Subur bisnis bimbel di India berkat ambisi masuk kampus top
Dalam bagian terakhir dari seri tiga bagian, CNA menyoroti bisnis bimbel yang berkembang pesat di India, tempat ketatnya persaingan memperebutkan kursi di universitas favorit mendorong budaya bimbel bertekanan tinggi.
Kebocoran soal ujian membuat lembaga pendidikan swasta dan pusat bimbel di India menjadi sorotan. (Ilustrasi: CNA/Teha Muhamad)
BENGALURU/SINGAPURA: Bagi jutaan keluarga di India, menjadi dokter, pengacara atau insinyur masih menjadi pilihan karier idaman, sebuah ambisi yang menumbuhsuburkan industri bimbingan belajar atau bimbel.
India memiliki jaringan besar lembaga swasta dan pusat bimbel yang mempersiapkan peserta untuk ujian masuk kampus-kampus top untuk jurusan kedokteran dan teknik, serta seleksi pegawai negeri.
Namun, industri ini mendapat sorotan tajam setelah serangkaian kebocoran soal ujian - termasuk kasus awal tahun ini yang memaksa lebih dari dua juta siswa mengulang National Eligibility cum Entrance Test (NEET) untuk masuk fakultas kedokteran ternama.
Skandal itu kemudian menjadi pemicu gerakan protes yang dipimpin Gen Z hingga akhirnya memaksa menteri pendidikan mengundurkan diri.
Meski kemarahan publik banyak tertuju pada kegagalan otoritas pendidikan, para pakar dan pengamat mengatakan peran industri bimbel swasta jauh lebih sedikit mendapat sorotan.
Aktivis pendidikan India Pradeep Poonia mengatakan kepada CNA bahwa pelaku industri bimbel pernah dikaitkan dengan kasus kebocoran soal, termasuk NEET tahun ini.
Pada Mei, lembaga investigasi utama India, Central Bureau of Investigation (CBI), menangkap pemilik lembaga bimbel swasta di Latur setelah penyidik menemukan soal yang sama dengan soal ujian sebenarnya.
Dalam kasus lain, seorang pengajar di lembaga pendidikan swasta di Pune ditangkap pada akhir Mei karena diduga menerima bocoran soal fisika dalam ujian NEET.
Pada Juli, polisi Rajasthan juga menangkap pengelola bimbel terkait kebocoran soal ujian rekrutmen dosen pada 2022.
Ketatnya persaingan NEET menciptakan pasar bagi bocoran soal, kata Poonia. Menurutnya, banyak orang “siap membayar” untuk mendapatkan soal dan materi ujian yang bocor.
“Ini semua soal uang,” katanya.
Menurut penyelidikan CBI atas kebocoran NEET 2026, soal ujian dijual seharga 1 juta hingga 1,2 juta rupee (Rp186 juta hingga Rp223 juta).
“Itulah sebabnya ini terjadi.”
Bagi Shaikh Sidra Mudassar, 17, yang sedang mempersiapkan Joint Entrance Examination (JEE) tahun ini untuk masuk perguruan tinggi teknik, situasi belakangan ini semakin menambah rasa frustrasinya terhadap sistem yang “tidak adil dan melelahkan”.
“Setelah belajar begitu lama pun, rasanya seperti dicurangi,” katanya kepada CNA.
“Bukan karena nilaimu rendah atau kamu kurang belajar keras - tetapi karena orang tua peserta ujian lain mampu membeli nilai itu untuk anak mereka.”
Ia tahu betul seberapa besar upaya yang dicurahkan para siswa untuk mempersiapkan ujian tersebut.
Untuk meraih nilai tinggi dalam JEE, “kami dituntut belajar lebih dari 10 jam setiap hari agar mendapat nilai bagus”, kata Mudassar. Ia menambahkan, sebagian siswa bahkan belajar hingga 16 jam sehari.
“Cukup melelahkan,” katanya.
Sebagian besar teman sekolahnya mengikuti bimbel karena tekanan orang tua, tetapi Mudassar mengatakan ia memilih ikut karena merasa bimbel dapat membantunya “lolos JEE” dan meraih “masa depan cerah”.
Menurutnya, kini anak-anak mulai ikut bimbel sejak usia 11 tahun.
Ia juga melihat sendiri bagaimana sepupu perempuannya menghabiskan tiga tahun mempersiapkan ujian masuk kedokteran NEET, tetapi upayanya terganggu dua kali akibat kebocoran soal - pada 2024 dan tahun ini.
