Skip to main content
Iklan

Asia

'Saya tidak punya apa-apa lagi': Saat kebakaran dahsyat renggut kehidupan ribuan warga Hong Kong

Sebelum kebakaran besar melanda, Wang Fuk Court adalah kompleks apartemen pada umumnya dengan penghuni yang kebanyakan saling kenal dan asyik melakukan aktivitas kegemaran mereka.

'Saya tidak punya apa-apa lagi': Saat kebakaran dahsyat renggut kehidupan ribuan warga Hong Kong

Seorang warga, Fan, melihat bangunan apartemen tempatnya tinggal yang ditutup setelah kebakaran. (Foto: CNA/Melody Chan)

HONG KONG: Wong, warga Hong Kong berusia 74 tahun, berdiri di lapangan, memegangi kantong berisikan barang keperluan sehari-hari hasil donasi.

"Saya keluar untuk yum cha," kata dia sembari tersenyum ketika ditemui CNA pada Jumat pekan lalu (28/11). Yum cha adalah istilah untuk minum teh di sore hari.

"Dan sekarang saya harus buru-buru menjaga cucu saya," kata dia lagi, seakan berusaha mempertahankan rutinitas dari kehidupan yang sebelumnya ia jalani.

Cucunya kini berada di penampungan sementara setelah unit mereka di kompleks apartemen Wang Fuk Court, distrik Tai Po, terbakar hebat pekan lalu.

Wong, warga berusia 74 tahun, mengumpulkan bantuan sumbangan di lapangan yang dipenuhi para relawan. (Foto: CNA/Melody Chan)

Kebakaran yang terjadi di kompleks apartemen Wang Fuk Court pada 26 November lalu telah menewaskan setidaknya 151 orang dan merenggut kehidupan normal dari ribuan penghuninya.

Sebelum kebakaran, kompleks apartemen berpenghuni sekitar 4.600 jiwa itu tak berbeda dari permukiman lain di Hong Kong: para lansia menikmati yum cha, anak-anak berisik ketika pulang sekolah, dan para pekerja migran membantu keseharian keluarga lintas generasi. Setiap paginya, semua orang di tempat itu tidak pernah terburu-buru, warga saling sapa dan akhir pekan dijalani dengan santai.

Lian, pekerja migran asal Filipina berusia 40 tahun, menggambarkan rutinitasnya. “Sekitar pukul 14.30, saya biasanya keluar menjemput sai lo,” ujarnya. Sai lo adalah bahasa Kanton untuk bocah laki-laki yang ia asuh.

Setiap akhir pekan, Lian menghabiskan waktunya bersama para pekerja domestik lain dengan berkumpul di area terbuka sekitar apartemen, mengobrol, berbagi camilan, atau sekadar melepas lelah setelah seminggu bekerja.

Kini, rutinitas itu sirna, berganti keterkejutan dan duka.

“SAYA TIDAK PUNYA APA-APA LAGI”

“Saya tidak punya apa-apa lagi,” jerit pilu seorang perempuan dengan suara parau saat seorang relawan menuntunnya keluar dari pusat komunitas pada Jumat lalu.

Beberapa saat sebelumnya, ia berada di dalam tempat itu untuk mengidentifikasi foto-foto jenazah korban kebakaran, barangkali ada anggota keluarganya yang hilang.

Keluarga korban berkumpul di balai komunitas untuk mengidentifikasi para korban melalui foto-foto setelah kebakaran Wang Fuk Court di Tai Po, Hong Kong, pada 28 Nov 2025. (Foto: CNA/Melody Chan)

Kebakaran kompleks apartemen Wang Fuk Court telah memutarbalikkan kehidupan para penghuninya dalam waktu singkat.

Menurut sensus Hong Kong, Wang Fuk Court menampung 4.643 penghuni. Lebih dari 9 persen adalah anak-anak, sementara sepertiga lainnya adalah warga lanjut usia berumur 65 tahun ke atas.

Apartemen ini merupakan bagian dari program perumahan bersubsidi pemerintah Hong Kong untuk warga berpendapatan rendah hingga menengah. Unit-unitnya dijual di bawah harga pasar namun penjualan kembali dibatasi agar tetap terjangkau.

Kebakaran menjalar sangat cepat, melahap tujuh dari delapan tower apartemen tersebut dalam hitungan menit. Api baru benar-benar padam pada Jumat, setelah 40 jam dilakukan upaya pemadaman.

