Skip to main content
Iklan

Asia

Ramai-ramai warga Hong Kong ke China daratan demi beli BBM murah

Konflik di Timur Tengah yang menyebabkan kenaikan harga minyak membuat warga Hong Kong rela menyeberang ke utara untuk mencari BBM murah, tetapi apakah benar bisa berhemat?

Ramai-ramai warga Hong Kong ke China daratan demi beli BBM murah

Mobil dengan pelat izin ganda Hong Kong–China daratan terlihat antre mengisi BBM di SPBU Sinopec dekat Pelabuhan Teluk Shenzhen pada 17 Maret 2026. (Foto: CNA/Melody Chan)

SHENZHEN: Warga Hong Kong, Chester Chin, terkadang harus menyeberang melalui Jembatan Hong Kong-Zhuhai-Makau (HZMB) untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) mobilnya.

"Harga bensin di Hong Kong tinggi sekali. Saya mencari BBM yang lebih murah," kata pria 55 tahun itu kepada CNA.

Di tengah eskalasi ketegangan Timur Tengah yang memicu gejolak pasar minyak global, harga BBM di Hong Kong termasuk yang tertinggi di dunia. Dalam beberapa pekan terakhir, harga BBM di Hong Kong mencapai HK$30 (Rp64 ribu) per liter.

Di kota China daratan seperti Shenzhen, harga per liter BBM berkisar antara 8 hingga 9 yuan (Rp19 ribu-Rp22 ribu), jauh lebih murah dibanding Hong Kong.

“Bahkan setelah sedikit kenaikan harga di China daratan, BBM di sana tetap sekitar sepertiga dari harga di Hong Kong,” kata Ringo Lee Yiu-pui, gubernur sekaligus presiden kehormatan seumur hidup Asosiasi Otomotif Hong Kong China.

Lee mengatakan kepada media lokal pekan lalu bahwa terlihat adanya peningkatan jumlah warga Hong Kong yang rutin pergi ke China daratan khusus untuk mengisi BBM.

Chin mengatakan ia menghabiskan lebih dari HK$1.200 (Rp2,6 juta) per minggu untuk BBM, seraya menambahkan bahwa bahan bakar di China daratan jauh lebih murah.

Selama lebih dari setahun, warga Hong Kong Chester Chin berkendara ke Zhuhai di China selatan untuk mengisi BBM demi menghemat biaya. (Foto: Chester Chin)

Seorang penduduk tetap Hong Kong berusia 39 tahun yang hanya ingin disebut dengan nama belakangnya, An, mengatakan kepada CNA bahwa kini ia tidak lagi mengisi bensin di kota tersebut.

“Saya tidak pernah mengisi bahan bakar di Hong Kong. Harganya terlalu mahal,” kata An.

Ia sering berkendara ke China daratan untuk bekerja dan mengisi bahan bakar di kota-kota seperti Shenzhen dan Guangzhou, di mana satu tangki penuh biasanya menghabiskan sekitar 450 yuan (Rp1,1 juta).

Namun, menurutnya menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengisi BBM terkadang tidak selalu berujung penghematan.

Mengisi 40 liter BBM di Hong Kong bisa menelan biaya sekitar HK$1.000 (Rp2,1 juta), dibandingkan hanya sekitar 300 yuan (sekitar Rp734.000) di China daratan, kata An.

Namun, tambah dia, menyeberang melalui HZMB juga memerlukan biaya tol sekitar 300 yuan.

Perjalanan lintas batas biasanya butuh pelat ganda berkuota atau izin melintas di bawah skema “Northbound Travel” Hong Kong, program baru yang mengizinkan mobil pribadi memenuhi syarat masuk kota Greater Bay Area tanpa kuota lama.

Setelah memperhitungkan biaya, termasuk bahan bakar yang terpakai selama perjalanan serta waktu tempuh, dana yang dihemat hanya menjadi beberapa ratus dolar Hong Kong, kata An.

Pekerja SPBU di kota-kota China daratan mengatakan hilir mudik kendaraan Hong Kong sudah menjadi pemandangan biasa.

“Mereka rutin datang,” kata Li Ming, 38, petugas SPBU Sinopec di Shenzhen dekat Pelabuhan Teluk Shenzhen.

Ia mengatakan kenaikan harga BBM di Hong Kong telah mendorong peningkatan permintaan sebesar 20 hingga 30 persen dari pengendara asal Hong Kong, terutama untuk solar.

Seorang pengendara dengan pelat izin tiga wilayah—Hong Kong, Makau, dan China daratan—terlihat mengisi bahan bakar di sebuah SPBU di Shenzhen pada 17 Maret 2026. (Foto: CNA/Melody Chan)

MENGAPA BBM DI HONG KONG SANGAT MAHAL

Harga BBM di Hong Kong sangat terpengaruh oleh pasar minyak global, kata Rosette Leung, dosen di sekolah bisnis Chinese University of Hong Kong.

Ia menambahkan bahwa meskipun perbedaan harga BBM sudah lama ada, namun selisihnya terus melebar dalam beberapa bulan terakhir seiring kenaikan harga minyak global di tengah ketegangan di Timur Tengah.

“Karena Hong Kong bergantung pada impor BBM, harga naik dengan cepat ketika kondisi eksternal berubah,” ujarnya.

Faktor struktural juga turut menyumbang tingginya harga BBM di Hong Kong, kata Mike Lai Kee-hung, profesor ketua bidang pelayaran dan logistik di Sekolah Bisnis Universitas Politeknik Hong Kong (PolyU).

“Pajak bahan bakar adalah pendorong utama harga BBM di Hong Kong,” ujar Lai kepada CNA.

Di bawah regulasi Barang Kena Cukai kota tersebut, bensin tanpa timbal dikenakan pajak sebesar HK$6,06 (Rp13.000) per liter, jelasnya.

“Pajak ini mencakup sekitar 20 persen dari harga,” katanya, seraya menambahkan bahwa tingginya biaya lahan dan operasional SPBU juga mendorong kenaikan harga.

Per 19 Maret, pengecekan CNA menunjukkan harga BBM di SPBU Hong Kong masih berada di atas HK$30 (Rp65 ribu) per liter—dengan bensin standar seharga HK$31,09 (Rp67 ribu) dan jenis premium HK$32,89 (Rp71 ribu) menurut Oil Price Watch dari Dewan Konsumen Hong Kong.

Di sisi lain, harga BBM di China daratan lebih terkontrol dan kenaikannya tidak setinggi itu, sehingga selisih harga dengan Hong Kong makin melebar selama bertahun-tahun, kata para ahli.

Bahkan sebelum terjadi ketegangan geopolitik, BBM di kota-kota China daratan biasanya hanya sekitar sepertiga dari harga di Hong Kong.

Menurut Lai, isi bahan bakar lintas batas kerap mengikuti pola perjalanan, bukan hanya karena demi menghemat biaya.

“Dalam konteks ini, pengisian BBM (di China daratan) dipandang sebagai kemudahan tambahan dari perjalanan, artinya orang akan tetap melakukannya meskipun manfaat finansialnya terbatas,” tambahnya.

Harga BBM di Hong Kong, yang termasuk tertinggi di dunia, dalam beberapa pekan terakhir telah melampaui HK$30 per liter. (Foto: Chester Chin)

Sebaliknya, pengendara yang tidak rutin bepergian ke China daratan mungkin akan beralih ke alternatif seperti kendaraan listrik (EV) jika harga bensin tetap tinggi.

Chin, pengendara berusia 55 tahun, termasuk yang beralih ke mobil listrik.

“Harga bensin di Hong Kong terlalu mahal, tetapi berkendara ke daratan hanya untuk mengisi BBM memakan terlalu banyak waktu,” katanya kepada CNA.

Ia beralih ke kendaraan listrik melalui skema pemerintah “one for one” yang menawarkan insentif pajak untuk mengganti mobil bensin lama.

“Sekarang ekonomi tidak terlalu baik, saya akan berhemat (sebisa mungkin),” ujarnya.

APAKAH PERJALANANNYA SEPADAN?

Bagi warga Hong Kong, besaran penghematan dari mengisi BBM di China daratan juga sangat bergantung pada jenis mobil dan bagaimana perjalanan dilakukan.

“Hal ini terkait dengan kapasitas tangki dan efisiensi bahan bakar,” kata Lai dari PolyU.

Efisiensi akan lebih terasa untuk kendaraan yang lebih besar seperti SUV atau mobil 7 penumpang, dengan kapasitas tangki hingga 90 liter, tambah Lai.

Meski demikian, waktu yang dihabiskan terkadang tidak sepadan dengan penghematan yang didapat.

“Pengorbanan beberapa jam hanya untuk menghemat beberapa ratus dolar” membuat upaya tersebut “tidak selalu sepadan”, kata Lai.

Banyak warga Hong Kong secara rutin bepergian ke kota-kota China daratan terdekat seperti Shenzhen, Zhuhai, dan Zhongshan pada akhir pekan untuk berbelanja dan mengurus keperluan. (Foto: CNA/Melody Chan)

“Tidak terlalu sepadan jika hanya (berkendara jauh) demi BBM,” ujar Lai, seraya menambahkan bahwa hal ini lebih masuk akal bagi mereka yang memang sudah bepergian ke China daratan untuk rekreasi atau pekerjaan.

Pengendara lain seperti Wendy Lo, ibu rumah tangga berusia 48 tahun dari Hong Kong, mengatakan bahwa dia tidak secara khusus ke China daratan untuk mengisi BBM, melainkan hanya bagian dari perjalanannya.

“Kami tidak hanya (pergi) untuk bensin,” kata Lo. "Kami ke sana untuk makan atau urusan lain, sekalian kami isi BBM.”

Seorang pengendara Mercedes lima penumpang dengan tangki 80 liter, yang hanya ingin disebut dengan nama Gan, mengatakan ia pergi ke kota-kota di China daratan seperti Zhuhai dan Zhongshan hampir setiap minggu hanya untuk mengisi BBM.

Bahkan setelah memperhitungkan biaya tambahan dan ongkos, perjalanan tersebut tetap sepadan, katanya.

“Mengisi bensin di Hong Kong sekitar HK$1.600 (sekitar Rp3,4 juta). Di Zhuhai, sekitar HK$700 (sekitar Rp1,5 juta), selisihnya sangat besar,” ujarnya.

“Setiap perjalanan lintas batas bukan hanya untuk BBM,” tambahnya. “Kami juga sering makan, berbelanja, dan menghabiskan waktu di kawasan Greater Bay Area.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ps)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan