Reli saham Asia mandek, setelah sempat menguat karena optimisme dagang AS-China
Tarif efektif AS kini diperkirakan berada di angka 13,1%, turun signifikan dari 22,8% sebelum tercapai kesepakatan dengan China. Namun, angka ini masih jauh di atas level akhir 2024 sebesar 2,3%.
Beberapa pekerja berjalan melewati papan harga saham yang menunjukkan rata-rata saham Nikkei di luar kantor pialang di Tokyo, Jepang, 13 Mei 2025. (Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
TOKYO: Reli bursa saham Asia mulai lesu, sementara dolar AS melemah pada hari Selasa (13/5) seiring munculnya kembali kekhawatiran terkait kebijakan dagang Presiden AS Donald Trump dan dampaknya terhadap ekonomi global, sehingga menekan sentimen pasar.
Indeks berjangka Eropa (STXEc1) mengindikasikan pembukaan yang melemah, sementara saham China cenderung datar dan gagal mengikuti reli kuat di Wall Street setelah adanya gencatan perang dagang AS-China selama 90 hari.
Indeks berjangka untuk S&P 500 (EScv1) dan Nasdaq (NQc1) juga sedikit melemah pada sesi siang Asia, mencerminkan suasana pasar yang berhati-hati.
"De-eskalasi memang tak terhindarkan, tapi menurut saya jelas bahwa tidak akan banyak hasil konkret yang bertahan lama dari perundingan ini," kata Christopher Hodge, kepala ekonom AS di Natixis.
"Setelah semuanya selesai, tarif masih jauh lebih tinggi dan tetap akan membebani pertumbuhan ekonomi AS."
Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang (.MIAPJ0000PUS) melemah 0,2 persen, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam enam bulan terakhir pada awal sesi.
Lembaga pemeringkat Fitch memperkirakan bahwa tarif efektif AS kini berada di angka 13,1 persen, turun signifikan dari sebelumnya 22,8 persen sebelum tercapai kesepakatan. Meski demikian, angka ini masih jauh di atas level akhir 2024 sebesar 2,3 persen, dan merupakan tarif tertinggi sejak 1941.
Kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi AS serta kurangnya kemajuan dalam mencapai kesepakatan antara AS dengan mitra dagangnya telah mengguncang pasar sejak Trump menerapkan kebijakan tarif besar-besaran awal April lalu.
Sejak saat itu, investor telah menjual aset-aset AS, menyebabkan mata uang safe-haven seperti yen, franc Swiss, dan emas mengalami kenaikan.
Meski dolar AS sempat melonjak setelah pengumuman jeda tarif pada Senin, nilainya melemah kembali pada sesi perdagangan Selasa sore di Asia.
Dalam kesepakatan tersebut, AS menurunkan tarif terhadap impor China dari 145 persen menjadi 30 persen, sementara China memangkas tarif terhadap barang AS dari 125 persen menjadi 10 persen.
Pasar menyambut positif kesepakatan ini, meski kekhawatiran bahwa tarif masih dapat merugikan ekonomi global tetap bertahan.
Indeks Hang Seng Hong Kong (.HSI) turun 1,67 persen, sedangkan indeks Nikkei Jepang (.N225) melonjak lebih dari 2 persen ke level tertinggi sejak 25 Februari.
"Secara fundamental, ketidakpastian masih ada, terutama terkait kemungkinan turunnya konsumsi dan belanja korporasi," ujar Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo, Singapura.
"Namun demikian, investor institusional sebagian besar masih menunggu dan memantau situasi selama reli ini, bersikap netral terhadap ekuitas AS. Kondisi ini bisa mendorong aksi pembelian besar-besaran jika pasar kembali terkoreksi," tambahnya.
DATA INFLASI AS JADI FOKUS
Investor kini mengalihkan perhatian mereka pada rincian pelaksanaan kesepakatan tersebut serta perkembangan setelah periode 90 hari yang disepakati.
Namun dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis Selasa.
"Jika angka inflasi kembali rendah, ini akan memungkinkan para pelaku pasar kembali fokus pada kebijakan The Fed dan potensi pemangkasan suku bunga, serta bisa mengurangi tekanan dari kenaikan dolar," kata Matt Simpson, analis pasar senior di City Index.
Perubahan arah dalam hubungan perdagangan AS-China telah mendorong investor mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, karena tekanan untuk memangkas suku bunga demi mendukung pertumbuhan berkurang.
Investor kini memperkirakan pemangkasan suku bunga sebanyak 56 basis poin tahun ini, turun dari lebih dari 100 basis poin yang diprediksi pada puncak kekhawatiran tarif pertengahan April lalu.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik ke level tertinggi dalam satu bulan pada Senin dan bertahan di dekat level tersebut dalam perdagangan awal Selasa. Imbal hasil obligasi 2-tahun (US2YT=RR) berada di angka 3,9873 persen, sementara obligasi 10-tahun (US10YT=RR) di 4,4512 persen.
Di pasar cryptocurrency, harga Bitcoin (BTC=) tetap stabil di level US$102.676 pada Selasa, bertahan di atas level kunci US$100.000 yang ditembus pekan lalu.
Harga minyak sedikit melemah pada Selasa setelah mencapai level tertinggi dua minggu pada sesi sebelumnya akibat optimisme perdagangan, sementara harga emas kembali menguat setelah turun sekitar 2 persen pada hari Senin karena investor melepas beberapa aset safe-haven.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.