Skip to main content
Iklan

Asia

Vivian Balakrishnan: Singapura, Malaysia, dan Indonesia jaga Selat Malaka tetap terbuka

“Kami tidak memberlakukan pungutan. Kami semua adalah negara-negara yang bergantung pada perdagangan. Kami semua tahu bahwa merupakan kepentingan kami untuk menjaganya tetap terbuka,” kata Dr Balakrishnan dalam wawancara dengan CNBC.

Vivian Balakrishnan: Singapura, Malaysia, dan Indonesia jaga Selat Malaka tetap terbuka

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan saat menghadiri konferensi pers setelah pertemuan dengan mitranya dari Latvia di Riga, Latvia, pada 1 April 2026. (Foto: EPA/TOMS KALNINS)

SINGAPURA: Singapura, Malaysia, dan Indonesia memiliki kepentingan strategis bersama untuk menjaga Selat Malaka tetap terbuka, kata Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan pada Rabu (22/4), di tengah ketegangan di Timur Tengah yang memberi tekanan pada jalur pelayaran global.

Berbicara dalam wawancara di acara Converge Live CNBC, Dr Balakrishnan mengatakan bahwa sebagai negara pesisir Selat Malaka, ketiga negara memiliki “mekanisme kerja sama” untuk tidak memungut biaya dan mempertahankan kondisi tersebut.

“Kami tidak memberlakukan pungutan. Kami semua adalah negara-negara yang bergantung pada perdagangan. Kami semua tahu bahwa merupakan kepentingan kami untuk menjaganya tetap terbuka,” ujar Dr Balakrishnan.

“Intinya adalah bahwa ketiga negara memiliki kepentingan strategis dan selaras secara strategis dalam menjaga agar selat ini tetap terbuka. Hal ini bukan sesuatu yang bisa terjadi begitu saja di banyak tempat lain.”

 

Komentar Dr Balakrishnan mengemuka di tengah kekhawatiran mengenai penutupan Selat Hormuz, di mana pembatasan telah memicu kekhawatiran pemanfaatan jalur perdagangan sebagai alat penekan.

Ia menegaskan bahwa pendekatan Asia Tenggara tetap berlandaskan kuat pada hukum internasional.

“Sehubungan dengan Amerika Serikat dan China, kami telah menyampaikan kepada keduanya bahwa kami beroperasi berdasarkan UNCLOS,” kata Dr Balakrishnan, merujuk pada Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut.

“Hak lintas transit dijamin bagi semua pihak. Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun untuk menutup atau menghambat, atau memberlakukan pungutan di kawasan kami.”

Ketika ditanya oleh Steve Sedgwick dari CNBC apakah Singapura akan memilih antara AS dan China, Dr Balakrishnan menegaskan kembali: “Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun untuk menutup atau menghambat, atau memberlakukan pungutan atas lalu lintas, lalu lintas maritim, maupun penerbangan di era ini.”

 

Kapal tanker gas alam cair (LNG) ETYFA-Prometheas terlihat di Selat Malaka, Malaysia, pada 15 April 2026. (Foto: EPA/FAZRY ISMAIL)

MEMILIH ANTARA  AS DAN CHINA

Dr Balakrishnan menyoroti posisi lama Singapura untuk tidak memihak antara AS dan China, meskipun persaingan strategis antara kedua kekuatan tersebut semakin meningkat.

“Mengutip Bapak Lee Kuan Yew, kami akan menolak untuk memilih. Cara kami menjalankan urusan adalah dengan menilai apa yang menjadi kepentingan nasional jangka panjang Singapura,” katanya, merujuk pada perdana menteri pertama Singapura.

“Dan jika saya harus mengatakan tidak kepada Washington atau Beijing atau pihak lain mana pun, kami tidak akan ragu untuk melakukannya. Namun mereka juga akan tahu bahwa ketika kami mengatakan tidak, itu bukan atas dorongan pihak lain; kami bertindak demi kepentingan nasional jangka panjang kami sendiri.

“Kami akan bermanfaat, tetapi kami tidak akan dimanfaatkan.”

Terkait kemungkinan Amerika Serikat atau China memberikan tekanan lebih besar terhadap negara-negara seperti Singapura, Dr Balakrishnan menjawab: “Bagi kami, belum.”

 

Ia menambahkan bahwa ketika Singapura berinteraksi dengan AS, ia akan menekankan bahwa Washington memiliki investasi lebih besar di Asia Tenggara dibandingkan total investasi Amerika di India, China, Jepang, dan Korea Selatan jika digabungkan.

“Saya mengingatkan presiden bahwa Anda memperoleh imbal hasil yang sangat baik dari investasi Anda di Singapura,” ujarnya dalam wawancara tersebut.

“Saya juga mengingatkan pemerintah AS bahwa Anda memiliki surplus perdagangan yang signifikan terhadap kami, baik dalam barang maupun jasa. Jadi, apakah Anda memiliki kepentingan langsung? Saya selalu mengingatkan presiden, Anda memiliki kepentingan yang kuat di kawasan ini.”

 

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan (kiri) menyambut Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi (tengah) dalam ASEAN Post-Ministerial Conference with China di Kuala Lumpur Convention Centre, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 10 Juli 2025. (Foto: EPA/HASNOOR HUSSAIN)

Sementara itu, bagi China, Singapura merupakan salah satu sumber terbesar investasi asingnya. “Jadi, apakah kami berada pada posisi yang sangat strategis untuk memanfaatkan perkembangan di Amerika dan China? Ya,” kata Dr Balakrishnan.

Ia memperingatkan bahwa risiko terletak pada potensi memburuknya hubungan AS-China, yang dapat menimbulkan dampak luas melampaui konflik yang saat ini terjadi di Timur Tengah.

“Jika mereka berperang di Pasifik, apa yang Anda saksikan sekarang di Selat Hormuz hanyalah sebuah simulasi awal,” kata Dr Balakrishnan.

“Jadi, ketidakpastian terbesar, variabel terbesar, bukan hanya apa yang terjadi di Timur Tengah, tetapi juga apa yang terjadi di Pasifik.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ar(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan