Wajah-wajah di balik kebangkitan AI China: Mengenal para pendiri DeepSeek, Z.ai, dan Moonshot AI
Seiring China muncul sebagai salah satu pesaing utama dalam perlombaan global kecerdasan buatan (AI), CNA mengulas sosok-sosok yang memimpin perusahaan-perusahaan AI terkemuka di negara tersebut.
Dari kiri: Yang Zhilin, pendiri Moonshot AI; Liang Wenfeng, pendiri DeepSeek; dan Tang Jie, salah satu pendiri Zhipu AI. (Foto arsip: Reuters, Xiaohongshu/Doudou/Xianshuxuezhanglaoshi)
SINGAPURA: China kembali menjadi sorotan di sektor teknologi setelah salah satu perusahaan rintisan kecerdasan buatannya meluncurkan sistem AI open-weight terbesar di dunia pada Juli.
Negara itu kini tampil sebagai salah satu pesaing utama dalam perlombaan AI global. Perusahaan-perusahaan dari negara itu merilis model seperti Kimi K3 dan GLM-5.2 yang dinilai mampu bersaing dengan model-model buatan Amerika Serikat.
Di tengah ambisi China menjadi pemimpin dunia di bidang AI, CNA menelusuri sosok-sosok di balik sejumlah perusahaan AI terkemuka di negara tersebut—DeepSeek, Z.ai, dan Moonshot AI—serta arah yang mereka tetapkan bagi perkembangan industri AI China.
LIANG WENFENG, DEEPSEEK
DeepSeek yang berbasis di Hangzhou mengejutkan Silicon Valley pada 2025 ketika meluncurkan model R1. Perusahaan itu mengklaim model tersebut mampu menyaingi produk-produk AI asal Amerika Serikat, namun dengan biaya pengembangan yang jauh lebih rendah.
Pendirinya, Liang Wenfeng (41), berasal dari Kota Zhanjiang di Provinsi Guangdong, China selatan. Ia merupakan lulusan Universitas Zhejiang dan turut mendirikan perusahaan dana lindung nilai kuantitatif (quantitative hedge fund) High-Flyer pada 2015.
Di bawah kepemimpinannya, aset High-Flyer tumbuh lebih dari sepuluh kali lipat dalam waktu empat tahun. Liang kemudian menginvestasikan keuntungan besar perusahaan itu untuk membeli lebih dari 10.000 cip Nvidia sebelum Amerika Serikat memberlakukan pembatasan ekspor cip AI ke China.
Investasi awal tersebut memberikan daya komputasi yang dibutuhkan DeepSeek—divisi AI milik High-Flyer—untuk berkembang pesat setelah didirikan pada 2023.
Menurut Bloomberg Billionaire Index, Liang kini menjadi kreator model AI terkaya di dunia. Kekayaannya melonjak dari US$16,7 miliar (Rp300,8 triliun) menjadi US$36 miliar (Rp648,5 triliun) setelah putaran pendanaan terbaru DeepSeek, dan kini mencapai US$37,9 miliar (Rp683 triliun).
Jumlah tersebut jauh melampaui kekayaan salah satu pendiri Anthropic, Dario Amodei, yang diperkirakan sebesar US$7,98 miliar (Rp143,8 triliun), maupun Presiden OpenAI Greg Brockman yang memiliki kekayaan sekitar US$25,5 miliar (Rp459,5 triliun).
Peringkat Bloomberg tersebut hanya menghitung perusahaan yang bisnis utama dan mayoritas pendapatannya berasal langsung dari model AI. Karena itu, pendiri perusahaan teknologi besar seperti Elon Musk dari Tesla maupun Mark Zuckerberg dari Meta tidak termasuk dalam daftar tersebut.
Berbeda dengan sebagian besar perusahaan rintisan AI di China, Liang selama ini membiayai DeepSeek hampir sepenuhnya melalui dana miliknya sendiri dan menolak pendanaan eksternal hingga baru-baru ini.
Namun, seiring meningkatnya biaya operasional dan upaya perusahaan mengembangkan cip AI untuk proses inferensi, DeepSeek mulai membuka diri terhadap modal ventura. Dalam putaran pendanaan pertamanya, perusahaan berhasil menghimpun sekitar US$7,4 miliar.
Model terbaru DeepSeek, V4, dirilis pada April tahun ini. Perusahaan menyatakan, model tersebut hadir dengan biaya operasional yang "turun drastis".
Kemunculan DeepSeek memicu perbincangan luas di dunia AI, tetapi Liang tetap dikenal sebagai sosok yang tertutup. Dalam salah satu wawancara langka pada 2024, ia sempat memaparkan visinya mengenai DeepSeek dan masa depan AI China.
Kepada media China, Anyong, Liang mengatakan, China harus beralih dari sekadar penerima manfaat teknologi menjadi kontributor teknologi. Menurutnya, perusahaan-perusahaan China terlalu lama terbiasa memanfaatkan inovasi teknologi dari luar negeri lalu mengomersialkannya melalui berbagai aplikasi, tanpa banyak berperan dalam penemuan teknologi inti.
Ia mengatakan, tujuan DeepSeek adalah mendorong batas-batas kemajuan teknologi sekaligus membangun ekosistem AI secara menyeluruh.
"China harus bertransformasi menjadi kontributor teknologi, bukan terus-menerus menumpang pada pencapaian pihak lain," ujarnya.
TANG JIE, Z.ai
Tang Jie, profesor di Universitas Tsinghua yang bergengsi, mendirikan Zhipu AI—yang kini dikenal sebagai Z.ai—pada 2019 bersama sejumlah dosen dan alumni universitas tersebut.
Perusahaan itu kini menjadi salah satu penyedia utama teknologi chatbot bagi pelaku usaha di China. Model terbarunya, GLM-5, juga mendapat sambutan positif dari komunitas pengembang.
Lahir pada 1977, Tang bergabung dengan Departemen Ilmu Komputer Universitas Tsinghua pada 2006. Salah satu mantan mahasiswanya adalah pendiri Moonshot AI, Yang Zhilin.
Ia telah menulis lebih dari 100 artikel di jurnal ilmu komputer serta mengembangkan AMiner, sebuah mesin pencari yang menambang data dari publikasi akademik daring dan mengidentifikasi hubungan antara peneliti, konferensi, serta publikasi ilmiah.
Tang juga memimpin pengembangan Wu Dao, model AI bahasa alami berskala sangat besar pertama di China yang diperkenalkan pada 2021. Timnya kemudian meluncurkan "mahasiswa virtual" pertama di China, sebuah personifikasi model Wu Dao yang mampu menggubah musik, bernalar, merespons emosi, menjawab pertanyaan, hingga menulis kode pemrograman.
Di situs akademik pribadinya, Tang mengatakan bahwa ia mencurahkan "seluruh upayanya" untuk mengembangkan artificial general intelligence (AGI), untuk menciptakan mesin yang dapat berpikir seperti manusia.
Dalam memo internal kepada karyawan Z.ai bulan ini, Tang mengatakan bahwa "gelombang besar" evolusi teknologi telah tiba, dan transisi menuju AGI yang kemudian berkembang menjadi artificial superintelligence merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Menurut Tang, sementara banyak perusahaan berfokus pada komersialisasi, tujuan utama Z.ai dalam dua tahun ke depan adalah mencapai terobosan berikutnya dalam teknologi AGI.
Untuk itu, perusahaan akan mengalokasikan seluruh sumber daya intinya pada pengembangan AGI, meski harus memperlambat monetisasi aplikasi dalam jangka pendek.
"Gelombang itu telah datang, arahnya tidak dapat dibalik. Zhipu AI harus menjadi pihak yang menghadapi gelombang itu dan terus melangkah ke puncak."
"Jika kita tidak mencapai puncak, berarti kita gagal."
Pandangan dalam surat tersebut sejalan dengan visi yang sebelumnya disampaikan Liang Wenfeng mengenai DeepSeek, yakni menempatkan inovasi sebagai prioritas utama, bukan sekadar komersialisasi.
"Selama ini sektor teknologi China sangat pragmatis—bahkan bisa dibilang terlalu berfokus pada komersialisasi dan penerapan teknologi, sembari memanfaatkan hasil riset dasar yang dilakukan pihak lain," kata Lin William Cong, President's Chair Professor bidang Keuangan, Komputasi, dan Ilmu Data di Nanyang Technological University (NTU), kepada CNA.
Menurutnya, generasi terbaru laboratorium AI di China merupakan bagian dari "koreksi yang disengaja" untuk membuktikan bahwa perusahaan-perusahaan China mampu menghasilkan inovasi orisinal, bukan sekadar mengikuti perkembangan yang sudah ada.
Namun, ia mengingatkan agar hal itu tidak diartikan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mengabaikan aspek bisnis.
"Harga agresif DeepSeek dan bisnis korporasi Zhipu tetap merupakan langkah komersial. Hanya saja, semuanya ditempatkan untuk mendukung misi riset, bukan menjadi pendorong utamanya," ujarnya.
Dr Cong menambahkan bahwa komersialisasi dan inovasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling memperkuat dalam pasar yang dirancang dengan baik.
"Dengan cara pandang ini, kombinasi model open-weight, harga murah, dan pendekatan yang mengutamakan riset dari laboratorium AI China bukan berarti menolak komersialisasi. Sebaliknya, mereka bertaruh bahwa jalan tercepat menuju AGI sekaligus pasar yang besar adalah dengan membuat teknologi tersebut cukup murah sehingga seluruh ekosistem dapat bereksperimen dan membangun inovasi di atasnya."
