Skip to main content
Iklan

Asia

Pengamat terorisme: JI memang bubar, tapi radikalisme masih mengintai dan mengakar di Asia Tenggara

Pengamat mencermati perubahan lanskap penyebaran radikalisme, mulai dari postingan dan grup di media sosial hingga ke pernikahan dan keluarga. Namun pengamat menegaskan, hal ini harus dilihat secara holistik, termasuk latar belakang budaya dan ekonomi.

MALAYSIA: Beberapa penangkapan terkait radikalisme di Malaysia, di antaranya satu keluarga dari pelaku penyerangan kantor polisi Ulu Tiram dan delapan orang lainnya dalam kasus terpisah, menjadi penanda meningkatnya ancaman teror di Asia Tenggara, demikian kata para pakar keamanan kepada CNA.

Skala insiden yang terjadi belakangan ini memang kecil jika dibandingkan ketika Jemaah Islamiyah (JI) melancarkan serangan teror di Bali dan Jakarta yang menewaskan ratusan orang pada tahun 2000-an.

Namun, para pakar mengatakan penangkapan-penangkapan ini menegaskan adanya jaringan terorisme dan radikalisme yang telah mengakar di beberapa wilayah Asia Tenggara.

Misalnya delapan orang yang ditangkap polisi di Malaysia, berusia antara 25 dan 70 tahun.  Mereka berasal dari berbagai profesi dan latar belakang ekonomi, termasuk ibu rumah tangga dan profesional terdidik, salah satunya dosen.

Sementara itu di Singapura, Menteri Hukum dan Dalam Negeri K Shanmugam mengumumkan pada 15 Juli bahwa dua warga Singapura diganjar perintah pembatasan karena mendukung terorisme dan kekerasan bersenjata. Keduanya disebut menganut paham radikal usai serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.

Salah satunya adalah remaja berusia 14 tahun, warga Singapura termuda yang diganjar perintah pembatasan di bawah Undang-undang Keamanan Dalam Negeri (ISA). Seorang lainnya adalah perempuan berusia 33 tahun, manajer di sebuah perusahaan.

Dengan perintah pembatasan ini, mereka tidak diizinkan pindah alamat atau melakukan perjalanan keluar Singapura tanpa izin pihak berwenang. Mereka juga tidak dapat mengakses internet atau media sosial tanpa persetujuan.

Sebelumnya pada Februari tahun lalu, Departemen Keamanan Dalam Negeri Singapura (ISD) mengumumkan bahwa mereka telah menahan seorang pemuda 18 tahun yang merupakan pendukung ISIS pada Desember 2022. Pemuda ini disebut merencanakan serangan ke beberapa tempat di Singapura, termasuk kamp militer dan kuburan di sebuah masjid.

Dua pemuda lainnya yang berkomunikasi secara online dengan dia juga dikenakan perintah ISA karena aktivitas yang terkait terorisme.

Aparat Singapura mengatakan, ketiganya berkenalan di internet melalui channel ekstremis di platform Discord.

Lektor Kepala Bilveer Singh, yang merupakan wakil kepala fakultas ilmu politik  National University of Singapore (NUS), mengatakan bahwa negara-negara Asia Tenggara sudah seharusnya waspada mengingat berbagai perkembangan dan insiden belakangan ini yang didorong oleh konflik di Gaza.

Serangan Hamas telah memicu serbuan Israel ke Jalur Gaza. Menurut laporan terbaru dari otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 38.000 warga Palestina telah terbunuh, kebanyakan perempuan dan anak-anak.

Pengamat terorisme Bilveer Singh mengatakan bahwa waktu terjadinya insiden Ulu Tiram menunjukkan bahwa konflik di Gaza mungkin menjadi salah satu faktor pemicu serangan tersebut. (Foto: CNA/Ahmad Zamzahuri Abas)

Singh mengatakan, peristiwa di Gaza dapat memicu radikalisme di Asia Tenggara, dan membuat beberapa orang bergabung dengan kelompok ekstremis.

"Singapura dan negara-negara di kawasan harus meningkatkan kewaspadaan, ada arus bawah gerakan radikal di kawasan ini dan semua pihak harus waspada," ujar Singh.

Pengamat terorisme, Dr Noor Huda Ismail - peneliti tamu di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), mengatakan berbagai insiden terorisme belakangan ini menunjukkan bahwa radikalisasi telah beralih ke dunia maya. Melalui internet, kata Huda, ideologi ekstrem telah melintasi batas negara dan hal ini bisa berujung pada semakin meningkatnya serangan transnasional di kawasan.

"Sekarang kita melihat lanskap yang berbeda, di mana perekrutan dilakukan di media sosial untuk mendokumentasikan aktivitas demi menggalang dukungan dan mensinergikan anggota," kta dia.

Huda mencontohkan seorang warga Malaysia yang menjadi militan di Suriah memposting kegiatannya di media sosial. Hal ini telah menggelorakan semangat anak-anak muda dan memotivasi mereka untuk mengikuti jejaknya.

"Salah satu tantangan dari radikalisasi online adalah mendemokratisasi cara-cara orang untuk bergabung dengan kelompok kekerasan. Sebelumnya, jika ingin bergabung dengan kelompok teroris seperti JI, Anda harus menghadiri beberapa pertemuan secara langsung. Tapi sekarang kita melihat fenomena tindakan konektif - di mana individu tidak perlu bertemu secara fisik, tetapi terhubung secara ideologis di dunia maya," tambahnya.

Jemaah Islamiyah memang telah menyatakan membubarkan diri. Namun para pengamat menduga kelompok-kelompok sempalan JI akan bermunculan, bahkan lebih radikal lagi, terdiri dari mereka yang kecewa dengan putusan para petingginya. 

Rosna Jantan, warga negara Singapura, adalah ibu dari tersangka pelaku penyerangan kantor polisi di Ulu Tiram yang menewaskan dua polisi. (Foto: CNA/Ahmad Zamzahuri Abas)

Kepada CNA, seorang mantan anggota JI yang tidak ingin disebut namanya mengatakan bahwa perekrutan oleh berbagai kelompok-kelompok radikal sempalan JI gencar dilakukan secara online. Hal ini, kata dia, memungkinkan kelompok-kelompok tersebut menjangkau calon anggota lintas batas negara.

Modusnya, kata dia, adalah dengan membuat grup publik di media sosial tentang hal-hal tentang keislaman tanpa menunjukkan tanda-tanda radikalisme, misalnya membahas krisis kemanusiaan di Gaza.

Melalui diskusi di grup-grup ini, kelompok radikal kemudian dapat mengendus anggota mana yang menunjukkan tanda-tanda mudah diradikalisasi. Mereka kemudian dijangkau melalui pesan pribadi.

"Dengan metode ini, organisasi teroris dapat merekrut anggota dari berbagai negara - seperti Malaysia, Indonesia, Singapura - lalu menawarkan pelatihan paramiliter di daerah konflik seperti Marawi di Filipina selatan," kata mantan anggota JI tersebut.

Huda mengatakan bahwa sebagai bagian dari penelitiannya, dia telah berbicara dengan kelompok yang dianggapnya sebagai "pelancong frustrasi" - yaitu orang Indonesia yang ingin pergi ke Suriah untuk mengikuti pelatihan militer dan jihad.

"Mereka berasal dari latar belakang yang tidak terbayangkan, termasuk para profesional di masyarakat dan juga perempuan," tambahnya.

Noor Huda mengatakan bahwa celah-celah di perbatasan negara-negara Asia Tenggara - terutama antara Malaysia, Indonesia dan Filipina - di Kalimantan dan di Laut Sulu, dapat mendorong pergerakan transnasional para anggota kelompok teroris.

"Kita harus melihat masalah ini dari kacamata koneksi transnasional yang telah terjadi, yang mengarah pada penyebaran ideologi melalui pernikahan, keluarga," tambahnya.

Hal ini dapat dilihat dari pelaku penyerangan kantor polisi di Ulu Tiram, Malaysia. Orang tua dari pelaku memiliki kewarganegaraan yang berbeda - ayahnya Radin Imran adalah warga Malaysia dan ibunya Rosna Jantan adalah warga Singapura.

APAKAH JOHOR AKAN KEMBALI JADI PUSAT TERORISME DI KAWASAN?

Para pengamat khawatir negara bagian Johor di selatan Malaysia dapat kembali menjadi pusat terorisme di kawasan Asia Tenggara.

Para pemimpin JI Malaysia berasal dari Johor, di antaranya Nordin Mat Top - dalang serangan-serangan teroris di Asia Tenggara, termasuk di hotel JW Marriott, Jakarta - dan juga Zulkifli Hir (Marwan) yang dilaporkan terlibat dalam pemboman di Bali pada 2003.

Serangan di Ulu Tiram pada Mei lalu juga menuai sorotan terhadap sekolah Luqmanul Hakiem di Kampung Sungai Tiram, tempat tinggal keluarga tersangka serangan Ulu Tiram.

Gerbang pesantren Luqmanul Hakiem terbuka ketika CNA mengunjunginya pada Juni lalu. (Foto: CNA/Ahmad Zamzahuri Abas)

Sekolah yang secara resmi ditutup pada 2001 ini sebelumnya pernah dikunjungi oleh para pemimpin JI seperti Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir.

Menurut laporan, para pemimpin JI menggunakan sekolah tersebut untuk pertemuan dan merencanakan serangan. Meskipun sekolah ini telah ditutup, namun masih terus digunakan sebagai masjid untuk memberi pendidikan agama bagi anak-anak pengungsi Rohingya dari Myanmar, kata Singh, yang telah mengunjungi kampung itu beberapa kali untuk penelitian.

Dia menambahkan bahwa masjid itu masih melayani masyarakat yang tinggal di kampung tersebut, termasuk istri pemimpin JI yang dieksekusi, Mukhlas, dan istri pemimpin JI yang terbunuh, Nordin Top.

Namun, pemerintah Malaysia menyatakan bahwa keluarga Radin Imran tertutup dan pelaku penyerangan yang berusia 21 tahun bertindak sebagai "lone wolf".

Pada Mei lalu, pemerintah negara bagian Johor mengatakan bahwa sekolah tersebut mungkin akan digusur karena masalah keselamatan dan keamanan.

Namun, ketika CNA mengunjungi daerah tersebut baru-baru ini, bangunan sekolah masih berdiri dan terlihat ada anak-anak yang bermain di kompleksnya. Beberapa warga kampung kemudian meminta wartawan CNA untuk pergi, dengan alasan bahwa kampung tersebut adalah milik pribadi.

Singh mengatakan: "Kampung itu masih menyimpan peninggalan para mantan gembong JI, jejak-jejak peninggalan organisasi tersebut masih ada di sana. Saya rasa pemerintah Malaysia ingin mengecilkan fakta-fakta ini, karena malu seharusnya aparat keamanan seharusnya sudah menggusur sekolah itu dari dulu."

Abu Bakar Muhammad Aroff menerima siswa dari berbagai latar belakang di Pondok Tahfiz Ar Rayyan, termasuk para pengungsi Rohingya. (Foto: CNA: Ahmad Zamzahuri Abas)

Abu Bakar Muhammad Aroff, kepala Pondok Tahfiz Ar Rayyan di Ulu Tiram, mengatakan kepada CNA bahwa penutupan sekolah Luqmanul Hakiem akan menjadi sebuah langkah positif. Pondok Tahfiz Ar Rayyan adalah sekolah Islam yang telah mendapatkan izin dari departemen agama Islam Malaysia.

"Ulu Tiram memiliki sejarah yang kelam, jadi mungkin lebih baik jika mereka menutup sekolah tersebut dan memastikan bahwa anak-anak di daerah tersebut dikirim ke sekolah-sekolah yang sah dan terdaftar di departemen agama," tambahnya.

Tersangka yang diduga terlibat dalam serangan kantor polisi Ulu Tiram dan tiga saudaranya tidak pernah menyelesaikan sekolah umum. Dalam penyelidikan polisi disebutkan, mereka mendapatkan pengajaran soal radikalisme di rumah.

Namun Dr Norshahril Saat, peneliti senior dan koordinator program studi sosial dan budaya regional di ISEAS-Yusof Ishak Institute, memperingatkan bahwa penyelidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada sudut pandang agama dan keamanan saja. Pasalnya menurut dia, hal tersebut hanya akan menghambat pemahaman yang menyeluruh tentang perubahan sosial di Johor.

Dia mencatat bahwa berdasarkan survei ISEAS pada 2017, Muslim Johor menjadi lebih konservatif dengan 75 persen responden mendukung penerapan hukum hudud syariah.

Norshahril menekankan bahwa konservatisme memang tidak selalu mengarah pada terorisme, namun dia menunjukkan bahwa kelompok-kelompok radikal yang menyerukan sistem pemerintahan dan hukum Islam biasanya menentang kebijakan-kebijakan sekuler.

Untuk kasus keluarga pelaku penyerangan Ulu Tiram, Norshahril memperingatkan bahwa publik harus melihat gambarannya secara holistik. Bagaimana kondisi psikologis keluarga dan situasi keuangan mereka, salah satunya dengan melihat kehidupan di dalam rumah mereka yang sudah terlihat usang.

Rumah tersangka dijaga ketat oleh garis polisi ketika CNA mengunjungi daerah tersebut baru-baru ini. (Foto: CNA/Ahmad Zamzahur Abas)

"Saya pikir pada akhirnya kita perlu meninjau kembali bagaimana menganalisis berbagai hal. Anda tahu, ketika pembunuhan di Ulu Tiram terjadi, banyak yang dengan cepat mengambil kesimpulan bahwa ini adalah ulah JI, dengan cepat membuat kesimpulan tersebut dan mengaitkannya dengan radikalisme Islam," kata Norshahril. 

"Tentu saja, ancaman JI telah ada di kawasan Asia Tenggara ini sejak lama. Mereka telah merusak masyarakat. Mereka telah melakukan pembunuhan. Jadi saya pikir Asia Tenggara mengalami trauma dengan JI, tetapi mengaitkannya (aksi kekerasan dengan JI) dengan cepat, saya rasa kita melewatkan beberapa faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap hal ini," tambahnya. 

Terlepas dari apakah JI masih ada atau tidak, Norhsahril mengatakan bahwa tren dalam dua dekade terakhir memang ada kelompok-kelompok yang mempromosikan radikalisme di kawasan.

"Baik itu JI maupun non-JI, kita harus menangani masalah ini secara holistik. Kita harus melihat ideologinya apa - cara promosi JI mungkin berbeda di tiap-tiap medianya. Jadi kita harus fokus pada JI, atau kelompok-kelompok sejenis lainnya yang merekrut individu melalui jaringan dan ikatan keluarga," kata dia.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini. 

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan