Kuasa China: Demam C-drama melanda, budaya pop Tiongkok mulai menggeser Korea dan Jepang
Dalam serial kuasa China kali ini, CNA mengulas bagaimana drama dan animasi yang kian digandrungi berhasil mengubah persepsi publik Asia Tenggara mengenai Tiongkok.
Sebuah acara fans di Thailand pada tahun 2019 untuk drama populer Tiongkok, The Untamed, yang dibintangi oleh Wang Yibo dan Xiao Zhan. (Foto: Weibo/The Untamed)
SINGAPURA: Seorang permaisuri muda nan cerdik dari China melakukan petualangan epik untuk mencari keadilan dan membalas dendam terhadap orang-orang yang telah menghancurkan kerajaannya.
Alur cerita dari drama Tiongkok populer tahun 2016 berjudul "The Princess Weiyoung" inilah yang membuat Nadhiroh Napri ketagihan menonton drama China alias C-drama.
Dari awalnya hanya iseng-iseng, perempuan Malaysia berusia 27 tahun ini malah jadi ketagihan menonton C-drama. Sejak saat itu pula, dia belajar bahasa Mandarin dan ingin sekali mengunjungi China.
"Suka banget. Dulu saya sampai lupa mengerjakan tugas-tugas sekolah karena keasyikan maraton film ini," katanya kepada CNA.
Penggemar C-drama lainnya, Cheryl Goh, warga Singapura berusia 27 tahun, menyukai genre romantis seperti "Till the End of The Moon" (2023), yang dibintangi aktor favoritnya, Luo Yunxi.
"Para selebriti China ini yang membuat kami ingin menontonnya," kata Goh. "(Setelah) menonton, saya mulai menyukai dan mengikuti mereka."
"C-drama kadang lebih mudah dipahami dibandingkan serial Korea atau Jepang ... tidak ada hambatan bahasa," tambah Goh, yang merupakan keturunan Tionghoa.
"Cerita-ceritanya cukup menarik, (menampilkan unsur-unsur) budaya tradisional Tiongkok, permainan kata, dan festival-festival (budaya)."
Dari teknologi AI dan aplikasi media sosial seperti DeepSeek, TikTok, dan Xiaohongshu hingga film animasi pemecah rekor jumlah penonton serta mainan dan koleksi yang banyak diburu, China semakin memanfaatkan tren dan teknologi baru untuk memperkuat soft power mereka.
Para pakar mengatakan, strategi ini penting bagi Beijing dalam membentuk persepsi di kawasan Asia Tenggara dan secara halus membangun pengaruh, terutama di saat ketidakpercayaan terhadap mereka meningkat akibat sengketa wilayah dan ketegangan geopolitik.
EKSPOR BUDAYA CHINA
Dengan memadukan sejarah, budaya, bahasa, dan nilai-nilai Tiongkok, C-drama telah menjadi ekspor budaya yang utama bagi China.
Biasanya bertema romansa dan sejarah Tiongkok, serial yang bisa ditonton secara maraton ini kian populer di kalangan penonton baru di Asia Tenggara.
Drama seperti "Legend of Shen Li" (2024), yang dibintangi aktris veteran Zhao Liying sebagai jenderal China yang melarikan diri dari perjodohan, dinilai berhasil menciptakan peminat tersendiri di kalangan penonton regional, ujar Gwendolyn Yap, penerima beasiswa Tun Dato Sir Cheng-Lock Tan MA di ISEAS Yusof-Ishak Institute, Singapura.
"Penonton selalu mencari hal baru untuk dikonsumsi," kata Yap, seraya menambahkan bahwa sebagian orang mungkin juga merasa "bosan menonton" drama Korea.
Formula C-drama yang menggabungkan alur cerita historis dan visual yang memukau telah membuat Nadhiroh gandrung. Dia merasa konten Tiongkok "lebih akrab dan mudah diakses" dibandingkan acara dari Korea Selatan.
"Sebagai orang Asia Tenggara, budaya China bukan hal yang asing bagi saya," katanya. "Ada (kisah sejarah) yang bagus dan karakter-karakter yang membangun plot."
Popularitas drama Hong Kong dan Taiwan pada awal 2000-an membuka jalan bagi kesuksesan C-drama di Asia Tenggara, kata Yap. "C-drama memiliki posisi yang baik bagi penonton regional."
"Drama populer dari Hong Kong dan Taiwan telah lebih dulu membentuk penonton di masa lalu, menciptakan rasa nostalgia dan keakraban sehingga membuat C-drama lebih mudah diterima oleh penonton regional."
Acara seperti "Meteor Garden" pada tahun 2001 secara tidak langsung telah melesatkan karier empat aktor utamanya yang kemudian membentuk boyband F4 serta meninggalkan jejak budaya yang mendalam.
Tran Hoang Bao Chau, perempuan berusia 27 tahun dari Kota Ho Chi Minh, tumbuh besar dengan menonton drama Hong Kong dan film laga China.
"(Acara-acara itu) membentuk persepsi saya tentang China," katanya kepada CNA.
Salah satu yang disinggung Tran adalah C-drama "Wild Bloom" (2022) menggambarkan perjuangan para pengusaha China pada era 1990-an. "Film ini menunjukkan bagaimana orang-orang dari kelas bawah berjuang keras," katanya.
Kehidupan para karakter terasa begitu "hidup dan nyata", tambahnya. "Saya kadang seperti melihat diri sendiri dalam karakter mereka."
Yap mengatakan bahwa ekspansi budaya ini adalah cara China melakukan diplomasi budaya dan mengangkat nilai-nilai mereka ke kawasan.
"Melalui kebijakan dalam negerinya, pemerintah China telah mempermudah produsen lokal untuk berkembang dan mengembangkan teknologi untuk menciptakan konten berkualitas.”
Namun menurut Yap, ekspansi regional, termasuk menciptakan platform streaming dan mempromosikan drama serta animasi, adalah inisiatif dari perusahaan hiburan, bukan karena campur tangan pemerintah China.
"Meningkatnya popularitas drama China di kawasan didasarkan pada keputusan perusahaan, dan negara tidak campur tangan,” kata Yap.
Ia mencontohkan C-drama populer "The Untamed" yang dibintangi aktor terkenal Xiao Zhan dan Wang Yibo sebagai salah satu pembuka jalan bagi meningkatnya perhatian terhadap C-drama di kawasan ini.
AMUNISI SOFT POWER CHINA
Selain C-drama, media sosial, kuliner, dan video gim seperti "Genshin Impact", yang dikembangkan oleh studio miHoYo yang berbasis di Shanghai, juga memberikan pengaruh budaya.
China juga meraih kesuksesan lewat perilisan "Black Myth: Wukong" yang telah mengguncang dunia gim dan terjual lebih dari 10 juta kopi secara global hanya dalam hitungan hari, kian mengukuhkan posisi China dalam dunia gim global.
Para ahli mencatat bahwa efektivitas soft power China bergantung pada banyak faktor.
“Dari sudut pandang kreator, tidak ada formula yang bisa langsung ditiru,” kata Sheng Zou, asisten profesor dan peneliti media lintas disiplin di School of Communication, Hong Kong Baptist University.
“Harus ada cerita yang kuat secara emosional, memberikan pengalaman dan estetika yang menarik serta mudah diakses – untuk sebuah produk budaya, elemen-elemen ini sangat penting.”
Ia juga menyinggung kesuksesan global animasi Tiongkok "Ne Zha 2" yang memecahkan rekor dan membangkitkan rasa bangga nasional di kalangan penikma bioskop China.
Daya jual animasi tersebut terletak pada karakternya yang merupakan “simbol budaya China” yang dicintai.
“Seringkali ketidakpastian preferensi dan respons penonton sangat tidak terduga. Tapi dengan memasukkan simbol budaya yang akrab, ketidakpastian itu akan berkurang,” kata Sheng.
“Simbol-simbol budaya ini memiliki kekuatan komunikasi yang kuat … dan sangat dikenal serta populer di kalangan masyarakat Tiongkok, baik di dalam negeri maupun luar negeri, bahkan di kalangan penonton non-Tionghoa.”
Namun meski pengaruh budaya ini telah banyak digandrungi di seluruh kawasan, hal itu tidak serta-merta mengubah persepsi terhadap China, terutama terkait politik.
Survei tahunan ISEAS terbaru yang melibatkan lebih dari 2.000 responden di 11 negara Asia Tenggara menemukan bahwa sebagian besar negara tetap “terbelah dalam hal kepercayaan terhadap China”.
Tingkat ketidakpercayaan khususnya tinggi di antara responden dari negara-negara seperti Myanmar, Indonesia, Vietnam, dan Filipina, yang meyakini kekuatan ekonomi dan militer China mengancam kepentingan nasional dan kedaulatan mereka.
“Persepsi yang terus berkembang ini mencerminkan campuran antara optimisme terhadap prospek ekonomi China dan pesimisme terhadap ketegangan geopolitik, faktor penting yang akan terus membentuk persepsi jangka panjang ASEAN terhadap China,” tulis laporan ISEAS.
Dalam wawancara dengan CNA, Nadhiroh mengatakan bahwa C-drama “secara umum tidak mengubah persepsi atau perasaannya terhadap China”.
"Saya mungkin menyukai aspek integrasi budaya dalam kehidupan sehari-hari mereka, ya tapi hanya itu saja.”
Nadhiroh juga merasa bahwa dalam beberapa tahun terakhir, C-drama telah menunjukkan “tingkat propaganda atau patriotisme China yang cukup mengkhawatirkan”.
RAKSASA STREAMING CHINA UNTUNG BESAR
Raksasa streaming China untung besar di berbagai negara berkat digemarinya C-drama, sebuah keberhasilan atas strategi Beijing yang mempromosikan layanan ini dengan agresif.
“Pemerintah China secara aktif menjalin kemitraan dengan platform streaming untuk memfasilitasi distribusi global drama Tiongkok,” kata Dr Kornphanat Tungkeunkunt dari Universitas Thammasat, dalam sebuah tulisan komentarnya di Fulcrum.
Thailand secara khusus telah menjadi “pasar konsumen utama untuk layanan streaming China di Asia Tenggara”, catatnya.
Naiknya pamor layanan streaming China telah mendorong konsumsi C-drama yang semakin besar di Asia Tenggara, khususnya di Thailand dan Malaysia, kata seorang juru bicara dari raksasa streaming Tiongkok iQiyi kepada CNA, mengutip statistik dari firma konsultan Media Partners Asia.
Berdasarkan data Media Partners Asia, pada 2023 C-drama menyumbang hingga 20 persen dari total penayangan streaming di lima negara Asia Tenggara – Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Penonton dari Thailand yang terbanyak, mencakup 50 persen dari total penayangan.
iQiyi, yang mengadakan pemutaran khusus "Strange Tales of Tang Dynasty" di Singapura pada Juli lalu, mengatakan bahwa pencarian daring untuk C-drama telah meningkat setiap tahun selama lima tahun terakhir dan “belakangan menunjukkan tanda-tanda melampaui drama Korea”.
Thailand tetap menjadi pasar terbesarnya, dengan jumlah pengguna aktif bulanan tertinggi diikuti oleh Vietnam dan Indonesia, kata juru bicara iQiyi.
Thailand juga telah muncul sebagai pusat hiburan regional yang menarik produksi internasional besar. Tencent, misalnya, memilih Thailand sebagai lokasi syuting untuk kedua musim seri kompetisi idol mereka, "Chuang Asia".
Dr Kornphanat dari Universitas Thammasat, dalam komentarnya di Fulcrum, menyebutnya sebagai “langkah strategis” yang tidak hanya memungkinkan perusahaan China seperti Tencent menghindari regulasi ketat dalam negeri, tetapi juga “membuka peluang baru” di pasar internasional.
Meskipun budaya pop China semakin populer di Asia Tenggara, namun perusahaan hiburan Tiongkok tetap menghadapi tantangan besar dalam menjajaki medan teknologi kawasan ini yang tidak merata, kata Yap.
“Produk mereka harus bisa diakses oleh semua penonton.”
DAMPAK C-DRAMA TERHADAP PARIWISATA CHINA
Meski Jepang tetap menjadi destinasi wisata favorit di Asia, namun kini semakin banyak wisatawan Asia Tenggara yang menyebut China sebagai pilihan liburan utama mereka, berdasarkan survei ISEAS 2025.
Di antara para responden, 6,7 persen memilih China sebagai destinasi liburan favorit, naik dari 5,9 persen tahun sebelumnya.
Banyak penggemar C-drama dari Asia Tenggara menyambangi destinasi-destinasi di China untuk merasakan pengalaman C-drama secara langsung.
Sama seperti penggemar K-drama yang mengunjungi Korea untuk menyewa hanbok tradisional dan berdandan selayaknya bintang favorit mereka, penggemar C-drama berbondong-bondong ke lokasi ikonik seperti Hengdian World Studios di provinsi Zhejiang, mengenakan kostum tradisional hanfu dan memerankan adegan dari acara favorit mereka.
Chongqing di China barat daya mungkin terkenal karena masakan hotpot-nya, tetapi bagi penggemar C-drama asal Thailand, kota ini menjadi daya tarik besar karena aktor dan penyanyi Tiongkok Xiao Zhan lahir di sana pada 1991.
Kota ini juga menjadi latar drama romantis "The First Frost". Para penggemar mengunjungi berbagai lokasi yang ditampilkan dalam drama tersebut, termasuk Kereta Gantung Sungai Yangtze dan stasiun kereta Liziba.
Seorang kreator TikTok asal Thailand di Chongqing bernama Pocky merekam video dirinya di kota tersebut, menirukan video promosi yang pernah dibuat Xiao untuk kota kelahirannya. Video itu menjadi viral dengan 6.000 likes dengan banyak yang berkomentar ingin mengunjungi Chongqing juga.
“Penonton muda menjadikan China sebagai destinasi yang ingin dikunjungi, selain Korea Selatan dan Jepang,” kata Yap, menambahkan bahwa banyak anak-anak muda yang juga ingin memamerkan pengalaman mereka di media sosial.
Lokasi lain yang populer di kalangan penggemar C-drama adalah Kawasan Wisata Xiatianxia di provinsi Fujian. Di tempat ini, wisatawan bisa berdandan dengan hanfu dan “menjalani mimpi wuxia mereka” – “terbang” di udara dengan ditarik tali seperti karakter dalam C-drama dan film kungfu populer.
Desirae Tan dari Singapura mengatakan bahwa kecintaannya pada C-drama membuatnya mengunjungi China. "Saya bermimpi ingin berada di lokasi C-drama,” kata perempuan berusia 29 tahun itu kepada CNA.
Hanfu adalah hal yang wajib bagi penggemar C-drama yang mengunjungi China, kata Tan. “Kamu pasti ingin berfoto. Biayanya terjangkau dan kamu bahkan dapat bonus tambahan seperti video.”
“Kalau kamu ingin mewujudkan mimpi C-drama, China adalah tempat yang harus kamu kunjungi – pemandangannya indah dan ongkosnya murah.”
“Namun, meskipun drama Tiongkok dapat meningkatkan minat wisata ke China, belum tentu bisa memengaruhi persepsi penonton terhadap China dan nilai-nilai politiknya,” kata Yap dari ISEAS.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.