Mengapa kuliah di China mulai menggeser popularitas negara-negara Barat?
Angka penerimaan mahasiswa asing di China kembali pulih pasca-pandemi. Hal ini didorong oleh meningkatnya permintaan dari Asia dan Afrika, yang tertarik karena biaya murah, beasiswa, dan perubahan dinamika global.
(Dari kiri) Nazrin Allahverdiyeva dari Azerbaijan, Precious Oulwafunmilayo Ajayi dari Nigeria, dan Jojo Hwang dari Korea Selatan adalah jajaran mahasiswa internasional yang berkuliah di China. (Foto: CNA/Nazrin Allahverdiyeva, Precious Oulwafunmilayo Ajayi, Jojo Hwang)
SINGAPURA: Saat Nazrin Allahverdiyeva, 19, pertama kali menghadiri kelas Universitas Kedokteran China (CMU) pada tahun 2024, dia ingat betapa dia tidak "mengerti satu pun".
"Dungu banget saya saat itu," ucap mahasiswa Azerbaijan, negara yang berbatasan dengan Rusia, Georgia, Armenia, dan Iran.
Pengalamannya terasa semakin mencekam ketika mengingat CMU memiliki reputasi salah satu perguruan tinggi kedokteran ternama di China. Berdiri pada tahun 1931 di provinsi timur laut Liaoning, universitas negeri bergengsi tersebut telah lama dikenal sebagai sarana pelatihan bagi tenaga ahli kedokteran di China.
Akan tetapi, beberapa teman lokal sekelasnya kesulitan mengikuti pelajaran, ungkapnya.
"Bayangkan. Kalau mahasiswa China saja tidak paham dengan materi-materinya, apalagi saya," tegas Allahverdiyeva.
Dia mengatakan sejak saat itu, kemampuan bahasanya meningkat secara signifikan dan sekarang tengah menempuh program pendidikan lima tahun di bidang Kedokteran Klinis. Dia juga berhasil mengikuti perkuliahan dan lancar berkomunikasi dalam bahasa China selama sesi praktik dan kelas anatomi di rumah sakit lokal.
Menurut Allahverdiyeva, beberapa tahun belakangan, orang-orang di negara asalnya, Azerbaijan, mulai antusias dengan universitas China.
"Sekarang orang-orang ingin ke China. Saat saya memutuskan untuk belajar ke China, orang belum seantusias sekarang," ujarnya, menambahkan bahwa beberapa mahasiswa asing lainnya yang seangkatan "mayoritas berasal dari negara-negara Afrika" dan sebagian lagi dari Iran.
Mahasiswa lainnya yang juga terdorong untuk ke China adalah Precious Oulwafunmilayo Ajayi, 21, mahasiswa asal Nigeria yang menjalani beasiswa parsial di Xi'an University of Architecture and Technology. Di sana, ia mengejar pendidikan Bahasa China Terapan sejak Februari tahun lalu.
"Dari dulu, saya selalu bermimpi untuk ke China," kata Ajayi, menambahkan bahwa keputusannya untuk kuliah di China berawal dari kecintaannya pada bahasa dan budaya China, terutama industri hiburannya.
"Begitu saya tahu ternyata ada beasiswa untuk orang asing seperti saya, saya kegirangan," ungkapnya, menambahkan bahwa setelah lulus, dia ingin mencari pekerjaan di China, khususnya di Shanghai.
BASIS MAHASISWA ASING BARU DI CHINA
China menerima 380.000 mahasiswa internasional dari 191 negara dan kawasan pada tahun pelajaran 2024–2025, menurut data yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan (MOE) China, menandai pulihnya era pandemi dari titik terendah, mencapai sekitar 255.720 mahasiswa pada tahun 2021.
MOE melaporkan bahwa mahasiswa Asia dan Afrika menjadi kelompok angkatan terbesar. Masing-masing mencapai 61 persen dan 16 persen, didorong oleh faktor biaya program STEM yang murah dan pengaruh global Beijing yang semakin meluas.
Sebagai contoh, jumlah mahasiswa Afrika di China telah meningkat dari yang hanya 27.000 pada tahun 2012 menjadi di atas 81.000 pada 2018. Data terbaru menunjukkan bahwa ada sekitar 61.500 mahasiswa Afrika tercatat pada tahun pelajaran 2024-2025 dan angka ini mencerminkan adanya pemulihan parsial pasca-pandemi.
Di Asia, negara-negara seperti India, Indonesia, Vietnam dan Thailand muncul sebagai pemasok utama mahasiswa. Hal ini mencerminkan kedekatan wilayah sekaligus kuatnya jaringan pendidikan dengan China.
Statistik dari Kedutaan China di Vietnam menunjukkan bahwa ada sekitar 11.300 mahasiswa Vietnam yang kuliah di China pada tahun 2020. Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat hingga 23.500 pada tahun 2023.
Pakistan menjadi contoh nyata lainnya. Menurut Kedutaan Pakistan di Beijing, terdapat hampir 29.000 mahasiswa Pakistan yang terdaftar di China pada Desember 2025, hampir dua kali lipat dari angka 15.654 yang tercatat pada tahun 2015.
Di antaranya, ada Umm E Ruman, 26. dari Karachi. Dia saat ini sedang mengejar pendidikan pascasarjana di bidang Kedokteran Klinis di Universitas Kedokteran Bengbu (BMU) di Provinsi Anhui.
Ruman sudah berkuliah di China sejak 2019 dan menceritakan bahwa dia memilih China karena negara tersebut menjadi "tren" di kalangan teman-temannya di negara asalnya.
"Biaya kuliah saat itu murah, tapi sekarang mengingat mata uang rupee Pakistan mengalami devaluasi, biayanya kurang lebih setara dengan sekarang," tambah Ruman.
Pada saat yang bersamaan, persentase mahasiswa dari Eropa dan Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan.
Dari total mahasiswa internasional yang diterima pada 2016, mahasiswa Eropa menyumbang 16,1 persen dibandingkan dengan 15,6 persen pada 2026.
Menurut data resmi, pangsa Amerika juga turut menurun. Mahasiswa dari kawasan tersebut dan Oseania hanya mencakup 7,1 persen dari total keseluruhan periode 2024-2025.
Laporan Maret 2026 oleh organisasi nirlaba US-China Education Trust (USCET) mengestimasi kurang dari 2.000 mahasiswa Amerika sekarang berkuliah di China setiap tahunnya, turun drastis sekitar 11.000 pada 2019.
Laporan tersebut menyebutkan, penurunan tersebut disebabkan oleh pendanaan federal AS pada program-program yang menyangkut China, kekhawatiran di antara mahasiswa perihal prospek karier di pemerintahan, dan meningkatnya tekanan yang dihadapi universitas AS untuk membatasi hubungan dengan China.
Perlu diketahui sebagian besar mahasiswa dan peneliti Amerika terpaksa mengurungkan niat untuk kuliah ke China karena mereka meyakini bahwa cara ini dapat merusak peluang karier mereka di pemerintahan di masa mendatang.
"Kita sedang menyaksikan perubahan yang proporsional," jelas Wang Xiaokai, konsultan pendidikan senior, menyoroti perubahan nyata yang sedang berlangsung dan mayoritas mahasiswa di seluruh Asia dan Afrika memilih universitas China daripada perguruan tinggi di Barat.
"China kian diminati pelajar Asia Tenggara dan Afrika, termasuk negara-negara yang terlibat dalam proyek Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI)," kata Wang, menyinggung perihal proyek infrastruktur ambisius Beijing yang bertujuan untuk mendorong perdagangan global dan menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika melalui rute darat dan perairan.
"Jadi dampaknya, persentase pelajar dari Eropa dan Amerika Serikat berkurang," imbuhnya.
Menurut Wang, faktor geopolitik juga turut memengaruhi. Pelajar Eropa dan AS kini lebih hati-hati untuk berkuliah di China, menyusul kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump mencakup penangguhan proses visa, larangan perjalanan ke beberapa negara Asia dan pencabutan lebih dari 6.000 visa pelajar atas tuduhan pelanggaran pada 2025.
Benjamin Mulvey, dosen di bidang sistem dan kebijakan pendidikan yang berkeadilan di Universitas Glasgow, menyoroti "tingginya tekanan geopolitik antara negara-negara Barat dan China" menyebabkan kerja sama akademik sulit terwujudkan.
Hal ini juga berdampak pada "program pertukaran pelajar dan perkuliahan di luar negeri," kata Mulvey kepada CNA.
BIAYA TERJANGKAU JADI DAYA TARIK UTAMA
Biaya sering kali menjadi hal pokok bagi pelajar dalam memilih perguruan tinggi, dan dalam kasus China, biaya yang relatif terjangkau menjadi daya tarik utama, menurut Wang, konsultan pendidikan.
