Skip to main content
Iklan

Asia

Thailand-Kamboja kembali bersitegang, Malaysia tawarkan perundingan damai baru

Padahal baru bulan lalu kedua negara meneken perjanjian damai, disaksikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump.

Thailand-Kamboja kembali bersitegang, Malaysia tawarkan perundingan damai baru

Papan peringatan yang dipasang personel militer Thailand di dekat Chong Chub Ta Mok, perbatasan Thailand–Kamboja, tempat ranjau ditemukan. (Foto: Reuters/Chalinee Thirasupa)

KUALA LUMPUR: Thailand dan Kamboja pekan ini kembali bersitegang di perbatasan sengketa kedua negara, memicu evakuasi ratusan warga. Menanggapi situasi ini, Malaysia menawarkan perundingan damai baru setelah kesepakatan sebelumnya tidak bisa dipertahankan.

Ketegangan kali ini diwarnai oleh tewasnya seorang warga di perbatasan Kamboja dalam baku tembak militer kedua negara pada Rabu lalu (12/11), tiga orang lainnya terluka. Baku tembak terjadi setelah dua hari sebelumnya tentara Thailand terkena ledakan ranjau darat saat berpatroli di perbatasan, membuatnya kehilangan satu kaki.

Thailand menuduh Kamboja sebagai pihak yang bertanggung jawab atas ledakan itu dan mengumumkan penangguhan pelaksanaan gencatan senjata yang turut dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump bulan lalu.

Pada Kamis (13/11), ratusan warga dari Desa Prey Chan di Provinsi Banteay Meanchey, barat laut Kamboja, lokasi terjadinya penembakan, dievakuasi ke sebuah kuil Buddha sekitar 30km dari perbatasan.

Perdana Menteri Kamboja Hun Manet pada Rabu menyerukan penyelidikan independen atas insiden tersebut untuk memberikan keadilan bagi para korban penembakan.

Sementara Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau baru yang melanggar kesepakatan gencatan senjata, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Kamboja. Thailand juga menyatakan akan menangguhkan pelaksanaan perjanjian itu tanpa batas waktu, serta menuntut Kamboja untuk meminta maaf, melakukan penyelidikan menyeluruh, dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar insiden serupa tidak terulang.

MALAYSIA TAWARKAN PERUNDINGAN BARU

Menyusul ketegangan beberapa hari terakhir, Malaysia menawarkan diri menjadi tuan rumah perundingan damai baru. Usulan tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Menteri Luar Negeri Mohamad Hasan pada Kamis (13/11).

Dalam unggahan di Facebook pada Kamis malam, Anwar mengatakan ia telah berbicara lewat telepon dengan PM Thailand Anutin Charnvirakul dan PM Kamboja Hun Manet.

“Kedua pemimpin … menegaskan kembali komitmen mereka untuk mencari penyelesaian secara damai, sesuai dengan kesepahaman yang tercantum dalam Perjanjian Damai Kuala Lumpur,” tulis Anwar, tanpa menyebutkan kapan ia berbicara dengan kedua pemimpin tersebut.

Perjanjian Damai Kuala Lumpur, disaksikan oleh Presiden AS Donald Trump dalam KTT ASEAN bulan lalu, bertujuan mengakhiri konflik setelah bentrokan perbatasan Juli yang menewaskan puluhan orang dan menyebabkan lebih dari 300.000 warga mengungsi.

“Saya menegaskan kembali posisi Malaysia bahwa persahabatan dan gencatan senjata antara kedua negara harus terus diperkuat sesuai kesepakatan yang dicapai di Kuala Lumpur bulan lalu,” kata Anwar, yang negaranya tahun ini menjadi ketua ASEAN.

“Saya juga menyampaikan kesiapan Malaysia untuk terus berperan sebagai fasilitator dalam menempuh jalan menuju perdamaian,” tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Mohamad Hasan mengatakan pembicaraan antara kedua negara “diperkirakan akan segera digelar”, kemungkinan di Kuala Lumpur.

“Mereka telah menghubungi kami. Kamboja meminta agar pertemuan diadakan di Kuala Lumpur, dan Thailand pun meminta agar kami melanjutkan upaya menjaga gencatan senjata,” ujar Mohamad pada Kamis seperti dikutip kantor berita Bernama.

 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan