Singapura akan tingkatkan impor listrik hijau dari Indonesia hingga 3,4 gigawatt
Pemerintah Indonesia dan Singapura memandang kerja sama perdagangan listrik membawa keuntungan bagi kedua negara.
Pemandangan cakrawala kota di Singapura pada 31 Desember 2020. (Foto arsip: REUTERS/Edgar Su)
SINGAPURA: Singapura memberikan lampu hijau kepada dua lagi perusahaan pada hari Kamis (5/9) untuk mengimpor listrik hijau dari Indonesia, setahun setelah lima perusahaan lain mendapat lisensi bersyarat untuk mengimpor listrik rendah karbon dari Tanah Air.
Kedua perusahaan tersebut – Singa Renewables dan Shell Eastern Trading – telah diberikan persetujuan bersyarat untuk mengimpor total 1,4 gigawatt (GW) listrik, sehingga total impor listrik dari Indonesia akan naik menjadi 3,4 GW.
Kedua perusahaan tersebut bukanlah yang pertama yang memperoleh persetujuan bersyarat untuk mendatangkan listrik rendah karbon dari Indonesia.
Pada September 2023, lima perusahaan memperoleh persetujuan bersyarat untuk mengimpor listrik sebesar total 2GW dari Indonesia.
Kelima perusahaan tersebut adalah:
- Pacific Medco Solar Energy, dibentuk oleh PacificLight Renewables, Medco Power Global, dan Gallant Venture
- Adaro Solar International, dibentuk oleh PT Adaro Clean Energy Indonesia
- EDP Renewables APAC
- Vanda RE, dibentuk oleh Gurin Energy dan Gentari International Renewables
- Keppel Energy
Pacific Medco Solar Energy akan mengimpor 0,6 GW, sementara Adaro Solar International dan EDP Renewables APAC masing-masing akan mengimpor 0,4 GW. Vanda RE dan Keppel Energy masing-masing akan mengimpor 0,3 GW.
Kemajuan ketujuh proyek ini didasari beberapa nota kesepahaman (MOU) antara Indonesia dan Singapura tentang kerja sama energi, kata Otoritas Pasar Energi (EMA) Singapura.
Nota-nota kesepahaman itu ditandatangani pada bulan Januari 2022, serta pada bulan Maret dan September tahun lalu.
“MOU ini menegaskan komitmen kedua negara untuk memfasilitasi proyek perdagangan lintas batas dan interkoneksi antara Indonesia dan Singapura, serta investasi dalam pengembangan industri manufaktur energi terbarukan, seperti fotovoltaik surya dan sistem penyimpanan energi baterai di Indonesia," kata EMA dalam pernyataannya kepada pihak media.
SALING MENGUNTUNGKAN KEDUA NEGARA
Menteri Ketenagakerjaan dan Menteri Kedua Perdagangan dan Industri Singapura, Tan See Leng, dalam acara Indonesia International Sustainability Forum 2024 di Jakarta, mengatakan kerja sama perdagangan listrik antara Indonesia dan Singapura akan membawa keuntungan bagi kedua negara.
Selain memasok listrik ke Singapura, proyek ini diyakini dapat mendorong pertumbuhan industri energi terbarukan di Indonesia, seperti produksi baterai dan panel surya.
“Pendapatan dari ekspor listrik dapat digunakan untuk mempercepat proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia guna mempercepat dekarbonisasi Indonesia,” ucap Tan, mengutip kantor berita Antara.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa kemitraan ini sangat menguntungkan bagi kedua negara.
Singapura akan mendapatkan pasokan listrik bersih yang stabil dari Indonesia melalui panel surya dan baterai yang diproduksi di Indonesia, sementara Indonesia akan semakin kuat di pasar energi global dengan memanfaatkan potensi sumber daya alamnya, terutama silika yang melimpah untuk membuat panel surya.
“Jadi, kita harus membangun industri panel surya karena kita harus mengekspor energi hijau ke Singapura. Jadi, saya pikir ini menguntungkan kedua negara,” ujar Luhut.
Singapura bertujuan untuk mencapai emisi nol bersih (net zero) pada tahun 2050.
"EMA telah (awalnya) menilai proyek-proyek ini layak secara teknis dan komersial," kata Otoritas Pasar Energi (EMA) pada hari Kamis.
"Persetujuan bersyarat tersebut bertujuan untuk memfasilitasi perusahaan dalam memperoleh persetujuan dan lisensi regulasi yang diperlukan untuk proyek-proyek tersebut," kata EMA dalam sebuah keterangan kepada pihak media.
TARGET IMPOR SINGAPURA NAIK
Pada tahun 2021, Singapura menargetkan untuk mengimpor hingga 4GW listrik rendah karbon pada tahun 2035.
Sejak saat itu, Singapura menerima lebih dari 20 proposal dari berbagai negara, yang menunjukkan kelayakan impor listrik rendah karbon sebagai jalur untuk mendekarbonisasi sektor kelistrikan, kata EMA.
Sektor kelistrikan saat ini menyumbang sekitar 40 persen emisi karbon Singapura.
Secara total, EMA telah mengeluarkan persetujuan bersyarat untuk sembilan proyek sejauh ini, termasuk lima proyek yang telah maju ke lisensi bersyarat.
Proyek-proyek ini termasuk proposal Keppel Energy untuk mengimpor 1GW listrik rendah karbon dari Kamboja dan proposal Sembcorp Utilities untuk mengimpor 1,2GW dari Vietnam.
“Mengingat kemajuan proyek impor listrik yang menggembirakan dan untuk memastikan pasokan yang memadai guna memenuhi kebutuhan energi masa depan kita mengingat permintaan yang terus meningkat, Singapura akan meningkatkan ambisinya dan berupaya mengimpor 6GW pada tahun 2035,” kata EMA.
EMA mengatakan pihaknya akan terus meneliti semua jalur dekarbonisasi untuk sektor listrik.
Ini termasuk hidrogen, tenaga surya, energi panas bumi dalam, energi nuklir, serta teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon.
"Seiring dengan upaya Singapura melakukan dekarbonisasi, EMA juga akan berupaya mencapai keseimbangan optimal antara keamanan energi, keberlanjutan, dan daya saing biaya," kata otoritas tersebut.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.