Dinas pemadam menerima laporan pertama pukul 14.52 pada 26 November lalu, ketika api pertama muncul di lantai bawah Wang Cheong House.

Aparat menjelaskan bahwa api merambat dengan cepat ke unit-unit apartemen melalui jaring keselamatan konstruksi serta panel styrofoam yang terbakar, membuat penyelamatan menjadi jauh lebih sulit.

Ledakan terdengar di seluruh permukiman sepanjang malam pertama. Kepala Keamanan Hong Kong Chris Tang mengatakan suara itu berasal dari styrofoam yang terbakar dan kaca jendela yang pecah akibat panas ekstrem.

Warga mengatakan kepada CNA bahwa styrofoam itu dipasang di bagian luar sejumlah jendela sebagai pelindung selama pekerjaan konstruksi dilakukan agar kaca tidak rusak.

Kecepatan rambat dan intensitas api membuat banyak penghuni, terutama para lansia, menjadi tak berdaya, terjebak di dalam rumah yang telah mereka tinggali selama puluhan tahun.

Seorang pria yang khawatir istrinya meninggal dalam kebakaran berdiri berjam-jam di balik garis polisi, mengatakan kepada wartawan bahwa ia berharap setidaknya “bisa melihat abunya”.

Api masih terlihat di Wang Fuk Court pada 27 November, sehari setelah petugas pemadam berjuang semalaman untuk mengendalikan kobaran. (Foto: CNA/Melody Chan)

Wong, warga lansia yang berada di penampungan bersama cucunya, mengatakan ia sedang tidur ketika api mulai berkobar. Ia tinggal di unit lantai 20 di blok yang berdampingan dengan tower pertama yang terbakar.

“Asap belum mengarah ke tempat saya. Saya kira itu hal biasa dan akan segera padam,” ujarnya kepada CNA.

Wong, yang membeli unit di apartemen itu melalui skema subsidi pemerintah 40 tahun lalu, menunggu hingga istrinya berlari naik dan menariknya keluar. Cucu laki-lakinya tidak berada di unit saat kejadian.

“Siapa sangka apinya akan menjalar secepat itu?” ujarnya.

Seorang penghuni bermarga Fan, 33, yang bekerja di bidang medis, sedang bekerja ketika pertama kali melihat berita soal kebakaran.

Ia tinggal bersama ayahnya, yang kebetulan juga tidak berada di rumah saat api mulai berkobar.

“Saya setengah jalan menuju tempat kerja ketika melihat kondisinya, lalu saya ambil cuti dan langsung ke sana,” katanya kepada CNA.

Ia tiba di permukiman sekitar pukul 15.30 pada Rabu. “Saat saya sampai, api sudah membesar,” ujarnya.

Fan bermalam di lokasi, berselimutkan kain yang ia ambil dari pusat komunitas terdekat sembari menyaksikan rumahnya terbakar.

“Saya melihat api naik sampai atap sepanjang malam. Lalu terdengar suara ‘boom’ dan atapnya runtuh,” tuturnya.

Api dan asap tebal yang membumbung dari kompleks apartemen Wang Fuk Court selama kebakaran besar di Tai Po, Hong Kong, China, pada 27 November 2025. (Reuters/Tyrone Siu)

Seiring waktu berlalu, ketakutan lain mulai muncul. Di seluruh permukiman, keluarga dan tetangga mulai mencari mereka yang belum kembali.

Di antara warga yang masih mencari orang tercinta adalah seorang perempuan berusia 60-an bernama Yeung.

Putranya yang berusia 41 tahun belum dapat ia hubungi sejak kebakaran. Dia mencoba tetap tenang saat melangkah keluar dari balai identifikasi, tanpa menemukan tanda-tanda putranya.

Yeung kini tinggal di permukiman tetangga, setelah sebelumnya bermukim di Wang Fuk Court sejak 1990 hingga ia pindah usai bercerai pada 1997.

“Saya hanya takut api mungkin sudah sampai ke tempatnya saat ia tidur. Kalau tidak, dia sudah dewasa, pasti tahu cara menyelamatkan diri. Itu harapan saya,” ujarnya kepada CNA.

Yeung, yang mencari putranya yang hilang, mengatakan ia masih memiliki harapan bahwa putranya berhasil menyelamatkan diri. (Foto: CNA/Melody Chan)

Seorang penghuni lain yang tak ingin disebutkan namanya duduk sendirian di bangku taman, menatap tower apartemen yang kini menghitam. Relawan meletakkan air dan tisu di sampingnya, tetapi ia bergeming. Matanya tetap terpaku menatap apartemen, seolah menunggu jawaban yang tak kunjung datang.

Di sekelilingnya, warga memegang lembaran foto tetangga yang hilang—seorang anak berusia lima tahun, seorang pekerja rumah tangga—berharap ada yang mengenali satu wajah saja.

Warga membantu membagikan selebaran untuk mencari seorang anak perempuan dan pekerja rumah tangga keluarga tersebut setelah kebakaran pada 27 Nov. (Foto: CNA/Melody Chan)

Di dunia maya, pencarian orang terkasih yang hilang juga gencar dilakukan.

Dalam grup percakapan, warga membagikan Google Sheets berisi daftar nama, nomor unit, dan catatan kapan terakhir kali terlihat.

Percakapan grup dibanjiri permintaan tolong.

Seorang ibu dengan nama pengguna “Winnie Hui” mencari kabar tentang bayinya yang hilang hampir 30 jam: “Dia sedang sakit dan butuh susu … apakah ada yang tahu apakah dia berhasil diselamatkan?”

Sehari kemudian, ia mendapatkan kabar yang paling ia takutkan. Petugas pemadam menemukan seorang bayi tanpa tanda kehidupan di unit tersebut.

Di tengah kekacauan, beberapa warga tetap menunjukkan keberanian spontan.

Seorang penyintas yang menyebut dirinya “Lim ALim” dan tinggal di lantai dua Wang Fuk Court membagikan kisahnya dalam unggahan Facebook pada 28 November lalu dari ranjang rumah sakit.

Ia mengatakan pertama kali mengetahui kebakaran setelah ditelepon istrinya. Begitu membuka pintu depan, “semuanya langsung gelap” ketika asap pekat memenuhi koridor, dan “bahkan senter ponsel pun tak mampus menembusnya”.

Ia menutup pintu dan menunggu, menggambarkan perasaan itu seperti terjebak “di tempat yang disebut rumah, yang berubah menjadi neraka”.

Lim ALim, penghuni Wang Fuk Court, memotret bagian dalam unitnya setelah kebakaran terjadi di permukiman Tai Po pada 26 Nov 2025. (Foto: Facebook/Lim ALim)

Saat mendengar teriakan pelan dari luar, ia membasahi handuk lalu masuk ke tengah asap, merayap sepanjang dinding sampai menemukan pasangan yang terengah-engah.

Ia berhasil menarik keduanya masuk ke unitnya, memberi mereka air, kaus kaki, dan sepatu sambil menunggu penyelamatan, sementara abu kebakaran beterbangan di udara “seperti salju hitam”.

Beberapa jam kemudian, petugas pemadam mencapai jendela mereka dan mengevakuasi pasangan itu lebih dulu sebelum kembali menjemputnya.

Duduk sendirian, ia mengenang keinginannya menyelamatkan barang-barang berharganya—“pajangan yang saya lukis dengan begadang entah berapa malam … mainan favorit anak-anak”—namun sadar ia tak bisa membawa apa pun.

Ia hanya berdiri diam, seakan mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada rumahnya.

Sejumlah pekerja migran di sektor domestik turut menjadi korban terdampak.

Johannie Yam, penanggung jawab komunikasi sosial di The Mission for Migrant Workers, mengatakan kepada media bahwa terdapat 201 pekerja rumah tangga yang bekerja di Wang Fuk Court, terdiri dari 119 warga Indonesia dan 82 warga Filipina.

Lian, pekerja domestik asal Filipina berusia 40 tahun yang telah bekerja dengan keluarga yang sama selama delapan tahun, mengatakan ia keluar pada siang hari untuk menjemput anak majikannya dari sekolah. Saat berada di kereta, seorang temannya di lantai 18 memberi tahu soal kebakaran.

Karena mengetahui sang kakek biasanya tidur siang, ia langsung menelepon rumah.

“Kakek belum tahu. Saya langsung telepon. Kakek bilang, apa yang terjadi saya tidak dengar.”

Beruntung, pria lansia itu berhasil menyelamatkan diri, meski tanpa membawa apa pun. Lian sempat terpikir untuk kembali mengambil barang-barangnya sendiri, tetapi polisi sudah menutup akses.

Ia mengatakan tak bisa melakukan apa pun selain menyaksikan dari jalan di bawah. “Hanya melihat gedung yang terbakar dan menangis terus dan berdoa supaya gedung kami selamat dan api padam,” ujarnya.

“Beberapa warga hanya menangis, juga berteriak, tapi tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa melihat sampai gedung habis terbakar. Sedih sekali.”

Lian, pekerja migran yang tinggal di Wang Fuk Court, menitikkan air mata saat mengenang kebakaran yang meluluhlantakkan lingkungan tempat tinggalnya. (Foto: CNA/Melody Chan)

WARGA KOTA BAHU-MEMBAHU

Pasca kebakaran, di tengah keputusasaan yang mendalam, hadir sosok-sosok penolong di Wang Fuk Court.

“Perlu heat pack?” “Perlu air panas?” Seruan itu menggema di sekitar lokasi kebakaran ketika para relawan dari berbagai penjuru Hong Kong berdatangan untuk membantu.

Warga juga berdatangan memberi penghormatan, meletakkan bunga di tugu peringatan sederhana di sekitar lokasi kebakaran. Para pelajar, ibu-ibu, dan komunitas masyarakat berkumpul di lapangan samping apartemen, menawarkan apa pun yang mereka bisa.

Sara Wong, ketua kelompok amal Give N Take, membagikan mangkuk mi instan panas kepada warga yang tampak syok atau linglung, termasuk mereka yang baru saja dievakuasi.

Suaranya bergetar saat berbicara kepada CNA. Ia mengatakan banyak warga terdampak menangis tersedu-sedu dan bahwa ia sangat terharu karena, menurutnya, "Mereka seperti bangkrut, mungkin malah lebih buruk”.

Ia menambahkan bahwa LSM-nya juga memiliki program daur ulang furnitur dan berencana membantu warga membangun kembali rumah mereka ketika waktunya tiba.

Karangan bunga ditinggalkan warga sebagai penghormatan kepada para korban kebakaran dahsyat di Tai Po yang menewaskan sedikitnya 128 orang. (Foto: CNA/Melody Chan)

Banyak relawan datang atas inisiatif sendiri, tidak sedikit adalah pelajar dan mahasiswa.

“Kami datang untuk melihat apakah ada yang dibutuhkan dari warga yang terdampak,” kata Kinky, mahasiswi 18 tahun dari Hong Kong Institute of Technology. “Sangat menyedihkan melihat begitu banyak orang tiba-tiba tanpa rumah. Benar-benar memilukan,” ujarnya.

Area luar Stasiun MTR Tai Po Market berubah menjadi titik transit tidak resmi untuk pengumpulan donasi, dengan tumpukan barang sumbangan yang disortir dan didistribusikan ulang oleh relawan.

Ketika suhu turun hingga 14 derajat pada malam hari, para relawan segera membawa heat pack, pengisi daya portabel, dan masker untuk menjaga warga tetap hangat dan terhubung sambil menunggu kabar terbaru.

Hampir setiap kebutuhan sudah diantisipasi: relawan bahkan membawa pembalut, kursi roda, dan pakaian hangat.

Karena banyak penghuni melaporkan hewan peliharaan terjebak di dalam gedung, para pencinta hewan dan pemilik hewan peliharaan ikut bergerak. Mereka membawa makanan hewan, boks angkut, dan kandang.

Warga dan relawan berkumpul di lapangan dekat Wang Fuk Court untuk membagikan pakaian serta makanan sumbangan kepada keluarga terdampak. (Foto: CNA/Melody Chan)

Sugar Lam, 29, salah satu relawan, mengatakan ia datang setelah melihat berita tentang banyaknya hewan peliharaan yang masih berada di dalam gedung.

“Terasa sekali betapa tak berdayanya para pemilik hewan,” katanya. “Melihatnya menyakitkan, jadi saya memutuskan untuk datang membantu.”

“Rasanya sangat melegakan melihat orang mulai mengambil perlengkapan hewan, karena berarti hewan peliharaan mereka selamat, dan itulah yang paling kami harapkan.”

Bagi para penyintas yang berhasil menyelamatkan diri bersama orang-orang terkasih, hanya syukur yang bisa terucap.

Dari ranjang rumah sakit, “Lim ALim” menutup pesannya dengan semangat yang kini bergema di dunia maya.

“Meskipun ini adalah saat-saat yang berat, namun semangat hidup kita lebih kuat. Mari kita pulih dan membangun kembali bersama.”
 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan