Disuruh transfer Rp14,8 M, korban penipuan di Singapura mengira sedang membantu polisi
Penipuan bermodus kompleks ini berlangsung lebih dari sebulan, melibatkan beberapa orang dan korban bahkan sempat bertemu langsung dengan scammer-nya.
Seorang wanita berbicara dengan seseorang di telepon. (Foto: iStock/Catherine Costa)
SINGAPURA: Semuanya dimulai ketika mereka memberi tahunya bahwa ia dicurigai terlibat dalam pencucian uang.
Selama lebih dari sebulan, "Jane", seorang wanita berusia 50-an, kemudian harus bekerja sama dengan "petugas polisi" untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
Mereka memintanya membuat rekening bank dan mentransfer uang ke dalamnya; bahkan secara fisik menyerahkan uang tunai sebagai bagian dari "penyelidikan".
Akhirnya dia kehilangan S$1,2 juta (Rp14,8 miliar) – uang yang telah ditabungnya untuk membayar rumah barunya.
Berbicara kepada wartawan pada Jumat (14/3) dengan syarat identitasnya dirahasiakan, Jane, yang bekerja di bidang keuangan, menceritakan bagaimana ia tertipu tahun lalu dalam kasus yang kini dapat dikategorikan sebagai penipuan dengan modus menyamar sebagai pejabat pemerintah.
Kasus seperti ini termasuk di antara jenis penipuan dengan jumlah kerugian tertinggi tahun lalu di Singapura – setidaknya S$151,3 juta, menurut statistik yang dirilis oleh kepolisian pada Februari.
AWAL MULANYA
Jane sedang sarapan pada pagi 11 Desember ketika seorang wanita menelepon, mengaku dari Pusat Anti-Penipuan (ASC) Kepolisian Singapura.
Wanita itu, yang menyebut dirinya "Jenny Koo", mengatakan bahwa KTP (NRIC) milik Jane telah digunakan untuk mendaftarkan kartu SIM yang dipakai mengirim pesan spam.
Terkejut, Jane bertanya alamat yang digunakan untuk mendaftarkan kartu SIM tersebut. Ternyata bukan miliknya.
Jenny kemudian menyarankan Jane untuk membuat laporan polisi, dan meneruskan panggilan ke "tim investigasi polisi".
Panggilan itu diterima oleh scammer kedua, yang memperkenalkan diri sebagai "Inspektur Yang". Selama panggilan, dia tampak seperti sedang berbicara dengan seseorang juga, seolah-olah melalui walkie-talkie. Bagi Jane, hal ini membuat panggilan itu terkesan resmi.
Setelah melakukan "pemeriksaan", Yang mengatakan padanya bahwa seorang manajer cabang UOB bernama "Serena Chilyn" telah menggunakan identitas Jane untuk membuka rekening guna pencucian uang, dan bahwa Jane menerima 10 persen komisi.
Dia lalu mengatakan, untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, Jane harus melaporkan pergerakannya empat kali sehari melalui WhatsApp, serta memberikan laporan rekening bank.
Pada titik ini, Jane memang mencurigai sesuatu.
Dia meminta Yang membuktikan bahwa dia benar petugas polisi. Yang menunjukkan "kartu tanda anggota polisi".
Dia juga bertanya pada Yang mengapa dia tidak menerima pemberitahuan apa pun dari UOB – tempat dia memang memiliki rekening – jika identitasnya digunakan untuk membuka rekening lain.
Yang mengatakan bahwa Serena, sebagai manajer cabang, memiliki cara untuk "menyembunyikan" rekening bank tersebut.
Jane mengatakan kepada wartawan bahwa pada hari pertama dia masih meragukan. Namun setelah “banyak percakapan” dengan Yang pada hari-hari berikutnya, dengan Yang yang terus memantau jadwalnya, perlahan dia yakin bahwa pria itu sungguh-sungguh tengah menyelidiki kasus tersebut.
Si “inspektur palsu” itu kemudian memberinya surat yang menyatakan bahwa dia bisa ditahan selama 60 hari karena pencucian uang. Dia juga memperingatkannya agar tidak memberi tahu atau berbagi informasi tentang hal ini dengan pihak ketiga.
Dan Jane menuruti semua instruksi. Selama periode ini, dia juga tengah menghadapi kematian salah satu anggota keluarga, di samping kondisinya yang kurang sehat dan beban kerja yang banyak.
“Saya (sedang) tidak dalam kondisi pikiran yang baik untuk memutuskan apa pun ... Jadinya seperti, apapun yang Anda mau, saya berikan saja … Anda jangan ganggu saya.”
"DIA MEMBUAT SAYA PERCAYA"
Langkah berikut Yang adalah mengarahkan Jane ke "atasan"-nya untuk mengajukan “pemeriksaan keuangan prioritas”.
Metode ini kini terungkap sebagai cara umum yang digunakan para penipu untuk membuat korban mentransfer uang ke rekening tertentu.
Karena ingin menghindari penahanan, Jane mengikuti instruksi Yang. Dia menarik S$500.000 dari tabungannya dan memasukkannya ke rekening baru di sebuah bank Tiongkok.
“Petugas atasan” itu, yang menyebut dirinya “Inspektur Chong”, mengatakan mereka membutuhkan bantuannya untuk menjebak orang dalam perbankan seperti Serena.
“Dia membuat saya percaya … bahwa saya sedang membantu polisi.”
Pada 18 dan 19 Desember, Jane melakukan sembilan kali transfer bank dari rekening di bank Tiongkok tersebut ke para penipu, setiap kali di bawah S$20.000.
Para penipu mengatakan kepadanya bahwa ini adalah pembayaran “dummy” (palsu) untuk memancing Serena, dan dana pribadinya tidak akan terpengaruh.
Pada tahap ini, ASC yang asli telah mendeteksi hal ini.
Namun Chong sudah selangkah lebih maju, dengan memperingatkan Jane bahwa ASC akan menelepon untuk memberitahunya tentang potensi penipuan. Dia menginstruksikan Jane untuk memberi tahu petugas ASC bahwa ia tahu apa yang sedang dilakukannya; dan ia tidak perlu memberi tahu yang sebenarnya karena dia sudah membantu “polisi”.
Ketika ASC yang asli menelepon – dan mengatakan hal persis seperti yang dikatakan Chong akan mereka katakan – itulah yang membuat Jane yakin sepenuhnya.
“Saya tidak tahu kenapa mereka mengatakan persis seperti yang dia katakan. (Itu) membuat saya percaya padanya.”
Total sekitar S$180.000 telah ditransfer ke para penipu.
Mereka kemudian memintanya menyerahkan sisa S$320.000 secara tunai dan langsung.
Saat pertemuan, Chong tetap terhubung via telepon dengan Jane, dan menunjukkan siapa yang akan mengambil uang tunai darinya. Pria yang dia temui memakai kaus dan celana jeans dan terlihat seperti “ah beng” (alay), kata Jane.
Ada tiga pertemuan lain di mana dia harus menyerahkan – terkadang kepada pria berbeda – lebih banyak uang tunai untuk “penyelidikan”.
Dalam kurun waktu sedikit lebih dari sebulan, dia akhirnya menyerahkan total S$1,2 juta kepada para penipu.
PENIPU SEPERTI "PEMBURU"
Bahkan setelah menipu dia lebih dari satu juta dolar, para penipu tetap berkomunikasi dengan Jane, menyuruhnya untuk terus melapor empat kali sehari.
Di sela laporannya, Jane bertanya soal uangnya, mengatakan dia membutuhkannya untuk membayar pinjaman rumah baru.
Awalnya mereka masih meyakinkan, namun kemudian para penipu berhenti membalas sama sekali setelah 24 Januari.
Namun Jane masih terus mengirim pembaruan dan baru pada 4 Februari – setelah 10 hari tanpa kabar – dia menyadari bahwa dia mungkin telah ditipu.
Dua hari kemudian, dia membuat laporan polisi.
Jane mengatakan dia menangis karena “kebodohannya”, dan akhirnya menceritakan segalanya kepada anak-anak dan suaminya.
Ketiga putranya menghiburnya dan menawarkan untuk membayar renovasi rumah barunya.
“Mereka bilang, ‘Tidak peduli apa yang terjadi, kamu tetap memiliki kami. Uang, kita masih bisa mencarinya lagi. Yang paling penting kamu aman’,” kata Jane.
Anggota keluarga lainnya, termasuk saudara perempuannya, masih belum tahu.
Jane mengatakan sarannya adalah agar tidak membiarkan penipu menguasai emosi seseorang. Dia menyamakan mereka dengan psikiater “jahat”, yang mempelajari korban dan karakter mereka untuk menemukan cara “menyerang” seperti “pemburu”.
Di Singapura, undang-undang baru yang disahkan awal tahun ini memberi polisi wewenang memerintahkan bank untuk membatasi transaksi calon korban penipuan. Jane yakin hal ini akan membantu korban seperti dirinya.
Ia pun akhirnya telah berdamai dengan kehilangannya, memilih untuk menganggapnya sebagai “donasi untuk amal”.
“Saya percaya pada karma,” tambahnya. “Jadi saya lepaskan saja.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.