Imbas tren medsos? Mengapa Malaysia perketat aturan pendakian dan apa dampaknya bagi pendaki
Malaysia memperketat aturan pendakian setelah meningkatnya kasus orang hilang di pegunungan. Para pakar mengaitkan peningkatan kasus ini dengan pendaki yang meremehkan risiko demi membuat konten menarik untuk media sosial.
Pendaki sekaligus kreator konten Nur Fatin Amira (kiri) dan pendiri So Hikers Malaysia Khor Phor Xiang saat masing-masing mendaki Gunung Kinabalu di negara bagian Sabah, Malaysia. (FOTO: Nur Fatin Amira, Khor Phor Xiang)
SINGAPURA: Bagi Nur Fatin Amira, 29, rencana mendaki pegunungan di Malaysia kini membutuhkan persiapan logistik yang lebih matang setelah pihak berwenang memberlakukan aturan baru untuk meningkatkan keselamatan.
Langkah ini diambil menyusul meningkatnya operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang memakan biaya besar. Banyak pendaki dilaporkan hilang setelah mengikuti tren media sosial, seperti menjajal jalur tidak resmi atau menuntaskan dalam waktu singkat pendakian yang biasanya memakan waktu beberapa hari.
Pendakian yang sebelumnya bisa dilakukan dalam sehari kini harus ditempuh selama beberapa hari demi keselamatan. Fatin mengatakan, perubahan ini akan memengaruhi seberapa sering ia bisa melakukan pendakian semacam itu.
"Aturan baru memang berdampak pada saya. Mengatur waktu dengan jatah cuti tahunan jadi lebih sulit dan biayanya juga naik, karena pendakian yang lebih lama biasanya berarti pengeluaran lebih besar," kata Fatin, warga Sabah yang bekerja di industri manufaktur, kepada CNA.
Meski demikian, komunitas pendaki, termasuk Fatin, menyambut baik peraturan-peraturan baru tersebut, meski mereka memperkirakan biaya akan meningkat dan rencana perjalanan pendakian harus berubah.
Di antara peraturan barunya adalah larangan pendakian sehari atau pendakian kilat, kewajiban menggunakan pemandu gunung di 189 lokasi berisiko tinggi, serta prosedur pemeriksaan pendaki sebelum memulai pendakian.
Menjawab pertanyaan CNA, Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Alam (NRES) Malaysia Arthur Joseph Kurup pada 14 Agustus mengatakan, lokasi-lokasi tersebut dikategorikan "berisiko tinggi" berdasarkan sejumlah faktor, "termasuk jarak, durasi pendakian, tingkat kesulitan, medan, kondisi jalur, dan catatan insiden sebelumnya".
Pendaki yang mengajukan izin untuk lokasi-lokasi tersebut kini diwajibkan menggunakan Pemandu Gunung Perhutanan (MGP) sebagai salah satu syarat, tambahnya.
"Langkah ini bertujuan mengurangi insiden akibat kelelahan fisik ekstrem, meminimalkan risiko kecelakaan, dan mengurangi frekuensi operasi SAR," kata Arthur.
Jalur dan gunung yang tercakup dalam aturan baru itu antara lain Gunung Korbu dan Gunung Gayong, serta jalur Trans Titiwangsa di Perak, Trans Naning di Negeri Sembilan, Gunung Yong Belar di Pahang, dan Gunung Chemendong di Johor.
Menurut Arthur, Departemen Perhutanan Semenanjung Malaysia yang berada di bawah kementeriannya bekerja sama dengan departemen perhutanan negara bagian dan pemangku kepentingan terkait lainnya untuk merampungkan penerapan prosedur pemeriksaan sebelum pendakian.
Sementara itu, salah satu perusahaan penyelenggara pendakian yang diwawancarai CNA mengakui aturan baru tersebut dapat membuat biaya bagi pendaki meningkat.
"Biaya paket mungkin akan sedikit naik ... tetapi ini harga kecil yang perlu dibayar demi meningkatkan keselamatan," kata Yeo Ching Khee dari X-Trekkers yang berbasis di Singapura dan menyelenggarakan ekspedisi pendakian, termasuk ke Malaysia.
Bulan lalu, Wakil Menteri NRES Syed Ibrahim Syed Noh mengatakan di parlemen bahwa sebagian pendaki tidak melakukan persiapan yang memadai sehingga meningkatkan risiko kedaruratan.
Pada Juni, Syed Ibrahim, dikutip media lokal, mengatakan, sebanyak 1.059 kecelakaan pendakian, termasuk 63 kematian dan 87 kasus cedera, tercatat di Malaysia antara 2021 dan 2025.
Secara terpisah, Malaysia mencatat 52 kasus pendaki tersesat yang melibatkan 114 orang dalam lima bulan pertama tahun ini, naik hampir 30 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, menurut data Departemen Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Malaysia.
‘BIAYA LEBIH TINGGI, RENCANA PERJALANAN LEBIH PANJANG’
Pendakian kilat adalah pendakian yang biasanya memakan waktu beberapa hari tetapi dituntaskan dalam waktu jauh lebih singkat, terkadang dalam 24 atau 36 jam, kata Mohamad Azuan Abdullah, ketua Asosiasi Pemandu Gunung Perhutanan Malaysia (PMGP).
Sejumlah negara bagian, termasuk Perak, Kelantan dan Selangor, telah mulai memperketat aturan mereka.
"Departemen perhutanan negara bagian lainnya saat ini sedang mengkaji penerapan langkah-langkah ini dan akan mengumumkannya pada waktunya," kata Menteri NRES Arthur kepada CNA.
Setiap negara bagian di Semenanjung Malaysia memiliki undang-undang kehutanan sendiri dan kewenangan untuk mengelola kawasan hutan lindungnya, termasuk mengatur kegiatan pendakian, tambahnya.
Pada Juni, Departemen Perhutanan Perak melarang pendakian sehari dan pendakian kilat di tujuh jalur berisiko tinggi, setelah ramainya sorotan pada kasus Jaslinda Saludin, pendaki berusia 49 tahun yang hilang di hutan selama hampir dua pekan.
Jaslinda saat itu berusaha menuntaskan jalur Trans Spencer Chapman, salah satu dari tujuh jalur yang kini dibatasi oleh pihak berwenang Perak.
Jalur Trans Spencer Chapman, yang mencakup Gunung Bah Gading, Gunung Kak, dan Gunung Batu Putih di Perak, kini harus ditempuh dalam waktu sedikitnya lima hari, menurut departemen perhutanan negara bagian tersebut.
Pendaki biasanya membutuhkan dua hingga empat hari untuk menuntaskan jalur berat yang dikenal dengan medan hutan lebat itu, meski ada yang mencoba menyelesaikannya hanya dalam waktu 24 jam lebih sedikit, menurut media lokal.
Jalur lain yang dikategorikan berisiko tinggi oleh Departemen Perhutanan Perak, antara lain, Trans Beratih yang mencakup Gunung Berapit, Gunung Rayu, dan Gunung Batu Putih, yang kini membutuhkan waktu sedikitnya empat hari untuk dituntaskan, serta Trans Slim yang membutuhkan minimal tiga hari.
Operator pendakian X-Trekkers memperkirakan, sejumlah rencana perjalanan akan berubah.
Yeo, direktur X-Trekkers, mengatakan, pendakian "trans" dari satu titik ke titik lain atau pendakian beberapa puncak yang sebelumnya dilakukan dalam sehari kemungkinan harus diperpanjang menjadi dua hari satu malam.
Yeo mencontohkan, jalur Trans CBR di Kluang, Johor, yang mencakup Gunung Chemendong, Gunung Belumut dan Gunung Gua Rimau, sebagai salah satu pendakian yang mungkin harus disesuaikan dengan aturan baru. Jalur tersebut biasanya dituntaskan dalam sehari.
"Biaya paket juga mungkin sedikit naik jika rasio pemandu terhadap pendaki diperketat atau jika menginap diwajibkan untuk puncak-puncak tertentu," tambah Yeo.
Selain durasi pendakian dan kewajiban menggunakan pemandu, pemerintah Malaysia juga memperketat prosedur pemeriksaan sebelum pendakian. Salah satu rencana pemerintah yang masih dalam tahap finalisasi adalah mengintegrasikan proses verifikasi kesehatan berjenjang langsung ke dalam sistem pengajuan izin kehutanan, kata Menteri NRES Arthur kepada CNA.
"Pemohon diwajibkan mengisi formulir pernyataan mandiri digital yang mencantumkan kondisi kesehatan terkini dan penyakit bawaan yang dimiliki (seperti asma, penyakit jantung atau alergi berat) sebelum izin disetujui."
Untuk mendapatkan izin, pendaki juga harus mengunggah bukti polis asuransi kecelakaan diri atau perjalanan yang masih aktif dan secara khusus mencakup kegiatan luar ruangan serta evakuasi darurat.
Menteri mengatakan, departemen perhutanan negara bagian akan bertanggung jawab menegakkan protokol baru tersebut.
Setelah diberlakukan, petugas kehutanan akan melakukan pemeriksaan acak di titik awal jalur untuk memastikan semua pendaki memiliki izin yang sah, yang sekaligus menjadi bukti bahwa pernyataan kesehatan dan perlindungan asuransi mereka telah diverifikasi.
Azuan dari asosiasi pemandu gunung mengatakan, langkah-langkah tersebut pada tahap awal akan menambah biaya dan persyaratan administratif.
"Pihak berwenang dapat mempertimbangkan fleksibilitas yang lebih besar bagi pendaki berpengalaman melalui permohonan khusus atau izin bersyarat untuk lokasi-lokasi berisiko tinggi ini," katanya.
Dari sudut pandang penyelenggara, ada beragam faktor yang menentukan apakah sebuah jalur tergolong berisiko tinggi, kata Yeo dari X-Trekkers kepada CNA.
Faktor tersebut, antara lain, jalur yang tidak terawat atau "jalur liar" yang ditumbuhi vegetasi lebat, jalur tidak resmi yang bercabang dari rute utama dan membuat pendaki mudah tersesat, serta minimnya rambu yang jelas, katanya.
Medan yang sangat teknis, termasuk tanjakan curam yang harus dilalui dengan bantuan tali, punggungan berlumut atau beberapa penyeberangan sungai yang rawan banjir bandang, juga dapat meningkatkan risiko, tambahnya.
Yeo juga mengatakan, lokasi yang terpencil menjadi faktor lain, terutama pada rute tanpa jaringan seluler atau yang berjarak jauh dari fasilitas medis terdekat.
PENGARUH TREN MEDIA SOSIAL
Namun, selain tingkat kesulitan teknis jalur pendakian, Azuan dari asosiasi pemandu gunung mengatakan, pengaruh media sosial kini menjadi tantangan lain bagi para pemandu.
Kantor berita pemerintah Bernama sebelumnya melaporkan, para pakar mengatakan bahwa keadaan darurat di pendakian terjadi lantaran banyak pendaki ingin membuat konten menarik untuk medsos mereka, namun meremehkan risiko yang ada.
Di antara tren medsos yang menjadi sorotan adalah "pendaki ekspres" yang ingin menaklukkan sebanyak mungkin puncak karena takut ketinggalan tren.
Azuan mengatakan kepada CNA bahwa tren tersebut semakin terlihat, terutama di kalangan pendaki pemula.
"Banyak pendaki ingin meniru pengalaman yang mereka lihat di media sosial, entah mengejar pemandangan tertentu, mencoba mencatat waktu tercepat, atau menaklukkan sebanyak mungkin puncak dalam waktu singkat," katanya.
Azuan mengatakan, sebagian pendaki tersebut terdorong oleh keinginan membuat konten media sosial tanpa memiliki kesiapan fisik, keterampilan, atau pengalaman yang memadai.
"Terkadang, mereka juga mengabaikan tanda-tanda peringatan dari tubuh mereka sendiri dan tidak mengikuti instruksi pemandu gunung."
Khor Phor Xiang, pendiri komunitas pendaki lokal So Hikers Malaysia, mengatakan, meski media sosial telah mendorong lebih banyak orang menjelajah alam dan aktif bergerak, ia juga menemui pendaki yang "terlalu fokus untuk mendapatkan foto atau video yang sempurna".
"Kami pernah melihat pendaki memanjat melewati pagar pengaman, berdiri terlalu dekat dengan tepi tebing, atau kehilangan fokus saat merekam konten," kata Khor kepada CNA.
Kekhawatiran lain yang disoroti Khor adalah anggapan keliru bahwa suatu jalur "mudah" hanya karena seseorang di media sosial menyebutnya demikian atau karena orang lain terlihat bisa menuntaskannya tanpa kesulitan.
"Pada kenyataannya, setiap pendakian berbeda-beda tergantung cuaca, kondisi jalur, tingkat kebugaran, dan pengalaman mendaki," katanya.
Bagi Fatin, pendaki asal Sabah, membuat konten tidak boleh mengorbankan keselamatan.
Aktif mendaki sejak 2023, ia telah menaklukkan sejumlah puncak di Sabah dan Semenanjung Malaysia, termasuk Gunung Kinabalu, Gunung Sinsing, Gunung Yong Yap, dan Gunung Yong Belar.
"Saya tidak mendekati tepian atau tempat berbahaya hanya demi foto atau video, dan saya selalu menerapkan sistem berpasangan, bahkan ketika mendaki bersama orang yang tidak saya kenal," kata Fatin, yang juga seorang kreator konten.
"Saya selalu mengikuti pemandu dan tidak pergi sendiri. Untuk pendakian lebih dari lima jam, saya juga membawa walkie-talkie."
Sebelum setiap pendakian, Fatin mengatakan, ia mempelajari rute, memeriksa cuaca, dan memastikan membawa kotak P3K, makanan yang cukup serta perlengkapan darurat.
Selain pengaruh media sosial, operator perjalanan juga harus menghadapi apa yang disebut Direktur X-Trekkers Yeo sebagai "demam puncak", yakni ketika pendaki begitu bertekad mencapai puncak hingga enggan turun meski kondisi sudah tidak aman.
