan. Saya minta semua komandan di setiap level memberikan pencerahan yang sesuai kepada seluruh perwira dan prajurit,” tulis Hun Sen di Facebook tanpa memberikan rincian.

Di Thailand, lebih dari 385.000 warga sipil di empat distrik perbatasan sedang dievakuasi. Lebih dari 35.000 sudah berada di penampungan sementara, kata militer Thailand.

Sengketa antara Thailand dan Kamboja yang meliputi sejumlah titik di sepanjang 817km perbatasan darat telah berlangsung lebih dari satu abad. Saat pertama kali dipetakan oleh Prancis pada 1907 ketika Kamboja di bawah jajahannya, titik-titik tersebut tidak sepenuhnya jelas.

Ketegangan antara Thailand and Kamboja sesekali meledak menjadi bentrokan, seperti baku tembak artileri selama satu minggu pada 2011, meskipun telah ada upaya penyelesaian sengketa secara damai.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Reuters/jt/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan