EVolusi Asia: Dari chip hingga mobil listrik lokal, Malaysia bidik peran di industri EV global
Dalam edisi terbaru dari seri kendaraan listrik di Asia ini, CNA menyoroti bagaimana Malaysia meningkatkan perannya sebagai eksportir utama chip semikonduktor serta berupaya menata ulang DNA industrinya untuk menjadi kekuatan dalam ekosistem EV global.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim (tengah) mengacungkan jempol saat peluncuran QV-E, kendaraan listrik pertama Perodua, di Kuala Lumpur, Malaysia, 1 Desember 2025. (Foto: EPA/FAZRY ISMAIL)
KUALA LUMPUR: Nama “Pentamaster” mungkin tidak terpampang di kap mobil kendaraan listrik (EV) terkemuka dunia. Namun tanpa peralatan uji khusus milik perusahaan Malaysia ini untuk “otak” kendaraan listrik, pengisian daya cepat atau rapid charging tidak akan mungkin terjadi.
Sejak 2016, perusahaan ini semakin berfokus pada pengujian chip daya — komponen krusial dalam EV yang dibuat dari material canggih seperti silikon karbida dan galium nitrida — guna memastikan kualitas dan keandalannya.
“Kami membuat peralatan yang menguji semikonduktor yang digunakan dalam EV ... Sebagian besar komponen mobil seperti inverter, konten digital yang masuk ke kendaraan, perlu diuji oleh pelanggan sebelum proses perakitan,” ujar direktur non-eksekutif Pentamaster, Leng Kean Yong, kepada CNA.
Inverter adalah perangkat yang mengubah arus searah dari baterai menjadi arus bolak-balik untuk motor EV.
Pentamaster merambah sektor EV sejak 2016 dan pertumbuhannya meningkat tajam sekitar 2018, seiring langkah agresif China untuk mendominasi ruang kendaraan energi baru.
Ketika raksasa otomotif seperti BYD meningkatkan produksi, permintaan terhadap peralatan uji presisi milik Pentamaster pun melonjak.
Leng mengatakan peran Pentamaster dalam rantai pasok EV memang “kecil”, namun perusahaan yang berbasis di Penang ini telah mengukuhkan posisinya sebagai pemain global utama.
Perusahaan ini termasuk dalam lima besar produsen dunia peralatan uji khusus untuk chip daya EV, yang mengatur aliran listrik kendaraan.
Dari Penang hingga Johor, perusahaan lokal maupun multinasional telah membantu Malaysia muncul sebagai mata rantai penting — meski tidak mencolok — dalam ekosistem EV global.
Dorongan geopolitik dan rivalitas AS–China yang memicu strategi “China Plus One” untuk mendiversifikasi rantai pasok serta menghindari tarif dan sanksi perdagangan, menempatkan Malaysia—dengan basis elektronik yang telah matang—sebagai pilihan aman dan masuk akal bagi produsen komponen EV utama, menurut para analis.
“Malaysia adalah simpul alternatif EV yang sedang berkembang. Relevansinya berasal dari geopolitik dan diversifikasi,” ujar ekonom Doris Liew dari lembaga nirlaba Institute for Democracy and Economic Affairs di Malaysia.
“Perusahaan global semakin menginginkan opsi produksi di luar China, dan basis elektronik Malaysia memungkinkannya masuk ke segmen EV tertentu. Dukungan kebijakan melalui New Industrial Master Plan 2030 (NIMP 2030) memperkuat posisi ini.”
Rencana induk tersebut berfungsi sebagai peta jalan nasional untuk mentransformasi lanskap manufaktur Malaysia, dengan menargetkan sektor-sektor baru berpertumbuhan tinggi seperti rantai pasok EV.
BASIS SEMIKONDUKTOR YANG TELAH MAPAN
Malaysia menyumbang 13 persen dari aktivitas perakitan, pengujian, dan pengemasan semikonduktor global, proses tahap akhir yang krusial untuk memastikan keandalan setiap semikonduktor daya dan sensor dalam kendaraan listrik.
Malaysia saat ini merupakan eksportir semikonduktor terbesar keenam di dunia.
Meski sektor otomotif selama ini hanya menyumbang porsi lebih kecil dibanding sektor komputasi dan komunikasi dalam total output semikonduktor Malaysia, sektor ini mencatat “pertumbuhan terbaru terbesar dalam pangsa penjualan chip,” kata ekonom Tham Siew Yean dari Universiti Kebangsaan Malaysia.
Dalam laporan 2024, Kementerian Perdagangan dan Industri Malaysia mencatat total perdagangan segmen semikonduktor mencapai RM655,13 miliar (Rp2.230 triliun), dengan ekspor RM387,95 miliar (Rp1.300 triliun) dan impor RM267,18 miliar (Rp910 triliun).
Peningkatan ini, antara lain, didorong oleh naiknya permintaan terhadap elektronik otomotif, khususnya kendaraan listrik.
Presiden Malaysia Semiconductor Industry Association, Wong Siew Hai, mengatakan kepada CNA bahwa lonjakan permintaan global terhadap EV telah menjadi katalis bagi sektor chip domestik.
Menurutnya, satu EV memerlukan hingga 3.000 semikonduktor — sekitar tiga kali lebih banyak dibandingkan mobil berbahan bakar bensin — sehingga mendorong permintaan terhadap elektronika daya khusus, mikrokontroler, dan sensor berstandar otomotif dari Malaysia.
Wong menambahkan, Malaysia menjadi basis bagi enam perusahaan semikonduktor global, yakni Infineon Technologies, Renesas Electronics, STMicroelectronics, NXP Semiconductors, Onsemi, dan Texas Instruments, dengan fokus pada operasi tahap akhir untuk sektor otomotif.
Sektor tersebut telah menyerap sekitar 25.000 tenaga kerja, di luar peran dalam rantai pasok.
“Ekspansi produksi semikonduktor daya dan sirkuit terpadu otomotif telah meningkatkan kebutuhan tenaga terampil di bidang rekayasa, pengemasan tingkat lanjut, otomasi, penjaminan mutu, manajemen rantai pasok, serta kepatuhan terhadap prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola,” tutur Wong.
Infineon Technologies, misalnya, membuka fasilitas produksi silikon karbida senilai €7 miliar (Rp121 triliun) di Kulim, Kedah, pada 2024. Perusahaan ini menargetkan dapat melayani 30 persen pasar global pada 2030.
Silikon karbida dianggap sebagai “standar emas” untuk inverter EV karena menawarkan kecepatan pengisian daya dan jarak tempuh yang lebih baik. Seperti halnya galium nitrida, material ini mampu beroperasi pada suhu lebih tinggi serta menangani tegangan dan arus jauh lebih besar dibandingkan semikonduktor berbasis silikon konvensional.
Infineon memperkirakan ekspansi ini akan menciptakan sekitar 4.000 lapangan kerja bernilai tinggi.
Saat peresmian tahap pertama fasilitas tersebut pada Agustus 2024, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyebut investasi besar ini akan menghadirkan “pabrik semikonduktor daya berbasis silikon karbida terbesar dan paling kompetitif di dunia”.
Menurutnya, proyek ini akan menciptakan lapangan kerja, menarik pemasok, universitas, serta talenta terbaik, dan “mendukung upaya Malaysia dalam melindungi iklim melalui peningkatan elektrifikasi dan efisiensi berbagai aplikasi, termasuk mobil listrik dan energi terbarukan”.
Sejumlah perusahaan lain, terutama dari China, juga mulai membangun pabrik EV di Malaysia.
Langkah ini dipandang sebagai respons terhadap perubahan kebijakan tahun ini, ketika pemerintah mengakhiri pembebasan pajak untuk EV impor utuh guna mendorong produksi dalam negeri.
Di garis depan adalah raksasa China, BYD, yang dijadwalkan memulai perakitan lokal di fasilitas barunya senilai RM1,3 miliar (Rp5 triliun) di Tanjung Malim, Perak, pada paruh kedua 2026.
Tanjung Malim juga menjadi lokasi Automotive Hi-Tech Valley, yang dirancang sebagai ekosistem manufaktur berteknologi tinggi dan rantai pasok yang penting untuk mendorong pengembangan kendaraan energi baru serta industri kendaraan generasi berikutnya di Malaysia.