“Orang tuanya dokter, kakak laki-lakinya juga dokter,” kata Mudassar. Menurutnya, sepupunya menghadapi tekanan besar untuk berhasil dan mengikuti jejak keluarganya.
INDUSTRI BERNILAI MILIARAN DOLAR YANG TERUS TUMBUH
Dua puluh tahun lalu, siswa “tidak perlu” mengikuti bimbel tambahan hanya untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi yang sangat menentukan, kata Neha Singh, pendiri bersama perusahaan data Tracxn.
Namun kini, mengikuti bimbel telah menjadi kebutuhan dasar bagi mereka yang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi yang kompetitif, tambahnya.
Besarnya uang yang mengalir ke persiapan ujian masuk menunjukkan betapa kuatnya bimbel mengakar dalam sistem pendidikan India.
Pasar ini diperkirakan bernilai hampir US$15 miliar (Rp264,7 triliun) dan akan mencapai sedikitnya US$23 miliar (Rp405,8 triliun) pada 2030, menurut laporan perusahaan riset pasar RedSeer Strategy Consultants yang diterbitkan awal bulan ini.
Menurut Tracxn, investasi hampir US$4 miliar (Rp70,6 triliun) juga telah mengalir ke industri ini, termasuk pendanaan besar dari perusahaan ekuitas swasta dan modal ventura.
Sejumlah lembaga dan pengelola bimbel membantah anggapan bahwa bocoran soal lazim beredar di industri tersebut. Mereka mengatakan praktik semacam itu merugikan pengajar dan penyedia bimbel yang menjalankan usahanya secara sah.
Rohit Gupta, chief experience officer Physics Wallah, lembaga persiapan ujian yang berkantor pusat di Noida dan memiliki cabang di kota-kota seperti Delhi, Mumbai dan Bengaluru, mengatakan kepada CNA bahwa materi pembelajaran mereka “dikembangkan oleh tim pengajar dan akademis dengan mengacu pada kurikulum dan silabus yang tersedia untuk umum”.
“Pengamanannya terletak pada asal-usul materi - dari mana soal berasal, siapa yang membuatnya dan sumber apa yang digunakan,” kata Gupta.
Menurutnya, karyawan juga diwajibkan melaporkan setiap klaim mengenai akses terhadap bocoran soal melalui jalur hukum dan kepatuhan perusahaan.
Shivkanya Deshpande, yang mengelola bimbel untuk ujian rekrutmen perbankan dan pegawai pemerintah di Pune, mengatakan kebocoran soal pada akhirnya merugikan lembaga yang keberhasilan siswanya bergantung pada kualitas pengajaran.
“Bagi lembaga yang menjalankan usahanya secara sah, skandal kebocoran soal ini adalah mimpi buruk,” katanya.
“Seluruh model bisnis kami bergantung pada sistem yang adil, di mana hasil ditentukan oleh pelatihan intensif yang kami berikan.”
Namun, besarnya jumlah siswa yang terkonsentrasi di pusat-pusat bimbel utama India seperti Kota dan Sikar dapat menciptakan pasar bagi bocoran soal ujian, kata para pakar.
“Pusat-pusat bimbel menghimpun jutaan siswa yang putus asa, menciptakan pasar menguntungkan bagi sindikat,” kata Deshpande.
Namun, sementara lembaga resmi mengandalkan kualitas pengajaran untuk menghasilkan prestasi, pengelola nakal dapat memanfaatkan bocoran soal sebagai jalan pintas agar siswanya meraih peringkat teratas, katanya. Prestasi itu kemudian dapat digunakan untuk menarik lebih banyak siswa dan mendatangkan pendapatan.
Namun, pihak lain mengingatkan agar peran lembaga bimbel resmi dalam membantu siswa menghadapi ujian yang semakin kompetitif dan rumit tidak diabaikan.
Kota, sebuah kota di negara bagian Rajasthan di barat laut India, mungkin merupakan pusat bimbel paling terkenal di negara itu. Kota ini menarik ratusan ribu siswa yang mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk perguruan tinggi yang sangat kompetitif.
Sikar, kota lain di Rajasthan, mengadopsi sejumlah aspek model Kota dengan biaya properti, akomodasi dan hidup yang lebih rendah sehingga berkembang pesat, kata Poonia.
Analis independen Pranav Bhavsar mengatakan lembaga bimbel yang terorganisasi tetap memiliki “peran penting” dalam menyediakan program terstruktur dan teknik khusus untuk persiapan ujian.
“Sudah ada standardisasi, sudah ada kurikulum. Hampir seperti kampus kecil,” katanya.
JUTAAN SISWA BEREBUT KURSI TERBATAS
Ketatnya persaingan memperebutkan kursi kuliah yang terbatas menjadi pendorong utama pertumbuhan industri bimbel.
Lebih dari dua juta peserta mengikuti NEET tahun ini, memperebutkan 129.600 kursi di 823 fakultas kedokteran.
Sedikitnya 38 kebocoran soal dalam ujian tingkat nasional dan negara bagian dilaporkan terjadi di India sejak 2021, menurut media India.
Calon mahasiswa teknik menghadapi persaingan yang tak kalah ketat.
Sekitar 1,5 juta peserta mengikuti dua putaran ujian masuk JEE pada Januari dan April tahun ini, menurut data NTA. Hanya tersedia sedikit lebih dari 67.000 kursi di 138 perguruan tinggi teknik negeri yang paling diminati.
Bagi banyak siswa, persaingan dimulai bahkan sebelum mereka mengikuti ujian masuk - dan sering kali harus mengorbankan minat lain.
Mudassar mengatakan sekolah reguler mengenalkan anak pada beragam mata pelajaran dan kegiatan, tetapi persiapan intensif untuk ujian masuk dapat membuat mereka hanya berfokus pada segelintir mata pelajaran yang menentukan nilai.
“Kami harus fokus pada hal-hal yang penting, tetapi itu membuat kami sangat tertekan dan tidak bisa melakukan hal-hal yang sebenarnya kami sukai,” katanya.
Tekanan itu semakin besar karena banyak keluarga meyakini pendidikan - terutama untuk mengejar profesi idaman seperti dokter dan insinyur - merupakan jalan menuju keamanan finansial yang lebih baik.
“Banyak keluarga kelas menengah atau berpenghasilan rendah menganggap pendidikan sebagai satu-satunya jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka,” kata analis independen Bhavsar.
MENJUAL MIMPI
Bagi siswa dan keluarga yang menghadapi ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi, pusat bimbel kerap menjual lebih dari sekadar pelajaran - mereka menjual janji kesuksesan.
Mudassar mengatakan ia melihat sendiri bagaimana sejumlah lembaga bimbel memasarkan diri kepada siswa dan orang tua yang cemas.
“Mereka menjual mimpi dan meyakinkan orang tua bahwa jika anak mereka masuk ke lembaga kami, dia pasti akan mendapat hasil yang baik,” katanya.
Menurutnya, orang tua percaya pada janji tersebut karena lembaga bimbel dapat menunjukkan peringkat dan hasil tinggi yang diraih siswa-siswa sebelumnya.
Prestasi tinggi menjadi bagian penting dari model bisnis industri ini, kata para pakar.
Menghasilkan siswa dengan nilai tertinggi dapat mendongkrak reputasi lembaga, menarik angkatan siswa berikutnya dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan.
Namun, persaingan ketat untuk memamerkan keberhasilan siswa juga memicu praktik pemasaran yang dipertanyakan.
Central Consumer Protection Authority (CCPA) India berulang kali menjatuhkan sanksi kepada perusahaan bimbel atas iklan menyesatkan sejak 2023.
Hingga Desember 2025, regulator tersebut mengatakan telah mengeluarkan 57 teguran kepada lembaga bimbel dan menjatuhkan denda hampir 11 juta rupee, sembari menindak iklan dan klaim menyesatkan.
Shivkanya Deshpande menyebut praktik “membajak siswa berprestasi” sebagai rahasia umum di sebagian industri bimbel.
“Lembaga bimbel terang-terangan membeli kisah sukses siswa berperingkat teratas, terkadang dengan menawarkan uang tunai, kendaraan atau mengganti seluruh biaya pendidikan mereka - hanya agar wajah mereka bisa dipasang di papan iklan, meskipun siswa itu hanya pernah mengikuti satu kali ujian simulasi di tempat mereka,” katanya.
Pakar lain mengatakan sejumlah pusat bimbel juga membentuk “kelas unggulan” dengan menjaring siswa berprestasi sejak awal dan memberi mereka fasilitas lebih, seperti akses ke pengajar yang paling diminati dan dukungan akademis tambahan.
Akibatnya, siswa lain bisa mendapat lebih sedikit dukungan, kata para pakar, meski biaya yang mereka bayarkan ikut menopang operasional lembaga tersebut.
MASA DEPAN BUDAYA BIMBEL INDIA
Bagi siswa dan keluarga mereka, biaya yang dikeluarkan bisa sangat besar.
Mudassar mengatakan biaya bimbel di kota-kota kecil seperti Ahilyanagar di negara bagian Maharashtra sekitar 200.000 rupee (Rp37,3 juta) per tahun, meski potongan bagi siswa berprestasi dapat menurunkan biayanya.
Di Kota, sejumlah lembaga mengenakan biaya 500.000 hingga 600.000 rupee (Rp93,3 juta hingga Rp112 juta) per tahun - beban finansial yang besar bagi keluarga kelas menengah dengan pendapatan rumah tangga tahunan sekitar 500.000 hingga 1,2 juta rupee (Rp93,3 juta hingga Rp224 juta).
Namun, mengatur lembaga bimbel hanya bagian dari solusi, kata para pakar. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah siswa seharusnya membutuhkan bimbel sejak awal.
“Yang pertama dan paling baik adalah seharusnya tidak perlu ada bimbel di India,” kata Mudassar.
Sekolah seharusnya dapat membekali siswa dengan persiapan yang cukup untuk menghadapi ujian masuk yang sulit.
“Persiapan yang kami inginkan dan butuhkan untuk menghadapi ujian seharusnya diberikan di sekolah.”
Arah yang sama juga tertuang dalam National Education Policy 2020 India.
Kebijakan itu memperingatkan bahwa ujian sekolah dan ujian masuk - serta “budaya bimbel” yang ditimbulkannya - telah menggantikan waktu belajar yang berharga dengan persiapan ujian berlebihan.
Kebijakan itu juga menyerukan agar ujian masuk lebih menekankan pemahaman konsep, dengan tujuan menghilangkan kebutuhan akan bimbel untuk bisa “menaklukkan” ujian.
Sejumlah sekolah swasta telah mulai menawarkan program terpadu dengan perusahaan persiapan ujian, kata pendiri bersama Tracxn, Singh.
Dengan demikian, siswa dapat menjalani sebagian kurikulum sekolah sekaligus persiapan ujian masuk dalam jadwal yang sama.
Namun, mengharapkan sekolah biasa mengambil peran sebagai lembaga bimbel juga memiliki tantangan tersendiri.
Deshpande mengatakan sekolah dan perguruan tinggi dirancang untuk memberikan pendidikan yang luas, sedangkan lembaga bimbel berfokus pada pola soal, kecepatan mengerjakan, ujian simulasi dan persiapan taktis lainnya.
Poonia mengusulkan pembatasan jumlah kesempatan peserta mengikuti ujian masuk yang sangat menentukan.
Peserta NEET harus berusia minimal 17 tahun, tetapi panduan ujian 2026 tidak menetapkan batas usia maksimal maupun jumlah kesempatan mengikuti ujian.
“Jika tidak ada batas berapa kali seseorang boleh mencoba, siswa tidak punya titik untuk berhenti,” kata Poonia.
Menurutnya, siswa yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar dan keluarganya yang telah mengeluarkan biaya besar akan sulit berhenti, baik secara psikologis maupun finansial.
Batas usia dan jumlah kesempatan mengikuti ujian juga dapat menyulitkan orang tua untuk terus mendesak anak mereka mencoba “satu tahun lagi”.
Langkah lain, termasuk menambah kapasitas universitas, memperkuat keamanan ujian dan memperketat pengawasan terhadap iklan menyesatkan, dapat mengurangi sebagian tekanan tersebut, kata para pakar.
Gupta dari Physics Wallah mengatakan penambahan kursi universitas dapat mengurangi persaingan. Namun, langkah itu membutuhkan pengajar berkualitas, infrastruktur dan ekosistem akademis yang lebih luas - perubahan yang tidak dapat dilakukan dalam semalam.
Pada akhirnya, reformasi kebijakan mungkin hanya berdampak terbatas jika keluarga masih menganggap segelintir jalur pendidikan dan profesi sebagai jalan paling pasti menuju kesuksesan, kata analis Bhavsar.
Bagi Mudassar, ukuran keberhasilan reformasi lebih sederhana: apakah generasi berikutnya dapat mempersiapkan masa depan tanpa harus mengorbankan begitu banyak masa kanak-kanak untuk belajar menghadapi ujian.
“Perkembangan anak secara menyeluruh sangat penting.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.