Skip to main content
Iklan

Asia

Mengapa Asia Tenggara jadi primadona investasi digital dan pusat data?

Berbagai perusahaan raksasa dunia telah mengincar negara-negara Asia Tenggara untuk berinvestasi di pusat data dan AI. 

Mengapa Asia Tenggara jadi primadona investasi digital dan pusat data?

STT Bangkok 1 - pusat data berskala besar milik STT GDC - di pinggiran ibu kota Thailand. (Foto: STT GDC)

BANGKOK: Berbagai perusahaan top dunia telah mengucurkan miliaran dolar untuk membangun pusat-pusat data dan teknologi di Asia Tenggara. Berbagai investasi bernilai besar ini telah membentuk infrastruktur digital baru di kawasan.

"Asia Tenggara adalah salah satu pasar paling menggiurkan. Kita melihat investasi berdatangan dengan masif dan sepertinya belum akan berhenti," kata Lionel Yeo, CEO ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC) Asia Tenggara.

STT GDC adalah perusahaan pusat data asal Singapura yang telah mengoperasikan sekitar 95 pusat data di 11 negara. Asia Tenggara telah menjadi salah satu kawasan tujuan utama pembangunan pusat data.

Menurut proyeksi Maybank Investment Bank, Asia Tenggara akan mengalami peningkatan permintaan untuk pembangunan pusat data sebesar 20 persen per tahunnya hingga 2028. 

Kondisi ini terjadi di berkat pesatnya perkembangan AI dan meningkatnya kebutuhan komputasi awan (cloud computing) secara global.

Pertumbuhan AI di Asia Tenggara sendiri meningkat drastis. Menurut Work Trend Index yang dirilis Microsoft dan Linkedin, 88 persen pekerja intelektual di Asia Tenggara telah menggunakan AI generatif. 

Di saat yang sama, digitalisasi yang digalakkan di negara-negara Asia Tenggara muncul bersamaan dengan terjadinya perubahan demografi.

Menurut laporan Deloitte, dalam beberapa tahun terakhir ada 125.000 pengguna internet baru di Asia Tenggara setiap harinya. Dan permintaan data internet dari pengguna internet di Asia Tenggara dan Selatan diproyeksi meningkat hingga tiga kali lipat pada 2025 dibanding 2019.

Vu Minh Khuong, lektor kepala di Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP) di National University of Singapore, mengatakan peningkatan kelas menengah dan pertumbuhan masyarakat yang terbuka untuk teknologi baru telah menyumbang pada melonjaknya permintaan data internet tersebut.

Boston Consulting Group dalam risetnya memperkirakan nilai ekonomi digital di Asia Tenggara akan meningkat tiga kali lipat menjadi US$1 triliun pada 2030. Angka ini akan bertambah dua kali lipat jika ada kebijakan-kebijakan tepat yang diterapkan pemerintah, ujar riset tersebut.

Bagian dalam pusat data Amazon Web Services. (Foto: AWS)

INVESTASI TERUS MENGALIR

Para pengamat mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan raksasa tengah bersaing untuk bisa beroperasi di Asia Tenggara, kawasan dengan permintaan layanan dan infrastruktur digital yang terus meningkat.

"Banyak peluang di Asia Tenggara bagi perusahaan-perusahaan digital besar, terutama jika dilihat dari kacamata transformasi digitalisasi," kata Juan Kanggrawan, pakar digital di Jakarta yang berpengalaman di sektor pemerintah dan swasta.

"Bukan hanya perusahaan asal AS dan Eropa, tapi juga perusahaan China, Timur Tengah, Jepang, dan lainnya yang ingin merambah ke Asia Tenggara," kata dia.

Penelitian Maybank menunjukkan bahwa pasar Asia Tenggara yang lebih luas belum seluruhnya terlingkupi dengan ketersediaan pusat data. 

Ada 55 hingga 70 persen kawasan di Asia Tenggara yang kekurangan penetrasi pusat data jika dibandingkan dengan pasar yang lebih berkembang lainnya seperti China, Korea Selatan dan Jepang.

Meski adanya kekurangan tersebut, namun Google telah berkomitmen untuk berinvestasi hingga miliaran dolar di Asia Tenggara pada 2024, berfokus pada infrastruktur data dan cloud serta pelatihan jutaan orang untuk menggunakan AI.

Di antara yang menjadi pemberitaan adalah komitmen investasi Google di Malaysia dan Thailand pada 2024, serta rencana peningkatan infrastruktur dan layanan di Singapura.

Selain Google, mengekor dalam berinvestasi besar untuk proyek cloud dan AI di Asia Tenggara adalah Microsoft dan Amazon Web Service (AWS).

Sapna Chadha, wakil presiden Asia Tenggara dan Perbatasan Asia Selatan di Google Asia Pasifik, mengatakan minat untuk berinvestasi di Asia Tenggara sangat besar. Terutama, karena Asia Tenggara memiliki "ekonomi yang sudah siap AI" yang memudahkan perusahaan mencari solusi untuk sektor kesehatan, pendidikan dan perubahan iklim.

"Semua investasi ini datang karena adanya permintaan. Terkadang kami mendengar pertanyaan, apakah investasinya terlalu banyak, apakah cuma ikut-ikutan? Saya katakan, tentu saja tidak," kata dia kepada CNA.

Pendingin cryostat untuk mendinginkan chip komputasi kuantum ditampilkan di laboratorium Quantum AI Google di Santa Barbara, California, A.S. (Foto:Google/Handout via Reuters)

Sementara itu, Microsoft mengumumkan investasi miliaran dolar pada tahun 2024 di Thailand, Indonesia, dan Malaysia, serta target pelatihan keterampilan AI untuk 2,5 juta orang di kawasan ASEAN pada tahun 2025.

Ekonomi digital Asia Tenggara yang dinamis menciptakan “siklus inovasi dan aliran modal yang baik”, kata Andrea Della Mattea, presiden Microsoft ASEAN.

Dalam beberapa bulan terakhir, AWS telah menyampaikan komitmen investasi yang fokus pada pembangunan infrastruktur cloud dan layanan AI jangka panjang senilai US$11 miliar di Thailand dan Malaysia saja.

AWS bekerja sama dengan ribuan pelanggan di Asia Tenggara, termasuk GovTech Singapura, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Petronas, Globe Telecom, dan Grab untuk mentransformasi layanan digital mereka, jelas Jeff Johnson, direktur pelaksana AWS untuk ASEAN.

“Hal ini termasuk migrasi ke cloud dan memanfaatkan teknologi baru yang sedang berkembang, seperti AI generatif,” ujarnya.

ASEAN DESTINASI MENARIK UNTUK INVESTASI

Digitalisasi memang tengah terjadi di seluruh dunia. Namun para pengamat sepakat bahwa Asia Tenggara berhasil memposisikan diri dengan baik di tengah lingkungan investasi bidang digital yang dinamis dan bernilai besar.

Sebagai sebuah pasar tunggal, Asia Tenggara adalah rumah bagi 660 juta orang dengan tingkat pertumbuhan populasi melampaui rata-rata global.

“Kawasan ini juga merupakan rumah bagi populasi muda yang melek teknologi, 61 persen populasi di kawasan ini berusia di bawah 35 tahun. Kondisi ini menjadikan Asia Tenggara tujuan investasi yang menarik,” ujar Ming Tan, direktur eksekutif Tech for Good Institute, sebuah lembaga riset independen di Singapura.

Geopolitik juga menjadi faktor, karena perusahaan-perusahaan teknologi ingin mendiversifikasi investasi mereka dan mencari wilayah dengan kebijakan yang bersahabat dan ekonomi yang stabil. Asia Tenggara semakin sesuai dengan hal tersebut, kata Khuong dari LKYSPP.

“Jelas, investasi di ASEAN benar-benar meningkatkan daya saing perusahaan-perusahaan teknologi secara global,” katanya.

“Di sini Anda melihat munculnya kepemimpinan baru. Semua orang tampaknya merangkul revolusi digital untuk pertumbuhan dan ini adalah lingkungan yang mendukung. Insentif, pentingnya pasar dan geopolitik untuk masuk telah menjadi pendorong yang sangat kuat dalam penyerapan investasi di wilayah ini,” tambahnya.

Chadha mengatakan bahwa “pemerintah Asia Tenggara yang bersahabat merupakan keuntungan besar” bagi investasi dan aktivitas bisnis Google.

“Pemerintah dan pendekatan mereka terhadap hal ini adalah untuk menyambut investasi dan terbuka terhadap semua pihak, yang sebenarnya memberi kami keuntungan,” katanya.

Fasilitas pusat data yang sedang dibangun di Johor. (Foto file: CNA/Zamzahuri Abas)

Pemerintahan negara-negara di Asia Tenggara juga menawarkan "pemanis" untuk memikat investasi di sektor teknologi.

Thailand misalnya, menawarkan pengurangan pajak perusahaan dan menawarkan internet cepat, sementara Vietnam memberi insentif keuangan di bidang penelitian dan pengembangan, ditambah lagi pembebasan sewa tanah dan kredit preferensial.

Singapura memposisikan diri sebagai pusat inkubator start-up, menarik talenta terbaik ke ekosistem teknologi negara ini dan pengurangan pajak yang mendorong inovasi. 

Malaysia juga memiliki serangkaian hibah dan insentifnya sendiri, sementara Indonesia berfokus pada pengembangan sumber daya di sektor teknologi. 

Pemerintah Indonesia terbuka untuk bekerja sama dengan mitra teknologi, termasuk yang berasal dari China. Kanggrawan mengatakan, langkah Indonesia ini didasarkan pada pragmatisme, bukan geopolitik.

“Di sektor publik, Indonesia semakin terbuka terhadap perusahaan-perusahaan yang didukung oleh China. Hal ini sangat wajar. Ini adalah bisnis yang sangat adil dan keputusan yang strategis,” katanya.

ASEAN sendiri bertujuan untuk menjalin kerja sama yang lebih baik di antara negara-negara anggotanya melalui Kerangka Kesepakatan Ekonomi Digital (DEFA), yang saat ini masih dalam tahap negosiasi.

DEFA akan berfokus pada memfasilitasi perdagangan, e-commerce, pembayaran dan identitas digital, keamanan siber, perlindungan data, mobilitas talenta, dan kerangka kerja regulasi. DEFA bertujuan untuk menggandakan nilai proyeksi ekonomi digital di Asia Tenggara pada akhir dekade ini.

Johnson dari AWS mengatakan, jika DEFA akhirnya disepakati oleh negara-negara ASEAN maka akan "meningkatkan keyakinan para pengusaha, investor dan masyarakat akan kekuatan ekonomi kawasan ini."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan