Skip to main content
Iklan

Asia

China gencarkan manuver militer, apa yang sebenarnya ingin dicapai?

Patroli udara bersama Rusia, aktivitas kapal penjaga pantai di timur Taiwan, hingga uji coba rudal di Pasifik menunjukkan upaya China menormalkan berbagai operasi militer, kata para analis.

China gencarkan manuver militer, apa yang sebenarnya ingin dicapai?

Pasukan China melepaskan tembakan dari kapal perang saat latihan angkatan laut Joint Sea-2026 yang melibatkan China dan Rusia, dalam gambar yang dirilis akun WeChat resmi Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China pada 11 Juli 2026. (FOTO: WeChat Angkatan Laut PLA China)

BEIJING: Dalam kurun kurang dari dua pekan, China mengerahkan pesawat pengebom bersama Rusia di dekat Jepang, mempertahankan kehadiran kapal penjaga pantai di timur Taiwan, menggelar latihan angkatan laut gabungan dengan Moskow, serta menguji rudal dari kapal selam bertenaga nuklir di Samudra Pasifik.

Menurut para analis, rangkaian aktivitas itu menunjukkan upaya Beijing menjadikan berbagai operasi militer sebagai hal yang semakin lumrah.

China juga ingin mengirim sinyal kepada Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya bahwa kemampuannya beroperasi di kawasan kini semakin menjadi bagian permanen dari lanskap keamanan regional, tambah mereka.

"Tujuannya adalah normalisasi, bukan krisis. Beijing ingin kehadirannya di perairan ini menjadi sesuatu yang biasa, sehingga konsekuensi untuk menantangnya akan terus meningkat," kata Ben Brand, pendiri sekaligus analis utama Iron Command, lembaga independen yang bergerak di bidang intelijen dan konsultasi pertahanan.

Namun, para pakar mengingatkan agar langkah-langkah itu tidak dipandang sebagai bagian dari satu operasi yang terkoordinasi. Masing-masing dijalankan oleh matra, lembaga, dan siklus perencanaan yang berbeda, serta tidak ada bukti terbuka bahwa semuanya sengaja diselaraskan.

Menurut para analis, yang penting justru bagaimana berbagai aktivitas China yang terpisah itu saling menguatkan dan mempertegas arah strategi Beijing.

ARAH STRATEGIS YANG SELARAS

Pada 27 Juni, China dan Rusia menggelar patroli gabungan pesawat pengebom di atas Laut Jepang, Laut China Timur, dan Pasifik barat, termasuk melintasi Selat Miyako.

Beberapa hari kemudian, angkatan laut China dan Rusia berkumpul di Qingdao untuk mengikuti Joint Sea-2026, edisi terbaru latihan tahunan yang telah lama digelar. Menurut media pemerintah China, latihan itu berakhir pada 11 Juli. Sebagian pasukan yang terlibat kemudian melanjutkan patroli maritim gabungan di Samudra Pasifik.

Pesawat pengebom Xian H-6 milik China terbang di atas perairan dekat Jepang saat patroli udara gabungan China-Rusia pada 27 Juni 2026, dalam foto yang dirilis Kementerian Pertahanan Jepang pada 29 Juni 2026. (FOTO: Kementerian Pertahanan Jepang via Reuters)

Dalam periode yang sama, kapal penjaga pantai China terus berpatroli di perairan timur Taiwan. Jepang juga melaporkan kapal-kapal angkatan laut China berulang kali melintasi jalur perairan strategis di sekitar kepulauan barat daya mereka.

Pada 6 Juli, China kemudian melakukan uji coba rudal yang jarang dilakukan di Samudra Pasifik. Rudal balistik jarak jauh yang membawa hulu ledak tiruan itu diluncurkan dari kapal selam bertenaga nuklir dan melesat sekitar 7.300 km sebelum jatuh di perairan internasional di Pasifik Selatan.

Isaac Kardon, profesor tidak tetap di School of Advanced International Studies, Johns Hopkins University, mengatakan kepada CNA bahwa rangkaian aktivitas tersebut merupakan "pertemuan luar biasa dari berbagai unjuk kekuatan militer China yang dilakukan secara terbuka".

Menurutnya, waktu dan intensitas aktivitas tersebut kemungkinan mencerminkan keinginan Beijing untuk merespons secara tegas berbagai perkembangan regional yang dianggap merugikan, termasuk semakin eratnya koordinasi keamanan di antara sekutu dan mitra AS.

Perkembangan itu juga terjadi ketika latihan Rim of the Pacific (RIMPAC) yang dipimpin AS, latihan angkatan laut multinasional terbesar di dunia, tengah berlangsung di Hawaii dan sekitarnya dengan melibatkan puluhan negara dalam latihan maritim dan operasi gabungan.

Meski tidak ada bukti terbuka bahwa berbagai aktivitas itu dikoordinasikan secara terpusat oleh China, dampaknya tetap "berpadu dan saling menguatkan", kata Hao Nan, peneliti Nuclear Futures di Ploughshares Fund dan Horizon 2045, yang mendukung riset tentang keamanan nuklir dan risiko strategis.

"Penilaian yang paling tepat adalah adanya arah strategi yang selaras, meski belum terbukti terintegrasi di tingkat operasional," kata Hao kepada CNA.

Brand dari Iron Command mengungkapkannya dengan cara berbeda. Menurutnya, Beijing memanfaatkan "periode latihan tahunan yang memang sudah padat untuk menyampaikan banyak pesan dalam satu siklus pemberitaan".

MENJADIKAN KEHADIRAN CHINA SEBAGAI HAL BIASA

Para analis menilai, rangkaian aktivitas terbaru itu merupakan bagian dari upaya jangka panjang China untuk menjadikan operasi militernya, baik di sekitar wilayahnya maupun di luar, sebagai sesuatu yang semakin lazim.

Brand menyebutnya sebagai "normalisasi aktivitas di perairan yang sebelumnya dianggap luar biasa".

Menurutnya, upaya normalisasi itu berlangsung di dua jalur: pertama, di sekitar hingga sedikit melampaui Rantai Pulau Pertama yang terutama ditujukan kepada Jepang, Taiwan, dan AS; kedua, hingga ke Pasifik Selatan yang menyasar Australia, Selandia Baru, dan negara-negara kepulauan Pasifik.

Rantai Pulau Pertama merupakan gugusan pulau yang membentang dari Jepang, Taiwan, hingga Filipina, yang memisahkan garis pantai China dengan Samudra Pasifik.

Selain patroli pesawat pengebom China-Rusia dan latihan angkatan laut Joint Sea-2026, China Coast Guard (CCG) terus beroperasi di perairan timur Taiwan, sementara Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Navy) terus melintasi selat-selat strategis di sekitar Jepang.

Beijing menggambarkan berbagai aktivitas itu sebagai bagian dari kegiatan rutin.

Kementerian Pertahanan China menyebut, Joint Sea-2026 dan patroli gabungan di Pasifik bersama Rusia setelahnya merupakan bagian dari rencana kerja sama tahunan militer kedua negara untuk menghadapi tantangan keamanan serta menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.

Namun, rutin atau tidak, manuver tersebut tetap memiliki arti strategis, kata para analis.

Kardon, yang juga mantan asisten profesor di US Naval War College, mengatakan, latihan China-Rusia memang sudah menjadi agenda tahunan sehingga waktunya tidak perlu ditafsirkan berlebihan. Namun, aktivitas lainnya "jelas patut dipandang sebagai sinyal strategis yang disengaja".

Menurutnya, uji coba rudal itu terutama bertujuan menunjukkan kredibilitas kemampuan penangkal nuklir China yang berbasis di laut.

Sementara itu, aktivitas di selat-selat sekitar Jepang juga memiliki tujuan operasional sekaligus politik. Selain melatih PLA menghadapi kemungkinan konflik di Pasifik Barat, manuver tersebut juga membentuk persepsi kawasan mengenai kemampuan China memproyeksikan kekuatan militernya di sekitar Jepang dan Taiwan.

Kapal selam kelas Kilo milik Angkatan Laut Rusia, Ufa, tiba di pelabuhan militer menjelang latihan angkatan laut gabungan Joint Sea-2026 antara China dan Rusia di Qingdao, Provinsi Shandong, China, pada 5 Juli 2026. (FOTO: CNSphoto via Reuters)

Sejak akhir Juni, China Coast Guard terus melakukan apa yang disebutnya sebagai patroli penegakan hukum rutin di perairan timur Taiwan yang menghadap Samudra Pasifik. Menurut Kardon, patroli tersebut bukan semata latihan operasional, melainkan sinyal bahwa Beijing ingin menguasai ruang maritim di sebelah timur Taiwan.

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk membawa pulau itu ke bawah kendalinya.

Menurut Brand dari Iron Command, patroli China Coast Guard di timur Taiwan bertujuan membangun "rekam jejak yurisdiksi di sisi Pasifik" yang akan menjadi penting jika suatu saat Beijing memberlakukan blokade.

Pada saat yang sama, operasi angkatan laut China yang semakin luas di luar Rantai Pulau Pertama juga mengirim pesan kepada Washington bahwa akses ke Pasifik Barat "tidak lagi tanpa tantangan", katanya.

Hao dari Ploughshares Fund dan Horizon 2045 menuturkan, Beijing pada saat yang sama berupaya memperkuat kredibilitas kehadiran militer dan penjaga pantainya di luar Rantai Pulau Pertama, meningkatkan persepsi konsekuensi atas intervensi, serta mencegah jaringan keamanan yang dipimpin AS memperoleh keunggulan regional yang tak tertandingi.

Meski berbagai aktivitas itu berlangsung dalam periode yang hampir bersamaan, para analis mengatakan semuanya tidak membawa satu pesan yang sama.

Sebaliknya, Beijing tampaknya menggunakan instrumen yang berbeda untuk sasaran yang berbeda pula.

Hao mengatakan, uji coba rudal dari kapal selam terutama ditujukan kepada AS dan negara-negara pemilik senjata nuklir lainnya, sementara operasi di Rantai Pulau Pertama lebih ditujukan kepada Jepang dan Filipina.

Adapun aktivitas di sekitar Taiwan terutama ditujukan kepada Taipei, sedangkan patroli gabungan China-Rusia mengirim sinyal kepada Washington dan Tokyo bahwa tekanan terkoordinasi dapat datang dari berbagai arah.

Brand mengatakan, patroli pesawat pengebom dan pelayaran berulang melalui perairan di sekitar Jepang membuat negara itu harus menghadapi "tekanan dari dua arah", sehingga menambah tantangan yang harus diperhitungkan Tokyo jika terjadi krisis di kawasan.

Di luar negara-negara tersebut, Hao mengatakan, kawasan yang lebih luas menerima dua pesan sekaligus: China menunjukkan ketegasannya di bidang keamanan, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga keterlibatan melalui perdagangan, diplomasi, dan berbagai mekanisme kerja sama regional.

DARI SINYAL MENUJU KEHADIRAN JANGKA PANJANG

Para analis mengatakan beberapa bulan ke depan akan menjadi petunjuk apakah rangkaian aktivitas terbaru ini menandai awal dari pola yang lebih permanen.

Bagi Kardon dari Johns Hopkins University, salah satu indikator paling jelas adalah apakah China mampu mempertahankan operasi China Coast Guard di perairan timur Taiwan.

"Jika dalam beberapa bulan ke depan CCG terus menempatkan gugus tugasnya di kawasan itu, ini akan menjadi indikasi bahwa tindakan penegakan hukum yang lebih tegas akan terus dilakukan di perairan sensitif tersebut. Hal itu bisa memicu krisis dengan Taiwan, Jepang, atau Filipina," katanya.

Kardon menambahkan, uji coba rudal balistik dari kapal selam ke Samudra Pasifik, atau aktivitas kapal selam dan rudal lain yang mencolok, juga akan menjadi perhatian.

Menurutnya, perkembangan semacam itu "harus dipahami di Washington sebagai sinyal bahwa Beijing bersedia meningkatkan eskalasi hingga melampaui kawasan jika AS ikut campur dalam konflik terkait Taiwan".

Brand juga melihat hal yang sama. Menurutnya, yang perlu dicermati adalah apakah pola saat ini akan menjadi doktrin tetap atau hanya berlangsung selama musim latihan militer pada musim panas.

"Satu kali uji coba adalah sinyal. Jika dilakukan berulang, itu menjadi doktrin," katanya.

Pada saat yang sama, perkembangan kehadiran militer China mungkin tidak hanya terlihat di permukaan laut.

Verineia Codrean, Chief Strategy and Partnerships Officer di Euroatlas, perusahaan teknologi pertahanan yang berfokus pada intelijen dan pengawasan bawah laut, mengatakan kepada CNA bahwa pola yang muncul menunjukkan "aktivitas angkatan laut dan bawah laut yang lebih berkelanjutan semakin jauh dari garis pantai China", mencerminkan ambisi Beijing untuk beroperasi dalam jangkauan yang lebih luas.

Codrean mengatakan, pemerintah negara-negara sekitar perlu mencermati perkembangan di bawah laut, termasuk pengerahan kendaraan bawah laut nirawak, perluasan jaringan sensor permanen, serta upaya memperkuat perlindungan terhadap infrastruktur bawah laut yang vital.

"Persaingan maritim di masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki kapal selam paling canggih, tetapi juga oleh siapa yang mampu mempertahankan kesadaran situasional secara terus-menerus di bawah permukaan laut," katanya.

Meski persaingan militer semakin intensif, ujar Hao, arah kawasan dalam jangka panjang juga akan bergantung pada apakah lembaga-lembaga regional yang ada masih mampu meredam rivalitas strategis.

Menurut Hao, China merespons sistem aliansi AS yang semakin terhubung dengan memperkuat sistem penangkal berlapisnya sendiri serta koordinasi selektif dengan Rusia.

Namun, di saat yang sama, Beijing juga terus terlibat melalui mekanisme yang dipimpin ASEAN, perdagangan, dan diplomasi. Hal itu menunjukkan China masih ingin menjaga agar persaingan strategis tetap berada dalam batas tertentu.

Menurut Hao, stabilitas kawasan, antara lain, bergantung pada kemampuan lembaga-lembaga tersebut mencegah rivalitas AS dan China terus bereskalasi.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan