Skip to main content
Iklan

Asia

Merkuri meroyak: Zat beracun dari seberang perbatasan ancam masyarakat terpencil Thailand

Pembangkit listrik Hongsa yang didanai Thailand beroperasi dari Laos, negara tetangga yang pengawasan lingkungannya masih lemah. Dalam beberapa tahun terakhir, warga Thailand menemukan merkuri dan gas asam lainnya menyisip masuk ke tempat tinggal mereka.

Merkuri meroyak: Zat beracun dari seberang perbatasan ancam masyarakat terpencil Thailand

Desa-desa di perbatasan Thailand dan Laos mengalami dampak lintas batas dari pembangkit listrik tenaga batu bara di dekatnya. (Foto: Jack Board/CNA)

NAN, Thailand: Fajar cerah, dan Kanchanaporn Paeng-ud berdiri di puncak bukit tempat keluarganya mengolah tapioka. Ia lantas memandang ke arah lembah-lembah luas yang menghampar hingga ke negara tetangga, Laos.

Sejauh sekitar 20 kilometer di sana, gumpalan-gumpalan asap yang mengepul tinggi ke langit terlihat di cakrawala. Selama lima bulan dalam setahun, bubungan asap serupa awan itu larut menjadi partikel-partikel kecil, lantas terhembus oleh angin sampai ke kampung halamannya di Thailand.

Sumber asap itu ialah Proyek Pembangkit Listrik Mulut Tambang Hongsa, pembangkit listrik tenaga batu bara yang mulai beroperasi pada tahun 2015 di Provinsi Xayaboury, Laos.

Sejak itu, orang-orang di perbukitan Nan, satu provinsi di timur laut Thailand yang berbatasan dengan Laos, menyaksikan betapa hal-hal janggal kerap terjadi di kampung-kampung mereka, termasuk gangguan kesehatan.

Di Distrik Chalermprakiat, penduduk setempat mengamati bagaimana tanaman-tanaman mereka tak bisa dipanen karena penyakit, dan tanah pun makin tak subur. Mereka bahkan diperingatkan untuk tidak makan ikan lokal dan berhati-hati dengan air yang mereka minum. Anak-anak, pada khususnya, kerap terjangkit penyakit pernapasan.

Kecurigaan kian pekat menyelimuti. Warga yakin pembangkit listrik penuh polusi di sisi lain perbatasan itulah penyebabnya.

Chalermprakiat merupakan sudut terpencil di negara Thailand, tempat tinggal masyarakat etnis Lua yang bergantung erat pada hasil bumi – memanen kopi, beras, jagung, udang, kepiting, dan ikan.

Meski sederhana, kehidupan “masyarakat kami hangat, penuh kasih sayang, dan harmonis”, kata Kanchanaporn.

Namun kemunculan pembangkit listrik Hongsa hadirkan gonjang-ganjing. Hari demi hari, hidup terasa makin menegangkan, dan banyak warga yang khawatir masalah kesehatan akan kian parah di tahun-tahun mendatang.

“Orang-orang kampung khawatir. Sebab kalau dampak ini benar-benar datang dari sisi sana, kami bisa apa? Kami tidak bisa pindahkan desa karena kami lahir di sini dan semua yang dimiliki orang-orang kampung ya adanya di sini,” kata Kanchanaporn.

Setelah bertahun-tahun melakukan pengumpulan data, observasi lingkungan, dan sains warga (citizen science), korelasi kuat telah ditarik antara beroperasinya pembangkit listrik Hongsa dan dampak lintas batas yang dialami delapan desa di Nan.

Para petani di Provinsi Nan menyaksikan dampak buruk pada pertanian mereka. (Foto: Jack Board/CNA)

Didanai oleh Health Systems Research Institute, sebuah lembaga negara yang otonom di Thailand, sekelompok pakar yang terlatih dalam bidang teknik, ilmu sosial, kesehatan, dan hukum lingkungan telah mengumpulkan bukti tercemarnya udara, tanah, dan air oleh logam-logam berat.

Satu aspek kunci adalah menciptakan pemodelan dispersi polusi udara yang inovatif. Model tersebut mensimulasikan emisi gas asam dari cerobong-cerobong asap pembangkit listrik dan angin musiman yang mengangkut gas tersebut.

“Kemudian, kami mengumpulkan sampel-sampel di berbagai lokasi yang kami perkirakan memiliki tingkat dampak yang berbeda-beda," jelas Profesor Tanapol Penrat dari Fakultas Teknik Lingkungan di Naresuan University.

“Kami menemukan bahwa jumlah polutan yang mengendap di area ini, yang berasal dari pembangkit listrik tenaga batu bara, berkorelasi dengan dampak yang dilihat petani dan ... dengan pH (tingkat keasaman) tanah,” tambahnya.

“Jadi, kami menyimpulkan adanya kontribusi signifikan dari pembangkit listrik tenaga batu bara tersebut.”

Yang paling mengkhawatirkan bagi masyarakat adalah penemuan dan peningkatan toksin berbahaya yang tak terlihat: merkuri.

Proyek Pembangkit Listrik dan Pertambangan Hongsa telah beroperasi sejak 2015. (Foto: Ryn Jirenuwat/CNA)

KELANGGENGAN MERKURI

Napaporn Pongprasert telah menjadi sukarelawan di puskesmas desa Nam Ree selama lebih dari empat tahun. Misi utamanya: melacak keberadaan merkuri.

Dia mengaku tidak pernah menyangka perannya di masyarakat akan melibatkan penangkapan ikan untuk pengambilan sampel bahan kimia, atau membantu pengujian rambut perempuan dan anak-anak setempat.

Merkuri dihasilkan dalam bentuk gas dari pembangkit listrik selama proses pembakaran batu bara. Zat tersebut lantas bisa menyebar melalui udara, air, dan tanah ke daerah sekitarnya.

Meskipun merkuri di udara tidak terlalu beracun, dampaknya meningkat ketika mengendap di air dan diserap oleh aneka hewan atau organisme laut.

"Terjadi biomagnifikasi pada ikan sekitar 12.000 kali lipat dari konsentrasi yang tersimpan," jelas Prof. Tanapol. Tim peneliti ahli telah membantu melatih para relawan lokal seperti Napaporn dan Kanchanaporn untuk memantau lingkungan, mengukur berbagai parameter dasar di tanah dan air, kemudian memasukkan data tersebut ke satu sistem terpusat.

Paling lambat pada tahun depan mereka juga akan dilatih untuk melakukan pemantauan kesehatan secara lebih mendalam.

Napaporn Pongprasert menjadi relawan kesehatan lokal di desanya di Nan. (Foto: Jack Board/CNA)

Ikan dengan kadar merkuri setinggi 0,16mg/kg telah diamati di daerah setempat. Angka ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan para ahli. Lokasi ikan yang terdampak berkorelasi dengan model distribusi yang dirancang oleh Prof. Tanapol.

Meski angka ini masih di bawah batas maksimum yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) – yakni 0,5mg/kg – fakta bahwa dalam delapan tahun saja merkuri telah menyeruak ke lingkungan hingga skala ini merupakan masalah serius.

Pembangkit listrik Hongsa mengantongi konsesi pembangkit listrik selama 25 tahun, meningkatkan ketakutan akan potensi kontaminasi jangka panjang jika situasi ini tidak segera diatasi.

“Sekalipun merkuri dilepaskan dalam jumlah kecil, ketika memasuki rantai makanan dan ekosistem, toksisitasnya bisa meningkat sampai ratusan ribu kali lipat. Misalnya, ketika orang makan ikan, tingkat racunnya akan turut meningkat,” ungkap Somporn Pengkam, direktur proyek penelitian pengembangan sistem pemantauan kesehatan masyarakat di Nan sekaligus ahli kesehatan dari Chulalongkorn University di Bangkok.

Merkuri pun telah terdeteksi dalam sampel rambut perempuan-perempuan di delapan desa di Nan.

Paparan merkuri dapat memengaruhi sistem saraf, pencernaan, kekebalan tubuh, pernapasan, paru-paru, dan ginjal manusia. Merkuri dapat menyebabkan kanker, serta masalah perkembangan otak pada bayi.

“Karena ketika terjadi paparan merkuri, merkuri ini tidak akan menumpuk di badan ibu melainkan pada janin, masuk melalui tali pusar. Ketika bayi lahir, bisa jadi akan ada masalah berupa perkembangan yang lambat,” kata Somporn.

Ketenangan hidup di desa-desa perbatasan di Nan telah terusik oleh polusi lintas batas. (Foto: Jack Board/CNA)

Bagi Napaporn, makanan pokok yang vital bagi masyarakat setempat kini justru menimbulkan kecemasan dan keresahan.

“Orang desa kan makan ikan tiap hari, dan kami tidak tahu apa yang ada di dalamnya dan kami jadi terus bertanya-tanya soal itu. Saya orang pertama yang tidak mau makan ikan. Dan saya sampai sekarang masih tidak mau makan ikan,” ujarnya.

Dampak buruk merkuri pada lingkungan tak bisa hilang, dan degradasi tanah pertanian yang terjadi begitu cepat pun makin membebani masyarakat.

Analisis Prof. Tanapol dan catatan lanjutan di lapangan menunjukkan peningkatan kadar nitrogen dioksida dan sulfur dioksida yang terbentuk dari pembakaran batu bara. Akibatnya, tanah menjadi sangat asam, lalu muncullah penyakit tanaman seperti blas padi dan hawar daun.

“Kami melihat berbagai kejanggalan di kawasan ini. Misalnya, leci yang kami tanam tidak berbuah. Di hutan, kami melihat tanaman mudah mati,” kata Jirapat Saensri, wakil kepala Organisasi Administrasi Subdistrik Khun Nan.

“Dan penduduk desa pun hasil panennya jauh lebih sedikit daripada sebelumnya. Berdasarkan data lama kami, produksi murbei sekitar 200 ton per tahun atau per panen. Sekarang, hanya 30 atau 40 ton.”

Meskipun tingkat keasaman tanah berpotensi dipulihkan jika sumber emisinya diatasi, lain ceritanya dengan merkuri. Zat tersebut tidak akan pernah bisa dihilangkan dari lingkungan.

"Kita tidak mungkin cuma menunggu sampai merkurinya mencapai tingkat yang bisa diterima," Prof. Tanapol menjelaskan.

“Karena jika sudah ada kontaminasi, meskipun (emisi) dihentikan, zatnya akan tetap ada. Merkuri tidak akan terurai. Ia akan terus berada dalam sistem kita. Merkuri bisa bertahan selamanya dan bisa pindah dari satu negara ke negara lain.”

Penduduk desa di Laos telah direlokasi jauh dari pembangkit listrik Hongsa. (Foto: Ryn Jirenuwat/CNA)

INVESTASI THAILAND DI LUAR NEGERI

Pembangkit listrik Hongsa telah mengubah lanskap sekitarnya. Lubang-lubang galian tambang lignit, jenis batu bara lunak dan kotor yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik, menghunjam dalam ke bumi di kawasan sekeliling fasilitas tersebut.

Lignit tergolong sebagai batu bara kualitas rendah, menghasilkan lebih banyak karbon dioksida (CO2) dibandingkan batu bara keras.  Lignit juga termasuk bahan bakar fosil yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia karena tingginya kadar sulfur, nitrogen oksida, merkuri, dan polutan lain yang terlepas saat dibakar.

Data Bank Dunia tahun 2020 menunjukkan bahwa emisi CO2 di Laos meningkat hampir lima kali lipat dalam empat tahun setelah pembangkit listrik Hongsa mulai beroperasi.

Lignit sering kali menurunkan efisiensi pembangkit listrik tenaga panas dan berpotensi sulit diangkut. Itulah mengapa pembangkit listrik tersebut terletak persis di samping lokasi tambang. Menurut Hongsa Power, fasilitas tersebut membakar sekitar 15 juta ton lignit per tahun untuk menghasilkan energi listrik yang sebagian besar diekspor ke Thailand.

Para ahli mengkhawatirkan dampak logam berat terhadap etnis Lao, namun tidak dapat memantau berbagai potensi konsekuensi berbahaya tersebut. (Foto: Ryn Jirenuwat/CNA)

Perusahaan itu sendiri merupakan kolaborasi di bawah kendali Thailand – suatu konsorsium yang 80 persennya dimiliki oleh dua perusahaan Thailand: RATCH Group – pemegang saham utamanya adalah Otoritas Pembangkit Listrik Thailand atau EGAT – dan Banpu Power – anak perusahaan raksasa batu bara Banpu; masing-masing memegang 40 persen saham. Selebihnya dipegang oleh Lao Holding State Enterprise.

Menurut Hongsa Power, pembiayaan proyek berasal dari sembilan bank Thailand dengan total paket pendanaan senilai US$3,71 miliar. Pihak perusahaan menolak diwawancarai untuk artikel ini.

Dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain, Thailand tidak terlalu bergantung pada batu bara sebagai sumber energi. Meski demikian, kapasitas maksimum pembangkitan listriknya adalah sekitar 6GW. Thailand telah berjanji untuk mencapai netralitas karbon pada 2050 dan emisi gas rumah kaca nol bersih pada 2065.

Namun, dalam satu dekade belakangan, perusahaan-perusahaan Thailand kian mengalihkan investasi infrastruktur energi ke seberang perbatasan, khususnya ke Laos. Standar lingkungan di Laos lemah, dan masyarakat sipilnya punya pengaruh kecil terhadap kebijakan publik.

Dalam Rencana Pengembangan Energi Listrik Thailand, yang merupakan peta jalan bagi kebijakan energi negara tersebut, tercantum beberapa proyek infrastruktur luar negeri di Laos, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Xayaburi, sebuah bendungan di arus utama Sungai Mekong.

Menurut Stimson Mekong Infrastructure Tracker, pada 2021, perusahaan-perusahaan Thailand terlibat dalam 60 persen pembangkit listrik yang ada di Laos.

Proyek-proyek semacam itu, sebagaimana pembangkit listrik Hongsa, biasanya memiliki risiko lingkungan lintas batas yang tidak dapat diawasi di bawah peraturan Thailand.

Penduduk lokal di Nan mengandalkan pertanian, tetapi hasil panen menurun dalam beberapa tahun terakhir. (Foto: Jack Board/CNA)

Wora Sukraroek, anggota Koalisi Pengawasan Kewajiban Ekstrateritorial Thailand (ETO), percaya bahwa pembangkit listrik Hongsa akan menghadapi lebih banyak kendala jika dibangun dan beroperasi di tanah Thailand.

“Alasan perusahaan-perusahaan Thailand berinvestasi di luar negeri adalah karena kalau proyek sejenis ini dilakukan di Thailand, akan ada perlawanan masyarakat sipil, protes, dan banyak hal lain. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan harus melalui proses partisipasi publik,” paparnya.

Di Thailand, untuk membangun PLTU batu bara, suatu perusahaan perlu melakukan simulasi gas dan deposisi merkuri, serta mengembangkan sistem pemantauan yang ketat.

“Proyek ini tentu akan terhambat di Thailand dan masyarakat di wilayah sekitar akan menuntut ganti rugi berdasarkan dampak yang ditimbulkan."

“Semua faktor ini jadi alasan utama kenapa mereka ke luar negeri untuk memanfaatkan sumber daya negara-negara tetangga,” tambahnya.

Meski dampak lintas batas sudah jelas, tidak ada hukum lingkungan Thailand yang berlaku untuk pengoperasian Hongsa. Menurut Wora, tujuan ETO adalah untuk menekan investor Thailand agar mematuhi "prinsip-prinsip berkelanjutan dan praktik terbaik" dalam proyek-proyek luar negeri mereka.

“Atau menuntut akuntabilitas lebih besar terkait kebutuhan dan kepentingan masyarakat, serta kepatuhan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia,” ujarnya, mengutip Prinsip-Prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia.

“Setidaknya, para pelaku usaha harus menunjukkan niat baik dengan melibatkan masyarakat, membahas dampak proyek, dan mengungkapkan informasi yang perlu diketahui oleh masyarakat tentang dampak lingkungan dan sosial yang berpengaruh langsung terhadap mereka dan kesehatan mereka,” imbuhnya.

Di Thailand sendiri, model citizen science yang dikembangkan di Nan – menggunakan ponsel pintar dan pengambilan sampel sederhana – dapat menjadi proyek percontohan untuk pengumpulan data lingkungan berbasis lokal. Masyarakat memegang posisi aktif, alih-alih dijejali aneka kesimpulan dari grup-grup konsultan yang bekerja untuk para pengembang proyek.

Sedangkan bagi etnis Lao yang tinggal di sekitar fasilitas tersebut, Prof. Tanapol mengatakan – berdasarkan pemodelan ini – bahwa mereka pun kemungkinan turut terdampak. Untuk memindahkan penduduk dari lingkup terdekat, desa-desa baru untuk relokasi dibangun ketika pembangkit listrik didirikan.

Namun, tanpa kemampuan untuk melakukan berbagai pengujian lintas batas, bukti kuat yang dapat digunakan untuk mengadvokasi komunitas-komunitas tersebut menjadi terbatas.

Masyarakat setempat mengeluhkan tanah asam dan penyakit yang menyerang tanaman, termasuk kopi, sejak pembangkit listrik Hongsa beroperasi. (Foto: Jack Board/CNA)

TANGGUNG JAWAB LINTAS BATAS

Kelanjutan urusan ini masih samar. Hampir tidak ada kemungkinan pembangkit Listrik Hongsa akan menghentikan operasinya.

Pemasangan teknologi baru,  seperti sistem reduksi katalitik yang dapat menangkap merkuri yang saat ini terus-menerus dihasilkan, kemungkinan besar akan terlalu mahal, demikian pendapat Prof. Tanapol.

Sebagai gantinya, solusi yang lebih realistis dapat dicari melalui mediasi antara Hongsa Power beserta mitra-mitra investasinya dengan masyarakat yang terdampak.

Komunitas-komunitas di Nan telah mengajukan keluhan mengenai dampak-dampak lintas batas proyek tersebut ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Thailand (NHRC). Komisi ini kemudian menginvestigasi berbagai masalah tersebut, serta berencana melaporkan kumpulan temuan serta rekomendasinya kepada pemerintah dalam beberapa bulan mendatang.

“Kami, NHRC, mengajukan kepada perusahaan-perusahaan ini bahwa jika mereka berinvestasi bersama-sama, meskipun ini letaknya di Laos, mereka tetap bertanggung jawab kepada masyarakat Thailand di sekitar lokasi yang bisa terkena dampaknya,” ujar Sayamol Kraiyunwong, Komisioner Nasional Hak Asasi Manusia Thailand.

“Tak kalah penting, perusahaan juga harus bertanggung jawab atas masyarakat Lao.”

Pada pagi yang cerah, warga desa dari sisi lain perbatasan dapat melihat emisi dari pembangkit listrik Hongsa berupa kepulan-kepulan asap serupa awan. (Foto: Jack Board/CNA)

"Meskipun bukan konvensi internasional, terdapat prinsip universal tentang bisnis dan hak asasi manusia yang diterima seluruh dunia," ujar Sayamol. Ia menambahkan, mengingat perusahaan-perusahaan investor dalam proyek ini terdaftar di pasar saham Thailand, mereka harus terikat oleh kebijakan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) Thailand. Kebijakan tersebut mencangkum pula pembangunan berkelanjutan dan pertimbangan lingkungan.

NHRC juga tengah bekerja sama dengan Komisi Antarpemerintah ASEAN untuk Hak Asasi Manusia guna mengadakan perjanjian yang menghubungkan hak lingkungan dan hak asasi manusia lintas batas, serupa dengan Konvensi Aarhus di Eropa.

Bagi para peneliti, mengumpulkan lebih banyak bukti secara terus-menerus di masyarakat akan sangat penting untuk meningkatkan dialog dengan Hongsa Power.

Fokus tahun ini ialah mengumpulkan lebih banyak data terkait kesehatan dasar penduduk terdampak serta penguatan skrining dan pemantauan kesehatan, ujar Somporn dari Chulalongkorn University.

Dua kelompok paling rentan, yakni anak-anak prasekolah dan perempuan mengandung, akan memperoleh layanan dan peningkatan kesadaran khusus, termasuk pelayanan antenatal bagi ibu hamil.

"Walaupun kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan sumber awal untuk mengurangi pelepasan (merkuri), setidaknya (masyarakat) bisa menghindari berbagai risiko dan (kesadaran tersebut) bisa bantu lindungi mereka," imbuh Somporn.

Hidup dalam ancaman risiko tentu bukan masa depan yang diinginkan oleh warga Chalermprakiat. Namun, menurut Napaporn, pindah dari tanah leluhur mereka merupakan bayang-bayang yang lebih menakutkan.

“Kami ingin makan sebagaimana kami biasanya makan. Kami ingin gunakan air sebagaimana kami selama ini melakukannya,” ujarnya.

"Kami cinta kampung halaman kami. Kami tidak ingin pergi."

Reportase tambahan oleh Ryn Jirenuwat.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan