Di tengah gempuran tarif Trump, menlu AS hadiri pertemuan ASEAN di Malaysia, apa agendanya?
Marco Rubio akan berupaya memperkuat hubungan AS dengan para mitra dagang ASEAN, tugas yang dipersulit oleh strategi tarif global Trump.
Marco Rubio (kanan) berbicara dalam kampanye Donald Trump, di Pennsylvania pada 29 Oktober 2024. (Foto: REUTERS/Brendan McDermid)
WASHINGTON: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio akan mengunjungi Malaysia pekan ini untuk menghadiri pertemuan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tarif impor baru terhadap mitra-mitra dagang AS termasuk di Asia.
Departemen Luar Negeri AS pada Senin (7/7) mengumumkan kunjungan tersebut, kali pertama Marco ke Asia sebagai diplomat tertinggi AS. Perjalanan yang berlangsung 8-12 Juli ini digambarkan sebagai penegasan kembali komitmen Washington terhadap kawasan Indo-Pasifik.
Namun, hanya dalam hitungan jam Trump kemudian mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 25 persen hingga 40 persen mulai 1 Agustus atas impor dari enam dari 10 negara ASEAN, yang menteri-menterinya akan ditemui Marco di Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia.
Malaysia menghadapi tarif sebesar 25 persen, Indonesia sebesar 32 persen, Kamboja dan sekutu AS Thailand sebesar 36 persen, serta Laos dan Myanmar 40 persen.
Juga tidak luput dari gempuran tarif 25 persen adalah sekutu utama AS di Asia, Jepang dan Korea Selatan, yang merupakan mitra penting dalam menyeimbangkan kekuatan China yang semakin meningkat. Marco belum mengunjungi kedua negara sekutu itu sejak menjabat pada Januari.
KEMITRAAN KONON
Marco akan berupaya memperkuat hubungan AS dengan para mitra dan sekutu yang terguncang oleh strategi tarif global Trump. Pengumuman Trump tampaknya akan membuat tugas tersebut semakin sulit.
Kunjungan ini adalah bagian dari pembaruan upaya AS mengalihkan perhatian kepada kawasan Indo-Pasifik dari fokus pemerintahan Trump selama ini terhadap wilayah konflik di Timur Tengah dan Eropa.
"Topik utama yang ingin beliau tekankan tentu saja adalah menegaskan kembali komitmen kami terhadap Asia Timur, ASEAN, Indo-Pasifik, bukan sekadar untuk formalitas semata," ujar seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri kepada wartawan.
"Saya rasa pesan kunci yang ingin disampaikan Menlu adalah bahwa kami memiliki komitmen dan menjadikan kawasan ini prioritas karena ini adalah kepentingan Amerika, kan? Ini memajukan kemakmuran dan keamanan Amerika."
Pejabat tersebut mengatakan Marco siap untuk membahas perdagangan, termasuk menegaskan kembali perlunya penyeimbangan signifikan hubungan perdagangan, dan menyampaikan pesan titipan Gedung Putih serta Perwakilan Dagang AS.
Negara-negara ASEAN merasa was-was dengan tarif Trump dan mempertanyakan kesungguhan pemerintah yang menganut prinsip "America First" untuk sepenuhnya terlibat dalam ranah diplomasi dan ekonomi dengan kawasan ini.
"Ada keinginan besar untuk mendapat jaminan bahwa AS benar-benar menganggap Indo-Pasifik sebagai teater utama kepentingan AS, kunci keamanan nasional AS," ujar Greg Poling, direktur Program Asia Tenggara di Center for Strategic and International Studies di Washington.
ANCAMAN TARIF, IMING-IMING PERJANJIAN DAGANG
Pada hari Minggu, Trump juga mengirimkan pesan kepada negara-negara berkembang anggota kelompok BRICS yang sedang bertemu di Brasil, mengancam tambahan tarif 10 persen bagi negara mana pun yang mendukung kebijakan "anti-Amerika". Grup ini mencakup Indonesia, serta China dan India.
Selain itu, Trump mengatakan AS hampir menyelesaikan beberapa perjanjian dagang dan akan memberitahukan kenaikan tarif untuk negara-negara lainnya pada 9 Juli.
Juga pada Minggu, Penasihat Keamanan Presiden Korea Selatan, Wi Sung-lac, betolak ke Washington untuk membahas perdagangan dan pertahanan, dengan harapan Seoul dapat menghindari tarif AS. Ia bertujuan bertemu dengan Marco dan membahas kemungkinan KTT antara Trump dengan Presiden Lee Jae Myung, yang baru saja menjabat bulan lalu.
Pekan lalu, Trump mengumumkan bahwa ia telah mencapai kesepakatan dagang dengan mitra penting ASEAN, Vietnam, dan dapat mencapai kesepakatan serupa dengan India. Namun ia meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Jepang, yang bukan saja sekutu utama AS di Asia tetapi juga investor besar di AS.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.