Bagi kelompok yang datang dari Singapura, keterlambatan satu jam saja di imigrasi dapat mengurangi waktu pendakian sebelum hari gelap, katanya, sehingga pemandu harus tegas memberlakukan batas waktu untuk berbalik.
"Pendaki menginvestasikan waktu dan uang untuk mendaki dan sangat termotivasi mencapai puncak. Ketika pemandu lokal meminta mereka berbalik karena hari mulai gelap atau kondisi cuaca, pendaki sering menganggap pemandu itu 'malas' atau tidak mau menjalankan tugasnya," kata Yeo.
Mengelola ketegangan ini sekaligus memastikan pendaki mematuhi batas-batas keselamatan menjadi tantangan bagi operator, tambahnya.
Menteri NRES Arthur menyarankan pendaki internasional, termasuk dari Singapura, merencanakan perjalanan akhir pekan mereka dengan baik.
Ia mengatakan, kebanyakan dari mereka berusaha memasukkan perjalanan pendakian ke dalam akhir pekan yang hanya dua hari sehingga cenderung menuntaskan rute yang membutuhkan waktu lama dalam durasi singkat.
"Rencanakan perjalanan Anda sesuai durasi resmi yang direkomendasikan untuk jalur tersebut," katanya dalam tanggapan kepada CNA.
‘KESELAMATAN ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA’
Pada akhirnya, keselamatan dalam pendakian merupakan tanggung jawab bersama pihak berwenang, penyelenggara, pemandu gunung, dan pendaki sendiri, kata sejumlah anggota komunitas pendaki kepada CNA.
"Pihak berwenang dapat menyediakan kerangka aturan, penyelenggara dapat mendorong praktik yang baik, dan pendaki sendiri harus mengambil keputusan secara bertanggung jawab," kata Khor.
Perbaikan yang mereka usulkan, antara lain, peningkatan infrastruktur jalur, termasuk standardisasi rambu penunjuk arah dan pembersihan pohon tumbang secara rutin.
"Ini akan secara drastis mengurangi jumlah pendaki yang tersasar ke jalur satwa tidak resmi yang berbahaya," kata Yeo.
Mereka juga mengusulkan agar sistem perizinan dan informasi pendakian di Malaysia semakin terpusat dan terdigitalisasi.
Azuan mengatakan, platform digital terpusat dapat mencatat dan melacak pergerakan pendaki dengan lebih akurat, mempermudah pemantauan dan membantu operasi SAR dalam keadaan darurat.
Yeo juga mengatakan, portal terpusat dapat menyediakan informasi secara real-time mengenai penutupan jalur dan prosedur operasi standar resmi.
Saat menjelaskan aturan yang lebih ketat itu di parlemen, Wakil Menteri NRES Syed Ibrahim mengatakan, pemerintah tengah mengembangkan solusi berbasis teknologi, termasuk platform pengelolaan jalur pendakian berbasis Sistem Informasi Geografis.
Uji coba penggunaan perangkat pelacak GPS bagi pendaki juga sedang dilakukan, lapor Bernama.
Orang-orang yang diwawancarai CNA juga menekankan bahwa aturan tersebut perlu dibarengi dengan edukasi publik yang lebih luas mengenai keselamatan pendakian.
"Ini harus mencakup hal-hal seperti persiapan fisik, pemeriksaan kesehatan, perlengkapan wajib, manajemen risiko, dan perilaku yang semestinya di kawasan hutan," kata Azuan.
Khor dari So Hikers Malaysia menuturkan, lebih banyak kampanye kesadaran publik mengenai persiapan pendakian, prinsip "Leave No Trace", prosedur darurat dan perilaku bertanggung jawab di alam terbuka akan membantu mengurangi insiden yang sebenarnya dapat dicegah.
Prinsip "Leave No Trace" merupakan pedoman untuk menikmati kegiatan di alam terbuka secara bertanggung jawab sekaligus meminimalkan dampak terhadap lingkungan, seperti membuang sampah dengan benar, tetap berada di jalur yang ditentukan dan menghormati satwa liar.
Sementara itu, Fatin meminta penyelenggara dan pemandu memberikan pengarahan yang memadai kepada pendaki mengenai apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.
"Penyelenggara juga harus bertanggung jawab menyeleksi peserta dengan baik untuk perjalanan yang sulit dan memastikan semua orang masuk-keluar jalur dengan selamat," tambahnya.
Khor menyarankan pendaki membangun pengalaman secara bertahap, dimulai dari jalur yang lebih mudah sebelum mencoba gunung dengan medan lebih teknis atau berisiko lebih tinggi.
"Mendaki bukan perlombaan, selalu ada gunung lain yang bisa didaki," katanya.
"Tidak ada foto atau video yang sepadan dengan nyawa. Selalu utamakan keselamatan, ikuti instruksi pemandu, dan ingat bahwa Anda hanya bisa kembali menjalani petualangan lain jika pulang dengan selamat."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.