Sementara itu, Chery bersama merek off-road premiumnya, Jaecoo, telah mendirikan pabrik perakitan khusus di Shah Alam, Selangor. GWM (Great Wall Motor) dan XPeng juga menggandeng produsen lokal EP Manufacturing Berhad untuk merakit model setir kanan di Melaka bagi pasar Asia Tenggara.
Pada Februari, Zeekr turut mengonfirmasi rencana perakitan lokal model-modelnya, menjadikan Malaysia sebagai pasar pertama di luar China yang merakit kendaraan tersebut.
Volvo, pelopor di segmen EV, mulai merakit SUV plug-in hybrid XC90 di Malaysia pada 2016, menandai pertama kalinya model ini diproduksi di luar negara asalnya, Swedia.
Meski langkah produsen EV mendirikan basis di Malaysia berdampak positif bagi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, segmen manufaktur EV masih sangat kecil dibandingkan industri otomotif secara keseluruhan, menurut Malaysian Automotive Association (MAA).
Tahun lalu, sebanyak 747.780 kendaraan dirakit di Malaysia, namun hanya 2.888 unit — kurang dari 0,4 persen — yang merupakan EV, kata MAA kepada CNA.
“Ini menegaskan bahwa manufaktur EV belum menjadi mesin utama perekonomian,” ujarnya.
Gelombang investasi EV saat ini, tambahnya, masih terutama menciptakan lapangan kerja di lini perakitan, distribusi, penjualan, serta dukungan manufaktur dasar.
NAIK KE RANTAI NILAI YANG LEBIH TINGGI
Tahap berikutnya dalam penciptaan lapangan kerja akan sangat bergantung pada pergeseran dari lini perakitan dasar ke peran bernilai tambah tinggi dalam “pengembangan teknologi yang lebih mendalam dan manufaktur komponen,” kata MAA.
Perusahaan Malaysia, misalnya, dapat masuk ke bidang strategis desain sirkuit terpadu, ujar Yong Kai Ping, CEO Selangor Information Technology and Digital Economy Corporation, lembaga milik pemerintah daerah.
Desain sirkuit terpadu merupakan tahap “intelektual” dalam merancang dan menghubungkan elemen sirkuit agar menjalankan fungsi tertentu, seperti memperpanjang jarak tempuh EV.
“Selain pengujian dan pengemasan yang kita lakukan saat ini, kami ingin merancang sendiri sirkuit terpadu. Karena jelas lebih menguntungkan (dibanding operasi tahap akhir) dan sangat padat teknologi,” kata Yong.
Menurutnya, proses tahap awal seperti perancangan logika internal chip dapat memberikan margin keuntungan hingga 50 persen, hampir dua kali lipat dibandingkan operasi tahap akhir tradisional seperti perakitan dan pengujian perangkat keras fisik.
Bagi generasi insinyur berikutnya, insentifnya bahkan lebih jelas: gaji lulusan baru di sektor tahap awal mulai dari RM5.000 (Rp21 juta), lebih tinggi dibandingkan RM3.000 (Rp12,8 juta) untuk mereka yang bekerja di perakitan tahap akhir.
Saat ini, ambisi Malaysia di sektor tahap awal mulai terbentuk di kawasan Puchong dan Cyberjaya IC Design Park yang berlokasi di Lembah Klang.
Kawasan ini kini menjadi rumah bagi 15 perusahaan lokal.
Penyewa utama Maistorage merupakan anak usaha Phison dari Taiwan, sementara penyewa lain mencakup perancang semikonduktor Malaysia SkyeChip serta ARM, perusahaan asal Inggris yang menyediakan inti kekayaan intelektual semikonduktor dan teknologi terkait.
Sekitar lima hingga 10 perusahaan tersebut berfokus pada segmen otomotif, merancang chip manajemen daya dan sensor yang dibutuhkan untuk generasi EV berikutnya.
Meski investasi asing langsung tetap menjadi motor penting bagi perekonomian, “keuntungan” sesungguhnya bagi Malaysia terletak pada alih teknologi, ujar Azrul Reza Aziz, CEO Malaysia Automotive, Robotics and IoT Institute, lembaga kunci di bawah Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri.
“Untuk sektor otomotif di sini, kami melihat ke industri hilir,” ujarnya, merujuk pada nota kesepahaman antara perusahaan tambang tanah jarang Lynas dan produsen magnet permanen asal Korea Selatan, JS Link, pada Juli lalu untuk produksi magnet permanen berbasis tanah jarang di Malaysia, dekat fasilitasnya di Kuantan.
Dalam kesepakatan tersebut, keduanya akan berkolaborasi membangun fasilitas produksi magnet neodymium berkapasitas 3.000 ton. Magnet jenis ini digunakan dalam turbin angin dan motor EV.
Menurut Azrul Reza, ada “dua komponen besar” dalam EV, yakni baterai dan motor listrik, yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik untuk menggerakkan kendaraan.
“China menguasai dua komponen ini. Ketika Anda menguasai keduanya, Anda menguasai rantai nilai,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa target Malaysia adalah memproduksi motor listrik sendiri.
“Kami ingin menjadi kekuatan keempat atau kelima dalam ekosistem EV global.”
AKANKAH PERODUA MENJADI PELOPOR?
Dalam langkah bersejarah meninggalkan praktik lama pelabelan ulang mobil asing atau rebadging, produsen mobil Malaysia Perodua baru-baru ini meluncurkan EV pertama yang sepenuhnya dikembangkan di dalam negeri, yaitu QV-E (Quest for Visionary Electric).
Model ini merepresentasikan investasi sebesar RM800 juta (Rp3,4 triliun) dalam riset dan pengembangan lokal serta kekayaan intelektual.
Di bawah NIMP 2030, Perodua ditetapkan sebagai “juara lokal” untuk memimpin produsen otomotif Malaysia dalam pengembangan ekosistem EV domestik.
Meski harga kendaraan ini sekitar RM80.000 (Rp343 juta), biaya baterai tidak termasuk dalam angka tersebut. Sebagai gantinya, pemilik harus berlangganan skema sewa “Battery-as-a-Service” sebesar RM275 (Rp1,2 juta) per bulan.
Model harga “terpisah” ini mendapat respons yang kurang positif dibandingkan Proton, produsen mobil nasional pertama Malaysia.
Dengan memanfaatkan kemitraannya dengan konglomerat otomotif China, Geely, Proton meluncurkan hatchback e.MAS 5 dan SUV e.MAS 7 menggunakan basis kendaraan yang sudah tersedia secara global.
Dengan harga mulai RM60.000 (Rp257 juta), termurah untuk EV di Malaysia, e.MAS 5 menjadi mobil listrik terlaris di negara tersebut pada Januari 2026 dengan penjualan lebih dari 3.000 unit.
Model ini juga masuk dalam lima besar mobil penumpang terlaris di Malaysia pada Januari 2026, menandai pertama kalinya EV menembus peringkat lima besar penjualan nasional.
Sementara Proton telah menjual ribuan unit EV, Perodua QV-E baru mencatat 205 pemesanan sejak peluncurannya pada Desember.
Shahrol Azral Ibrahim Halmi, Presiden Malaysian Electric Vehicle Owners Club, menilai Perodua “harus membayar harga” sebagai pelopor karena membangun kendaraan dari nol, alih-alih mengambil jalan pintas mengadopsi teknologi asing.
Ekosistem EV Perodua saat ini melibatkan 52 pemasok lokal untuk QV-E, dengan target tingkat kandungan lokal mencapai 50 persen pada pertengahan 2026 dan 70 persen pada 2030, menurut perusahaan.
Meski tantangan ke depan tidak ringan, Azrul Reza meyakini upaya Perodua dapat mendorong ambisi industri Malaysia sekaligus melahirkan generasi baru insinyur dan pengembang perangkat lunak.
“Di balik mobil ini ada ratusan insinyur yang pada dasarnya merancang kendaraan dari nol. Itu sesuatu yang patut kita banggakan,” ujarnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.