Pertemuan dua fenomena iklim jadi penyebab banjir parah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia
Negara-negara Asia Tenggara mengalami musim hujan terparah yang menyebabkan banjir besar dan topan, merenggut ratusan nyawa dan membuat ribuan warga terpaksa mengungsi.
Pemandangan udara dari daerah yang terendam banjir di Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand, pada 26 November 2025. (Foto: EPA/Angkatan Darat Thailand)
BANGKOK: Wilayah Thailand selatan terendam air. Di Sumatra, Indonesia, banjir bandang dan longsor telah merenggut banyak nyawa. Di Vietnam, akses menuju banyak kota terputus akibat banjir parah. Sementara itu Filipina masih berusaha bangkit dari topan yang menghancurkan permukiman. Dan Malaysia bersiap menghadapi musim hujan yang panjang dan berat.
Dalam beberapa pekan terakhir, sebagian besar wilayah Asia Tenggara diguyur curah hujan ekstrem, banjir dan badai, dari Teluk Thailand hingga Pasifik. Jutaan orang mengungsi dan ratusan tewas.
Kepada CNA, para ahli menjelaskan bahwa curah hujan tinggi di Asia Tenggara terjadi akibat pertemuan dua fenomena iklim besar tahun ini, yakni La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, yang ditandai suhu permukaan laut lebih hangat dari normal.
Mereka menambahkan bahwa kemampuan kawasan untuk beradaptasi tidak secepat laju pemanasan global serta perubahan pola cuaca yang ditimbulkannya.
Para ahli memperingatkan bahwa musim basah kemungkinan masih akan bertahan di wilayah yang sudah tergenang banjir, lalu bergerak perlahan ke selatan melewati Semenanjung Malaya menuju Singapura dan Indonesia dalam beberapa pekan ke depan.
Di Vietnam pekan lalu, hujan yang mengguyur tanpa henti telah membanjiri hingga 200.000 rumah dan menewaskan sedikitnya 90 orang.
Vietnam telah dilanda 14 topan sepanjang tahun ini. Badai berdampak pada kota-kota besar dan kawasan wisata di seluruh negeri, dari Hanoi dan Hue di utara hingga Danang, Hoi An, Nha Trang, dan Ho Chi Minh City di selatan, dengan kerugian mencapai ratusan juta dolar AS.
Sejumlah daerah aliran sungai mengalami banjir luar biasa parah dengan ketinggian air melampaui rekor, termasuk di Sungai Huong, Vu Gia–Thu Bon, Ba, dan Dinh. Kota Hue mencatat curah hujan antara 1m dan 1,7m dalam 24 jam pada akhir Oktober, yang menjadi rekor baru.
“Terjadinya banjir ekstrem dengan rekor terparah yang terjadi secara bersamaan di beberapa sistem sungai independen menunjukkan betapa tidak lazimnya peristiwa ini,” kata Pham Thi Thanh Nga, direktur jenderal Vietnam Institute of Meteorology, Hydrology and Climate Change.
Di Filipina, dua topan yang terjadi secara beruntun, Kalmaegi dan Fung-wong, memorak-porandakan wilayah tengah negara itu bulan lalu, membawa angin kencang, hujan deras, dan banjir di kawasan yang langganan bencana.
Lebih dari 1,5 juta orang dievakuasi akibat dua topan yang merupakan topan ke-20 dan ke-21 yang menghantam Filipina sepanjang tahun ini.
“Fung-wong itu luar biasa. Itu topan super. Ukurannya sampai terlihat seolah menelan seluruh negara,” kata Fredolin Tangang, ilmuwan iklim dan profesor emeritus di Universiti Kebangsaan Malaysia.
Sementara itu di Thailand, evakuasi massal diperintahkan di sekitar kota Hat Yai dan status darurat ditetapkan setelah wilayah itu diguyur hujan harian terlebat dalam tiga abad terakhir.
Curah hujan lebih dari 600mm turun dalam hitungan hari, memutus pusat ekonomi kawasan selatan, membuat wisatawan terjebak, dan memaksa warga mengungsi.
Satu keluarga Malaysia yang berkunjung dari Kedah menceritakan di media sosial bahwa mereka diselamatkan organisasi kemanusiaan United Sikhs setelah terjebak banjir.
“Kami benar-benar terperangkap di hotel. Air terus naik. Kami putus asa mencari makanan. Tidak ada listrik,” kata salah satu perempuan yang diselamatkan.
Kerusakan meluas di sembilan provinsi selatan, termasuk Songkhla — tempat Hat Yai berada — dengan sekitar 2,1 juta orang terdampak.
Malaysia meningkatkan kewaspadaan ketika monsun timur laut yang sudah aktif sepenuhnya memicu banjir luas lebih awal, dengan lebih dari 3.000 titik rawan dipantau dan delapan negara bagiannya sudah terendam.
Akhir bulan lalu menurut data resmi, hampir 25.000 warga di Malaysia terpaksa mengungsi akibat banjir.
Sementara di Indonesia, banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah provinsi di Sumatra, menimbulkan kerusakan pada permukiman dan infrastruktur lokal.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan 442 orang meninggal dalam rangkaian bencana tersebut, sementara ratusan lainnya masih dicari. Akses ke banyak wilayah terdampak sempat terputus akibat jembatan rusak dan jalan yang tertimbun material longsor.
Aceh dan Sumatra Utara menjadi dua wilayah dengan korban terbanyak, di mana ribuan warga harus meninggalkan rumah mereka untuk bertahan di pusat-pusat evakuasi.
UAP AIR SEBAGAI PEMICU
Para ahli mengatakan, dua fenomena iklim - La Niña dan IOD negatif - jarang terjadi bersamaan dan dengan intensitas setinggi ini. Akibatnya, sebagian besar kawasan menjadi seperti mesin pengumpul uap air.
“Uap air adalah bahan bakar bagi hujan ekstrem. Sesederhana itu,” ujar Tangang.
Fenomena La Niña — ketika pendinginan di Pasifik tengah mendorong akumulasi panas ke barat dan memperkuat hujan di Asia Tenggara — telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Meski tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya, fenomena ini cukup untuk meningkatkan curah hujan dan menguatkan pola monsun, terutama ketika berpadu dengan IOD negatif.
Pola iklim ini ditandai oleh perairan yang lebih hangat dari normal di sekitar Indonesia, yang menarik lebih banyak uap air dan memperkuat curah hujan kawasan.
Kedua peristiwa ini biasanya tidak mencapai puncak pada waktu yang sama karena muncul dari dua cekungan samudra berbeda, dipicu pola sirkulasi yang unik, dan memiliki waktu musiman yang umumnya tidak bertemu.
Nga mencatat adanya “kontras mencolok” pada musim basah ini; meski suhu permukaan laut di Pasifik tengah telah mendingin, perairan di Laut China Selatan dekat pesisir timur Vietnam dan laut timur Filipina tetap berada pada tingkat yang sangat hangat.
Hasilnya? “Kondisi yang ideal bagi badai untuk menghasilkan hujan yang sangat intens,” ujarnya.
Pemanasan global juga telah menyumbang pada peningkatan intensitas badai. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat tahun lalu sebagai yang terpanas sejauh ini, dengan suhu global naik sekitar 1,55 derajat Celsius dari masa praindustri.
“Itu jelas memengaruhi seberapa banyak uap air yang bisa ditampung atmosfer, dan pada akhirnya berubah menjadi hujan lebat, banjir, longsor, apa pun bentuknya,” kata Tangang. Udara yang lebih hangat menahan lebih banyak uap air, yang kemudian menghasilkan hujan lebih deras dan intens.
Asia “mengalami pemanasan hampir dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global”, kata WMO tahun lalu dalam laporan State of the Climate in Asia.
Faktor lain juga ikut berperan. Peristiwa cuaca tidak hanya dipengaruhi kondisi suhu lokal, tetapi juga pola regional, kata Zelina Zaiton Ibrahim, lektor kepala di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Universiti Putra Malaysia.
Karena itu, angin monsun yang bertiup ke Malaysia dipengaruhi variasi suhu di China dan Australia, jelasnya.
La Niña diperkirakan bertahan hingga awal 2026. Risiko hujan abnormal dapat terus berlanjut hingga awal tahun baru, meski polanya diprediksi tidak merata, ujar Nga.
Kondisi tanah yang sudah jenuh air membuat hujan dengan intensitas sedang saja dapat memicu banjir atau longsor tambahan.
ASEAN Specialised Meteorological Centre mencatat bahwa curah hujan diperkirakan berada di atas normal dalam beberapa bulan mendatang di sebagian besar Asia Tenggara daratan bagian tenggara, serta sebagian kawasan Maritime Continent — mencakup kepulauan Indonesia dan Filipina, serta Semenanjung Malaya.
BUTUH KESIAPAN YANG LEBIH BAIK
Kondisi Asia Tenggara dalam jangka panjang dinilai mengkhawatirkan akibat perubahan iklim. Peristiwa cuaca dan bencana yang dulu dianggap langka kini semakin sering terjadi.
“Ini membuat masyarakat memiliki waktu untuk bereaksi yang sangat terbatas, sementara sebagian penduduk masih belum siap atau meremehkan risikonya,” kata Nga.
Menurut ilmu iklim, jumlah topan memang tidak diperkirakan meningkat dalam beberapa tahun ke depan, namun intensitasnya cenderung menguat.
Curah hujan diprediksi semakin tak menentu, dengan interval ekstrem yang lebih rapat dan risiko lebih besar, sehingga membebani sistem prakiraan cuaca di seluruh kawasan.
Pemerintah di kawasan ini perlu berinvestasi lebih besar dalam adaptasi iklim untuk meminimalkan dampak serta meningkatkan ketahanan terhadap peristiwa ekstrem di masa mendatang, ujar Tangang.
Langkah adaptasi dapat mencakup peningkatan jaringan kanal dan drainase, perluasan infrastruktur hijau seperti area retensi dan resapan air alami, perlindungan pesisir, prakiraan cuaca cerdas, serta investasi dalam kesiapsiagaan masyarakat.
Di Vietnam, Nga menekankan pentingnya memperkuat kapasitas teknis lokal, meningkatkan kesadaran publik, dan memastikan masyarakat mampu beradaptasi dengan iklim yang berubah cepat.
Dalam COP30 yang baru digelar PBB, isu adaptasi menempati posisi penting. Negara-negara setuju menaikkan pendanaan adaptasi perubahan iklim hingga tiga kali lipat pada 2035, namun ketidakjelasan teknis meninggalkan kekecewaan bagi banyak negara berkembang.
Negara-negara Asia Tenggara mungkin akan memperoleh dukungan finansial yang lebih besar ke depan, tetapi keterlambatan pendanaan membuat terbukanya kesenjangan dalam adaptasi menghadapi perubahan iklim. Pemerintah kewalahan menyusul besarnya dampak yang terus meningkat, sementara pendanaan berjalan lambat dan tidak pasti, kata Zelina.
Menurut Seree Supratid, direktur Center for Climate Change and Disasters di Rangsit University, banjir Hat Yai menggambarkan betapa bencana datang lebih cepat melampaui kapasitas adaptasi Thailand.
Namun ia menilai langkah di tingkat nasional seharusnya bisa dilakukan lebih awal untuk mengantisipasi situasi seperti ini.
“Tingkat keparahan dampaknya berasal dari perencanaan yang tidak memadai dan respons yang terlambat. Jika rencana penanggulangan bencana nasional dijalankan sepenuhnya, situasinya tidak akan sebesar ini,” ujarnya.
Pada Selasa sore, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengeluarkan dekrit darurat untuk Provinsi Songkhla — termasuk Hat Yai — dan memerintahkan angkatan bersenjata mengambil alih upaya bantuan.
Malaysia turut mengerahkan misi penyelamatan untuk mengevakuasi warga negara mereka yang terjebak di Hat Yai.
Untuk saat ini, respons darurat menjadi prioritas utama bagi pemerintah dari negara-negara yang tengah berupaya melindungi warganya.
Namun para ahli memperingatkan masih ada tantangan yang lebih mendasar: memastikan Asia Tenggara lebih siap dalam menghadapi musim badai berikutnya.
“Ini wilayah yang rentan dengan kapasitas adaptasi rendah, dan itu membuat dampak di masa depan bisa semakin buruk,” kata Tangang dari Universiti Kebangsaan Malaysia.
“Ini bukan hal yang mudah diatasi karena perubahan iklim terjadi pada skala global.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.