Skip to main content
Iklan

Asia

Studi: Bangkok diproyeksi jadi kota terpanas di Asia Tenggara, bagaimana Jakarta?

Para pakar mengatakan, pemerintah Bangkok harus ambil tindakan sekarang atau menghadapi masa depan yang lebih panas, dengan proyeksi hingga 120 hari terpanas dalam setahun pada 2050.

Studi: Bangkok diproyeksi jadi kota terpanas di Asia Tenggara, bagaimana Jakarta?

Bangkok memiliki sekitar 1,3 juta pekerja luar ruang yang terpapar panas yang terus meningkat. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

BANGKOK: Saat terik matahari musim panas menyengat pusat kota Bangkok dan panasnya memantul dari beton, sekelompok kecil warga mencari perlindungan di dalam “pusat pendinginan” darurat.

Pendingin udara menyala kencang di sebuah perpustakaan umum di distrik Din Daeng. Dalam beberapa pekan terakhir, sekitar 20 orang, mulai dari anak-anak hingga lansia, datang bergantian untuk berlindung dari panas jalanan.

“Cuacanya sangat panas, jadi saya mulai datang ke sini sejak awal Maret dan sekarang hampir setiap hari. Saya suka duduk dan membaca di udara yang sejuk,” ujar Jarat Soisomklang, warga setempat berusia 87 tahun.

Tak jauh dari situ, Natthawat Jaroenmuang, 12, bermain gim bersama teman-temannya. Ia mengaku datang ke sini karena rumahnya terlalu panas.

“Di rumah ada AC, tapi kami hanya menyalakannya pada malam hari,” katanya.

Menurut pemerintah kota, Bangkok mengalami setidaknya 19 hari berturut-turut dengan tingkat indeks panas “berbahaya” hingga pertengahan April.

Tempat-tempat seperti perpustakaan ini menjadi salah satu cara penting bagi kelompok rentan untuk menyikapi panas.

Saat ini, terdapat 313 lokasi yang ditetapkan sebagai pusat pendinginan di seluruh ibu kota, tersebar di sekolah, perguruan tinggi vokasi, pusat layanan kesehatan masyarakat, kantor distrik, serta titik layanan pusat kebudayaan. Selain itu, ada pula 279 titik pendinginan luar ruang berupa area teduh dengan pepohonan, air, dan tempat duduk.

Dalam sebulan terakhir, Bangkok Metropolitan Administration (BMA) menyatakan,  ada lebih dari 120.000 orang yang telah memanfaatkan fasilitas ini. Lokasinya sengaja ditempatkan dekat kawasan berpenduduk padat, dan lebih dari 80 persen pengguna dapat berjalan kaki dari rumah mereka ke fasilitas tersebut.

Warga lansia Bangkok mendinginkan diri di pusat pendinginan ber-AC yang disediakan pemerintah kota. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

Warga lokal maupun pengunjung didorong untuk masuk dan menyejukkan diri selama puncak musim panas Bangkok, yang biasanya berlangsung dari Maret hingga Mei.

Para ahli menyebut langkah-langkah cepat seperti ini—bersama upaya lain seperti penyediaan titik air minum, peringatan berbasis tingkat panas, serta standar keselamatan kerja bagi pekerja luar ruang—sangat krusial di kota yang suhunya memanas dengan cepat.

“BMA patut mendapat apresiasi khusus karena memandang panas sebagai risiko bencana, bukan sekadar isu lingkungan atau musiman,” ujar Peeranan Towashiraporn, Direktur Asian Disaster Preparedness Center (ADPC), lembaga nirlaba berbasis di Bangkok yang berfokus mengurangi dampak bencana dan memperkuat ketahanan di Asia dan Pasifik.

“Pusat pendinginan dan peringatan panas itu penting—keduanya menyelamatkan nyawa saat gelombang panas ekstrem, dan kami sepenuhnya mendukung perluasannya.”

Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa langkah-langkah ini baru sebagian dari respons yang dibutuhkan, seiring risiko panas yang terus meningkat.

Laporan yang dirilis bulan ini oleh ASEAN Centre for Energy (ACE), organisasi antarpemerintah regional berbasis di Jakarta yang mendukung kerja sama energi di 10 negara anggota ASEAN, menemukan bahwa panas ekstrem kian menjadi krisis struktural jangka panjang di kota-kota ASEAN.

Laporan itu memperkirakan kenaikan signifikan suhu rata-rata serta bertambahnya jumlah hari dengan panas ekstrem.

Bangkok diproyeksikan akan menghadapi 120 hari panas ekstrem setiap tahun pada 2050. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

Dalam jangka panjang, kota-kota besar di kawasan ini juga berisiko menghadapi panas ekstrem sebagai kondisi yang semakin normal.

“Dampak urbanisasi yang pesat dan perubahan iklim menciptakan panas yang sangat tak tertahankan,” ujar Irma Ramadan, pejabat senior di ACE.

Bangkok berada di tingkat paparan tertinggi, baik dari sisi suhu maupun intensitasnya.

Pada 2050, kota ini diperkirakan akan mengalami hingga 120 hari panas ekstrem setiap tahun—yakni saat suhu melampaui 35°C. Angka ini hampir tiga kali lipat dibandingkan kondisi saat ini yang sekitar 45 hari.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa suhu permukaan maksimum harian bisa mencapai 38,1°C pada pertengahan abad, naik dari 33,3°C pada tahun 2000.

Kota-kota besar lainnya berpotensi mengalami nasib serupa. Jakarta, Manila, Ho Chi Minh City, dan Kuala Lumpur diproyeksikan mengalami kenaikan suhu setidaknya 4,5°C dibandingkan tahun 2000.

Di Singapura, suhu maksimum rata-rata diperkirakan mencapai 36,1°C pada pertengahan abad, dan jumlah hari dengan suhu di atas 35°C bisa meningkat lebih dari tiga kali lipat, dari sekitar 25 hari saat ini menjadi 85 hari per tahun.

Laporan itu juga mencatat gelombang panas di kawasan ini meningkat dari dua hingga tiga kejadian per tahun pada awal abad, menjadi delapan hingga 12 kejadian per tahun belakangan ini, dengan durasi tiga sampai empat pekan setiap kali terjadi.

Menurut Peeranan, pada 2050 peningkatan signifikan hari panas ekstrem berpotensi memicu darurat kesehatan masyarakat, menambah tekanan pada infrastruktur vital seperti sistem energi dan air, serta mengganggu produktivitas ekonomi—terutama bagi kelompok rentan.

“Ini adalah risiko bencana yang terus meningkat dengan dampak luas,” ujarnya. “Panas ekstrem akan mengubah cara orang hidup, bekerja, dan beraktivitas di kota.”

Karena analisis ACE hanya berfokus pada suhu, risiko sebenarnya di kota seperti Bangkok kemungkinan lebih besar, mengingat tingkat kelembapan dapat mendorong kondisi ke level yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

MINIM RUANG HIJAU, TERLALU BANYAK BETON

Untuk Bangkok, kondisi cuaca tahun ini mirip dengan 2024, namun otoritas mewaspadai potensi panas berkepanjangan akibat fenomena El Niño, yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur.

“Situasi saat ini masih tergolong normal, tetapi kami memantau secara ketat seberapa ekstrem panas yang mungkin terjadi,” ujar Pornphrom Vikitsreth, penasihat utama keberlanjutan BMA.

Meski panas saat ini belum dipicu oleh El Niño, pola iklim tersebut diperkirakan akan berkembang dalam beberapa bulan ke depan dan kemungkinan akan memperparah panas serta kekeringan di kawasan ini, menurut para ahli dan lembaga terkait.

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mencatat, sekitar 60 persen peluang El Niño terjadi pada pertengahan tahun dan bertahan setidaknya hingga akhir 2026.

Departemen Perubahan Iklim dan Lingkungan Thailand juga memperingatkan bahwa negara itu berpotensi menghadapi “super El Niño” yang bisa berlangsung hingga 18 bulan.

El Niño biasanya bertindak sebagai pengganda, mendorong suhu semakin tinggi dan memperpanjang durasi gelombang panas, sehingga menambah tekanan pada populasi perkotaan, sektor pertanian, dan pasokan air.

Seorang warga mengenakan pakaian lengan panjang saat menghadapi terik matahari siang di pusat Bangkok. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

Terlepas dari El Niño, berbagai faktor lain yang saling memperkuat turut mendorong kenaikan suhu di kota-kota.

Puluhan tahun pembangunan telah menggantikan lanskap alami dengan beton dan aspal, menciptakan fenomena yang dikenal sebagai efek pulau panas perkotaan.

Permukaan ini menyerap panas pada siang hari dan melepaskannya secara perlahan pada malam hari, sehingga suhu tetap tinggi bahkan setelah matahari terbenam. Di saat yang sama, pemanasan global turut menaikkan suhu dasar dan membuat kejadian panas ekstrem semakin sering dan intens.

Meski dampak panas ekstrem paling terlihat pada siang hari, para ahli mengingatkan bahwa malam hari bisa sama berbahayanya. Ketika suhu tetap tinggi setelah matahari terbenam, tubuh kesulitan memulihkan diri, sehingga meningkatkan risiko kelelahan akibat panas dan serangan panas.

Menurut Peeranan, panas ekstrem berdampak tidak proporsional pada komunitas berpenghasilan rendah, pekerja luar ruang, serta warga di permukiman informal, sekaligus menurunkan produktivitas di berbagai sektor utama.

“Seiring pertumbuhan populasi perkotaan, semakin banyak orang akan tinggal dan bekerja di lingkungan bersuhu tinggi, sehingga memperbesar frekuensi dan jangkauan dampak terkait panas,” ujarnya.

Di Bangkok, tantangan ini terasa sangat nyata. Ketersediaan ruang hijau per kapita di kota ini jauh di bawah standar global, dengan beberapa perkiraan menyebut hanya beberapa meter persegi ruang hijau yang dapat diakses per penduduk.

Pemerintah kota mengakui persoalan ini.

“Dalam jangka panjang, kami perlu secara signifikan menambah ruang hijau. Ini merupakan langkah yang relatif murah namun memberikan manfaat besar. Pada saat yang sama, penting untuk menjaga area hijau yang sudah ada agar tidak tergantikan oleh pembangunan berbasis beton,” ujar Pornphrom.

Bangkok diperkirakan akan menjadi kota terpanas di Asia Tenggara pada 2050, menurut laporan terbaru. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

Masalah ini tidak hanya terjadi di ibu kota. Kawasan industri di provinsi sekitar sudah mencatat efek pulau panas yang sama intensnya, bahkan dalam beberapa kasus lebih parah.

Data dari ADPC menunjukkan bahwa distrik inti Bangkok bisa mencapai 3°C lebih panas dibandingkan distrik pinggiran yang paling sejuk. Perbedaan ini hampir sepenuhnya disebabkan oleh penggunaan lahan: permukaan kedap air yang padat, minimnya tutupan pohon, serta rendahnya rasio ruang hijau.

Berdasarkan pemodelan ADPC, distrik yang paling terdampak adalah Samphanthawong, Pom Prap Sattru Phai, dan Bang Rak—wilayah pusat yang padat, berkembang sejak lama, dan minim ruang hijau.

Sekitar 1,3 juta pekerja luar ruang di Bangkok—sekitar seperempat dari total angkatan kerja—sudah mengalami penurunan produktivitas saat panas ekstrem.

Tanpa upaya adaptasi, kerugian produktivitas tenaga kerja akibat panas dan kelembapan diperkirakan bisa mencapai US$15,6 miliar per tahun pada 2050, setara sekitar 6 persen dari total output ekonomi kota, menurut Climate Resilience Center di bawah Atlantic Council Amerika Serikat.

Seiring suhu meningkat, risiko kesenjangan yang kian melebar juga ikut naik. Pendingin udara memberi perlindungan bagi banyak orang, terutama pada malam hari, tetapi bagi mereka yang tidak memiliki akses, dampaknya jauh lebih berat.

“Tanpa intervensi, kesenjangan antara mereka yang mampu ‘membeli’ kenyamanan dari panas dan yang tidak akan semakin melebar,” ujar Peeranan.

Data dari Badan Statistik Nasional Thailand menunjukkan, sekitar 39 hingga 44 persen rumah tangga di seluruh negeri memiliki AC, meningkat menjadi 53,5 persen di Bangkok dan wilayah sekitarnya.

Bangkok juga menempati peringkat tertinggi di antara kota-kota yang disurvei dalam studi global 2024 oleh perusahaan Jepang, Daikin, terkait penggunaan AC. Rata-rata warga menggunakannya selama 10,4 bulan per tahun—mencerminkan panas yang berlangsung hampir sepanjang tahun di kota tersebut.

Pendinginan tentu ada biayanya. Ketergantungan tinggi pada AC meningkatkan permintaan energi, yang sering kali masih bersumber dari bahan bakar fosil. Dampaknya, emisi bertambah dan panas kembali dilepaskan ke lingkungan sekitar.

ACE mencatat, bangunan saat ini menyumbang 23 persen dari total konsumsi energi di kawasan ASEAN, dengan kebutuhan pendinginan menjadi pendorong pertumbuhan energi tercepat.

Dominasi beton, aspal, dan kendaraan bermotor memperparah penjebakan panas di kawasan perkotaan. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

PENDINGINAN PASIF

Dengan proyeksi cuaca yang jauh lebih panas, baik untuk sisa tahun ini maupun dekade mendatang, para ahli mendorong solusi jangka panjang untuk mengurangi paparan panas serta perubahan struktural mendesak bagaimana cara kota dibangun dan didinginkan.

Laporan ACE menemukan bahwa tanpa perubahan dalam desain bangunan dan tata kota, panas akan secara signifikan meningkatkan risiko kesehatan, kebutuhan energi, dan ketimpangan.

Peningkatan infrastruktur yang sudah ada—seperti renovasi bangunan atau penambahan ruang hijau di atap—memang bisa memberi sedikit kelegaan, tetapi dampaknya cenderung terbatas dan bersifat lokal.

Perubahan yang lebih mendasar terletak pada bagaimana bangunan baru dirancang, dan koordinasi kebijakan pemerintah dapat membantu menahan laju eskalasi, ujar Ramadan.

Prioritas utama kawasan ini adalah desain pasif, yakni pendekatan yang memungkinkan kota tetap sejuk tanpa bergantung pada AC. Langkahnya mencakup ventilasi alami, peneduhan, penggunaan material reflektif, serta penambahan ruang hijau.

Jika diterapkan secara luas, pendekatan ini dapat menurunkan suhu, mengurangi kebutuhan listrik, menekan emisi, dan meningkatkan ketahanan kota. Data ACE menunjukkan desain pasif saja berpotensi mengurangi kebutuhan energi untuk pendinginan hingga 20–30 persen di Asia Tenggara.

Namun, tantangannya meliputi biaya awal pembangunan yang tinggi untuk bangunan baru, kesenjangan pengetahuan di industri, serta kebijakan nasional yang belum mewajibkan standar tertentu dan masih lemah dalam penegakan.

Efek pulau panas perkotaan menjadi salah satu faktor utama yang membuat ruang kota di Asia Tenggara semakin kurang layak huni. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

Sejumlah negara yang paling rentan terhadap panas ekstrem, seperti Myanmar dan Kamboja, masih tertinggal, dan “belum memiliki peta jalan maupun regulasi yang jelas untuk menerapkan pendinginan pasif atau efisiensi energi,” ujar Ramadan.

“Kebijakan tidak bergerak cukup cepat dibandingkan kenaikan suhu. Ini sangat mendesak, dan kita perlu benar-benar waspada,” katanya.

Para ahli sepakat, meski menghadapi proyeksi tersebut, Thailand relatif lebih siap menghadapi masa depan yang lebih panas, berkat komitmennya terhadap ketahanan iklim dan pembangunan perkotaan berkelanjutan.

Laporan ACE menilai kapasitas adaptasinya berada pada level menengah-tinggi, hanya di bawah Singapura, Malaysia, dan Brunei di kawasan ini.

Sertifikasi bangunan hijau serta regulasi bangunan yang mendorong pendinginan pasif sebenarnya sudah cukup mapan, namun masih membutuhkan implementasi yang lebih baik, kata Ramadan.

Menurut Peeranan, Bangkok juga tidak perlu memulai dari nol.

Banyak solusi—seperti memperluas infrastruktur hijau dan biru, meningkatkan desain serta material bangunan, dan memperkuat sistem kesehatan publik—sudah diketahui dan dapat langsung menurunkan risiko jika diterapkan secara konsisten dan dalam skala luas.

“Bangkok saat ini jauh lebih siap dibandingkan lima tahun lalu,” ujarnya. “Semua ini bukan sesuatu yang tak terhindarkan.”

Laporan tambahan oleh Jarupat Karunyaprasit.

 

 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan