Percakapan teleponnya dengan Hun Sen bocor, PM Thailand didesak mundur
Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra dianggap merendahkan militer ketika berbicara masalah konflik bersenjata di perbatasan dengan Kamboja.
Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra berbicara dalam konferensi pers tentang insiden di perbatasaan dengan Kamboja di Gedung Pemerintah di Bangkok, 10 Juni 2025. (Foto: Reuters/Athit Perawongmetha/File Photo)
BANGKOK: Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra menuai kecaman, bahkan desakan untuk mundur, setelah rekaman audio percakapan teleponnya dengan mantan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen bocor ke publik.
Percakapan itu terjadi di tengah hubungan kedua negara yang memanas usai bentrokan di daerah sengketa perbatasan. Konflik terbaru dikhawatirkan akan memicu bentrok militer yang lebih luas setelah perundingan tidak membuahkan hasil berarti.
Dalam percakapan pada 15 Juni itu, Paetongtarn memanggil Hun Sen "paman" karena keluarga keduanya memang dekat. Paetongtarn mengatakan bahwa dia tengah mendapatkan tekanan di dalam negeri terkait kasus di perbatasan dan meminta Hun Sen tidak mendengarkan ocehan seorang jenderal militer Thailand.
"Dia cuma mau terlihat keren dan mengatakan hal-hal yang tidak ada gunanya bagi negara, tapi nyatanya, yang kami inginkan adalah perdamaian," kata Paetongtarn kepada Hun Sen melalui seorang penerjemah.
Baik Hun Sen dan Paetongtarn telah mengakui bahwa percakapan itu benar adanya. Hun Sen bahkan mengatakan bahwa percakapan itu kemungkinan dibocorkan salah satu dari 80 politisi yang diserahinya rekaman tersebut.
Hun Sen dan ayah Paetongtarn, mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra, masih berteman baik sampai saat ini. Kamboja sendiri saat ini dipimpin oleh Hun Manet, putra Hun Sen.
Setelah rekamannya bocor, Paetongtarn pada Rabu (18/6) mengatakan bahwa itu adalah taktik negosiasinya dengan Hun Sen. Dia mengaku tidak punya masalah dengan militer Thailand.
"Saya tidak akan bicara secara pribadi dengan dia lagi (Hun Sen), karena ini menyangkut kepercayaan," kata pemimpin berusia 38 tahun ini.
Dalih Paetongtarn tidak sanggup membendung protes terhadap dirinya akibat komentar tersebut.
Partai Bhumjaithai dilaporkan langsung menyatakan diri keluar dari koalisi pemerintahan karena menilai PM telah melukai hati masyarakat dan merusak martabat tentara.
Seruan agar Paetongtarn mundur atau segera mengumumkan pemilu semakin nyaring terdengar di Thailand, terutama dari kubu oposisi.
"Apa yang terjadi kemarin adalah krisis kepemimpinan yang menghancurkan kepercayaan masyarakat," kata Pemimpin Partai Rakyat Thailand Natthaphong Ruengpanyawut.
Pada Kamis (19/6), akhirnya Paetongtarn menyatakan permintaan maaf secara terbuka dalam konferensi pers yang juga dihadiri oleh para jenderal militer dan petinggi partainya, Pheu Thai.
"Saya ingin meminta maaf atas bocornya audio percakapan saya dengan pemimpin Kamboja yang memicu kemarahan publik," kata dia.
Militer juga telah mengeluarkan pernyataannya, menegaskan bahwa Panglima Angkatan Darat Kerajaan Thailand Jenderal Pana Claewplodtook "berkomitmen pada prinsip demokrasi dan perlindungan kedaulatan nasional".
"Panglima Angkatan Darat menekankan bahwa kewajiban yang paling penting adalah agar 'rakyat Thailand bersatu' dalam mempertahankan kedaulatan nasional secara kolektif," ujar pernyataan tersebut.
Di Thailand, militer memegang peranan penting dalam sejarah kepemimpinan dan politik bangsa. Keluarga Shinawatra sendiri pernah merasakan dua kali dikudeta oleh militer, yaitu kepemimpinan Thaksin pada tahun 2006 dan adiknya, Yingluck, pada 2014.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.