Sengit persaingan AI di kota-kota China: Dari robot humanoid ke kucuran subsidi triliunan
Kota-kota di China berlomba-lomba meningkatkan kemampuan teknologi AI mereka. Namun seiring persaingan yang kian sengit, para pengamat berharap adanya inovasi di bidang ini, tidak sekadar menyontek satu sama lain.
Seorang anak dan neneknya melihat sebuah robot di toko 6S pertama di dunia yang berlokasi di distrik Longgang, Shenzhen. (Foto: CNA/Melody Chan)
SHENZHEN/SHANGHAI: Drone terlihat melesat di udara, dengan cepat mengambil dan mengantarkan pesanan makanan dan obat-obatan. Taksi robot dan mobil tanpa pengemudi melaju mulus di jalanan, sementara “manusia digital” berukuran asli membantu penumpang di stasiun metro yang padat.
Inilah keseharian di Shenzhen, kota pusat teknologi sekaligus garda terdepan dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI) di China. Namun, kota di selatan ini hanyalah salah satu dari sekian banyak yang ingin mendominasi industri AI di China.
Berbagai pemerintah kota di seluruh China telah meluncurkan rencana ambisius mereka untuk memposisikan diri sebagai pemimpin di bidang AI.
Para pengamat mengatakan, persaingannya berlangsung sengit dan keberhasilannya bergantung pada bagaimana setiap kota memanfaatkan keunikan mereka sendiri. Pengamat mengingatkan bahwa meniru kota lain secara membabi buta justru bisa merugikan, selain itu ada risiko yang nyata jika investasi dilakukan secara berlebihan tanpa strategi jangka panjang yang jelas.
“Semua orang ingin berada terdepan dalam perlombaan AI. Tapi yang terpenting adalah mengenali kekuatan sendiri, bukan sekadar menyalin langkah kota lain dan ikut-ikutan tanpa arah,” kata Benjamin Cheong, wakil kepala divisi teknologi, media, dan telekomunikasi di firma hukum Rajah & Tann.
Kota lain yang juga menjadi penggerak utama AI di China adalah Beijing, Shanghai, dan Hangzhou.
Didukung penuh oleh pemerintah, Beijing menjadi rumah bagi lembaga riset AI kelas dunia dan kawasan industri. Nilai industri AI di kota ini hampir menembus 350 miliar yuan (Rp704 triliun), atau hampir setengah dari total nasional China.
Sementara Shanghai memanfaatkan reputasinya sebagai pusat keuangan global dengan menjadi tuan rumah World AI Conference (WAIC) setiap Juli, serta mengumumkan subsidi senilai 1 miliar yuan (Rp20 triliun) untuk membantu perusahaan lokal dan startup mengadopsi solusi AI.
Kota Hangzhou yang sederhana di timur China juga berinvestasi besar-besaran. Di kota ini, perusahaan seperti DeepSeek dan Game Science — pengembang gim populer Black Myth: Wukong — telah mendorong tumbuhnya ekosistem startup teknologi.
Namun pertanyaan besar pun muncul: bisakah salah satu kota ini menjadi ibu kota AI dunia?
KOTA-KOTA UNGGULAN
Jika berbicara soal perkembangan teknologi di China, Shenzhen menjadi salah satu kota yang langsung terlintas.
Sering dijuluki “Silicon Valley-nya China”, kota ini dikenal dengan budaya inovasi yang serba cepat.
Shenzhen berinvestasi besar dalam pengembangan robot humanoid bertenaga AI yang mampu bergerak presisi dan lincah, dengan kemampuan patroli jalanan hingga berkompetisi dalam olahraga.
“Dari desain produk hingga uji pasar, perputarannya cepat,” kata Lin Feng, CEO Future Era, showroom dan gerai layanan “robot 6S” pertama di dunia yang baru dibuka di Distrik Longgang, Shenzhen.
Pada Februari lalu, pemerintah kota mengumumkan hibah khusus dan kebijakan baru untuk mendorong sektor robotik AI, termasuk insentif finansial hingga 4,5 miliar yuan (Rp90 triliun) dan subsidi untuk mendorong adopsi teknologi AI oleh dunia usaha.
“Shenzhen akan mengadopsi kebijakan yang lebih ambisius dan terbuka, menghubungkan sumber daya inovasi global dan nasional,” kata Lin Yi, direktur Kantor Industri AI Shenzhen kepada media resmi China.
