Enam tewas, termasuk pelaku, dalam penembakan di sekolah Thailand
Polisi mengidentifikasi pelaku penembakan sebagai seorang siswa.
Tersangka pelaku penembakan di sekolah tersebut terlihat dalam foto yang dirilis oleh kepolisian Thailand.
BANGKOK: Sedikitnya enam orang tewas pada Jumat (7/8) setelah seorang siswa melepaskan tembakan di sebuah sekolah di Thailand sebelum menembak dirinya sendiri, kata seorang pejabat kepolisian nasional Thailand.
Para siswa berhamburan keluar dari Sekolah Debsirin Nonthaburi, di pinggiran barat laut Bangkok, sementara korban luka dibawa ambulans dan para guru saling berpelukan sambil menangis.
Dalam foto-foto yang diedarkan oleh petugas layanan darurat, satu orang terlihat terbaring di atas tandu di luar ambulans, sementara seorang lainnya mendapat penanganan dari petugas medis.
Letkol Trirong Phophan, juru bicara Kepolisian Nasional Thailand, mengatakan kepada Reuters bahwa terduga pelaku penembakan termasuk di antara enam orang yang tewas. Sebanyak 23 orang lainnya terluka, tambahnya.
Sebelumnya polisi melaporkan ada tujuh orang tewas, sebelum merevisinya menjadi enam.
Menteri Pendidikan Thailand Prasert Jantararuangtong menuturkan kepada Reuters bahwa guru dan siswa termasuk di antara korban yang dilaporkan tewas. Polisi mengidentifikasi pelaku sebagai seorang siswa. Ini merupakan penembakan di sekolah kedua di Thailand tahun ini, setelah seorang guru tewas dan seorang siswa terluka dalam insiden di wilayah selatan negara itu pada Februari lalu.
"Ini adalah kejadian yang sangat mengerikan. Seharusnya ini tidak pernah terjadi. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi di negara kita?" kata Perdana Menteri Anutin Charnvirakul kepada wartawan di Government House, Bangkok.
Wakil Menteri Dalam Negeri Polapee Suwunchwees mengatakan, tersangka menggunakan pistol dan Kementerian Dalam Negeri tengah menyelidiki bagaimana siswa tersebut mendapatkannya.
Foto-foto yang dipublikasikan media lokal memperlihatkan tersangka mengenakan seragam sekolah berwarna ungu dan membawa tas selempang hitam, dengan sejumlah selongsong peluru terlihat di tanah.
Polisi mengatakan pelaku menembak dan membunuh kakek dan neneknya di rumah mereka sebelum melepaskan tembakan di sekolah.
Pelaku melepaskan 26 tembakan dan 34 butir amunisi lainnya ditemukan di lokasi kejadian, kata polisi.
Lalu lintas di sekitar Sekolah Debsirin Nonthaburi di Nonthaburi nyaris terhenti total, menurut pengamatan seorang jurnalis AFP. Media lokal melaporkan bahwa para orang tua menjemput anak-anak mereka setelah insiden tersebut.
Seorang siswa berusia 18 tahun mengatakan kepada Reuters bahwa awalnya ia mengira suara yang terdengar berasal dari petasan atau seseorang yang sedang memukulkan suatu benda.
"Awalnya saya tidak mengira itu suara tembakan," katanya. "Terdengar banyak tembakan: dor, dor, dor. Kemudian hening. Lalu terdengar lagi."
Petugas layanan darurat Kiatikhun Verapongpradith, 47, mengatakan, ia tiba ketika penembakan masih berlangsung. Timnya menangani para siswa yang mengalami luka di punggung, dada, dan lengan. Mereka menemukan seorang guru laki-laki tergeletak dalam keadaan tewas di lantai atas sekolah.
Di ruangan lain, mereka menemukan seorang guru perempuan dengan luka di dada dan lengannya.
"Kami melakukan CPR selama sekitar 30 menit dan segera membawanya ke rumah sakit karena kami tidak berhasil memulihkan detak jantungnya, tetapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin," tuturnya.
Pada tahun ajaran 2025, sekolah tersebut memiliki sekitar 3.100 siswa dan 147 guru, menurut pihak berwenang distrik.
Wakil Menteri Pendidikan Akkharanan Kannakittinan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia sedang berkoordinasi untuk memberikan bantuan.
Thailand memiliki salah satu tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di Asia Tenggara, dengan sekitar 10 juta senjata api diperkirakan beredar — setara dengan satu senjata untuk setiap tujuh penduduk.
Berbagai janji sebelumnya untuk memperketat undang-undang senjata api belum mampu mencegah terjadinya penembakan berulang.
Polisi Thailand menembak dan menangkap seorang pelaku penembakan remaja yang melepaskan tembakan di sebuah sekolah di wilayah selatan negara itu pada Februari. Insiden tersebut menewaskan kepala sekolah dan melukai dua siswa.
Pada 2022, seorang mantan polisi yang bersenjatakan pistol dan pisau menyerbu sebuah pusat penitipan anak di wilayah utara Thailand dan membunuh 24 anak serta 12 orang dewasa, dalam salah satu pembantaian paling mematikan di negara tersebut.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.