Skip to main content
Iklan

Asia

'Terasa lebih menyengat': Warga Malaysia dan Indonesia berjibaku dengan panas, pakar nilai suhu akan memburuk

Pengiriman makanan berkurang, sulit fokus di dalam kelas. Warga Asia Tenggara harus mencari cari beradaptasi dengan gelombang panas yang semakin tak tertahankan.

SINGAPURA: Cuaca yang semakin panas belakangan ini semakin sulit diabaikan oleh kurir makanan di Malaysia, Mohd Safarin Jaafar.

"Tidak seperti hari-hari biasanya," kata warga Klang Valley berusia 47 tahun itu kepada CNA melalui telepon.

"Panasnya terasa lebih menyengat, terutama dari tengah sampai menjelang sore."

Untuk menyiasati panas, dia bekerja pada waktu yang lebih sejuk, seperti pagi atau malam hari. Namun dia jadi terpaksa memangkas jam kerja dan jumlah pengantaran harian.

“Salah satu tantangan utama adalah saya lebih cepat lelah. Saya sering merasa dehidrasi dan harus lebih sering beristirahat untuk menghindari risiko kesehatan seperti pusing atau pingsan,” ujar Safarin.

“Biasanya saya bisa mengambil 20 hingga 25 pesanan per hari, tetapi sekarang hanya sekitar 15 hingga 18,” katanya, seraya menambahkan bahwa panas juga membuat makanan lebih cepat basi.

Mohd Safarin Jaafar, 47, telah menjadi pengemudi pengantaran Grab di Klang Valley sejak 2020. (Foto: Mohd Safarin Jaafar)

Malaysia saat ini sedang mengalami gelombang panas, dengan suhu melonjak di atas 37 derajat Celsius di negara bagian seperti Perlis, Perak, dan Kedah.

Pada Senin pekan lalu (23/3), Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) menetapkan ibu kota Kuala Lumpur dalam status peringatan gelombang panas Level 1.

Status ini dikeluarkan ketika suhu maksimum harian berada di kisaran 35 hingga 37 derajat Celsius selama setidaknya tiga hari berturut-turut.

Dalam pernyataan pada 25 Maret, Kementerian Kesehatan Malaysia mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada jam-jam puncak panas antara pukul 11.00 hingga 16.00, serta merencanakan kegiatan luar ruang dengan cermat guna mengurangi risiko penyakit terkait panas.

Paparan panas bisa menyebabkan kelelahan ringan dan sakit kepala hingga kondisi yang lebih serius seperti sengatan panas, dehidrasi, bahkan koma, demikian pernyataan tersebut.

Direktur Jenderal MetMalaysia Mohd Hisham Mohd Anip mengatakan gelombang panas diperkirakan akan berlangsung hingga Juni, dengan suhu mencapai puncaknya antara pertengahan Maret hingga pertengahan April dan dapat menyentuh 38 derajat Celsius, terutama di wilayah utara.

Gelombang panas ini juga mengancam ketersediaan air. Sepuluh bendungan, termasuk Bendungan Muda—waduk terbesar kedua di Kedah—turun ke level “waspada” di bawah 70 persen kapasitasnya, lapor media Malay Mail pada Jumat.

Pekerja kantoran di dekat Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia. (Foto: CNA/Fadza Ishak)

Malaysia tidak sendirian, negara-negara lain di kawasan juga bersiap menghadapi cuaca panas yang tidak biasa.

ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) memperkirakan suhu di sebagian besar wilayah lautan dan daratan Asia Tenggara berada di atas normal antara Maret hingga Mei.

Singapura dalam sepekan terakhir mengalami cuaca yang lebih kering dari biasanya, yang juga menyebabkan suhu meningkat, kata Layanan Meteorologi Singapura (MSS).

Thailand dan Vietnam sama-sama mengalami panas ekstrem pekan lalu. Thailand mencatatkan suhu hingga 40 derajat Celsius di wilayah utara, timur laut, dan tengah, sementara Vietnam bagian utara dan tengah mencatat suhu tertinggi hingga 38 derajat Celsius.

Pusat Prakiraan Hidro-Meteorologi Nasional Vietnam menambahkan bahwa suhu masih bisa meningkat pada awal April.

Seorang pejalan kaki melindungi diri dari terik matahari saat cuaca panas di Bangkok, Thailand, 26 Maret 2026. (Foto: EPA/RUNGROJ YONGRIT)

Malaysia dan Indonesia juga diperkirakan akan mengalami suhu di atas normal dalam tiga bulan ke depan, menurut ASMC.

Suhu di Jakarta mencapai 35,6 derajat Celsius selama pekan libur Hari Raya Idulfitri, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BMKG juga mengatakan tingkat radiasi ultraviolet (UV) juga tercatat berada pada level berbahaya pada 17 Maret. Kondisi ini membuat BMKG mengeluarkan imbauan agar warga membatasi aktivitas luar ruangan demi mengurangi risiko paparan sinar matahari langsung.

Lonjakan suhu sebelumnya juga dilaporkan di wilayah seperti Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, yang mencapai 37,2 derajat Celsius pada 13 Maret, menurut laporan Tempo.

Curah hujan kini kembali terjadi di banyak wilayah Indonesia dan suhu mulai kembali normal, kata Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab kepada CNA pada 26 Maret. Ia menyebut suhu harian normal di Indonesia selama Maret hingga Mei berkisar antara 28 hingga 32 derajat Celsius.

Namun, ia mencatat bahwa beberapa wilayah akan memasuki musim kemarau pada April, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus dan September.

“Pada periode ini, langit umumnya lebih cerah dengan awan yang lebih sedikit, sehingga memungkinkan radiasi matahari maksimal, yang dapat membuat cuaca terasa lebih panas dan lembap,” kata Fachri.

TERLALU PANAS UNTUK BERAKTIVITAS

Cuaca yang lebih panas dari biasanya mulai mengubah rutinitas harian, semakin banyak orang menghindari aktivitas luar ruang dan mencari tempat berpendingin udara.

Yee Ann Jee, 21, mahasiswa di Kuala Lumpur, mengatakan kepada CNA bahwa ia semakin sulit berkonsentrasi saat kuliah dan mengalami biang keringat di leher serta lengan akibat cuaca yang “lebih ekstrem”.

“Saya merasa tetap berkeringat bahkan di ruang kelas ber-AC,” kata Yee, seraya menambahkan bahwa panas juga membuatnya lebih lesu.

Untuk menjaga tubuh tetap sejuk, ia pergi ke pusat kebugaran, yang menurutnya membantu tetap aktif sekaligus menghindari panas.

Yee Ann Jee, mahasiswa yang tinggal di Kuala Lumpur, mengatakan ia senang pergi ke pusat kebugaran untuk tetap aktif sambil menghindari panas. (Foto: Yee Ann Jee)

Di Jakarta, Nisa Ulfikriah, staf museum di Taman Mini Indonesia Indah, melihat jumlah pelanggan dan pengunjung menurun.

“Saya juga menghindari aktivitas di luar ruangan dan jika harus keluar, saya memastikan membawa kipas portabel kecil dan tetap terhidrasi,” ujarnya kepada CNA.

Warga Jakarta lainnya, Sharida Shahnaz Parayeel, 25, mulai mengenakan jaket khusus yang memberikan perlindungan dari sinar ultraviolet serta menggunakan tabir surya saat keluar rumah.

“Cuacanya lebih panas dari biasanya, terasa sangat kering dan memengaruhi rutinitas harian saya,” katanya.

Lebih banyak orang “mengalami sakit seperti radang tenggorokan atau flu” dalam sepekan terakhir, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri, tambahnya.

Sebuah video viral dari Bali menunjukkan petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air kepada para pelancong saat kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk, terminal penyeberangan utama di Bali Barat, selama musim libur Hari Raya pada 15 Maret 2026. (Foto: TikTok/@devialifikiakristianti_)

PENYEBAB PANAS EKSTREM

Panas ekstrem di sejumlah wilayah Asia Tenggara dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, dengan El Nino berperan utama, kata para ahli kepada CNA.

Fenomena iklim alami yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun ini berkaitan dengan pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur—dan biasanya meningkatkan suhu sekitar 0,5 hingga 2 derajat Celsius.

Dampaknya di Malaysia antara lain penurunan level bendungan, kebakaran hutan, dan kabut asap.

Namun para ahli menegaskan bahwa panas saat ini tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari sisa pengaruh El Nino, pola cuaca musiman, dan perubahan iklim.

Mohd Shahrul Mohd Nadzir, dosen senior di Universiti Kebangsaan Malaysia, mengatakan kawasan ini kini berada dalam fase peralihan monsun yang ditandai berkurangnya tutupan awan, tiupan angin yang lebih lemah, dan curah hujan yang lebih sedikit, kombinasi kondisi yang memudahkan panas terakumulasi.

“Kondisi panas saat ini paling tepat dipahami sebagai efek gabungan dari sisa pengaruh El Nino, pola cuaca musiman, dan perubahan iklim yang sedang berlangsung,” ujarnya.

Variabilitas iklim alami kini menambah intensitas panas di atas kondisi awal yang sudah lebih hangat, kata pemerhati lingkungan Renard Siew, penasihat iklim di Cent-GPS, lembaga riset ilmu politik dan perilaku sosial di Kuala Lumpur.

“Kondisi dasarnya telah berubah, dan gelombang panas di masa depan akan bertumpu pada titik awal yang sudah lebih tinggi,” katanya.

Warga berjalan dengan payung untuk melindungi diri dari terik matahari saat cuaca panas di Bangkok, Thailand, 26 Maret 2026. (Foto: EPA/RUNGROJ YONGRIT)

Suhu maksimum harian di Malaysia diperkirakan tetap berada di kisaran 33 hingga 36 derajat Celsius hingga Mei, tambah para ahli.

Kelembapan tinggi juga dapat membuat kondisi terasa lebih panas, meskipun hujan sesekali dapat memberikan rasa lega.

Meski suhu seperti ini bukan hal yang belum pernah terjadi, para ahli mengatakan cuaca panas saat ini menjadi lebih intens, lebih sering, dan berlangsung lebih lama.

“Yang berbeda saat ini adalah konteks terjadinya peristiwa tersebut,” kata Shahrul.

Wilayah perkotaan seperti Kuala Lumpur merasakan dampaknya lebih kuat akibat efek pulau panas perkotaan, di mana kepadatan infrastruktur dan aktivitas manusia telah menjebak udara panas.

Dengan suhu tinggi yang diperkirakan terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, para ahli memperingatkan kondisi kering akan meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah Malaysia dan Indonesia.

Mereka juga menekankan perlunya respons jangka panjang, termasuk sistem peringatan dini yang lebih baik, perencanaan kota yang lebih tangguh terhadap iklim, serta koordinasi regional yang lebih kuat.

DAMPAK PANAS TERHADAP BISNIS

Di Malaysia, pelaku usaha mulai melakukan upaya untuk menghadapi gelombang panas, termasuk memperkuat sistem pendingin dan ventilasi.

Pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur dinilai “masih mampu beroperasi dengan baik” meski kota tersebut tengah berada dalam status peringatan gelombang panas Level 1, kata Malaysia Shopping Malls Association (Persatuan Pengurusan Kompleks/PPK) dalam pernyataan pada 27 Maret.

“Mal mal di Malaysia pada dasarnya telah dirancang dengan sistem pendingin udara yang efisien untuk memastikan kenyamanan di dalam ruangan,” kata PPK, seraya menambahkan bahwa banyak pusat perbelanjaan “tetap beroperasi seperti biasa”.

Mereka juga mencatat tingginya jumlah pengunjung selama libur sekolah dan libur panjang Hari Raya.

Sejumlah mal turut meningkatkan upaya edukasi publik, termasuk melalui “pengumuman rutin yang mengingatkan pengunjung untuk tetap berada di dalam ruangan dan menjaga hidrasi” serta “penyesuaian pengaturan pendingin udara”.

“Beberapa mal juga meningkatkan penggunaan sistem ventilasi dan pembuangan udara, khususnya di area parkir basement, untuk mengeluarkan udara panas dan memperlancar sirkulasi … serta menyiagakan pendingin udara portabel untuk area makan terbuka atau titik dengan lalu lintas tinggi,” tambahnya.

Beberapa perusahaan dan pengelola mal mengatakan pengunjung kini cenderung berlama-lama di dalam ruangan ber-AC untuk menghindari panas.

Timothy Tiah, CEO Colony—perusahaan yang mengelola 16 ruang kerja bersama di kawasan pusat bisnis Kuala Lumpur—mengatakan pelanggan datang lebih awal dan tinggal lebih lama untuk menghindari panas di tengah hari.

“Ruang yang biasanya nyaman kini memerlukan pendingin udara yang konsisten dari pagi hingga malam, terutama di area dengan banyak kaca,” kata Tiah, seraya menambahkan bahwa langkah ini mendorong kenaikan tagihan listrik.

Pendinginan ruangan menjadi “salah satu faktor biaya terbesar” dan “bahkan penyesuaian kecil” dapat berdampak signifikan, ujarnya.

Meski tidak melakukan perubahan drastis, Tiah mengaku telah melakukan sejumlah penyesuaian, seperti menurunkan suhu di area kerja utama, memprioritaskan pendinginan di area padat dan terpapar matahari, serta memantau titik-titik panas seperti ruang rapat dan meja dekat jendela.

Timothy Tiah, Direktur Utama Colony, ruang kerja bersama dan jaringan, mengatakan bahwa ruang-ruang yang biasanya nyaman kini membutuhkan pendingin udara yang menyala terus-menerus dari pagi hingga malam. (Foto: Timothy Tiah)

Tiah juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari pekan lalu, sistem pendingin udara di empat dari 16 lokasinya sempat mengalami gangguan—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meski penyebabnya belum pasti, ia menduga hal itu terjadi akibat penggunaan AC yang meningkat di tengah cuaca panas.

Penggunaan AC dalam waktu lama dapat memberi beban tambahan pada sistem dan meningkatkan risiko kerusakan.

Di Kuala Lumpur, aktivitas konstruksi tetap berjalan meski dilanda gelombang panas, karena kontraktor dan perusahaan berupaya memenuhi jadwal yang ketat.

Kontraktor Foo Ah Fook, 68, mengatakan para pekerja didorong untuk tetap terhidrasi sepanjang hari.

Mereka dapat “bekerja lebih santai” jika memungkinkan, namun karena “jadwal tetap tidak berubah”, mereka sering tidak punya pilihan selain harus terus bekerja, ujarnya.

Foto Sunway Pyramid saat senja, sebuah pusat perbelanjaan besar di Lembah Klang. (Foto: Sunway Malls)

HC Chan, direktur pelaksana Sunway Malls—yang mengelola Sunway Pyramid di Petaling Jaya dan Sunway Carnival Mall di Penang—mengatakan iklim tropis Malaysia menjadi faktor utama dalam desain dan operasional pusat perbelanjaan.

Langkah-langkah penanganan panas mencakup pengaturan ulang aliran udara di area padat, mengubah area umum menjadi ruang duduk, penggunaan kipas pendingin besar, serta memindahkan pekerjaan luar ruang ke waktu yang lebih sejuk seperti pagi atau sore.

“Fokusnya tetap pada penyempurnaan operasional agar sistem dapat bekerja efisien di tengah suhu tinggi yang berkepanjangan,” kata Chan.

Selain peningkatan ventilasi di area parkir, penggunaan air lock —ruang tertutup kecil seperti pintu ganda di pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, dan rumah sakit— membantu mencegah udara dingin keluar dan udara panas masuk, tambahnya.

Staf mal juga dibekali pakaian khusus berbahan dry-fit agar tetap nyaman di tengah cuaca panas dan lembap.

Siew, penasihat iklim di Cent-GPS, menambahkan bahwa kondisi ini kemungkinan akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan selama El Nino masih aktif.

“Namun yang lebih penting, bahkan ketika fase ini menurun, kita kemungkinan tidak akan kembali ke kondisi yang dulu kita anggap ‘normal’,” ujarnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ew)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan