Pelopor dialog antaragama di Mindanao raih Harmony in Diversity Award perdana
Penghargaan yang diprakarsai Temasek Foundation dan 5P Global Movement itu diserahkan di Jakarta pada 15 Juli 2026.
Kardinal Orlando Beltran Quevedo, Uskup Agung Emeritus Cotabato, Filipina, penerima pertama Harmony in Diversity Award. (Foto: 5P Global Movement)
JAKARTA: Kardinal Orlando Beltran Quevedo, Uskup Agung Emeritus Cotabato, Filipina, ditetapkan sebagai penerima pertama Harmony in Diversity Award, sebuah penghargaan regional yang mengapresiasi individu yang dinilai berjasa dalam memperkuat harmoni sosial dan hubungan antarbudaya di Asia Tenggara.
Penghargaan yang diprakarsai Temasek Foundation bersama 5P Global Movement sebagai sekretariat pendukung itu diumumkan pada Kamis (10/7) dan pemberian penghargaan digelar di Jakarta pada Rabu (15/7). Penghargaan tersebut diberikan kepada individu yang menunjukkan kontribusi luar biasa dalam membangun keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat Asia Tenggara.
Acara tersebut dihadiri juga oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar. Dalam sambutannya, Menag mengatakan, penyelenggaraan Harmony in Diversity sebagai inisiatif regional yang tidak hanya memberikan penghargaan kepada individu, tetapi juga menegaskan kembali pentingnya nilai-nilai kemanusiaan sebagai perekat masyarakat Asia Tenggara yang majemuk.
Menurut Menag, penghargaan perdana tersebut layak diberikan kepada Cardinal Orlando Beltran Quevedo OMI atas dedikasinya selama puluhan tahun membangun perdamaian, rekonsiliasi, dan dialog antaragama di Mindanao, Filipina.
"Semoga penghargaan ini menjadi inspirasi bagi semakin banyak individu dan komunitas di Asia Tenggara untuk memperkuat dialog, saling pengertian, dan harmoni," ujar Nasaruddin, dikutip dari Kompas.com.
Dikutip dari laman harmonyindiversityaward.com, Quevedo menyampaikan, “Saya merasa sangat terhormat atas pengakuan ini, yang saya terima dengan rasa syukur atas nama banyak komunitas, pemimpin agama, dan pembangun perdamaian yang telah mendedikasikan diri mereka pada pekerjaan membangun perdamaian yang dilakukan secara diam-diam dan seringkali tak terlihat.”
Menurut Quevedo, harmoni bukanlah ketiadaan perbedaan. Harmoni adalah kesediaan kita untuk merangkul perbedaan-perbedaan tersebut dengan rasa hormat, belas kasih, dan keinginan tulus untuk saling memahami.
Ia juga menambahkan bahwa harmoni sejati dibangun melalui hubungan sehari-hari—ketika kita memilih untuk bersikap hormat dan penuh belas kasih. Perdamaian yang langgeng tumbuh dari pertemuan sehari-hari antara orang-orang dari berbagai agama, budaya, dan komunitas.
"Saya berharap kita akan terus menempuh perjalanan ini bersama-sama, membangun masyarakat di mana setiap orang diperlakukan dengan martabat dan di mana keragaman diterima sebagai sumber kekuatan, bukan perpecahan."
Dalam rilis tertulis Temasek Foundation disebutkan bahwa Quevedo, kardinal pertama yang berasal dari Mindanao, dikenal atas upayanya mendorong dialogue of life, yakni interaksi sehari-hari antarwarga dari latar belakang berbeda sebagai fondasi untuk memperkuat saling pengertian dan perdamaian.
Selama puluhan tahun, ia aktif mengadvokasi rekonsiliasi dan pembangunan damai di Mindanao. Pada 1996, ia turut mendirikan Bishops-Ulama Conference, forum yang mempertemukan uskup Katolik, pendeta Protestan, dan ulama Muslim guna memperkuat kerja sama lintas agama.
Ia juga mendukung pembentukan regulasi perdamaian, termasuk Bangsamoro Basic Law, yang menjamin hak-hak dasar serta kebebasan beribadah seluruh kelompok masyarakat.
Harmony in Diversity Award diluncurkan pada Agustus 2025 sebagai inisiatif regional untuk meningkatkan kesadaran terhadap berbagai upaya membangun harmoni di Asia Tenggara. Pada penyelenggaraan perdananya, penghargaan ini menerima lebih dari 70 nominasi dari berbagai negara di kawasan.
Mantan Presiden Singapura sekaligus Kanselir Singapore University of Social Sciences, Halimah Yacob, yang menjadi patron penghargaan tersebut, mengatakan, Quevedo mencerminkan nilai-nilai yang ingin diangkat melalui penghargaan ini.
"Kepemimpinannya dalam memajukan perdamaian dan saling pengertian antarumat beragama di Mindanao mengingatkan kita bahwa harmoni yang berkelanjutan dibangun melalui dialog, kepedulian, dan keberanian dalam kehidupan sehari-hari," kata Halimah.
Chief Executive Officer Temasek Foundation Ng Boon Heong menyampaikan, kiprah Quevedo menjadi pengingat bahwa harmoni dibangun melalui upaya yang konsisten dan berkelanjutan.
"Karya Kardinal Quevedo menjadi pengingat yang kuat bahwa harmoni dibangun dengan sabar melalui upaya yang berkelanjutan. Komitmennya sepanjang hidup untuk mewujudkan hidup berdampingan secara damai dan saling memahami di antara masyarakat dari berbagai budaya mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung Harmony in Diversity Award," tutur Ng.
Ia menambahkan, penghargaan tersebut diharapkan dapat mengangkat kisah para pembangun perdamaian di kawasan.
"Menciptakan dan mempromosikan perdamaian merupakan pekerjaan besar. Melalui penghargaan ini, Temasek Foundation berharap dapat memberikan apresiasi kepada para pembangun perdamaian sekaligus membagikan kisah-kisah inspiratif mereka ke seluruh kawasan. Penghargaan ini juga menjadi titik awal untuk mendorong lebih banyak upaya kolektif dalam memajukan harmoni dalam keberagaman di Asia Tenggara," tuturnya.
Sementara itu, pendiri 5P Global Movement Arsjad Rasjid menuturkan, penghargaan tersebut dibentuk untuk memberikan apresiasi kepada individu yang membangun perdamaian melalui kepercayaan dan penghormatan terhadap perbedaan.
"Harmony in Diversity Award didirikan untuk memberikan penghargaan kepada individu-individu yang melalui karya mereka mengingatkan kita bahwa perdamaian yang langgeng dibangun atas dasar kepercayaan, rasa hormat, dan keberanian untuk menjembatani perbedaan. Kardinal Quevedo mencerminkan nilai-nilai tersebut melalui komitmennya sepanjang hidup dalam membangun dialog dan saling pengertian di antara berbagai komunitas," kata Arsjad.
Ia mengatakan, kiprah Quevedo juga mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
"Karya beliau juga mencerminkan semangat abadi Bhinneka Tunggal Ika—Unity in Diversity—yang mengingatkan kita bahwa perbedaan bukanlah penghalang yang harus diatasi, melainkan kekuatan yang memperkaya kemanusiaan kita bersama," kata Arsjad.
Penerima penghargaan dipilih oleh panel juri yang terdiri dari sejumlah tokoh regional, yakni Tunku Tun Aminah dari Berjaya Corporation, mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, Wali Kota Quezon City Joy Belmonte, CEO Frasers Property Panote Sirivadhanabhakdi, dan CEO Temasek Foundation Ng Boon Heong.
Panel tersebut memilih Quevedo atas komitmennya selama puluhan tahun dalam membangun perdamaian, memperkuat dialog antaragama, serta mendorong rekonsiliasi, khususnya di Mindanao.
Selain trofi, Quevedo menerima hadiah sebesar US$20.000 serta mendapat kesempatan berbagi pengalaman dengan para pegiat perdamaian, pemimpin pemikiran, dan perwakilan berbagai sektor dari seluruh Asia Tenggara.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.