Skip to main content
Iklan

Asia

'Tak ada work-life balance': Mengapa anak muda China kian menjauhi Beijing?

Jumlah anak muda usia 20 sampai 29 tahun berkurang hampir separuhnya di Beijing dalam 10 tahun terakhir. CNA menelusuri bagaimana generasi muda China kini menghitung ulang untung-rugi hidup di ibu kota, meski Beijing tetap menjadi magnet bagi talenta terbaik.

'Tak ada work-life balance': Mengapa anak muda China kian menjauhi Beijing?

Pemandangan cakrawala kota dari atap sebuah gedung di Beijing, China, 18 Oktober 2025. (FOTO: Reuters/Tingshu Wang)

BEIJING: Zhao Haozhe, 20, belum pernah tinggal di kota lain selain Beijing.

Namun, mahasiswa keperawatan tingkat dua itu sudah mulai melirik peluang di luar ibu kota China saat merencanakan kehidupannya setelah lulus.

Meski yakin keahliannya akan dibutuhkan di kota kelahirannya, Zhao mengatakan kepada CNA bahwa ia berencana memprioritaskan peluang kerja di daerah lain, kemungkinan di luar kota-kota tier satu di China, yang menurutnya menawarkan biaya hidup lebih rendah untuk membangun kehidupan mandiri.

“Saya penasaran bagaimana rasanya tinggal di luar kota asal, jauh dari keluarga, dan membangun kehidupan sendiri,” ujar Zhao, yang saat ini menempuh program diploma di sebuah institusi pendidikan tinggi di Distrik Changping, Beijing utara.

“Biaya hidup dan sewa tempat tinggal relatif lebih murah di daerah lain, jadi akan lebih mudah menjalani hidup meski tanpa dukungan keluarga di kota asal saya,” tambahnya.

Zhao Haozhe, mahasiswa keperawatan berusia 20 tahun di Beijing, mengatakan dirinya terbuka untuk mencari peluang di luar ibu kota China setelah lulus. (FOTO: CNA/Hu Chushi)

MENGHITUNG ULANG PILIHAN HIDUP

Cara pandang Zhao mencerminkan adanya pergeseran pandangan di kalangan anak muda Beijing.

Daya tarik Beijing yang selama ini dikenal sebagai tempat terbaik untuk menempuh pendidikan, membangun karier, dan meningkatkan status sosial kini semakin sering ditimbang ulang dengan berbagai tantangan, mulai dari persaingan kerja yang kian ketat, mahalnya biaya perumahan, hingga munculnya peluang di kota-kota lain di China maupun di luar negeri.

Dalam satu dekade terakhir, jumlah penduduk Beijing yang berusia 20 hingga 29 tahun menyusut sekitar 46 persen, dari sekitar 4,62 juta orang pada 2015 menjadi 2,49 juta orang pada 2024. Angka tersebut dihitung berdasarkan data resmi pemerintah kota dan dipublikasikan pada Mei lalu oleh media bisnis China Economic Observer.

Jumlah penduduk mengacu pada mereka yang secara rutin tinggal di suatu wilayah selama lebih dari enam bulan. Artinya, angka tersebut mencakup anak muda dari berbagai daerah di China yang belajar atau bekerja di Beijing, bukan hanya mereka yang lahir dan terdaftar sebagai penduduk ibu kota.

Para analis mengingatkan agar angka tersebut tidak dimaknai secara sederhana sebagai eksodus besar-besaran. Menurut mereka, penurunan itu harus dilihat dalam konteks perubahan demografi yang lebih luas, mengecilnya jumlah penduduk usia muda, perubahan arus migrasi, serta perkembangan kondisi perkotaan dan pasar tenaga kerja di Beijing.

"Saya akan berhati-hati jika penurunan jumlah anak muda di Beijing langsung dianggap sebagai bukti bahwa kota ini kehilangan daya tarik bagi generasi muda," kata Zhao Litao, peneliti senior di East Asian Institute (EAI), National University of Singapore, kepada CNA.

"Tren ini memang nyata, tetapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan."

Meski demikian, menyusutnya jumlah penduduk muda sudah mulai menimbulkan dampak nyata di kota tersebut, termasuk melemahnya permintaan di sebagian pasar perumahan dan sewa, menurut agen properti yang diwawancarai CNA.

Pemandangan cakrawala kota di Beijing, China, 11 Mei 2026. (FOTO: Reuters/Tingshu Wang)

Dalam wawancara dengan CNA, mahasiswa, agen properti, dan para ahli menggambarkan Beijing sebagai kota yang masih mampu menarik talenta muda, tetapi keputusan untuk tetap tinggal di sana kini semakin rumit untuk dipertimbangkan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Beijing masih menjadi magnet bagi mereka yang mencari peluang. Pertanyaannya adalah apakah bertahan di ibu kota kini semakin menjadi pilihan yang selektif dan mahal bagi generasi muda.

Perhitungan itulah yang kini dihadapi Cui Xuan, perempuan 22 tahun asal Provinsi Shandong yang tinggal kurang dari dua bulan lagi menyelesaikan studi desain produk di sebuah universitas negeri di Beijing.

Setelah lulus, ia berencana menerima tawaran pekerjaan di Sydney, tempat ia menjalani magang selama setahun sebagai bagian dari program studinya.

Seperti Zhao Haozhe, Cui mengatakan, keputusannya bukan karena kurangnya peluang di Beijing. Sebaliknya, ia mulai mempertanyakan apakah keuntungan hidup dan bekerja di kota tersebut sepadan dengan tekanan yang harus dihadapi pada tahap hidupnya saat ini.

"Perjalanan pergi-pulang kerja di Beijing sangat menantang," ujarnya. "Saya mengenal orang-orang dengan pekerjaan serupa yang menghabiskan dua jam sekali jalan untuk berangkat kerja. Saya tidak yakin ingin menjalani kehidupan seperti itu."

Cui Xuan, mahasiswa desain produk asal Shandong, mengatakan dirinya berencana bekerja di Sydney setelah menyelesaikan kuliahnya di Beijing. (FOTO: CNA/Hu Chushi)

Bagi Cui, persoalannya bukan hanya soal jarak tempuh, tetapi juga ritme kehidupan.

"Dalam bidang pekerjaan saya, tekanan dan tuntutan hidup di kota yang serba cepat seperti Beijing bisa terasa berlebihan ... tak ada work-life balance," ujarnya.

Tekanan-tekanan tersebut juga membuatnya mempertimbangkan kembali apakah ia ingin berkarier di bidang yang sesuai dengan jurusan kuliahnya.

"Saya mungkin tidak ingin bekerja di bidang yang saya pelajari," katanya. "Kualitas hidup yang lebih baik bisa ditemukan di tempat lain."

ANGKA-ANGKA DI BALIK PERUBAHAN INI

Penurunan jumlah penduduk usia muda di Beijing cukup tajam hingga mengubah profil usia kota yang sebelumnya memiliki proporsi kelompok usia ini jauh di atas rata-rata nasional.

Pada 2015, penduduk berusia 20 hingga 29 tahun mencakup 21,3 persen dari total populasi Beijing. Pada 2024, proporsi tersebut turun menjadi 11,4 persen, mendekati rata-rata nasional yang berada di angka 10,56 persen, berdasarkan analisis Economic Observer.

Pada saat yang sama, jumlah penduduk lanjut usia di kota itu meningkat. Jumlah warga berusia 60 tahun ke atas naik dari 3,41 juta orang pada 2015 menjadi 5,14 juta orang pada 2024, atau bertambah sekitar 1,74 juta orang.

Pada 2024, dari setiap 100 penduduk Beijing, sekitar 11 orang berusia 20 hingga 29 tahun, sementara 24 orang berusia 60 tahun ke atas.

Data resmi pemerintah kota menunjukkan, jumlah penduduk Beijing secara keseluruhan relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir, hanya turun tipis dari sekitar 21,89 juta orang pada 2020 menjadi 21,83 juta orang pada akhir 2024. Hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata penurunan jumlah penduduk, melainkan perubahan komposisi siapa yang tinggal di ibu kota.

Zhao Litao dari EAI mengatakan, penurunan jumlah penduduk muda di Beijing bukanlah kasus yang berdiri sendiri, mengingat jumlah dan proporsi kelompok usia 20 hingga 29 tahun memang terus menurun di seluruh China.

Jumlah penduduk Beijing berusia 20 hingga 29 tahun menyusut sekitar 46 persen dalam satu dekade terakhir, dari sekitar 4,62 juta orang pada 2015 menjadi 2,49 juta orang pada 2024. (FOTO: CNA/Hu Chushi)

Analisis Economic Observer menemukan bahwa Provinsi Henan, Hebei, dan Anhui juga mengalami penurunan proporsi penduduk usia muda. Di Henan, misalnya, jumlah penduduk berusia 20-29 tahun turun dari 14,75 juta orang pada 2015 menjadi 10,37 juta orang pada 2024.

Namun, Beijing menonjol karena proporsi penduduk mudanya pernah jauh berada di atas rata-rata nasional sebelum akhirnya turun hingga mendekati rata-rata tersebut.

"Fenomena ini tampaknya bukan mencerminkan hilangnya daya tarik Beijing secara tiba-tiba, melainkan lebih sebagai penyesuaian dari tingkat yang sebelumnya sangat tinggi," ujarnya.

Peng Xiujian, peneliti senior di Centre of Policy Studies, Victoria University, mengatakan, tren ini harus dipahami sebagai gabungan antara persoalan demografi dan migrasi.

Menurutnya, penurunan angka kelahiran yang berlangsung lama di China serta menyusutnya kelompok usia muda menjadi latar belakang utama fenomena tersebut. Di saat yang sama, perubahan pola migrasi, meningkatnya biaya hidup, serta kebijakan Beijing untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk dan mendorong pembangunan yang berorientasi pada pengurangan kepadatan penduduk turut memperkuat tren tersebut.

Penurunan angka kelahiran yang berlangsung lama di China serta menyusutnya kelompok usia muda menjadi latar belakang berkurangnya jumlah penduduk berusia 20-an tahun di ibu kota Beijing. (FOTO FILE: CNA/Hu Chushi)

Besarnya jumlah penduduk nonlokal di Beijing juga membuat data tersebut tidak bisa begitu saja ditafsirkan sebagai tanda bahwa kota itu kehilangan daya tariknya.

Meski jumlah penduduk muda menurun, Beijing masih memiliki 8,19 juta penduduk nonlokal pada 2024, atau setara 37,5 persen dari total penduduknya. Angka itu hanya berkurang sekitar 430.000 orang dibandingkan puncaknya pada 2015 yang mencapai 8,63 juta orang. Penurunan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan penyusutan jumlah penduduk berusia 20 hingga 29 tahun.

Penduduk nonlokal adalah mereka yang tinggal di Beijing tetapi memiliki hukou, atau sistem registrasi rumah tangga, yang terdaftar di daerah lain.

Menurut para analis, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Beijing tidak berhenti menarik pendatang dari wilayah lain. Yang berubah adalah profil orang-orang yang datang, serta standar atau syarat untuk bisa bertahan hidup di kota tersebut.

Peng mencontohkan bahwa anak-anak usia sekolah justru termasuk kelompok usia yang jumlah dan proporsinya meningkat di Beijing dalam 15 tahun terakhir.

"Jika Beijing secara umum kehilangan daya tarik bagi keluarga, kita tidak akan melihat pola seperti ini," ujarnya.

"Sebaliknya, bukti yang ada menunjukkan bahwa Beijing sedang mengalami restrukturisasi demografi, bukan sekadar penurunan populasi."

Berdasarkan analisis Economic Observer terhadap data resmi Beijing Statistical Yearbook, penduduk berusia 20 hingga 29 tahun mencakup 11,4 persen dari total populasi Beijing pada 2024, turun dari 21,3 persen pada 2015. (FOTO: CNA/Hu Chushi)

SINYAL DARI PASAR SEWA

Perubahan profil penduduk muda juga dapat dilihat dari sudut pandang yang lebih nyata, yakni pasar perumahan.

Tiantongyuan di Distrik Changping, Beijing, yang sejak lama menjadi pilihan penyewa muda karena harga hunian yang relatif terjangkau dan akses transportasi yang baik, memberikan gambaran mengenai bagaimana perubahan demografi kota itu terjadi di lapangan.

Saat mengunjungi kawasan tersebut, CNA berbincang dengan empat agen properti dan perumahan. Mereka mengatakan, aktivitas jual beli dan sewa tidak lagi seramai sebelum pandemi COVID-19.

Memang tidak ada data resmi di tingkat distrik yang secara langsung melacak permintaan sewa dari kalangan muda di Tiantongyuan. Namun, berdasarkan transaksi dan pengamatan mereka sendiri, para agen memperkirakan, volume penjualan dan penyewaan turun sekitar 20 hingga 30 persen dalam tiga hingga enam tahun terakhir.

Hou Junyi, manajer kantor waralaba Century 21 di Tiantongyuan yang telah beroperasi lebih dari satu dekade, mengatakan, penurunan aktivitas tersebut cukup terasa.

Menurutnya, kondisi itu sebagian dipengaruhi tren demografi Beijing. Melemahnya permintaan di Tiantongyuan kemungkinan tidak hanya mencerminkan perubahan jumlah penduduk secara keseluruhan, tetapi juga menyusutnya jumlah penyewa muda yang selama ini menjadikan kawasan tersebut sebagai pilihan karena harga huniannya lebih murah dan dekat dengan akses metro.

Hou dan sejumlah agen lainnya juga menilai perlambatan pasar properti secara umum turut menekan aktivitas jual beli dan penyewaan. Mereka mengatakan, melemahnya kepercayaan pasar dan turunnya permintaan membuat transaksi menjadi lebih sulit dibandingkan periode sebelum pandemi COVID-19.

Meski demikian, siklus pasar sewa belum sepenuhnya menghilang. Hou mengatakan permintaan biasanya masih meningkat saat musim kelulusan tahunan, yang berlangsung dari Juni hingga Agustus, ketika para mahasiswa lulus dan mulai mencari tempat tinggal yang dekat dengan lokasi kerja atau akses transportasi.

Namun, menurutnya, volumenya masih jauh di bawah masa puncak yang ia saksikan sekitar 2015, ketika permintaan dari penyewa muda jauh lebih kuat.

"Harga sewa secara alami turun seiring melemahnya permintaan," kata Hou.

"Tetapi, meski harga sewa lebih rendah, kondisi itu belum benar-benar mampu membangkitkan minat yang kuat atau mendorong pemulihan pasar secara signifikan."

Agen lain yang hanya ingin disebut dengan nama keluarganya, Hua, menuturkan, perubahan permintaan juga terlihat dari cara agen properti kini harus lebih aktif memasarkan hunian.

Hua telah menangani penjualan dan penyewaan rumah di Tiantongyuan selama tiga tahun terakhir, di perusahaan milik kakaknya yang telah beroperasi di kawasan tersebut selama lebih dari dua dekade.

"Dulu kami tidak perlu melakukan ini," kata Hua, merujuk pada papan iklan dan stan promosi yang dipasang di sekitar pintu keluar stasiun metro untuk menarik calon pembeli dan penyewa.

"Orang-orang akan datang sendiri kepada kami, dan selalu ada yang bertanya."

Kini, katanya, agen properti harus bekerja lebih keras untuk menarik perhatian calon pelanggan.

"Kami harus turun langsung mempromosikan properti yang kami tawarkan," ujarnya. "Kalau hanya menunggu di kantor, belum tentu ada cukup banyak calon pelanggan yang datang."

Hua, agen properti di kawasan Tiantongyuan, Beijing, memeriksa papan iklan daftar properti di dekat pintu keluar stasiun metro. Para agen di kawasan tersebut mengatakan mereka kini harus lebih aktif memasarkan hunian di tengah melemahnya permintaan. (FOTO: CNA/Hu Chushi)

Hua mengatakan, lulusan muda yang mencari tempat tinggal di kawasan tersebut semakin sedikit, meski permintaan dari keluarga muda relatif tetap stabil.

"Masih ada orang yang ingin tinggal di sini karena transportasinya nyaman dan biayanya lebih rendah dibandingkan pusat kota."

Menurut Hou, perubahan itu juga berkaitan dengan perubahan cara perusahaan menjalankan bisnis di Beijing dan wilayah sekitarnya.

"Menurut saya, perlambatan pertumbuhan ekonomi dan semakin beragamnya lokasi usaha juga turut berperan," ujarnya.

"Perusahaan sekarang memiliki lebih banyak pilihan terkait lokasi dan cara mereka beroperasi. Mereka mungkin tidak lagi membutuhkan kehadiran yang begitu besar di Beijing, sehingga permintaan tenaga kerja melambat. Kondisi itu kemudian memengaruhi permintaan perumahan di kawasan-kawasan yang sebelumnya populer karena menawarkan akses mudah ke pusat kota."

Penilaian Hou tersebut didasarkan pada apa yang ia amati di Tiantongyuan, bukan ukuran resmi kondisi ketenagakerjaan atau permintaan perumahan di seluruh Beijing.

Data resmi menunjukkan gambaran yang lebih beragam untuk Beijing secara keseluruhan. Investasi pengembangan properti pada 2025 turun 15,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara penjualan rumah komersial baru berdasarkan luas lantai turun 6,9 persen.

Akan tetapi, pada saat yang sama, Beijing menciptakan 330.000 lapangan kerja baru di kawasan perkotaan, naik 31.000 dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja secara umum masih cukup tangguh meski sebagian sektor properti tetap berada di bawah tekanan.

PETA PELUANG YANG SEMAKIN MENYEBAR

Bagi sebagian anak muda, pertimbangannya bukan lagi sekadar apakah Beijing masih menarik, melainkan apakah ada tempat lain yang lebih sesuai dengan kehidupan dan karier yang mereka inginkan.

Zhang Yinuo, 22, asal Shandong, dijadwalkan lulus dari sebuah universitas negeri di Beijing pada Agustus mendatang. Ia sudah memutuskan untuk tidak menetap di ibu kota dan memilih melanjutkan studi desain di Malaysia setelah menerima tawaran dari sana.

Bahkan, sebelum kesempatan untuk kuliah di Malaysia muncul, Zhang mengatakan, rencana jangka panjangnya memang tidak pernah berpusat pada Beijing.

"Bukan karena Beijing tidak memiliki peluang, tetapi saya memang tidak terlalu menyukai gaya hidup di sini," ujarnya.

Zhang Yinuo, mahasiswa desain asal Shandong, mengatakan, dirinya memang tidak berencana menetap di Beijing dalam jangka panjang dan akan melanjutkan studi di Malaysia setelah lulus. (FOTO: CNA/Hu Chushi)

Bagi Zhang, alasannya berkaitan dengan faktor budaya sekaligus karier. Ia menggambarkan atmosfer Beijing sebagai lebih tradisional dan mengatakan bahwa dirinya sejak lama lebih menyukai budaya serta gaya hidup di wilayah selatan China, termasuk saat memilih destinasi perjalanan.

"Budaya dan gaya hidup di sana terasa lebih cocok bagi orang seperti saya yang bekerja di bidang desain," ujarnya.

Pilihan Zhang memang bersifat personal, tetapi mencerminkan pertanyaan yang lebih luas terkait perubahan profil generasi muda di Beijing: apakah keunggulan yang ditawarkan ibu kota masih sejalan dengan jenis karier dan gaya hidup yang dicari berbagai kelompok anak muda saat ini.

Para analis mengatakan, Beijing masih menawarkan skala ekonomi, prestise, dan akses ke berbagai institusi penting. Namun, bagi mahasiswa dan profesional di bidang seperti desain, teknologi, jasa, maupun industri-industri baru, pilihan masa depan kini tidak lagi terbatas pada Beijing atau kota-kota tier satu lainnya.

Menurut para analis, hal itu juga berkaitan dengan peran Beijing dalam perekonomian China yang kini semakin terspesialisasi. Kondisi tersebut memengaruhi bukan hanya jumlah anak muda yang datang ke kota itu, tetapi juga jenis talenta yang berhasil ditariknya.

Zhao Litao dari EAI menuturkan, struktur penduduk Beijing dibentuk oleh lebih dari sekadar mekanisme pasar, mengingat posisi khusus yang dimiliki kota tersebut di China.

"Beijing adalah kasus yang unik karena bukan sekadar kota dengan pasar tenaga kerja biasa," ujarnya.

"Beijing merupakan pusat politik, administrasi, budaya, pendidikan, dan riset nasional."

Pengunjung berada di Lapangan Tiananmen di Beijing, China, 12 Juni 2024. (FOTO: Reuters/Nicoco Chan)

Karena itu, jumlah penduduk Beijing tidak hanya dipengaruhi kondisi pasar kerja, tetapi juga berbagai kebijakan pemerintah seperti perencanaan kota, restrukturisasi industri, pengelolaan populasi, serta upaya memindahkan atau meningkatkan kualitas sejumlah sektor industri dan fungsi perkotaan.

"Sebagian pekerjaan di sektor jasa dan manufaktur berupah rendah telah dikurangi atau dipindahkan ke luar Beijing, sementara kota ini memperkuat perannya dalam pendidikan tinggi, riset, keuangan, teknologi, budaya, dan fungsi sebagai tempat berkumpulkan kantor pusat perusahaan," kata Zhao Litao.

"Perubahan ini tidak hanya memengaruhi berapa banyak anak muda yang diserap kota ini, tetapi juga jenis talenta muda yang diserap."

Perubahan tersebut sejalan dengan arah pembangunan resmi Beijing.

Menurut portal resmi berbahasa Inggris Pemerintah Kota Beijing, ibu kota China itu berupaya melepaskan fungsi-fungsi yang tidak terkait langsung dengan perannya sebagai ibu kota negara, sambil memperkuat posisinya sebagai pusat politik nasional, pusat kebudayaan, pusat pertukaran internasional, dan pusat inovasi sains.

Di tingkat nasional, Dewan Negara China menyetujui sebuah rencana dalam periode Rencana Lima Tahun ke-14 yang berlangsung pada 2021 hingga 2025. Rencana tersebut menyerukan pola urbanisasi yang lebih maju melalui pembangunan yang terkoordinasi di antara kota-kota dengan berbagai ukuran.

Rencana aksi lima tahunan lainnya yang dirilis pada 2024 bertujuan membantu lebih banyak pekerja migran menetap di perkotaan serta meningkatkan proporsi penduduk China yang tinggal di wilayah urban menjadi hampir 70 persen dalam lima tahun. Berdasarkan data resmi, angka tersebut telah mencapai 67 persen pada akhir 2024.

Zhao Litao mengatakan, Beijing masih menarik bagi lulusan dengan kualifikasi tinggi, profesional muda di sektor berbasis pengetahuan, serta mereka yang ingin berkarier di pemerintahan, riset, keuangan, media, budaya, dan teknologi.

"Namun, bagi sebagian lainnya, perhitungan untung-rugi peluang yang tersedia kini lebih mengarah ke kota-kota seperti Hangzhou, Chengdu, Suzhou, Wuhan, Xi'an, Hefei, dan kota-kota lain yang industrinya berkembang pesat dengan tekanan biaya hidup dan menetap yang lebih rendah," tuturnya.

Chengdu termasuk salah satu kota dengan industri yang berkembang dan tekanan biaya menetap yang lebih rendah, sehingga semakin banyak dipertimbangkan oleh anak muda China. (FOTO FILE: iStock)

Peng dari Victoria University mengatakan, China saat ini tengah mengalami redistribusi talenta dan tenaga kerja muda.

"Ini mencerminkan munculnya ekonomi perkotaan yang semakin beragam," ujarnya.

"Perbaikan infrastruktur, konektivitas digital, dan peningkatan kualitas industri telah menciptakan peluang yang menarik di lebih banyak kota."

Menurut Peng, tren tersebut tidak hanya mencerminkan perubahan preferensi generasi muda, tetapi juga menunjukkan keberhasilan China dalam menyebarkan peluang ekonomi ke luar segelintir kota besar.

Para analis menilai, Beijing tetap penting, tetapi tidak lagi menjadi pilihan otomatis bagi setiap anak muda yang ingin meningkatkan taraf hidup dan karier.

Jika semakin banyak pekerja muda mulai mempertimbangkan kota lain secara serius, hal itu dapat berdampak pada permintaan perumahan, pola konsumsi, dan ketersediaan tenaga kerja jangka panjang di Beijing. Menurut para analis, kondisi ini juga memunculkan pertanyaan yang lebih luas mengenai keberlanjutan ekosistem inovasi kota tersebut serta kemampuan Beijing untuk terus menarik, mengembangkan, dan mempertahankan talenta terbaik.

DAYA TARIK BEIJING YANG TETAP BERTAHAN

Namun, untuk setiap anak muda yang mulai melirik peluang di luar Beijing, masih ada banyak lainnya yang bertekad untuk tetap tinggal.

Bagi mereka, ibu kota China itu masih sulit tergantikan, bukan hanya karena universitas dan perusahaan yang ada di sana, tetapi juga karena jenis pekerjaan dan jaringan profesional yang ditawarkannya.

Gu Ling, 22, mahasiswa hukum tingkat akhir asal Provinsi Hebei, berencana melanjutkan studinya di Beijing sebelum memasuki dunia profesi hukum.

Menurutnya, bagi banyak calon praktisi hukum di China, pendidikan pascasarjana kini menjadi langkah penting untuk membangun kualifikasi dan daya saing yang dibutuhkan dalam profesi tersebut.

Gu meyakini bahwa tetap berada di Beijing memberinya peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu, tempat magangnya berada di Beijing, sementara kampung halamannya berada tidak jauh dari ibu kota.

"Beijing masih menjadi tempat yang paling nyaman bagi saya untuk menetap," ujarnya.

Beijing tetap menjadi pusat utama pendidikan dan pekerjaan, tetapi menyusutnya populasi anak muda menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda China terhadap pilihan hidup dan karier mereka. (FOTO: CNA/Hu Chushi)

Daya tarik itu juga dirasakan Xia Xiuze, mahasiswa fisika asal Provinsi Anhui. Ia berharap dapat melanjutkan studi pascasarjana di Beijing dan pada akhirnya tetap tinggal di kota tersebut untuk bekerja di bidang penelitian dan pengembangan.

Mahasiswa tahun ketiga di sebuah universitas negeri di Beijing itu mengatakan, ibu kota China masih menjadi salah satu tempat terbaik bagi mereka yang ingin membangun karier di bidang yang berbasis riset.

"Beijing sejak lama dikenal sebagai tempat lahirnya riset-riset unggulan di bidang sains dasar dan mampu menarik talenta terbaik di bidang tersebut," ujar Xia, yang kini berusia 20 tahun.

Peng dari Victoria University mengatakan, populasi muda Beijing kemungkinan akan terus menghadapi tekanan penurunan akibat menyusutnya jumlah penduduk China dan tren penuaan populasi.

Menurutnya, sekalipun Beijing tetap menarik, kota itu kini harus bersaing memperebutkan kelompok anak muda yang jumlahnya semakin sedikit.

"Persoalan utamanya bukan apakah Beijing mampu mempertahankan jumlah penduduk mudanya, melainkan apakah kota itu dapat terus menarik proporsi yang lebih besar dari talenta muda terbaik China," kata Peng.

"Dalam masyarakat yang menua, kualitas sumber daya manusia lebih penting daripada sekadar jumlah penduduk."

Bagi Xia, konsentrasi talenta dan peluang yang ada di Beijing justru membuat berbagai pengorbanan tersebut layak dijalani.

"Hidup di Beijing mungkin membawa tekanan yang lebih besar dibandingkan banyak tempat lain," ujarnya.

"(Namun) selama kemampuan Anda dapat membantu memperoleh pekerjaan dengan imbalan yang setara atau bahkan lebih besar daripada tekanan yang dihadapi, saya tidak melihat adanya masalah. Itulah yang ingin saya capai."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan