Potret pabrik korek api terakhir di Malaysia
Mesin yang digunakan untuk menempelkan label pada kotak korek api. (Foto: CNA/Fadza Ishak)
Ia dikenal rekan-rekannya sebagai "Wee Si Korek Api”, julukan yang didapatkannya karena sudah bekerja lebih dari tiga dekade di Kelantan Match Factory di Kota Bahru, Kelantan, Malaysia.
Didirikan pada 1933, pabrik itu disebut sebagai pabrik korek api yang terakhir di Malaysia.
Wee, 76, adalah manajer di pabrik tersebut.
Beberapa dekade lalu, pabrik itu memiliki karyawan hingga 1.000 orang. Kini, hanya diawaki segelintir orang.
“Dulu kami punya tiga shift pekerja, sekarang lihat saja, hanya tersisa 30 orang.”
Pabrik itu sekarang mengandalkan impor bahan baku dari China akibat kelangkaan dan regulasi kayu lokal yang semakin ketat.
Menurut Wee, penjualan korek api turun 50 hingga 70 persen dibandingkan 30 tahun lalu.
INDUSTRI YANG REDUP
Siti Mazenah, 55, telah bekerja di pabrik tersebut selama 37 tahun dan menjadi salah satu karyawan terlama.
Bekerja mulai pukul 09.00 hingga 16.00, Senin sampai Jumat, tugas utama Siti adalah memberi label dan menyortir kotak korek api.
“Saya suka bekerja di sini. Mereka membolehkan kami berganti lingkup pekerjaan kalau mau, dan saya banyak belajar soal prosesnya.”
Sebagian besar staf yang tersisa juga sudah bekerja di perusahaan selama puluhan tahun.
Tapi Fakhrul Syahmi adalah pengecualian.
Ia mulai bekerja di pabrik itu setahun lalu, tepat setelah menikah.
Pria berusia 26 tahun itu terkejut saat tahu pabrik tersebut masih beroperasi. Dia mengaku menerima pekerjaan itu karena gajinya lebih tinggi dibandingkan pekerjaan sebelumnya.
“Bahkan teman-teman saya kaget saat tahu saya bekerja di pabrik korek api. Mereka kira sudah tutup.”
JADI DESTINASI WISATA
Dalam beberapa tahun terakhir, wisatawan berdatangan ingin mengintip ke dalam pabrik bernuansa rustic itu. Padahal tidak ada upaya khusus untuk menjadikannya tempat wisata.
“Mereka datang begitu saja entah dari mana. Setiap hari ada. Kadang banyak,” kata Wee.
Ia mengatakan tak pernah terpikir untuk menutup pabrik, karena yakin korek api masih dibutuhkan, terutama oleh masyarakat di pedesaan.
“Saya tidak tahu akan bertahan berapa lama. Tapi untuk sekarang, saya akan terus bekerja.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.