Meledaknya roket Long March 7A jadi pukulan bagi ambisi antariksa China
Roket Long March 7A meledak tak lama setelah lepas landas pada 10 Agustus lalu, mengakhiri rentetan keberhasilan misinya selama lebih dari lima tahun. Seberapa besar dampaknya terhadap program antariksa China akan bergantung pada temuan penyelidikan, kata para analis.
Roket Long March 7A China tiba di landasan di Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang di Hainan, China, pada 8 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)
BEIJING: Ledakan hebat mengakhiri catatan sukses roket Long March 7A yang bertahan lebih dari lima tahun. Namun, seberapa besar dampaknya terhadap program antariksa China akan bergantung pada penyebab kegagalan tersebut, kata para analis.
Menurut para analis, dampak kegagalan pada Senin (10/8) itu bergantung pada satu hal penting: apakah masalahnya hanya terjadi pada Long March 7A atau juga terkait dengan perangkat keras dan sistem yang digunakan roket lain.
“Jika masalahnya hanya terjadi pada 7A, dampaknya bisa relatif terbatas,” kata Svetla Ben-Itzhak, asisten profesor bidang antariksa dan hubungan internasional di School of Advanced International Studies (SAIS), Johns Hopkins University, kepada CNA.
Kegagalan memang menjadi bagian dari penerbangan antariksa. Namun, mengingat rekam jejak Long March 7A selama ini, insiden terbaru tersebut kembali memunculkan pertanyaan soal keandalannya, kata para pakar.
“Apakah ini cacat mendasar pada desainnya dan selama ini mereka hanya beruntung karena peluncuran-peluncuran sebelumnya sebenarnya nyaris gagal, atau hanya kesalahan dalam proses perakitan atau perangkat lunak yang mudah diperbaiki?” kata Jonathan McDowell, astrofisikawan dan pengamat penerbangan antariksa veteran, kepada CNA.
LONG MARCH TERSANDUNG
Long March 7A merupakan roket kelas menengah yang digunakan untuk mengirim satelit ke orbit tinggi. Roket ini termasuk generasi baru keluarga Long March, yang sejak lama menjadi andalan program antariksa nasional China.
Peluncuran pada Senin malam merupakan misi ke-18 Long March 7A sekaligus kegagalan keduanya, setelah penerbangan perdananya juga gagal lebih dari enam tahun lalu.
Kurang dari 90 detik setelah lepas landas dari Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang di Provinsi Hainan pada Senin, roket itu meledak menjadi bola api besar. Muatannya, satelit komunikasi ChinaSat-4B, turut hancur.
“Roket mengalami anomali selama penerbangan dan misi peluncuran gagal,” lapor kantor berita pemerintah Xinhua pada Senin malam. Xinhua menambahkan bahwa penyebab kegagalan tersebut masih diselidiki.
Setelah gagal dalam penerbangan perdana pada Maret 2020, Long March 7A berhasil mencapai luar angkasa setahun kemudian. Sebelum Senin, misi terakhir 7A berlangsung pada 29 Juli, ketika roket itu mengirim satelit relai data Tianlian ke orbit.
Karena itu, kegagalan setelah roket tersebut memiliki rekam jejak operasional yang cukup panjang dinilai lebih serius, kata para analis.
“Ini sangat signifikan. Kegagalan pada peluncuran pertama bukan hal yang tidak terduga. Namun, kegagalan pada peluncuran ke-18 menimbulkan keraguan soal keandalan roket tersebut,” kata McDowell, yang juga merupakan profesor kehormatan di Durham University.
Ben-Itzhak dari Johns Hopkins University-SAIS mengatakan, insiden tersebut mengakhiri periode cukup panjang ketika Long March 7A menunjukkan keandalannya. Ia juga mencatat bahwa kegagalan terjadi “relatif awal” dalam penerbangan.
“Karena itu, penyelidik kemungkinan akan memberi perhatian khusus pada sistem propulsi dan kekuatan struktur roket,” katanya.
KEGAGALAN TAK BISA SEPENUHNYA DIHINDARI
Meski insiden pada Senin terlihat dramatis, para analis mengatakan, kegagalan sesekali merupakan risiko yang tak terhindarkan dalam penerbangan antariksa. Bahkan, program antariksa yang sudah mapan pun terkadang mengalami kegagalan.
Pada Desember 2025, roket andalan Jepang H3 gagal dalam sebuah misi hingga menyebabkan hilangnya satelit navigasi. H3 kemudian kembali sukses diluncurkan pada Juni tahun ini.
Pada Juli 2024, Falcon 9, roket andalan SpaceX, pecah di luar angkasa hingga menyebabkan 20 satelit Starlink hilang. Itu merupakan kegagalan misi pertama roket tersebut dalam lebih dari tujuh tahun.
Regulator penerbangan Amerika Serikat sempat menghentikan sementara peluncuran Falcon 9 sebelum mengizinkannya kembali terbang ke luar angkasa 15 hari kemudian.
Sebelumnya, kegagalan peluncuran terakhir China terjadi pada April tahun ini, ketika roket komersial Tianlong-3 gagal menyelesaikan penerbangan perdananya. Pada Januari, misi terpisah roket Long March 3B dan roket komersial Ceres-2 juga mengalami kegagalan.
“Untuk program yang lebih matang seperti milik China, negara-negara yang menjalankan program antariksa selalu menargetkan keberhasilan, tetapi juga bersiap menghadapi risiko kegagalan,” kata Ben-Itzhak.
“Kegagalan peluncuran merupakan bagian yang tak terhindarkan dalam menjalankan program antariksa, terutama dengan jumlah dan frekuensi peluncuran seperti yang dilakukan China.”
China mencatat rekor 93 peluncuran antariksa pada 2025, melonjak dari 68 peluncuran pada 2024 dan 67 pada 2023, menurut laporan harian pemerintah People’s Daily.
DAMPAK LANGSUNG
Meski demikian, kegagalan pada Senin kemungkinan akan berdampak langsung. Para analis memperkirakan, peluncuran Long March 7A akan dihentikan sementara.
“Saya memperkirakan kita tidak akan melihat peluncuran CZ-7A lagi hingga akhir tahun,” kata astrofisikawan McDowell, menggunakan singkatan untuk nama roket tersebut.
Para analis mengatakan, peluncuran roket China lainnya juga mungkin dihentikan sementara selama penyelidikan berlangsung.
“Saya memperkirakan akan ada jeda cukup panjang dalam peluncuran sejumlah roket buatan CALT yang menggunakan mesin serupa,” kata Clayton Swope, wakil direktur Aerospace Security Project di Center for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga kajian yang berbasis di Amerika Serikat, kepada CNA.
CALT (China Academy of Launch Vehicle Technology) merupakan anak perusahaan China Aerospace Science and Technology Corporation milik negara dan salah satu pengembang utama keluarga roket Long March, termasuk 7A.
“China tentu ingin mengetahui penyebab masalah ini sebelum kembali meluncurkan Long March 7 dan, mungkin, sebelum meluncurkan roket yang menggunakan mesin YF-100 atau variannya,” kata Swope, yang juga peneliti senior di Departemen Pertahanan dan Keamanan CSIS.
YF-100 adalah mesin berbahan bakar cair yang digunakan pada sejumlah roket Long March generasi baru, termasuk seri 5, 6 dan 7.
Ben-Itzhak dari Johns Hopkins University-SAIS mengatakan, dampak yang lebih luas terhadap roket Long March lainnya akan bergantung pada hasil penyelidikan.
“Yang perlu diketahui adalah apakah masalah ini melibatkan perangkat keras atau sistem yang juga digunakan pada roket lain dalam keluarga Long March,” katanya.
Pada saat yang sama, insiden pada Senin kemungkinan akan membuat pengawasan di seluruh industri diperketat, seiring para operator meninjau kembali sistem dan prosedur mereka masing-masing.
“Setiap kali terjadi masalah seperti ini, seperti ledakan, semua perusahaan, BUMN, dan pihak terkait akan memeriksa semuanya dengan sangat teliti dan melakukan pengecekan ulang,” kata Quentin Parker, profesor emeritus di University of Hong Kong (HKU), kepada CNA.
Di tengah situasi tersebut, peluncuran roket komersial Zhuque-3 yang telah lama dinantikan dan semula dijadwalkan pada Selasa pagi pekan lalu dari lokasi peluncuran Jiuquan di China barat laut ditunda.
Belum ada alasan resmi yang diberikan terkait penundaan tersebut. Jika berlangsung sesuai jadwal, peluncuran itu akan dilakukan kurang dari 12 jam setelah kegagalan Long March 7A.
Zhuque-3 dikembangkan perusahaan swasta China LandSpace dan merupakan salah satu roket paling canggih China dalam mengembangkan kendaraan peluncur yang dapat digunakan kembali. Uji coba perdananya pada Desember tahun lalu berakhir gagal setelah roket tersebut tidak berhasil melakukan pendaratan terkendali yang menjadi bagian penting dari pengujian.
KEGAGALAN ROKET LONG MARCH
5 Nov 1974 | Long March 2
Penerbangan perdana roket dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan gagal.
Badan Antariksa Nasional China menyebut penyebabnya adalah “kegagalan kabel pada sistem kendali”.
21 Des 1992 | Long March 2E
Roket diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang dengan membawa satelit Optus B2.
Laporan yang diterbitkan pemerintah AS menyebut terjadi kegagalan yang tidak dijelaskan lebih lanjut, 48 detik setelah lepas landas.
26 Jan 1995 | Long March 2E
Roket yang membawa satelit Apstar 2 meledak sekitar 50 detik setelah lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang.
Puing-puing yang jatuh menyebabkan sejumlah korban, menurut laporan media.
15 Feb 1996 | Long March 3B
Roket jatuh tak lama setelah lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang. Satelit Intelsat 708 buatan AS yang dibawanya turut hancur.
Menurut laporan, roket jatuh di lereng bukit dekat lokasi peluncuran lalu meledak dan merusak sebuah desa di sekitarnya.
Sedikitnya enam orang tewas dan puluhan lainnya terluka, menurut laporan, meski sejumlah sumber menyebut jumlah korban mungkin lebih tinggi.
18 Agu 2011 | Long March 2C
Roket yang membawa satelit eksperimental mengalami gangguan tak lama setelah lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan.
Insiden tersebut membuat peluncuran Tiangong-1, modul stasiun antariksa pertama China, tertunda, menurut China Daily.
9 Des 2013 | Long March 4B
Roket lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan dengan membawa satelit penginderaan jauh Ziyuan-1-03 yang dikembangkan bersama oleh China dan Brasil.
Roket mengalami gangguan saat terbang, menurut China Daily.
1 Sep 2016 | Long March 4C
Roket diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan dengan membawa satelit Gaofen-10, menurut laporan media China.
Namun, misi berakhir gagal setelah satelit tidak berhasil mencapai orbit dan akhirnya jatuh di Kabupaten Shanyang, Provinsi Shaanxi.
2 Jul 2017 | Long March 5 Y2
Peluncuran roket angkut berat dari Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang berakhir gagal setelah terdeteksi “anomali” saat penerbangan, menurut Xinhua.
23 Mei 2019 | Long March 4C
Roket yang membawa satelit penginderaan jauh Yaogan-33 mengalami kegagalan saat diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan.
Tahap pertama dan kedua roket berfungsi normal, tetapi terjadi “gangguan” pada tahap ketiga, menurut Xinhua.
16 Mar 2020 | Long March 7A
Penerbangan perdana roket berakhir gagal setelah mengalami gangguan usai lepas landas dari Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang.
9 Apr 2020 | Long March 3B
Roket lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang dengan membawa satelit komunikasi Indonesia.
Peluncuran berakhir gagal. Xinhua melaporkan terjadi “kondisi tidak normal” pada tahap ketiga.
17 Jan 2026 | Long March 3B
Roket lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang dengan membawa satelit multiguna Shijian 32.
Pendorong tahap ketiga mengalami gangguan saat terbang sehingga satelit gagal mencapai orbit yang dituju.
10 Agu 2026 | Long March 7A
Roket lepas landas dari Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang dengan membawa satelit komunikasi ChinaSat-4B.
Roket meledak kurang dari 90 detik setelah lepas landas setelah mengalami anomali saat terbang.
Oleh Lakeisha Leo
AMBISI ANTARIKSA CHINA TETAP MELAJU
Meski kegagalan pada Senin memunculkan pertanyaan soal kesiapan roket China, para analis menilai, dampaknya terhadap ambisi antariksa Beijing secara keseluruhan kemungkinan terbatas, kecuali penyelidikan menemukan masalah yang lebih luas.
“Ini merupakan kemunduran teknis yang cukup berarti ... tetapi bukan kemunduran besar bagi program antariksa China secara keseluruhan,” kata Ben-Itzhak. Ia menekankan pentingnya membedakan nasib satu jenis roket dengan program antariksa nasional secara keseluruhan.
Program antariksa China kini semakin besar dan beragam, mulai dari stasiun antariksa berawak permanen, eksplorasi Bulan dan planet, jaringan satelit seperti Beidou, hingga sektor peluncuran komersial yang berkembang pesat.
Dalam beberapa tahun terakhir, China juga mencatat sederet pencapaian.
China menyelesaikan pembangunan stasiun antariksa modular Tiangong pada 2022. Pada 2024, misi Chang’e-6 mencetak sejarah dengan membawa pulang sampel pertama dari sisi jauh Bulan.
Pada Mei 2025, Tianwen-2 diluncurkan dalam misi pertama China untuk mengambil sampel dari asteroid dekat Bumi. Jika berhasil, China akan menjadi negara ketiga setelah Jepang dan AS yang mencapai prestasi tersebut.
China juga terus menjalankan rencana yang lebih ambisius, termasuk mendaratkan astronaut di Bulan sebelum 2030 dan meluncurkan misi yang sementara dijadwalkan sekitar 2028 untuk mengambil sampel dari Mars.
Beijing juga mencatat kemajuan dalam teknologi roket yang dapat digunakan kembali. Teknologi ini memungkinkan bagian roket diambil kembali dan digunakan untuk penerbangan berikutnya, sehingga berpotensi menekan biaya peluncuran serta meningkatkan efisiensi dan frekuensi misi antariksa.
Pada Juli, China untuk pertama kalinya berhasil mengambil kembali pendorong roket kelas orbital. Sistem berbasis laut digunakan untuk menangkap bagian roket yang kembali ke Bumi dengan jaring di atas platform terapung.
Selain itu, pengembangan industri dirgantara telah ditetapkan sebagai prioritas strategis dalam Rencana Lima Tahun ke-15 China, yang memuat sasaran pembangunan ekonomi dan sosial negara tersebut. Hal ini menunjukkan semakin pentingnya sektor tersebut bagi ambisi ekonomi China.
Menurut Ben-Itzhak, tantangan yang lebih besar bagi China adalah menjaga keandalan peluncuran di tengah program antariksa yang terus berkembang.
“Seiring China mempercepat frekuensi peluncuran dan mengerahkan semakin banyak satelit, menjaga kontrol kualitas dan keandalan peluncuran menjadi semakin sulit ... dan tentu saja semakin penting,” katanya.
Ben-Itzhak menambahkan bahwa China telah menunjukkan “kemampuan institusional yang kuat untuk bangkit” dari kegagalan peluncuran sebelumnya. Ia menyebut Long March 5 sebagai salah satu contohnya.
Roket tersebut mengalami kegagalan peluncuran pada 2017. Long March 5 berhasil kembali terbang pada akhir 2019 dan kemudian digunakan dalam sejumlah misi besar, termasuk misi Tianwen-1 ke Mars dan misi Chang’e-5 yang membawa pulang sampel dari Bulan pada 2020.
Kegagalan Long March 7A pada Senin pada akhirnya bisa menjadi ujian lain bagi kemampuan China untuk bangkit.
“Kegagalan ini menjadi pukulan bagi kebanggaan China,” kata astrofisikawan McDowell.
“Namun, jika penyelidikan dilakukan dengan baik, kegagalan ini pada akhirnya akan membuat industri roket China lebih kuat dan lebih andal, selama mereka mengambil pelajaran yang tepat.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.