Thailand buat wisata air panas untuk tandingi onsen Jepang. Apakah ampuh menggaet pelancong?
Demi menjadikan Thailand destinasi wisata kebugaran, pemerintah Bangkok mendorong kebijakan nasional dengan anggaran besar dan strategi pembangunan infrastruktur.
Warga lokal berkumpul pada sore hari di Raksawarin Hot Springs, sebuah situs bersejarah di Ranong. (Foto: CNA/Jack Board)
RANONG, Thailand: Hari sudah menjelang senja dan pemandian air panas hampir penuh. Meskipun suhu udara sendiri mencapai 30 derajat Celcius, namun para pengunjung sepertinya masih ingin lebih hangat lagi dengan berendam di air panas.
Di pinggiran pusat kota Ranong di Thailand selatan, puluhan warga lanjut usia, keluarga dengan anak-anak, dan sejumlah turis asing berendam di kolam air hangat yang dialirkan dari sumber mata air alami.
Fasilitas di Raksawarin Hot Springs di samping aliran sungai pegunungan yang tenang itu memang bebas digunakan siapa saja. Tidak heran jika tempat itu jadi tempat berkumpul masyarakat di penghujung hari.
"Tempat lain punya kedai kopi untuk mengobrol, tapi kami mengobrol di kolam air panas," kata Somchok Wongwiwattana, presiden Dewan Pariwisata Thailand cabang Ranong.
“Kami membicarakan segalanya di sini, berendam selama setengah jam, satu jam, atau dua jam. Ini adalah tempat untuk bertukar pikiran,” kata dia.
Ranong adalah provinsi sepi, terletak sekitar 300km sebelah utara destinasi wisata populer Thailand seperti Phuket dan Krabi. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini mempromosikan diri sebagai destinasi wisata kebugaran.
Pemerintah Thailand telah menyiapkan anggaran besar dan merancang strategi pengembangan infrastruktur untuk menjadikan negara itu sebagai destinasi wisata kebugaran papan atas dunia.
Lebih dari sekadar tempat mengobrol dan berendam, pemerintah ingin fasilitas mata air panas seperti onsen di Jepang menjadi pendorong utama pariwisata ke berbagai destinasi lainnya di seluruh negeri.
San Kamphaeng Hot Springs di provinsi Chiang Mai dipilih sebagai proyek percontohan pada Juni lalu untuk menunjukkan bagaimana kebijakan ini dapat berjalan. Tempat ini sudah menjadi tujuan populer bagi wisatawan, menarik hampir 400.000 pengunjung pada tahun 2023.
Kebijakan ini juga bertujuan untuk membangun kapasitas dan konektivitas daerah-daerah mata air panas yang kurang dikenali.
Thailand telah menyusun tiga fase dalam mewujudkan rencana ini. Antara tahun 2025 dan 2027, sekitar US$6 juta telah dialokasikan untuk infrastruktur dasar dan fasilitas pengunjung sebagai fase pertama.
Fase kedua akan mencakup dana sebesar US$7,9 juta untuk pengembangan fasilitas pariwisata kebugaran. Lalu fase terakhir akan berfokus pada pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Survei oleh Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) pada tahun 2023 mengidentifikasi 118 mata air panas di seluruh Thailand. Lokasinya bervariasi, dari daerah yang masih alami hingga kawasan perkotaan. Beberapa lainnya berada di pedesaan dan lokasi terpencil, sebagian besarnya terletak di utara Thailand, sementara 13 di antaranya berada di Ranong.
“Konsep kami menghubungkan mata air panas dengan tempat wisata terdekat adalah untuk membangun citra mata air panas Thailand yang berskala internasional dan mendistribusikan pendapatan ke kota-kota sekunder,” kata Nattareeya Thaweewong, Sekretaris Tetap Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand pada Mei lalu.
Ranong adalah salah satu kota sekunder yang siap mendapatkan manfaat dari peningkatan fokus terhadap industri yang sedang berkembang ini.
RANONG: DESTINASI WISATA KEBUGARAN
Raksawarin Hot Springs memiliki kaitan yang erat dengan keluarga kerajaan. Meskipun penanggalan karbon menunjukkan mata air ini telah ada selama ribuan tahun, namun menurut Somchok mata air panas ini mulai dikenal luas pada masa Raja Rama V yang mengunjungi daerah tersebut pada akhir abad ke-19.
Mata air ini memiliki nilai budaya dan sosial yang masih bertahan hingga saat ini. Warga setempat percaya bahwa mata air tersebut memiliki banyak manfaat kesehatan.
"Mata air ini dianggap sebagai air suci dan digunakan untuk mengobati penyakit. Ini benar-benar menjadi keyakinan dan gaya hidup masyarakat Ranong,” kata Somchok.
Kwanta Kaveekarnjanawat adalah pengunjung tetap mata air ini. Ia mengatakan cedera tendon pada jarinya, yang biasa disebut jari pelatuk, membaik setelah rutin berendam di mata air panas tersebut. Padahal menurut dokter, jarinya harus dioperasi.
“Dulu, saya bahkan tidak bisa memakai cincin,” ujarnya kepada CNA, sambil berendam air hangat.
“Jari saya mati rasa. Saya datang untuk berendam di mata air panas dan sekarang saya tidak perlu operasi. Sudah tidak sakit lagi. Sudah sembuh total,” katanya.
Khasiat dari air kaya mineral ini bukanlah sekadar imajinasi, tetapi juga dimanfaatkan di rumah sakit kota sebagai bagian dari perawatan.
Air mata air panas di Ranong mengandung silika, natrium, magnesium, dan sulfat, yang jika diserap oleh tubuh bermanfaat bagi kulit, tulang, otot, dan sendi, ujar Siriwat Thunyasiripong, wakil direktur departemen medis di Rumah Sakit Ranong.
Pada 2018, Rumah Sakit Ranong meluncurkan pusat kesehatan hidroterapi yang terhubung langsung dengan mata air panas alami.
Tempat ini memiliki berbagai fasilitas bagi warga yang mengalami masalah mobilitas dan menawarkan program perawatan di bawah pengawasan dokter spesialis ortopedi, terapis fisik, dan ahli kedokteran olahraga.
Sebagian besar pengunjung lanjut usia melakukan olahraga pasif di dalam kolam kecil berisikan air panas atau menggunakan mesin khusus untuk membantu pergerakan atau rehabilitasi cedera.
Rumah Sakit Ranong memiliki rencana yang lebih besar dan anggaran yang siap digunakan. Pada tahun 2027, rumah sakit ini berencana membuka pusat kebugaran yang lebih modern di seberang gedung utama demi menarik wisatawan medis dan rekreasi dari Thailand maupun kawasan sekitarnya.
“Tidak ada tempat lain seperti Ranong. Kami punya peluang untuk ini. Ini akan membantu kami memajukan ekonomi dan meningkatkan kesehatan,” kata Siriwat.
BISA MENGGERAKKAN PARIWISATA?
Meski memiliki sejarah panjang dalam sumber daya mata air alaminya, industri kebugaran di Ranong masih kesulitan menembus pasar internasional.
Provinsi ini juga belum berhasil memulihkan angka kunjungan wisata secara keseluruhan sejak pandemi COVID-19. Pada tahun 2023, Ranong hanya menarik 51.432 wisatawan mancanegara, jauh menurun dibandingkan 282.322 pada tahun 2019.
Ranong mencatatkan produk domestik regional bruto (PDRB) terendah kedelapan di Thailand pada 2021. Provinsi ini juga masuk dalam 10 besar wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi pada 2022, menurut Kantor Dewan Ekonomi dan Pembangunan Sosial Nasional Thailand.
Selama beberapa dekade terakhir, provinsi Ranong mengalami kekurangan investasi. Industri lama seperti kehutanan dan pertambangan telah ditinggalkan, dan sektor pariwisatanya kalah jauh dari destinasi populer di selatan Thailand yang terletak tidak jauh dari Ranong seperti Phuket dan Krabi.
Phuket menarik sekitar 8,4 juta wisatawan asing pada tahun 2023, sementara Krabi menerima lebih dari 3,4 juta pengunjung mancanegara.
Para pejabat dinas pariwisata dan bisnis Ranong melihat wisata kebugaran yang berfokus pada mata air panas adalah cara menghubungkan Ranong dengan provinsi tetangga yang lebih populer.
Strategi TAT mencakup rencana pengembangan tujuh rute mata air panas di seluruh negeri, menamakannya "Koridor Kebugaran Andaman” yang akan menghubungkan mata air alami di provinsi selatan Thailand seperti Krabi, Ranong, Phang‑Nga, Trang, dan Satun.
Somchok mengatakan bahwa pejabat dinas pariwisata juga ingin memasarkan Ranong secara lebih baik sebagai tempat untuk bersantai dan memulihkan diri setelah melakukan aktivitas petualangan berat di sekitar wilayah tersebut.
Provinsi ini juga direncanakan menjadi titik awal dari proyek Jembatan Darat Thailand yang kontroversial.
Kelompok industri setempat memang mewaspadai potensi dampak lingkungan dari megaproyek ini. Kendati demikian, mereka menyatakan bahwa proyek tersebut dapat memberi dorongan ekonomi dan konektivitas bagi strategi pariwisata kebugaran.
Dua pelabuhan laut dalam akan dibangun di provinsi Ranong dan Chumphon dan akan dihubungkan dengan jalan raya, rel kereta api, dan jaringan pipa sepanjang 90 km melintasi Tanah Genting Kra, bagian tersempit dari Semenanjung Melayu.
Fase pertama proyek jembatan darat ini awalnya diproyeksikan selesai pada tahun 2030, dengan penyelesaian akhir ditargetkan pada tahun 2039.
Namun, proyek ini masih jauh dari kepastian dan menghadapi hambatan politik, penolakan masyarakat setempat, serta ketidakpastian sumber pendanaan yang diperkirakan akan memakan biaya hingga US$36 miliar.
“Ketika investor besar datang, itu akan menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Ranong. Akan ada lebih banyak maskapai karena para pebisnis akan terbang ke sini. Perjalanan mereka ke sini akan membuat pariwisata lebih fleksibel. Semua akan masuk dalam jalur yang sama,” kata Sonchai Uitekkeng, wakil ketua Kamar Dagang Provinsi Ranong.
Somchok mengatakan bahwa infrastruktur yang lebih baik akan membantu pariwisata, tetapi ia khawatir jika perkembangan terjadi terlalu cepat.
“Kalau terlalu banyak orang datang, kami tidak bisa menampung mereka,” katanya.
Hal ini muncul seiring dengan upaya Thailand untuk mengkalibrasi ulang target pariwisatanya karena masih berjuang memulihkan angka kunjungan wisatawan mancanegara yang mencapai puncaknya pada 2019.
Dengan industri pariwisata internasional yang menurun, Thailand kini menggencarkan strategi “mementingkan kualitas dibanding kuantitas”, dengan fokus pada wisatawan berpendapatan tinggi.
BELAJAR DARI JEPANG
Thailand mengandalkan keahlian dari Jepang untuk membantu mengembangkan industri mata air panasnya.
Industri di Jepang jauh lebih maju di bidang pariwisata onsen. Sektor ini di Jepang memiliki sejarah hingga 1.300 tahun dan telah mengakar dalam budaya lokal maupun praktik pariwisata.
Per Maret tahun lalu, Jepang memiliki sekitar 27.920 sumber mata air panas dan industri ini bernilai sekitar US$9,22 miliar pada tahun 2020, menurut data dari Statista.
Kesuksesan Jepang ini tengah ditiru oleh Thailand. Awal tahun ini, otoritas Thailand menandatangani Nota Kesepahaman dengan Prefektur Shizuoka di Jepang untuk membahas kerja sama ekonomi dan pertukaran pengetahuan.
Meski pengetahuan itu penting, para pemangku kepentingan di Ranong menegaskan bahwa Thailand perlu membangun identitasnya sendiri dan tidak sekadar meniru industri yang ingin disaingi.
“Kadang-kadang kita memang perlu berbeda dari Jepang,” kata Sonchai.
Somchok juga mengatakan bahwa fasilitas pendukung lainnya harus ikut ditingkatkan, seperti jalan dan maskapai penerbangan, agar bisa lebih menyaingi penawaran dari Jepang.
Bisnis swasta juga berperan. Meski swasta tidak akan langsung menerima manfaat dari pengeluaran dan kampanye pemerintah, namun sudah ada tanda-tanda bahwa minat terhadap layanan onsen kelas atas mulai tumbuh.
Phatcharawadee Wongnamroj, pemilik Namnong Hot Spa, mengatakan bahwa dia sangat antusias dengan potensi peningkatan industri secara keseluruhan akibat kebijakan ini.
Fasilitas yang dia miliki menyerupai onsen Jepang. Jendelanya menghadap ke pemandangan kehijauan, membawa masuk hembusan angin sejuk, dan aroma hujan yang rintiknya menyapu kolam pemandian.
Mungkin perbedaan mencolok pemandian air panas Thailand dengan onsen di pegunungan Jepang adalah suhu udaranya. Phatcharawadee mengakui orang-orang agak enggan berendam saat cuaca di Thailand sedang panas.
Inilah yang mungkin menjelaskan mengapa budaya mata air panas di Thailand belum berkembang pesat, kata dia.
“Sebenarnya, berendam di air panas terdengar menakutkan. Tapi, kenyataannya, setelah berendam Anda akan merasa segar kembali. Anda akan merasa bahwa ‘oh, seharusnya dari dulu saja saya berendam’,” katanya.
Ia mengamati bahwa generasi muda yang berminat pada gaya hidup sehat juga tertarik mencoba berendam di air panas, terutama di air alami yang dekat dengan sumbernya.
“Beberapa orang mungkin menganggap berendam air panas hanya untuk kakek-kakek dan nenek-nenek. Tapi saat tren kebugaran datang dan ada komunikasi yang jelas tentang cara dan manfaatnya, anak muda jadi lebih tertarik untuk mencobanya.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.