YANG ZHILIN, MOONSHOT AI
Pendiri Moonshot AI, Yang Zhilin, menjadi sosok di balik gelombang terbaru perhatian terhadap perkembangan AI China setelah perusahaannya meluncurkan Kimi K3, model AI open-weight terbesar di dunia, pada Juli.
Model open-weight merupakan sistem AI yang komponen intinya dibuka untuk publik sehingga siapa pun dapat mengunduh dan menggunakannya.
Yang meraih gelar sarjana di Universitas Tsinghua, dengan Tang Jie—salah satu pendiri Z.ai—sebagai dosen pembimbingnya.
Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di Carnegie Mellon University dan lulus pada 2019. Dalam sebuah unggahan di LinkedIn, profesornya, Ruslan Salakhutdinov, menggambarkan Yang sebagai sosok yang "benar-benar brilian".
Sebelum mendirikan perusahaan sendiri, Yang sempat menjadi peserta magang di tim riset AI Meta dan Google.
Meski Apple dikabarkan tertarik merekrutnya, Yang memilih kembali ke China dan mendirikan Moonshot AI pada 2023. Menurut laporan Reuters, perusahaan itu memperoleh pendanaan lebih dari US$2 miliar pada Mei tahun ini dari investor, termasuk Meituan, China Mobile, dan CPE.
Total pendanaan yang telah dihimpun Moonshot AI kini melampaui US$5,5 miliar, sementara valuasinya mencapai US$30 miliar pada Juni, menurut Reuters.
Setelah dirilis, permintaan terhadap Kimi K3 melonjak jauh melampaui kapasitas perusahaan. Dua hari setelah peluncuran, Moonshot AI mengumumkan penghentian sementara pendaftaran pelanggan baru karena tingginya beban pada infrastruktur komputasi mereka.
"Kimi K3 menerima jauh lebih banyak sambutan daripada yang kami perkirakan, dan GPU kami benar-benar kewalahan," tulis perusahaan itu di platform X.
Di situs pribadinya yang diperbarui pada 2024, Yang merangkum pekerjaannya hanya dalam satu kalimat sederhana:
"Saya sedang membangun sebuah perusahaan rintisan."
Yang dikenal sebagai penggemar musik. Kecintaannya itu tercermin dalam budaya perusahaan yang ia bangun.
Ruang-ruang rapat di kantor pusat Moonshot AI diberi nama sesuai band favoritnya, seperti Radiohead, Led Zeppelin, Queen, dan Nirvana. Paket berlangganan Kimi menggunakan istilah tempo dalam musik klasik, yakni Adagio, Andante, dan Moderato. Bahkan, nama awal perusahaan dalam bahasa Mandarin adalah Dark Side of the Moon, sebagai penghormatan terhadap album favorit Yang dari Pink Floyd.
Awal tahun ini, Yang mengatakan, tim pengembang Kimi beranggotakan sekitar 300 orang.
Ia menilai, kumpulan talenta di Beijing termasuk dua yang terbaik di dunia. Ia juga mengatakan, China telah membangun salah satu sistem pengembangan sumber daya manusia terbaik secara global.
"Setelah puluhan tahun membangun fondasi, China kini memiliki salah satu sistem pengembangan talenta terbaik di dunia. Sistem ini mampu melahirkan orang-orang dengan kemampuan eksplorasi yang sangat kuat secara sistematis," katanya, seperti dikutip Beijing Daily.
Keputusan Yang kembali ke China juga memunculkan pertanyaan mengenai mengapa Amerika Serikat gagal mempertahankan talenta sepertinya.
Lin William Cong mengatakan kepada CNA bahwa terdapat berbagai faktor yang mendorong sekaligus menarik para ahli AI asal China untuk pulang dari Amerika Serikat.
"China menghasilkan sangat banyak lulusan bidang STEM, dan laboratorium AI terkemuka di sana mampu membangun tim-tim muda yang besar serta sangat termotivasi," ujarnya.
Selain itu, bekerja di China memberi mereka akses langsung ke pasar konsumen dan korporasi yang sangat besar, didukung pula oleh kebijakan pemerintah dan pendanaan yang kuat karena AI telah menjadi prioritas nasional.
Di sisi lain, ketidakpastian visa di Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan hubungan AS-China juga dapat memengaruhi keputusan mereka untuk pulang.
Menurut Dr Cong, bagi sosok seperti Yang, keputusan kembali ke China juga memiliki dimensi yang lebih besar daripada sekadar karier.
"Membangun laboratorium AI terdepan pertama di China memiliki makna historis yang tidak mungkin ditawarkan oleh posisi senior di perusahaan Amerika Serikat," katanya.
MENGUSUNG AI YANG LEBIH TERBUKA DAN MUDAH DIAKSES
Meski berasal dari perusahaan yang berbeda, Liang Wenfeng, Tang Jie, dan Yang Zhilin memiliki satu benang merah dalam pandangan mereka mengenai kecerdasan buatan (AI): komitmen terhadap model AI terbuka dan akses teknologi yang lebih luas.
Model AI open-source adalah sistem yang membuka seluruh kode sumber serta informasi yang dibutuhkan untuk melatih ulang model dari awal. Dengan demikian, model tersebut dapat digunakan, dipelajari, dimodifikasi, dan didistribusikan tanpa harus meminta izin kepada pengembangnya.
Menurut Lin William Cong, pendekatan ini hampir menjadi kebalikan dari tren di Amerika Serikat, di mana laboratorium AI terkemuka cenderung menutup akses terhadap model terbaik mereka dan memperoleh pendapatan dengan menjual akses pengguna.
Salah satu alasan di balik strategi China adalah posisinya sebagai penantang, bukan pemimpin lama (incumbent), dalam pengembangan model AI.
"Memberikan model secara gratis merupakan cara tercepat untuk menarik para pengembang di seluruh dunia dan membentuk standar de facto. Strategi ini membuat lapisan teknologi yang selama ini dipasarkan dengan harga premium oleh perusahaan AI Amerika menjadi komoditas, sehingga menekan model bisnis mereka tanpa harus mengalahkan mereka secara langsung," jelas Dr Cong.
Strategi tersebut juga dinilai selaras dengan kondisi China yang menghadapi pembatasan ekspor cip dari Amerika Serikat, sekaligus memanfaatkan jumlah pengembang AI yang sangat besar di dalam negeri.
"China memiliki komunitas pengembang yang sangat besar, dan model open-weight memungkinkan mereka semua membangun inovasi di atas sistem AI mutakhir, alih-alih membatasi inovasi hanya di segelintir laboratorium," tutur Dr Cong.
Meski demikian, ia menilai perusahaan-perusahaan AI terkemuka di China sebenarnya lebih konsisten merilis model open-weight daripada benar-benar open-source.
Menurutnya, sebagian besar model AI China memang memungkinkan bobot (weights) model diunduh oleh publik, tetapi data pelatihan maupun metode lengkap pembuatannya tetap tidak dibuka.
Selain itu, peluncuran model sering dilakukan secara bertahap—misalnya antarmuka API dirilis lebih dulu, sementara weights baru tersedia kemudian—yang menunjukkan bahwa pertimbangan bisnis masih memengaruhi sejauh mana keterbukaan tersebut diterapkan.
Sementara itu, peneliti East Asian Institute National University of Singapore (NUS), Kong Tuan Yuen, mengatakan bahwa dengan menyediakan model AI berkinerja tinggi dengan biaya jauh lebih rendah, China berhasil memosisikan diri sebagai pusat utama bagi negara-negara berkembang untuk memperoleh akses terhadap teknologi AI yang terjangkau.
Namun, karena produk inti mereka pada dasarnya tersedia secara gratis, perusahaan-perusahaan rintisan AI China harus menemukan model bisnis yang benar-benar baru jika ingin tetap kompetitif dalam jangka panjang, ujarnya.
Dr Kong juga mengingatkan bahwa model AI terbuka memiliki sisi negatif dari aspek keamanan. Dengan terbukanya komponen inti model, pihak ketiga dapat menghapus atau memodifikasi fitur-fitur pengaman yang semula ditanamkan oleh pengembang.
"Hal ini memudahkan pihak yang berniat jahat menyalahgunakan model tersebut, sekaligus menyulitkan pengaturan tata kelola AI global, termasuk terkait akuntabilitas dan keamanan data," katanya.
Di tengah perlombaan perusahaan-perusahaan AI di China maupun negara lain untuk mencapai artificial general intelligence (AGI), Dr Cong menilai, pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa yang lebih dulu mencapainya, melainkan apakah teknologi tersebut telah dipastikan aman ketika akhirnya terwujud.
"Kekhawatiran saya adalah persaingan antarlaboratorium maupun antarnegara justru menciptakan insentif yang keliru. Semua pihak terdorong bergerak lebih cepat dan mengabaikan aspek keselamatan, sementara tidak ada yang ingin menjadi pihak yang memperlambat laju perlombaan," tuturnya.
"Untuk teknologi dengan dampak sebesar ini, kita berkewajiban memastikan semuanya dilakukan dengan benar. Terus terang, demi generasi mendatang, memastikan AI dikembangkan secara aman jauh lebih penting daripada sekadar menjadi yang pertama mencapainya."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.