China menawarkan aneka macam universitas ternama dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada destinasi-destinasi umum seperti AS, Inggris, dan Australia.
Biaya kuliah tergolong rendah, terutama bagi pelajar jalur mandiri, tambahnya.
Dia juga menyoroti bahwa program studi STEM di China sangat kuat. Banyak universitas menawarkan "program pembelajaran unggulan" di bidang-bidang seperti ekonomi, hukum, dan kedokteran dengan harga yang kompetitif.
Sebagai contoh, mahasiswa luar yang menempuh studi kedokteran klinis di universitas terbaik China seperti Universitas Tsinghua mengeluarkan biaya senilai 40.000-70.000 yuan (sekitar Rp183,4 juta) per tahunnya. Angka ini masih jauh lebih rendah daripada biaya kuliah di institusi seperti Sekolah Kedokteran Harvard, yang biayanya dimulai dari US$76.828 (Rp1,3 miliar) per tahunnya.
"Bahkan program yang mahal di China masih lebih murah bagi kebanyakan mahasiswa internasional," terang Wang.
Bagi mahasiswa asing, perbedaan biayanya terlampau besar.
Jojo Hwang, mahasiswa asal Korea Selatan di Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, menyatakan bahwa biaya per tahunnya hampir sebanding dengan biaya satu semester adiknya di negara asal.
"Mahasiswa internasional memang mengeluarkan uang lebih banyak dari mahasiswa lokal di China, tetapi itu masih terlampau murah daripada berkuliah di Korea Selatan," jelasnya kepada CNA, menambahkan bahwa dia membayar sekitar 26.000 yuan per tahunnya, berbeda dengan mahasiswa lokal, yakni sekitar 6.000 yuan.
Menurut Mulvey dari Universitas Glasgow, selain biaya, pengaruh global China yang semakin besar turut memengaruhi pilihan pelajar.
"Badan usaha milik negara dan swasta China menjadi pelaku ekonomi dominan di seluruh Asia dan Afrika," ujar Mulvey, menambahkan bahwa "wawasan mengenai China, baik ekonomi, bahasa, maupun budayanya, semakin dianggap bernilai" bagi banyak lulusan.
Biaya hidup yang lebih murah dan persyaratan visa yang relatif lebih longgar juga menambah daya tarik China, kata Mulvey, menyoroti bahwa beberapa program tidak memerlukan tes kemampuan bahasa Inggris terstandardisasi seperti International English Language Testing System (IELTS), di mana jutaan pelajar per tahunnya mengikutinya untuk menguji kemampuan mendengar, membaca, menulis, dan berbicara.
"Kondisi ini membuat pendidikan di China mudah diakses oleh banyak kalangan," tambah Mulvey.
"BUKAN UNTUK MEREKA YANG LEMAH"
Kuliah di luar negeri dapat menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa, dan meskipun China punya daya tarik besar sebagai pusat perguruan tinggi, mahasiswa internasional masih menghadapi kesulitan, di mana kendala bahasa dan gegar budaya menjadi hambatan terbesar.
Para ahli menilai bahwa mahasiswa asing di China hidup terpisah dari mahasiswa lokal dan membatasi peluang mereka untuk berinteraksi dan berteman dekat.
Beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri. Selain kendala bahasa, mahasiswa internasional, sama seperti pendatang lainnya, harus mampu menavigasi ekosistem digital China yang rumit dan serba lokal.
"Ada aplikasi digital yang perlu diketahui pelajar, seperti WeChat dan Alipay. Tanpanya, membayar akan jadi sulit," ucap Wang, konsultan pendidikan.
Kendala finansial juga turut menambah tekanan. Banyak mahasiswa asing tidak diperbolehkan untuk bekerja di China, kata Ajayi, mahasiswa Nigeria yang beasiswanya hanya cukup untuk menutupi biaya kuliah dan uang saku, tetapi belum memadai untuk biaya hidup sehari-hari.
"Mahasiswa luar tidak diperbolehkan bekerja," tuturnya, menambahkan bahwa dia harus bergantung pada keluarganya di negara asalnya untuk uang saku bulanan.
"Malah rasanya berat."
"Kuliah di China memang bukan untuk mereka yang lemah," tambah Ajayi.
"Saya selalu bilang ke pelajar luar yang ingin ke China untuk siap bekerja keras."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.