Pada Mei lalu, Badan Kecerdasan Buatan (Robotik) Distrik Longgang Shenzhen resmi diluncurkan, menjadikannya lembaga pemerintah pertama di China yang didedikasikan khusus untuk robotik.
“Para insinyur muda kami tidak sekadar menapaki jalur yang sudah ada, mereka menciptakan jalur baru,” kata Zhao Bingbing, direktur Badan Kecerdasan Buatan (Robotik) Distrik Longgang Shenzhen.
“Inilah tempat di mana komponen robot, baik dari hulu maupun hilir, bisa diperoleh hanya dalam waktu satu jam,” tambah Zhao.
Pejabat Shenzhen mengatakan mereka memiliki rencana aksi tiga tahun untuk menciptakan lebih dari 1.000 model robot untuk pelayanan publik. Di antara robot yang akan dirancang adalah asisten humanoid yang telah diujicobakan dan didemonstrasikan secara langsung.
Longgang, Distrik di Shenzhen yang dikenal sebagai basis industri perusahaan besar seperti Huawei dan BYD, telah meluncurkan skema pengadaan pemerintah senilai 10 miliar yuan (Rp200 triliun). Dalam skema ini, 10 hingga 20 persen proyek yang dibiayai publik dialokasikan untuk perusahaan AI dan robotik.
Chen Sanduo, pendiri Lingqu AI Robotics, pindah ke Shenzhen dari Provinsi Hunan tahun ini.
Ia mengatakan kepada CNA bahwa lingkungan startup di Shenzhen sangat ideal.
“Rantai pasokan hulu di sini tiada tanding, mulai dari suku cadang, material, kustomisasi motor, bahkan kulit untuk robot,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa timnya berencana membuka showroom kedua di kota ini sebelum akhir tahun.
Perusahaan robotaksi di Shenzhen juga terus memperluas skala bisnisnya. Pony.ai saat ini mengoperasikan sekitar 300 robotaksi tanpa pengemudi dan berencana menambah armada di Shenzhen menjadi 1.000 unit dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami berada di ambang komersialisasi besar-besaran,” kata juru bicara Pony.ai kepada CNA.
Sementara Beijing, kata Ma Rui, investor dan analis teknologi asal China yang berbasis di San Francisco, menjadi kota yang unggul dalam perlombaan AI di China karena "para talenta papan atas berkonsentrasi di kota ini, lembaga riset kelas dunia ada di sini, serta kota ini adalah pusat perangkat lunak China".
“Kombinasi berbagai faktor ini membentuk momentum dan memberi keunggulan yang sulit ditandingi dalam pengembangan AI termutakhir, dengan pasokan talenta yang sulit ditiru kota lain di China,” kata Ma, yang menyebut Beijing sebagai “ibu kota AI China”.
“Beijing menjadi rumah bagi universitas dan lembaga riset terkemuka, dengan sumber daya akademis terkuat dan kumpulan talenta algoritma yang sangat besar,” ujar Li Haizhou, Dekan School of Artificial Intelligence di Chinese University of Hong Kong, Shenzhen (CUHK-SZ).
Di seluruh kota, terdapat banyak laboratorium AI, lembaga riset khusus AI, dan fasilitas seperti Beijing Academy of Artificial Intelligence serta Zhongguancun Science Park.
Data resmi menunjukkan ada lebih dari 2.400 perusahaan dan usaha AI yang terdaftar di ibu kota China ini.
“Dari sisi investasi AI, saat ini Beijing berada di posisi puncak berdasarkan angka,” kata Cheong dari Rajah & Tann.
“Beijing punya dana, pengembangan yang tepat, riset yang kuat, dan ekosistem inovasi teknologi yang sudah lama terbangun,” tambahnya.
“Di Beijing ada Silicon Valley yang sangat besar.”
Berbeda dengan ekosistem AI Beijing yang lebih menitikberatkan pada riset, kota Shanghai memanfaatkan reputasinya sebagai pusat keuangan untuk mendorong ambisi AI, kata para ahli.
“Posisi strategis Shanghai di jantung Delta Sungai Yangtze, ditambah pandangan globalnya, memberi ekosistem industri yang lengkap dari hulu ke hilir — mulai dari riset dan pengembangan, manufaktur, rantai pasok, hingga komersialisasi,” ujar Lu Yingxiang, salah satu pendiri sekaligus CEO Infermove, perusahaan robotik yang produknya telah digunakan di gedung perkantoran, kawasan komersial, bandara, hingga perumahan di seluruh kota.
Shanghai memiliki keunggulan yang berbeda, kata Cheong, seraya menambahkan bahwa “kota ini adalah pusat industri keuangan modern China, dengan hubungan bisnis finansial dan internasional yang kuat”.
Infrastruktur juga berperan penting dalam strategi AI Shanghai. Pada 2021, kota ini menjadi yang pertama di dunia meluncurkan jaringan optik berskala kota, yang mendukung segala hal mulai dari industri dan e-commerce hingga kerja jarak jauh dan logistik.
“Shanghai menghadirkan skenario aplikasi nyata dengan lalu lintas tinggi dan standar tinggi seperti bandara internasional, konvensi global, memberikan perusahaan kondisi tak tertandingi untuk menguji dan menyempurnakan produk kami,” tambah Lu.
Distrik seperti Xuhui di Shanghai, yang dikenal dengan Shanghai Botanical Gardens, mal mewah, dan bar koktail viral, kini bertransformasi menjadi pusat AI yang dinamis. Kawasan ini telah menjadi markas perusahaan-perusahaan AI dengan pendapatan tahunan yang luar biasa.
Hingga akhir kuartal I tahun ini, perusahaan-perusahaan AI berbasis di Shanghai mencatat pendapatan lebih dari 118 miliar yuan (Rp2.360 triliun), naik 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan laba juga melonjak 65 persen, menurut data pemerintah.
Shanghai juga menjadi tuan rumah para pemain industri papan atas dalam acara andalan WAIC yang digelar 26–28 Juli.
Selain itu, tengah dipersiapkan juga di Shanghai lima pusat data besar dan subsidi khusus AI senilai 1 miliar yuan (Rp20 triliun) untuk berbagai pendanaan, mulai dari sewa daya komputasi hingga pengadaan data.
Dalam kunjungan resmi April lalu, Presiden China Xi Jinping menyerukan Shanghai untuk mempercepat langkah mereka menjadi sumber utama inovasi mutakhir sekaligus pusat teknologi berpengaruh di dunia.
“Kita perlu meningkatkan dukungan kebijakan, menyiapkan talenta, dan berupaya mengembangkan lebih banyak produk AI berkualitas tinggi, aman, dan andal,” kata Xi seperti dikutip kantor berita Xinhua.
PARA KUDA HITAM
Pengamat mengatakan, sejumlah kota kecil juga mulai menunjukkan peningkatan kinerja dalam perlombaan AI di China.
Salah satunya adalah Hangzhou yang kebangkitannya terlihat mencolok, kata Jeffrey Towson, mitra di firma konsultan Techmoat.
Selain Alibaba, Hangzhou juga menjadi rumah bagi DeepSeek, Game Science, perusahaan robotik Unitree dan DEEP Robotics, perusahaan neuroteknologi BrainCo, serta perusahaan kecerdasan spasial ManyCore. Keenam perusahaan itu dijuluki “Enam Naga Kecil” yang tengah mengguncang panggung teknologi global.
Lebih dari 200 perusahaan terkait robotik telah terdaftar di Hangzhou hingga Desember 2024.
Pemerintah kota juga menyiapkan rencana ambisius untuk pengembangan AI pada 2025.
Pemerintah kota Hangzhou menawarkan subsidi hingga 60 persen guna membantu startup dan perusahaan.
Pendapatan dari sektor AI kota ini diproyeksikan melampaui 390 miliar yuan (Rp7.800 triliun), ditopang oleh lebih dari 700 perusahaan AI utama serta aplikasi yang berdampak besar di bidang manufaktur, kesehatan, dan keuangan.
Dalam sejumlah survei kota AI, Hangzhou menempati peringkat tinggi sejajar dengan Beijing, bahkan melampaui Shenzhen.
Lokasinya yang hanya dua jam berkendara dari Shanghai juga menjadikan Hangzhou magnet bagi talenta dan lulusan baru yang mencari pekerjaan di sektor teknologi.
“Hangzhou secara tradisional sudah menjadi pusat teknologi yang dibangun oleh Alibaba,” kata Cheong.
“Kemudian muncul pemain lain seperti DeepSeek yang membangun kekuatan teknologi orisinil, bukan sekadar ikut-ikutan tren AI karena sedang populer.”
Ibu kota Sichuan, Chengdu, juga sedang mengalami evolusi di bidang teknologi.
Kini kota yang terkenal dengan panda, mahyong, dan hotpot ini menjadi rumah bagi lebih dari 1.000 perusahaan AI dan semikonduktor, termasuk HiSilicon.
Sektor AI Chengdu menembus angka 100 miliar yuan (Rp2.000 triliun) pada 2024, dan diperkirakan mencapai 130 miliar yuan (Rp2.600 triliun) tahun ini, menurut data Biro Ekonomi dan Teknologi Informasi Chengdu.
Chengdu unggul di bidang layanan kesehatan berbasis AI dan robotik, dengan terobosan seperti sistem bedah AI untuk operasi jarak jauh dan robot eksoskeleton untuk membantu pasien berjalan.
Namun, kota ini masih perlu mengejar ketertinggalan dari pemain besar seperti Beijing, Shenzhen, dan Shanghai.
Para pengamat mengatakan, untuk menutup kesenjangan dengan kota-kota tersebut, Chengdu perlu menarik lebih banyak nama besar global serta fokus pada bidang yang sudah menjadi keunggulannya, bukan mencoba masuk ke area tanpa basis yang kuat.
“Saya pikir tidak bijak bagi kota mana pun untuk mengabaikan kekuatan tradisional mereka dan terlalu fokus pada AI hanya karena sedang tren,” kata Cheong dari Rajah & Tann.
CHINA JADI IBU KOTA AI DUNIA?
Para pengamat sepakat bahwa tidak ada satu kota pun yang benar-benar unggul dalam perlombaan AI China.
“Banyak kota berkembang secara paralel,” kata Ma, investor teknologi yang berbasis di San Francisco.
“Ambisi di kota-kota ini memang bersifat global, dengan fokus kuat pada ekspor dan keuntungan sejak awal.”
Namun, sebagian pihak mengingatkan risiko masuknya kota-kota ini ke arena AI tanpa perhitungan matang.
“Ekonomi China melambat belakangan ini… masalahnya adalah banyak yang berinvestasi di AI secara membabi buta tanpa tahu apakah kondisi lokal stabil dan dapat diandalkan dalam jangka panjang,” kata Cheong.
Sementara pemerintah daerah berlomba mencari keunggulan di bidang AI, pemerintah pusat justru berhati-hati terhadap risiko investasi berlebihan.
Xi mengkritik pemerintah daerah karena “mentalitas ikut-ikutan” dalam meluncurkan proyek energi baru dan AI, saat konferensi kerja perkotaan pusat pada Juli lalu.
Dalam pidatonya, Xi mempertanyakan mengapa “setiap kali ada proyek baru, selalu melibatkan beberapa hal: AI, daya komputasi, kendaraan energi terbarukan”.
“Apakah setiap provinsi di negara ini harus mengembangkan industri ke bidang itu?”
Peringatan tegas Xi itu dipublikasikan di People’s Daily, koran resmi Partai Komunis China.
Menurut Tom Nunlist, associate director bidang kebijakan teknologi dan data di Trivium China, komentar tersebut mencerminkan kekhawatiran atas euforia investasi dan adanya risiko kelebihan kapasitas.
“Menurut saya, saat ini risiko investasi berlebihan yang berakhir sia-sia lebih besar ketimbang risiko investasi yang kurang,” ujarnya.
Menurut para pengamat, lanskap AI di China kacau dan terfragmentasi, sebuah cerminan dari industri yang berkembang sangat cepat.
Lanskap AI di China “benar-benar baru”, kata Towson dari Techmoat Consulting.
“Kegiatan AI ada di mana-mana. Semua orang mendirikan perusahaan AI di seluruh penjuru China, dan ini benar-benar kacau.”
Namun, sebagian pengamat menilai ambisi AI China tak seharusnya hanya terikat pada batas negara.
Shenzhen, misalnya, tak seharusnya hanya menjadi ibu kota AI di China melainkan juga ibu kota AI global.
“Jika Shenzhen menjadi ibu kota AI global, itu adalah berkat ribuan peneliti muda dan pekerja yang tanpa henti mendorong batas-batas kemampuan mereka,” kata Zhao, direktur Administrasi Kecerdasan Buatan (Robotik) Distrik Longgang, Shenzhen.
Semangat inovasi itu juga disuarakan Cheong dari Rajah & Tann.
“Di China, ada ungkapan ‘bai hua qi fang’: biarkan seratus bunga bermekaran,” katanya.
“Dan semoga saja, dari situ lahir unicorn besar.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.