Skip to main content
Iklan

Asia

Ringgit menguat: Importir Malaysia diuntungkan, pariwisata tertekan

Fluktuasi mata uang ibarat pisau bermata dua: sebagian sektor diuntungkan, sementara lainnya merugi. Namun, analis menilai penguatan ringgit tetap membawa dampak positif bagi Malaysia secara keseluruhan.

Ringgit menguat: Importir Malaysia diuntungkan, pariwisata tertekan

Papan elektronik menampilkan nilai tukar dolar Singapura terhadap ringgit Malaysia di sebuah gerai penukaran uang di Johor Bahru, 17 November 2025. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

JOHOR BAHRU/SINGAPURA: Penguatan ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika Serikat ke level tertinggi dalam lebih dari setahun memberi dorongan positif bagi pengusaha garmen Malaysia, Chua Hunt.

Perusahaan milik Chua, D&R Garments Manufacturing, memiliki pabrik di Xiamen, China. Ringgi yang menguat membuat biaya impor kain menjadi lebih murah, sehingga perusahaannya bisa mendapatkan bahan berkualitas tinggi dengan harga bersaing.

“Perbaikan dari sisi biaya ini secara signifikan menutupi kendala ekspor,” ujar Chua, CEO D&R. “Secara strategis, hal ini memperkuat komitmen kami untuk meningkatkan kualitas dan margin, serta memperkokoh posisi perusahaan.”

Perusahaannya berencana memanfaatkan momentum penguatan ringgit dengan mempercepat siklus pengadaan, mengoptimalkan jadwal produksi di Malaysia dan China untuk efisiensi maksimum, serta menerapkan mekanisme harga yang fleksibel bagi klien internasional guna menjaga margin dan daya saing.

"Ringgit yang menguat adalah peluang,” kata Chua.

Menguatnya ringgit juga meningkatkan daya beli masyarakat di Malaysia. Manajer Hafiz Norzaman di dealer motor Yamaha Star Centre Singdeca Enterprise di Johor Bahru mencatat ada peningkatan pelanggan yang mengganti motor mereka ke model terbaru atau yang lebih bertenaga.

Hafiz Norzaman berbicara kepada CNA dalam sebuah wawancara di Johor Bahru, 17 November 2025. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

“Kami melihat pelanggan datang dari berbagai daerah, termasuk dari kota yang cukup jauh seperti Kulai, Senai, dan Kluang untuk mengganti motor mereka dengan model yang lebih nyaman,” ujarnya.

Dealer itu juga bisa menawarkan diskon yang lebih menarik berkat impor motor dan suku cadang lebih murah karena menguatnya ringgit.

Rebound ringgit dalam dua tahun terakhir terbilang mencolok. Per 11 November, ringgit menguat ke RM4,16 per US$1, berkebalikan dengan Februari 2024 ketika anjlok ke level terendah sejak Krisis Keuangan Asia akhir 1990-an, yakni RM4,79 per US$1.

Ringgit Malaysia juga mengungguli dolar Singapura dan pada 12 November menyentuh RM3,1642 per S$1, level terkuat dalam lebih dari setahun menurut laporan Maybank yang terbit pekan lalu.

Namun bagi eksportir dan pelaku pariwisata, penguatan ringgit berpotensi memicu pelemahan permintaan, menjadikan fluktuasi mata uang ini ibarat pisau bermata dua. Kendati demikian, analis menilai penguatan ringgit pada akhirnya tetap memberikan manfaat bagi Malaysia.

Menurut analis, penguatan ringgit disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan fundamental di dalam negeri.

ALASAN RINGGIT MENGUAT

Antisipasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve, untuk bulan depan dan pada 2026 “tampaknya menjadi pendorong utama” penguatan mata uang di pasar negara berkembang yang kinerjanya menguat, termasuk Malaysia, kata Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia, Mohd Afzanizam Abdul Rashid.

AS tengah berupaya menangani pelemahan pasar tenaga kerja serta inflasi yang masih tinggi. Laporan media terbaru menunjukkan para petinggi Federal Reserve tidak sepaham soal apakah akan menurunkan suku bunga pada Desember. Secara umum, suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan nilai tukar suatu mata uang.

Menurut Mohd Afzanizam, selisih suku bunga yang lebih kecil antara AS dan Malaysia akan meningkatkan daya tarik ringgit karena investor mulai memindahkan dana dari aset berdenominasi dolar AS ke pasar lain seperti Malaysia.

Upaya pemerintah Malaysia menurunkan defisit fiskal dari 4,1 persen PDB pada sembilan bulan pertama 2024 menjadi 3,3 persen pada periode yang sama tahun ini juga turut mengangkat nilai ringgit, ujarnya.

“Konsolidasi fiskal yang terus dijalankan telah memperbaiki kondisi keuangan negara lewat kebijakan pajak dan penataan subsidi,” ujarnya.

“Ini dipandang positif oleh pasar kredit dan ikut mengerek minat risiko investor pendapatan tetap,” katanya, seraya menambahkan bahwa investor kemungkinan meningkatkan pembelian aset ringgit seperti obligasi maupun saham.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan di Parlemen pada Selasa bahwa disiplin fiskal dan pengelolaan ekonomi yang sistematis telah membuat ringgit mencatat kinerja terbaik di Asia tahun ini.

Pada Oktober, Anwar mengatakan kepada Parlemen bahwa ringgit menguat terhadap sejumlah mata uang regional, naik 9 persen terhadap rupiah Indonesia, 6,6 persen terhadap peso Filipina, 3,5 persen terhadap yuan China, 1,5 persen terhadap yen Jepang, dan 0,8 persen terhadap dolar Singapura.

Seorang staf menghitung uang kertas ringgit Malaysia di sebuah gerai penukaran uang di Johor Bahru, 17 November 2025. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

Ia menyoroti langkah subsidi terarah, termasuk penyesuaian harga bensin RON95, yang menurutnya memberikan “dampak positif” terhadap ringgit, sebagaimana diberitakan media lokal.

Cassey Lee, peneliti senior sekaligus koordinator Program Studi Ekonomi Regional di ISEAS–Yusof Ishak Institute, Singapura, mengatakan kenaikan ringgit didorong oleh pertumbuhan ekspor yang kuat dan keyakinan bahwa momentum itu akan berlanjut, terutama setelah perjanjian dagang resiprokal antara Malaysia dan AS.

Penguatan ini diproyeksi masih akan berlanjut pada tahun depan.

Ekonom senior ASEAN OCBC, Lavanya Venkateswaran, mencatat bahwa meski laju penguatan ringgit bisa melambat dalam jangka pendek, tren kenaikan diproyeksikan bertahan selama fundamental Malaysia tetap solid dan dolar AS tidak kembali menguat tajam.

Ia mengatakan OCBC memproyeksikan ringgit berada di 4,16 per US$1 pada akhir 2025 dan 4,04 per US$1 pada akhir 2026.

“Jika ekonomi AS melemah lebih lanjut secara moderat dan Federal Reserve menurunkan suku bunga acuannya, besar kemungkinan ringgit akan terus menguat,” kata Lee dari ISEAS–Yusof Ishak Institute.

Masyarakat Malaysia sudah berbondong-bondong ke gerai penukaran uang untuk memaksimalkan nilai ringgit dengan menukar ke yen Jepang, yuan China, baht Thailand, dong Vietnam, maupun rupiah Indonesia. Memegang mata uang asing tersebut sekarang diyakini bisa memberi nilai lebih jika ringgit melemah dalam jangka panjang.

Warga Sabah, Mado, yang bermukim di Johor Bahru menukar sebagian ringgitnya ke rupiah pekan ini. “Lebih baik menukar sekarang saat ringgit kuat. Kalau menguat lagi, saya akan tukar lebih banyak. Itu langkah yang paling masuk akal,” katanya kepada CNA.

Mado berbicara kepada CNA di Johor Bahru pada 17 November 2025. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

TURIS SINGAPURA TIDAK TERPENGARUH

Sejumlah sektor yang diperkirakan merasakan dampak negatif dari penguatan ringgit adalah pariwisata dan eksportir.

Hotel-hotel di Johor bersiap menghadapi penurunan wisatawan hingga 25 persen pada musim liburan mendatang dibanding tahun-tahun sebelumnya, kata Ketua Asosiasi Hotel Malaysia wilayah Johor, Ivan Teo.

Penurunan ini dipicu berkurangnya turis dari Indonesia dan Thailand, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sumber kedatangan internasional terbesar ketiga dan keempat bagi Malaysia.

“Turis dari negara-negara tersebut umumnya lebih sensitif terhadap fluktuasi mata uang, sehingga kami melihat pelemahan permintaan dari mereka,” ujar Teo.

Kedatangan wisatawan dari Singapura tetap stabil. Menurutnya, hal ini kemungkinan karena wisatawan Singapura memiliki daya beli lebih tinggi dan tidak terlalu sensitif terhadap penguatan ringgit.

“Permintaan dari Singapura masih kuat dan kami tidak melihat adanya perubahan menjelang musim liburan sekolah yang dimulai pekan ini,” ujarnya.

Ketua Johor Tourist Guides Association, Jimmy Leong, sependapat bahwa permintaan dari pengunjung Singapura tidak berubah, sementara dari Indonesia dan Thailand “sedikit menurun”.

“Bagi warga Singapura, Malaysia masih menawarkan value for money untuk berbelanja, wisata kuliner, wisata medis, dan sektor lainnya,” katanya.

Dari sekitar RM3,5 per S$1 pada Januari 2024, ringgit menguat menjadi RM3,19 per S$1 pada Kamis, 20 November.

Turis asal Singapura di Johor Bahru mengatakan penguatan ringgit tidak mengurangi minat mereka menyeberang ke Malaysia melalui Causeway atau perlintasan kedua negara.

Edmund Lee, warga Singapura yang bekerja di sektor keuangan, mengatakan ia tetap masuk Malaysia sekitar setiap tiga minggu untuk membeli kebutuhan pokok dan bertemu teman-temannya di Johor Bahru untuk makan bersama. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

Edmund Lee, warga Singapura yang bekerja di sektor keuangan, mengatakan ia masih rutin menyeberang ke Malaysia tiap tiga minggu untuk belanja dan bertemu teman di Johor Bahru.

“Bagi saya tidak masalah karena saya tidak banyak berbelanja di sini,” ujar Lee. “Kalaupun Anda menghabiskan 500 atau 1.000 ringgit, selisihnya mungkin hanya sekitar 20 ringgit.”

Warga Singapura lainnya, Mohd Taufik Mustafa, mengatakan ia hanya merasakan “sedikit perbedaan” setelah menghabiskan RM300–RM400 untuk belanja kebutuhan pokok. “Tidak seperti ketika kursnya RM3,09, RM3,02, atau RM2,80 per S$1, itu baru terasa,” katanya.

Mohd Taufik Mustafa, fotografer, berbicara kepada CNA dalam sebuah wawancara di Johor Bahru, 18 November 2025. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

Pelaku usaha di Johor Bahru yang bergantung pada pelanggan Singapura mengaku tidak merasakan dampak berarti.

Di Legend Car Wash, yang berlokasi kurang dari satu kilometer dari Woodlands Causeway, jumlah pelanggan dari Singapura tidak berubah, kata manajer Ramesh Ponnayah. Lebih dari separuh pelanggannya merupakan warga Singapura.

“Mereka tetap memilih membelanjakan uang di sini,” ujar Ramesh.

Pekerja membersihkan kendaraan berpelat Singapura di Legend Car Wash, Johor Bahru, 17 November 2025. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

MENJANGKAU PASAR BARU

Namun, pelaku pariwisata Malaysia mengatakan mereka akan bergerak lebih proaktif untuk menutup penurunan permintaan dari negara tertentu.

Teo mengatakan perusahaan tur kini gencar mempromosikan paket ke agen perjalanan China karena wisatawan China, seperti warga Singapura, tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan ringgit.

“Kami berupaya bekerja sama dengan mitra di Guangzhou untuk membawa wisatawan langsung ke Johor, karena sudah ada penerbangan langsung ke Bandara Senai,” ujarnya.

Dengan target 47 juta wisatawan dalam kampanye Visit Malaysia 2026, Leong mengatakan perusahaan tur tidak perlu gentar dengan ringgit yang menguat.

“Kita juga harus melihat dari sisi lain, dengan ringgit yang lebih kuat, biaya promosi dan pemasaran ke luar negeri menjadi lebih murah bagi kita,” ujarnya.

Ramesh D Ponnayah, 56, manajer Legend Car Wash, berbicara kepada CNA dalam wawancara di Johor Bahru, 17 November 2025. (Foto: CNA/Zamzahuri Abas)

Sementara itu bagi para eksportir Malaysia, ekonom Lee Heng Guie mengatakan bahwa produsen furnitur dan sarung tangan dengan bahan baku asal Malaysia termasuk yang akan menghadapi kesulitan.

“Mereka menghadapi dampak ganda akibat ringgit yang kuat, yang membuat produk mereka lebih mahal bagi pelanggan luar negeri, ditambah tarif 19 persen yang diberlakukan AS,” ujar Lee, direktur eksekutif Socio-Economic Research Centre.

Salah satu penyedia layanan penyewaan mobil di Malaysia, Wahdah, menjadi contoh campuran dampak positif dan negatif dari penguatan ringgit.

CEO Wahdah, Muhd Raden Anwar, awalnya memperkirakan penguatan ringgit akan membuat biaya impor kendaraan dan suku cadang dari negara seperti Jepang dan China menjadi lebih murah.

Namun penghematan biaya itu ternyata “lebih bersifat moderat ketimbang signifikan,” katanya.

Sebaliknya, Wahdah justru melihat penurunan pemesanan dari wisatawan asing tahun ini, ujar Muhd Raden tanpa merinci angka. Lebih dari separuh pelanggan aktifnya berasal dari luar negeri, dan pasar Singapura, Indonesia, serta Thailand sangat penting bagi perusahaan tersebut.

“Penyebabnya bisa jadi karena sebagian wisatawan masih ragu-ragu dengan situasi nilai tukar saat ini. Seiring ringgit menguat, daya beli mereka berkurang dan beberapa keluarga menjadi lebih berhati-hati dalam pengeluaran yang tidak penting,” ujarnya.
 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan