Skip to main content
Iklan

Asia

FOKUS: Mengapa pasar properti China masih lesu setelah disuntik stimulus?

Setahun setelah China menggelontorkan stimulus besar-besaran, harga properti masih terus turun di sebagian besar kota kecuali Shanghai. Para pengamat menjelaskan alasannya.

 

FOKUS: Mengapa pasar properti China masih lesu setelah disuntik stimulus?

Kawasan Bund dengan latar gedung pencakar langit Shanghai, 31 Juli 2025. (Foto: CNA/Tan Wen Lin)

SHANGHAI: Membeli apartemen baru di Shanghai saat ini butuh lebih dari sekadar uang tunai, tetapi juga stamina dan keberuntungan, kadang dibumbui sedikit drama.

Pada akhir pekan lalu di Shanghai diluncurkan One Tian An Place, sebuah apartemen hunian kelas menengah di kawasan Jinyuan, distrik Minhang. 

Para pembeli terlihat antre, sembari menggenggam nomor undian yang menentukan giliran masuk untuk memilih unit apartemen. Beberapa unit yang ditandai merah berarti telah terjual.

Seorang pembeli yang mendapat nomor undian di atas 60 mengatakan proses itu “cukup menegangkan” — tetapi pada akhirnya sepadan.

“Lantainya memang lebih rendah dari yang kami harapkan, tapi tidak masalah selama masih kena cahaya,” tulisnya di media sosial Xiaohongshu pada 7 Sep dengan akun Zaoshuizaoqiba.

“Harga tanah terus naik,” tambahnya. “Kami khawatir tidak akan mampu membeli apa pun nanti. Karena (unit ini) masih di bawah 100.000 yuan (Rp234 juta) per meter persegi, kami ingin cepat-cepat mendapatkannya.”

“Semakin cepat membeli, semakin tenang rasanya.”

Di penghujung hari, agen penjualan melaporkan sekitar 90 persen unit di apartemen itu telah terjual.

Namun bagi Andree Wu, 33, yang juga mencari rumah di Shanghai, pencarian itu belum berhasil.

Tinggal di Distrik Putuo bersama suami, anak, dan anjingnya, ia mulai berburu rumah pada Februari setelah melahirkan. Keluarganya mencari apartemen yang lebih besar dengan tiga hingga empat kamar tidur.

Berbulan-bulan kemudian, ia masih belum menemukan apartemen impian. Padahal dia sudah menaikkan anggaran membeli rumah dari 15 juta yuan (Rp35 miliar) menjadi 25 juta yuan (Rp58 miliar), yang seharusnya membuka lebih banyak pilihan.

“Selalu ada rumah yang unggul di satu sisi tapi sangat buruk di sisi lain,” ujarnya kepada CNA.

“Rumah yang benar-benar kami inginkan memang tidak ada.”

Meski begitu, Wu mengakui dukungan kebijakan terbaru dari pemerintah China membuatnya berani menambah anggaran untuk membeli rumah.

“Turunnya suku bunga kredit membuat saya lebih rela menaikkan anggaran … Suku bunga yang lebih rendah agak mengurangi tekanan,” katanya.

Kedua kasus di atas mencerminkan antusiasme pembeli yang menggerakkan pasar properti Shanghai, di mana proyek-proyek apartemen kelas atas di pusat kota langsung habis terjual.

Pada 2 Juli lalu, media keuangan Yicai melaporkan lima proyek apartemen kelas menengah hingga atas ludes pada hari pertama penjualan di kota itu.

Proyek konstruksi di distrik Xintiandi, Shanghai, 31 Juli 2025. (Foto: CNA/Tan Wen Lin)

Namun, fenomena laris manis itu menutupi persoalan yang lebih mendasar.

Sudah hampir setahun setelah China meluncurkan stimulus properti paling agresif dalam beberapa dekade, namun kesuksesan penjualan tidak merata di banyak kota.

Kantong-kantong permintaan masih bertahan di kawasan mewah Shanghai dan segelintir kota kelas satu.

Di tempat lain, minat pembeli sangat lemah.

Harga rata-rata rumah baru terus merosot, sementara penjualan lahan di kota kelas empat dan lima anjlok ke level terendah sejak 2011.

Pasar properti China, yang dulu menjadi mesin pertumbuhan negara itu, kini berjalan di dua jalur - bergairah di puncak, tersendat di tempat lain.

Paket stimulus besar-besaran itu, menurut para analis, mungkin tidak akan mengembalikan masa keemasan properti China, hanya sekadar memperbaikinya sedikit.

STIMULUR BESAR ADA BATASANNYA

Paket stimulus September 2024 merupakan upaya menyeluruh dari pemerintah China untuk membalikkan keadaan.

Beijing menurunkan suku bunga kredit rumah yang sudah berjalan sebesar 50 basis poin, memberi keringanan bagi sekitar 50 juta keluarga.

Uang muka distandardisasi sebesar 15 persen untuk rumah pertama maupun kedua.

Fasilitas pembiayaan ulang perumahan terjangkau senilai 300 miliar yuan (Rp699 triliun) telah didanai penuh, sementara langkah lain mencakup pembiayaan proyek "white list”, menghidupkan kembali lahan terbengkalai, dan melonggarkan aturan pembelian di kota-kota besar.

Langkah-langkah yang diumumkan dalam konferensi pers Dewan Negara pada 24 September tahun lalu itu bertujuan mengurangi stok rumah tak terjual, menghidupkan kembali permintaan, dan menstabilkan harga.

Menurut data yang dirilis Biro Statistik Nasional China (NBS), jumlah rumah baru tak terjual di negara itu naik menjadi 405 juta meter persegi pada Agustus 2025, dari 382 juta meter persegi pada Juli 2024.

“Menurut saya, (langkah-langkah itu) hampir tidak punya dampak apa pun (terhadap pergerakan pasar properti),” kata Lin Han-Shen, Direktur China di The Asia Group.

“Kalau saya melihat apa faktor utama yang bisa mendorong lebih banyak pembelian properti, itu adalah ketika harga properti naik.”

“Orang China bukanlah investor ‘deep value’,” ujar Lin. “Mereka tidak membeli saat harga rendah. Mereka cenderung membeli saat harga sedang naik.”

Wang Dan, Direktur China di Eurasia Group, sependapat. “Tidak ada satu pun kebijakan yang berhasil membalikkan siklus penjualan perumahan,” katanya kepada CNA.

“Yang dilakukan oleh kebijakan sejauh ini pada dasarnya hanya mencoba merangsang minat calon pembeli rumah,” tambahnya.

“Harga rumah masih terus turun – itulah sebabnya kebijakan itu tidak berhasil.”

Kecuali di satu kota: Shanghai.

Berbeda dari kota lain, Shanghai mencatat kenaikan harga rumah baru 5,9 persen secara tahunan pada Agustus, menurut data NBS yang dirilis 15 September.

Meski begitu, rata-rata harga di empat kota besar China – Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen – tetap turun 0,9 persen dibanding tahun lalu, karena penurunan di tiga kota lain menutupi kenaikan di Shanghai.

Di kota kelas dua, harga turun 2,4 persen, sementara di kota kelas tiga anjlok 3,7 persen.

Para analis menyoroti ketidaksinkronan antara harapan pasar dan niat pemerintah Beijing.

“Ada kesalahpahaman di pasar bahwa pemerintah ingin pasar properti pulih. Itu tidak benar,” jelas Lin.

“Pemerintah tentu tidak berharap sektor properti kembali menyumbang 30 persen PDB seperti dulu,” tambahnya.

“Jadi jika pemulihan didefinisikan seperti itu, itu bukan yang diharapkan pemerintah. Yang mereka harapkan adalah stabilisasi.”

Wang mengamini hal itu, dengan mengatakan pemerintah pusat “tidak lagi menganggap sektor perumahan sebagai mesin utama pertumbuhan China”.

Merujuk pada pandangan kepemimpinan China di bawah Presiden Xi Jinping bahwa mesin baru harus berupa produktivitas, Wang mengatakan: “Sumber daya dan dukungan kebijakan pada dasarnya diarahkan ke industri berteknologi tinggi, industri baru, dan manufaktur.”

Karena itu, China berhati-hati agar tidak memicu gelembung properti baru, melainkan memfokuskan langkah untuk meredam koreksi jangka panjang, kata para analis.

Lin merumuskannya begini: “Pemerintah tahu ada tiga hal yang harus terjadi. Harga pasar harus turun – tapi tidak terlalu cepat. Pengembang harus melakukan konsolidasi – tapi tidak terlalu cepat. Bank harus menghapus kredit macet – tapi tidak terlalu cepat. Jadi saat ini, intinya adalah mengulur waktu di sektor tersebut.”

PROPERTI LESU DI LUAR KOTA KELAS SATU

“(Harga) di kota kelas satu umumnya lebih bertahan dibanding kota kelas dua dan tiga,” kata Sam Xie, kepala riset China di CBRE.

Namun bahkan kota terbesar di China pun tidak luput dari lesunya harga properti.

“Lebih banyak orang menjual daripada membeli di Beijing. Itu justru bisa membuat harga rumah turun lebih cepat,” ujar Wang.

Perumahan di distrik Pudong, Shanghai, China. (iStock)

Ada sedikit lonjakan akibat kebijakan baru pemerintah, tapi sebagian besar pasar China tetap lesu.

Goldman Sachs pada Juni memperkirakan penurunan harga rumah kumulatif sebesar 20 persen dari puncak ke titik terendah – dan masih akan turun lagi 10 persen sebelum stabil pada 2027.

Investasi juga melemah.

Total pengembangan real estat antara Januari–Juli di China mencapai 5,36 triliun yuan (Rp12.500 triliun), dengan investasi residensial sebesar 4,12 triliun yuan (Rp9.600 triliun) – jauh di bawah 6,09 triliun yuan (Rp14.200 triliun) dan 4,62 triliun yuan (Rp10.800 triliun) pada periode yang sama tahun 2024, serta di bawah rekor sebelumnya ketika investasi pengembangan properti memuncak di 14,7 triliun yuan (Rp34.300 triliun) pada 2021.

Pasar tanah di China, yang dulu menjadi mesin fiskal penting bagi pemerintah daerah, nyaris terhenti di kota-kota kelas bawah.

Nilai transaksi tanah anjlok ke level terendah dalam satu dekade di kota kelas tiga hingga lima, lapor Financial Times mengutip data Wind.

Pada paruh pertama 2025, kota kelas empat hanya menghasilkan pendapatan tanah 87 miliar yuan (Rp202 triliun), sementara kota kelas lima 51 miliar yuan (Rp119 triliun).

Sebaliknya, pengembang milik negara fokus di Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen, sehingga penjualan tanah di kota-kota kelas satu ini naik sekitar 30 persen nilainya dibanding tahun lalu, menurut Financial Times.

Di tengah kelesuan, sebagian pembeli datang bukan karena stimulus, melainkan karena harga akhirnya turun hingga bisa terjangkau.

Di Beijing, Olivia Zhang, pegawai kantoran berusia 30 tahun, bersama suaminya membeli rumah pertama mereka pada Juli lalu – sebuah unit bekas dua kamar tidur berukuran sekitar 60 hingga 70 meter persegi – setelah harga turun ke level yang menurut mereka  “masuk akal”.

“Meski gaji kami sekarang lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu, harga rumah saat itu tetap terasa tak terjangkau dan tidak sepadan. Penurunan harga jelas mendorong kami untuk membeli,” kata Zhang.

Apartemen sederhana mereka dekat Stasiun Sihuidong, di antara Jalan Lingkar Keempat dan Kelima, seharga 3 hingga 4 juta yuan (Rp7–9,3 miliar).

Membeli rumah bekas menjadi satu-satunya pilihan realistis.

“Pada dasarnya tidak ada lagi apartemen baru (di dalam Lingkar Kelima),” ujar Zhang. Pembangunan baru yang lebih jauh ke pinggiran hanya akan membuat perjalanan ke kantor semakin berat.

“Karena kami masih muda dan sama-sama bekerja, kami lebih mengutamakan lokasi yang baik.”

Jenis rumah “tua, kecil, dan sederhana” seperti inilah yang banyak dibeli orang dengan anggaran sekelas mereka.

Dibeli sebagai rumah pernikahan, bukan investasi, Zhang menambahkan: “Apakah harga naik atau turun tidak terlalu penting bagi kami.”

“Kami akan terus tinggal di sini, dan tidak berencana menjualnya.”

Walau kepemilikan rumah masih dipandang sebagai syarat menikah di banyak kalangan, pandangan itu perlahan berubah.

“Generasi muda lebih memilih menyewa, lebih murah dan lebih fleksibel,” kata Wang dari Eurasia Group.

“Mereka harus sering pindah,” tambahnya. “Jadi antar kota, akan lebih mudah jika mereka menyewa rumah.”

Namun norma sosial tetap kuat. “Kalau ingin menikah, membeli rumah masih menjadi syarat penting, terutama dari pihak keluarga perempuan,” tambahnya.

Seiring banyaknya generasi muda yang menunda pernikahan, “permintaan akan rumah juga tertunda, dan itu menjadi tekanan tambahan pada pasar.”

Sementara itu, pasar kian terbebani dengan kelebihan pasokan yang terus terjadi.

Para pengembang menahan persediaan rumah dalam jumlah besar, dengan Goldman Sachs memperkirakan ada stok tak terjual senilai 30 triliun yuan (Rp69.900 triliun).

Permintaan rumah baru diproyeksikan akan tetap 75 persen di bawah puncaknya pada 2017 selama beberapa tahun ke depan.

Bahkan upaya resmi untuk mengurangi stok – seperti melalui pembelian oleh perusahaan milik negara dan pemerintah daerah – sejauh ini hanya menghasilkan dampak yang lemah.

“Tidak ada yang mau membeli aset yang nilainya terlalu tinggi, dan semua orang tahu aset itu memang overvalued,” kata Wang. “Jadi mereka tidak akan membelinya saat ini.”

Lin dari The Asia Group menilai kebuntuan ini terutama akibat ketidakcocokan: “Penumpukan stok dibandingkan permintaan nyata, kesenjangan itu akan terus melebar.”

Xie dari CBRE mencatat para pengembang tetap sangat berhati-hati dalam situasi saat ini.

“Mereka terutama fokus mengamankan cadangan lahan di kota kelas satu dan kelas dua atas,” ujarnya. “Untuk kota kelas bawah, prioritas utama adalah memastikan proyek yang tertunda bisa selesai dan diserahkan.”

Perbedaan kondisinya sangat mencolok.

Menurut data, investasi pengembangan residensial secara nasional di China turun 10,9 persen secara tahunan dalam tujuh bulan pertama 2025, sementara investasi di Shanghai justru tumbuh 3,3 persen pada periode yang sama.

Lin memberikan contoh yang signifikan.

Seorang pelatih kebugaran yang dikenal Lin – pria muda dengan penghasilan sederhana – mengatakan ia memiliki lima apartemen di Anhui, dikumpulkan dari warisan dan pembelian selama bertahun-tahun.

Namun ia mengakui tidak akan pernah bisa naik kelas dengan membeli properti di Shanghai, bahkan jika menjual kelima unit tersebut.

Bagi Lin, ini mencerminkan kelebihan pasokan yang lebih dalam di kota-kota kelas bawah, di mana faktor warisan demografi dan keterbatasan mobilitas membuat properti terjebak tanpa pergerakan.

“Ini jelas cerita tentang dua dunia,” ujarnya – satu sisi kelebihan dan stagnasi di wilayah pedalaman, dan sisi lain pemulihan hati-hati di pusat kota yang lebih makmur.

Di beberapa tempat, harga nyaris tidak relevan – karena rumah sama sekali tidak berpindah tangan.

“Orang tidak lagi memperhatikan harga,” kata Lin. “Masalahnya volume transaksi yang benar-benar membeku.”

Meski tidak ada satu pun kota kelas dua yang mengalami rebound berarti, Wang mencatat beberapa di antaranya mendapat sedikit keuntungan dari pergeseran demografis.

“Beberapa kota seperti Chengdu dan Changsha menarik lebih banyak arus balik migrasi,” ujarnya. “Karena banyak orang, jika kehilangan pekerjaan di Beijing dan Shanghai – seperti yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir – maka mereka akan kembali ke kota-kota yang lebih dinamis di China tengah.”

“Ada sedikit dukungan bagi pasar perumahan lokal (di kota-kota yang mengalami arus balik migrasi) karena masuknya penduduk,” katanya.

“Tapi itu tidak cukup untuk benar-benar mendorong kenaikan harga rumah, karena pasokannya terlalu besar.”

KOTA ANOMALI

Jika pasar China masih mencari titik dasar, Shanghai – setidaknya di sebagian wilayahnya – telah menemukan cara untuk tetap bertahan.

Meski harga properti secara nasional menurun, antusiasme pembeli meluas di sejumlah proyek hunian mewah dan berlokasi strategis.

Yang paling populer adalah menara apartemen mewah di pusat kota serta rumah tapak di pinggiran yang dibangun oleh pengembang terpercaya.

Dalam kedua contoh di atas, pasokan yang terbatas dan banyaknya pembeli lokal berdaya beli tinggi memicu lonjakan permintaan.

Salah satunya adalah Kangding Garden di Distrik Jing’an, yang menarik perhatian Wu.

Dengan harga sekitar 168.000 yuan (Rp392 juta) per meter persegi, ia ikut undian pembeli untuk penjualan tahap ketiga proyek itu – namun gagal.

“Untuk proyek itu, selain harganya, saya rasa tidak ada kekurangan,” katanya.

“Kalau benar-benar sesuai kebutuhan saya … meskipun harus membeli dengan harga lebih tinggi, saya tidak keberatan. Saya anggap biaya tambahan itu sebagai konsumsi.”

Kangding Garden, proyek hunian mewah di Distrik Jing’an, Shanghai, mencatat permintaan begitu tinggi hingga Andree Wu gagal mendapatkan unit dalam undian pembeli.

Perubahan kebijakan terbaru juga ikut mendorong momentum.

Pada akhir Agustus, otoritas Shanghai mencabut batas pembelian per rumah tangga di luar Jalan Lingkar Luar, kawasan yang mencakup lebih dari dua pertiga stok perumahan kota.

Warga kini bisa membeli unit tanpa batas di wilayah tersebut, naik dari aturan lama maksimal dua.

Suku bunga kredit untuk rumah kedua dipangkas menjadi 3,05 persen, untuk pertama kalinya setara dengan pembelian rumah pertama.

Pembatasan bagi pendatang juga dilonggarkan: sejak akhir 2024, pembeli dari provinsi lain hanya perlu menunjukkan riwayat pajak 12 bulan di Shanghai, turun dari sebelumnya tiga tahun.

Namun ketahanan Shanghai bukan bukti adanya pemulihan menyeluruh.

“Tidak, saya tidak berpikir begitu,” kata Wang ketika ditanya apakah rebound ini bisa menjadi tren nasional.

“Pembuat kebijakan tahu bahwa Shanghai adalah pasar yang berbeda … Sangat beruntung orang masih menganggapnya aset yang baik dan layak investasi. Tapi di sebagian besar wilayah China, itu tidak berlaku.”

“Jadi pasar Shanghai pada dasarnya berbeda dari seluruh negeri,” ujar Wang.

“Itu adalah aset yang aman.”

Setelah empat tahun harga rumah terus turun, ia menjelaskan, banyak orang China percaya pasar nasional belum mencapai titik terendah – dan enggan membeli aset yang dinilai terlalu mahal tanpa prospek kenaikan jelas.

“Sekarang pasar saham justru berkinerja sangat baik. Siapa pun yang masuk sejak September lalu pasti untung,” kata Wang.

“Tapi kalau orang menaruh uangnya di properti sebagai investasi, sebagian besar tidak akan mendapat untung, bahkan bisa rugi besar.”

“Sejak 2022 … harga (saham) bahkan terus naik,” ujarnya. “Jadi itu dianggap lebih sebagai aset investasi daripada sekadar tempat tinggal.”

Lin dari The Asia Group menilai perbedaan Shanghai dipicu faktor struktural.

“Orang kaya akan selalu punya modal untuk diinvestasikan. Dan karena ada kontrol modal, tidak mudah untuk menempatkan uang ke luar negeri,” katanya.

“Shanghai punya konsentrasi modal paling besar di China dengan banyak orang kaya. Jika mereka harus menaruh uangnya di suatu tempat, saya bisa melihat sebagian kembali ke properti.”

Namun bahkan di dalam Shanghai, kenaikan ini terbatas dan tidak merata.

Lin menggambarkan adanya “aspirasi yang jauh lebih sederhana” di kalangan rumah tangga biasa: “Kalau pasar massal sangat khawatir harga properti mereka turun, maka … kita akan melihat pola konsumsi yang jauh lebih hemat ke depan.”

DAMPAK PEMBELIAN PROPERTI

Kelemahan pasar properti China bukan hanya menyeret PDB – tetapi juga berdampak sosial.

Selama bertahun-tahun, perumahan menjadi jangkar sosial utama – prasyarat pernikahan, tempat menyimpan kekayaan keluarga, hingga pemicu konsumsi barang mahal. Kini, semua asumsi itu mulai rapuh.

Lin menyebutnya sebagai pergeseran generasi. “Ketika saya melihat mahasiswa saya, preferensi konsumsi mereka jauh berbeda dibanding saat pertama saya datang (ke China) 20 tahun lalu,” katanya.

“Mereka tampaknya lebih mengutamakan pengeluaran untuk membeli pengalaman. Dan mereka tampak kurang peduli pada akumulasi aset atau barang, termasuk properti.”

Salah satu alasannya, ia menilai, adalah keyakinan bahwa mereka pada akhirnya akan mewarisi properti.

“Kalau memang begitu … di mana orang cukup nyaman (dengan) pengeluaran untuk membeli pengalaman, sambil menunggu warisan rumah, itu bukan pertanda baik bagi prospek pengembang di masa depan.”

Sebagian lainnya memang terlempar dari pasar. Bahkan dengan penurunan harga rumah, banyak anak muda China tetap tak mampu membeli.

“Kesenjangan antara daya beli, kelipatan gaji, jumlah tahun yang harus ditabung untuk membeli rumah … masih terlalu lebar bagi sebagian besar generasi muda,” kata Lin.

Wang dari Eurasia Group menyoroti perubahan pola konsumsi. “Sebelum 2022, porsi terbesar konsumsi rumah tangga terkait dengan apartemen,” ujarnya.

“Jadi bagi keluarga China rata-rata, kalau mereka tidak membeli apartemen baru, maka tidak ada konsumsi barang besar. Seperti AC, kulkas, mobil – semua itu terkait dengan rumah dan juga renovasi.”

Satu kali pembelian apartemen, katanya, bisa memicu belanja terkait hingga setengah juta yuan (Rp1,16 miliar). Kini, ekosistem itu melemah.

“Setelah pasar properti anjlok, setelah 2022 … (konsumsi rumah tangga) sebagian besar hanya untuk kebutuhan sehari-hari, barang konsumsi, lebih banyak layanan, produk budaya, dan pariwisata,” ujarnya.

“Anda bisa melakukan 2.000 perjalanan, tapi tetap tidak sebanding dengan membeli satu rumah dan kemudian menghabiskan sejuta untuk renovasi.”

Di kalangan masyarakat kaya, kepercayaan pada properti sebagai aset “aman” mulai terpecah.

“Mereka yang lebih dulu masuk pasar properti … punya kapasitas lebih baik menikmati kekayaan dengan membeli properti mewah lainnya,” kata Lin.

Bagi mereka, pembelian digerakkan oleh gaya hidup.

“Ketika membeli rumah, itu bisa jadi dianggap sebagai pensiun. Tapi menurut saya itu bukan alasan utama kelas masyarakat kaya membeli rumah … bagi mereka, lebih pada kualitas dan gaya hidup.”

Bagi sebagian besar orang, rumah tidak lagi menjadi penopang utama keamanan finansial seperti dulu, lanjutnya, seraya menambahkan bahwa properti kini hanya “salah satu kelas aset di antara lainnya” bersama emas dan obligasi pemerintah.

Sementara itu, keuangan pemerintah daerah melemah drastis.

Dengan pendapatan penjualan tanah ambruk di kota-kota kelas bawah, defisit anggaran semakin melebar.

“Setiap kota, setiap kabupaten, setiap provinsi punya defisit anggaran besar yang tidak lagi bisa ditutup dengan penjualan tanah,” ujar Lin.

“Dan untuk sebagian besar daerah, menerbitkan utang baru juga bermasalah. Jadi mereka akan menghadapi lebih banyak penghematan.”

Dampak globalnya juga masih bergulir.

Kekhawatiran akan krisis ala Lehman memang mereda, kata para analis, tetapi pasar properti China yang lesu akan terus memengaruhi permintaan global, harga komoditas, dan kepercayaan investor.

“(Sektor properti) akan terus menjadi beban bagi ekonomi setidaknya lima tahun ke depan,” kata Lin.

“Tapi selama bebannya tidak terlalu besar (dan masih) memungkinkan transisi menuju ekonomi berbasis teknologi, itu tidak masalah.”

“Pemerintah akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk sekadar menstabilkan (pasar properti).”

Masa depan itu, katanya, mungkin tidak lagi berupa siklus properti baru, melainkan rotasi modal ke teknologi, energi hijau, dan modernisasi industri.

“Kita mulai melihat tanda-tanda pemicu … teknologi telah mendorong pasar saham,” kata Lin.

“Jika pasar saham China terus naik stabil … itu akan memperkuat efek kekayaan, dan mungkin membantu menutup celah serta mendorong konsumsi masyarakat.”

MENUNGGU TITIK TERENDAH

Hanya sedikit yang berharap China kembali ke kondisi lama.

Analis menilai pendekatan saat ini bersifat jangka panjang dan sengaja hati-hati – bukan untuk menggelembungkan kembali pasar, melainkan mengelola penyesuaian yang panjang.

Wang percaya peran sektor properti sedang ditulis ulang.

“Masa depan perumahan China, menurut saya, adalah harga yang permanen lebih rendah dibanding sebelumnya,” katanya.

“Rumah baru tetap perlu dibangun di masa depan, tetapi tidak dengan cara lama. Banyak pembangunan akan dilakukan oleh sektor negara, lewat BUMN, bukan lagi perusahaan swasta.”

Dengan 2025 menjadi tahun terakhir dari Rencana Lima Tahun ke-14 dan strategi “Made in China 2025”, perhatian kini tertuju pada Sidang Pleno Keempat pada Oktober – di mana para pemimpin negara itu akan memperjelas arah jangka panjang Beijing.

Dan pengamat tidak berharap ada perubahan drastis.

“Yang diinginkan (pemerintah) adalah stabilisasi,” kata Lin.

“Itu tujuan yang jauh lebih sederhana, tapi pasar belum memahami hal itu.”

“Mereka masih berharap ada bailout, masih berharap ada stimulus besar … dan itu tidak mungkin dalam waktu dekat.”

“Saya curiga pada pleno mendatang, orang-orang juga akan kecewa.”

Bagi banyak keluarga, kebijakan hanyalah nomor dua setelah sesuatu yang lebih mendasar: keyakinan bahwa rumah adalah jangkar masa depan mereka.

Zhang di Beijing berkata: “Suami saya, yang berasal dari Hebei, selalu menyewa rumah di sini dan tidak pernah punya rasa memiliki.”

“Membeli rumah membuatnya merasa akhirnya benar-benar punya tempat tinggal.”

Sementara di Shanghai, Wu sudah lebih tenang.

“Sebelumnya, saya pikir harga rumah akan terus naik, jadi saya sangat cemas, seolah kalau tidak beli sekarang saya tak akan pernah mampu,” katanya.

“Tapi sekarang saya merasa pasar mungkin akan tetap datar untuk sementara waktu, atau hanya bergerak naik turun dalam kisaran sempit. Jadi saya tidak terlalu cemas lagi.”

“Dalam dua atau tiga tahun ke depan, kalau ada kesempatan, saya bisa beli. Tidak perlu terburu-buru untuk saat ini.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan