'Menjual penderitaan': Ketika live streamer China menjadikan trauma sebagai penangguk cuan
Menjual penderitaan telah menjadi cara ampuh bagi para live streamer China untuk menangguk cuan. Tapi ketika simpati menjadi komoditas, empati perlahan mulai terkikis.
Xie Qingshuai (kiri) dan Yang Niuhua (kanan) adalah sebagian penyintas perdagangan anak yang kini beralih menjadi live streamer di platform Douyin. (Foto: Douyin/Xie Qingshuai, yangniuniu2021)
SINGAPURA: Sekilas, Yang Niuhua tampak seperti live streamer pada umumnya di platform media sosial Douyin, mengobrol dengan penonton sambil mempromosikan berbagai produk secara real time.
Namun, jalan yang ditempuh perempuan 34 tahun ini untuk meraih popularitas terbilang luar biasa.
Pada 1995, Yang diculik dan dijual saat masih anak-anak, sebuah masa lalu traumatis yang diceritakannya kepada jutaan penonton. Di sela-sela promosi produk, ia mengenang kisah hidupnya serta rasa malu yang dulu membekapnya.
“Saat itu, saya tidak ingin tampil di hadapan siapa pun, karena saya merasa jadi korban perdagangan manusia adalah hal yang memalukan,” kata Yang dalam sesi live streaming pada November tahun lalu, ketika ia mempromosikan sepatu olahraga dari sebuah merek asal China.
Lebih dari 60.000 orang menonton siaran langsung itu, dan menurut laporan media China, penjualannya tembus 10 juta yuan (Rp23,5 miliar).
Momen tersebut menjadi titik balik lain dalam hidup Yang, dari penyintas perdagangan anak menjadi aktivis, lalu menjelma figur populer di dunia live streaming China dengan hampir 3 juta pengikut.
“Saya ingin lewat siaran ini, kalian bisa melihat sisi saya yang sesungguhnya, seseorang yang ingin menyentuh hati kalian lewat kata-kata,” ujarnya kepada para penonton. Ia menyebut popularitasnya lahir dari “cinta dan simpati semua orang.”
Kolom komentar pun langsung ramai. Sebagian memuji keberanian dan keteguhannya, tapi tak sedikit pula yang menuding Yang mencari keuntungan dari masa lalunya dan “berusaha menjadi influencer.”
“Saya tidak suka ketika seseorang membangun citra tragis dan menyedot perhatian publik secara berlebihan,” tulis pengguna Douyin bernama Kyo, yang menyebut banyak warga kini bekerja sama mencari anak-anak hilang di seluruh China. “Sementara kamu malah berjualan online.”
“Kemarahan orang muncul karena kamu menggunakan popularitas di internet untuk berjualan,” komentar pengguna lain, Strawberry. “Kalau kamu menggunakan platformmu untuk mengkampanyekan isu perdagangan anak atau hal yang bermanfaat bagi masyarakat, mungkin reaksinya akan berbeda.”
“Yang seharusnya menjadi perhatian kita adalah kasus-kasus perdagangan anak,” tambahnya. “Tidak perlu memberi panggung untuk dia.”
Meski belum ada data resmi, fenomena serupa makin sering muncul: mantan korban kejahatan atau pernah menderita beralih menjadi live streamer, baik untuk membangun kembali hidup mereka maupun sekadar bertahan hidup.
Di China, tren para live streamer yang menceritakan kisah hidup sambil berjualan produk dan menyinggung masa lalu mereka yang kelam dikenal dengan istilah “mai can,” yang secara harfiah berarti “menjual kesedihan.”
Para analis mengatakan kepada CNA bahwa fenomena ini menandai tumbuhnya “ekonomi simpati” di media sosial China, sebuah ruang di mana peristiwa trauma personal bisa menjadi konten sekaligus sumber penghasilan.
Banyak penyiar live stream kini memahami cara kerja algoritma yang mengedepankan keterlibatan emosional, mengubah momen empati menjadi cuan, kata para pakar.
Namun para pengkritik memperingatkan, semakin banyak yang meniru cara ini, penonton menjadi kebal terhadap empati, membuat mereka yang benar-benar mengalami peristiwa buruk justru kesulitan untuk didengar di tengah pasar yang ramai akan kisah penderitaan yang terkurasi.
SELEBRITI YANG MENYATUKAN KELUARGA
Yang lahir di sebuah desa di Provinsi Guizhou, barat daya China. Ia diculik oleh tetangganya saat berusia lima tahun, lalu dijual ke sebuah keluarga di Provinsi Hebei, ribuan kilometer di utara, seharga 3.500 yuan (Rp8,2 juta).
Kasusnya menarik perhatian nasional pada 2021 ketika Yang melapor ke polisi China dan mengungkap kisah penculikannya.
Pelaku, Yu Huaying, dijatuhi hukuman mati atas kasus perdagangan Yang dan 16 anak lainnya antara 1993 dan 2003, dan dieksekusi pada Februari lalu di usia 61 tahun.
Yang berhasil menemukan kembali saudara kandungnya melalui Douyin, versi China dari TikTok, tempat ia aktif membagikan kisah anak-anak hilang lainnya lewat akun @yangniuniu2021.
Dia menceritakan kisah tersebut sambil mempromosikan berbagai produk, mulai dari makanan hingga perlengkapan gaya hidup, pakaian, dan perangkat elektronik seperti keyboard Bluetooth dan tablet.
Di dunia maya, Yang kerap dijuluki “selebriti internet yang menyatukan keluarga.”
Dalam artikel yang diterbitkan Desember lalu oleh Jiupai News, media lokal di Provinsi Hubei, Yang digambarkan sebagai simbol keteguhan dan rekonsiliasi, seseorang yang mampu mengubah tragedi pribadi menjadi perjuangan publik dengan memanfaatkan pengikut media sosialnya untuk meningkatkan kesadaran tentang kasus anak hilang.
Pada September, ia membagikan kisah seorang pria berusia 82 tahun yang menempuh perjalanan dari Hubei ke Hebei untuk mencari anaknya yang hilang tiga dekade silam.
Sementara pada Juni, ia mengunggah video tentang seorang perempuan berusia 31 tahun bernama panggilan Bo Lie, yang mengenang saat dirinya diambil paksa dari nenek dan kakaknya ketika berusia lima tahun.
“Menjadi influencer bukan tujuan akhir saya,” kata Yang kepada Jiupai News. “Saya ingin berbuat lebih banyak dan menjadi cahaya harapan bagi mereka yang mencari orang-orang tercinta yang hilang.”
“Saya percaya, di masa depan akan ada ribuan Yang Niuhua lainnya yang berani maju dan berjuang menuntut keadilan atas pelaku perdagangan manusia, seperti yang saya lakukan,” ujarnya.
Yang Niuhua bukan satu-satunya penyintas perdagangan anak di China yang popularitas di medsos menuai pujian sekaligus kritik.
Xie Qingshuai, yang diculik saat masih bayi pada 1999 dan kemudian bertemu kembali dengan keluarga kandungnya, juga menghadapi komentar negatif di Douyin. Beberapa penonton menuduhnya memanfaatkan trauma masa lalu demi menarik penonton dan meraih keuntungan.
Seorang pengguna Douyin bernama Johnny, yang tinggal di Irlandia, mengunggah video berisi kritik terhadap komunitas “pencari keluarga yang hilang.”
Ia mengatakan, sebagian live streamer telah “mengubah komunitas orang-orang yang berharap bertemu kembali dengan keluarga mereka menjadi kekacauan.”
“Tahu siapa korban terbesar dari semua ini? Orang tua yang masih belum menemukan anak mereka—mereka yang sebenarnya membutuhkan bantuan masyarakat,” ujarnya.
Johnny menambahkan, kini semakin banyak orang enggan mendukung para korban perdagangan anak secara daring, sementara komentar sinis dan bernada negatif justru makin sering bermunculan.
BISNIS EMPATI
Fenomena “menjual kesedihan” tak hanya melibatkan para penyintas perdagangan anak atau mereka yang mencari anggota keluarga yang hilang. Kini, banyak pula blogger yang mengaku mengalami berbagai nestapa untuk kemudian dijadikan konten, mulai dari penyakit berat dan kegagalan usaha hingga pernikahan yang tidak bahagia.
Li Yang, dekan di Cheung Kong Graduate School of Business (CKGSB) di Beijing, mengatakan fenomena ini sebenarnya bukan hal baru.
“Itu fenomena sosial yang sangat umum, memanfaatkan simpati publik,” ujar Li kepada CNA, membandingkannya dengan “mengemis di jalan” dan “program amal di televisi.”
“Ada orang-orang yang benar-benar menderita, itu tak bisa dipungkiri. Tapi sebagian lainnya melebih-lebihkan, bahkan ada yang merekayasa penderitaannya,” tambahnya.
Ashley Dudarenok, pendiri perusahaan riset dan pemasaran China ChoZan, mengatakan bahwa bagi penonton, fenomena ini adalah campuran antara konsumsi moral dan hiburan.
“Mereka bukan sekadar berdonasi, mereka membeli sebuah narasi tentang ketangguhan, dan ikut ambil bagian dalam drama kehidupan nyata,” ujarnya.
“Bagi para live streamer, ini adalah cara memonetisasi trauma, mengubah derita di masa lalu menjadi modal sosial masa kini. Empati pun menjadi bersifat transaksional, di mana dukungan publik bergantung pada besarnya penderitaan dan pemulihan.”
Li menambahkan, kisah tentang perpisahan dan pertemuan kembali keluarga merupakan salah satu tema paling kuat dalam menarik perhatian di media sosial.
“Pencarian anggota keluarga yang hilang adalah tema universal yang menyentuh siapa pun,” katanya.
“Cerita-cerita pribadi seperti ini biasanya menarik jauh lebih banyak penonton dibandingkan narasi kesulitan lain, seperti hidup dengan disabilitas atau pemulihan dari cedera berat.”
Li menambahkan, media sosial telah “memperluas jangkauan dan dampak” dari jenis konten semacam ini, memungkinkan kisah-kisah emosional “menyebar lebih cepat dan lebih luas dari sebelumnya.”
“Seseorang yang membagikan pengalamannya sebagai korban perdagangan manusia bisa membangun hubungan yang dekat dan interaktif dengan penonton,” kata Li.
“Penonton merasa seolah penyiar itu teman mereka, dan teman harus dibantu. Dalam beberapa hal, ini menjadi semacam bentuk penebusan,” tambahnya.
Samuel Kwok, profesor di Universitas Xi’an Jiaotong-Liverpool yang berbasis di Suzhou, mempertanyakan apakah penggunaan penderitaan pribadi sebagai alat untuk mendorong penjualan bisa bertahan lama.
Menurutnya, strategi semacam itu mungkin dapat menarik pembelian karena rasa simpati, tetapi tidak memiliki nilai jangka panjang jika produk yang dijual tidak benar-benar sesuai dengan kebutuhan konsumen. Ia menambahkan, tren ini kerap melahirkan banyak tiruan, dengan kisah-kisah serupa bermunculan hingga akhirnya penonton tidak berminat lagi.
“Strategi ini memang efektif—dan dalam semalam, bisa muncul banyak kisah serupa,” ujarnya.
“Tapi pada akhirnya, orang akan jenuh dengan pendekatan seperti ini.”
Dudarenok menyebut kejenuhan itu sebagai “efek kejenuhan belas kasih”.
Ia menjelaskan, meskipun konten semacam ini pada awalnya dapat menarik perhatian terhadap isu-isu yang sering terabaikan, lambat laun penderitaan menjadi komoditas ketika semakin banyak orang memonetisasi trauma mereka.
“Seiring waktu, perhatian publik menjadi sumber daya yang terbatas,” katanya.
“Cerita yang paling dramatis atau dikemas paling apiklah yang menang, sering kali menenggelamkan kampanye kesadaran yang benar-benar tulus, tapi tidak memiliki daya produksi atau emosi sebesar itu.”
KETIKA SIMPATI DIEKSPLOITASI
Meski siaran live streaming dengan muatan emosional kerap menarik perhatian, para ahli memperingatkan bahwa kepercayaan publik bisa runtuh bila terbukti para penyiar melebih-lebihkan atau bahkan merekayasa kisah mereka.
Pada November tahun lalu, laporan investigasi TV nasional China, CCTV, mengungkap bahwa seorang figur internet bernama Xiao Xiao memalsukan kisah hidup tragisnya demi menarik simpati dan meningkatkan penjualan melalui siaran e-commerce.
Menurut polisi di Shenyang, ibu kota Provinsi Liaoning di timur laut China, Xiao mengaku ditelantarkan oleh orang tua kandungnya dan dibesarkan oleh ibu angkat serta neneknya.
Ia bercerita bahwa neneknya meninggal karena sakit, sementara kakak perempuannya tewas dalam kebakaran. Xiao juga mengklaim bahwa ibunya mengalami gangguan mental setelah tragedi itu, sementara ayah angkatnya mengambil uang santunan dan menolak menafkahinya.
Kisah “tragis” itu tak berhenti di situ. Xiao menambahkan bahwa ibunya kemudian terluka dalam kecelakaan mobil, dan meskipun ia telah melapor ke polisi, kasus itu disebut tidak pernah terpecahkan.
Namun, penyelidikan kemudian membuktikan bahwa seluruh kisah itu tidak pernah terjadi. Polisi menemukan Xiao telah merekayasa berbagai cerita. Ia akhirnya ditangkap pada September tahun lalu karena membuat sejumlah laporan palsu.
Kasus ini, kata Kwok, menunjukkan bagaimana praktik “menjual kesedihan” bisa memancing tiruan sekaligus penipuan.
“Ketika penonton mengetahui bahwa kisah penderitaan itu palsu, mereka merasa dikhianati dan menarik dukungan mereka,” ujarnya.
“Begitu orang tahu ceritanya tidak benar, mereka marah dan berhenti percaya,” tambahnya.
Li menilai, hilangnya kepercayaan ini bisa berdampak luas bagi masyarakat.
“Ketika fenomena seperti ini terlalu meluas, kepercayaan sosial menjadi mudah terkikis,” katanya.
Ia juga menyoroti tanda-tanda kejenuhan di kalangan penonton, seiring makin seringnya muncul konten yang “menjual kesedihan.”
“Kisah tentang pencarian anggota keluarga yang hilang kini ada di mana-mana,” ujarnya.
“Publik menjadi kebal; hal yang dulu terasa tragis kini tak lagi menyentuh seperti sebelumnya.”
Menurutnya, isu keaslian juga semakin krusial.
“Tidak mungkin memverifikasi kebenaran setiap klaim. Tapi ketika ada yang kelewatan batas—entah dengan meminta sumbangan atau berjualan lewat live streaming—hal itu bisa dengan mudah menyeberangi garis etika.”
PENERTIBAN FENOMENA “MENJUAL KESEDIHAN”
Pemerintah China kini memperketat pengawasan terhadap industri live streaming.
Akhir bulan lalu, Administrasi Dunia Maya China (Cyberspace Administration of China/CAC) meluncurkan kampanye dua bulan untuk memperketat pengawasan terhadap fitur saweran di live streaming serta menindak praktik daring menyesatkan seperti rekayasa penderitaan atau kekerasan demi menarik perhatian publik.
Dalam laporan terpisah yang diterbitkan pada September oleh China Consumer Journal —media di bawah Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar—otoritas memperingatkan bahwa sejumlah “oknum tak bertanggung jawab” memanfaatkan kisah tragedi pribadi untuk menarik simpati dan meningkatkan trafik internet.
Laporan itu juga mengungkap bahwa beberapa agensi multi-channel network (MCN) mendatangi daerah pedesaan untuk merekrut lansia yang hidup dalam kesulitan ekonomi.
Dengan dalih “membantu keluar dari kemiskinan”, mereka menandatangani perjanjian kerja sama lalu menciptakan persona “tragis” yang dilebih-lebihkan atau bahkan direkayasa untuk mendongkrak penjualan daring.
Meski jadi sasaran kritik, Yang, penyintas penculikan yang kini menjadi live streamer, menyuarakan ketidaksenangannya terhadap gelombang kemarahan publik yang ditujukan padanya.
“Saya tidak tahu dari mana datangnya kemarahan itu,” ujarnya dalam salah satu siaran langsung.
“Apakah karena saya merebut rezeki orang lain? Karena saya dianggap kurang membawa ‘energi positif’? Atau karena dulu orang merasa kasihan pada saya, tapi ketika saya mulai bangkit, mereka malah ingin menjatuhkan saya?”
Yang masih rutin tampil di Douyin, bahkan menanggapi para pengkritiknya dengan nada menantang.
“Pada akhirnya kalian juga akan jadi penggemar berat saya,” ujarnya dengan nada bercanda dalam salah satu siaran terbarunya.
Sementara sebagian orang masih meragukan motifnya, tak sedikit pula yang membelanya.
“Orang tetap butuh belanja, dan mereka bebas memilih membeli dari siapa pun,” tulis pengguna Douyin bernama Xiaoyumi saat membela Yang di kolom komentar.
Pengguna lain dengan nama akun Jing menilai bahwa keputusan Yang terjun ke dunia live streaming bukan karena ambisi, melainkan karena keadaan.
“Kalau bukan karena (penculiknya) Yu Huaying, Yang mungkin bisa kuliah di universitas ternama, menjadi peneliti atau dokter,” tulisnya.
“Ia tak perlu mengalami kesulitan seperti ini atau mendapat sorotan saat melakukan live streaming.”
Perdebatan seputar “ekonomi simpati” ini menunjukkan bagaimana rasa belas kasih publik kini telah berubah menjadi sumber daya yang perlu dikelola.
“Simpati publik adalah sumber daya yang terbatas, dan ketika dieksploitasi berlebihan, ada konsekuensi yang tak bisa dihindari,” ujar Li.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.