Skip to main content
Iklan

Asia

Kuasa China: Bagaimana para pensiunan Tiongkok membentuk lanskap wisata lansia Asia Tenggara

Sebagai bagian dari seri tentang kuasa China di Asia Tenggara, CNA berbincang dengan para pensiunan asal negeri Tiongkok di Thailand, Malaysia, dan Filipina tentang kehidupan di luar negeri dan bagaimana penduduk setempat memandang mereka.

Kuasa China: Bagaimana para pensiunan Tiongkok membentuk lanskap wisata lansia Asia Tenggara

Pensiunan asal China, Xu Weihong bersama suaminya di rumah mereka di distrik Hang Dong, Chiang Mai. (Foto: CNA/Melody Chan)

CHIANG MAI: Sebelum akhirnya memutuskan menghabiskan masa pensiun di Thailand, warga China Xu Weihong, 57, telah menghabiskan satu tahun di provinsi Yunnan dan sukses mendirikan usaha obat tradisional China di Shanghai.

Belakangan ini, dia tengah belajar bahasa Thailand dan menikmati masa tuanya di Chiang Mai dengan suami dan kedua orang tuanya yang sudah berusia 80-an.

Rumah dua lantainya terletak di distrik Hang Dong yang indah di Chiang Mai, sebuah kawasan favorit bagi para ekspatriat, terutama para pensiunan dari China yang jumlahnya mencapai ratusan orang.

“Kami terkesan dengan suasana internasional di sini serta nuansanya yang santai dan rileks,” kata Xu kepada CNA, seraya menambahkan bahwa cuaca yang lebih sejuk di Thailand utara juga membuatnya tertarik.

Sehari-hari, Xu membantu ibunya melakukan terapi moksa elektronik di kaki. (Foto/Melody Chan)

Selain Thailand, para pensiunan Tiongkok juga menetap di berbagai wilayah lainnya di Asia Tenggara, salah satunya Filipina yang bisa ditempuh dengan pesawat dari berbagai kota di China. Penerbangan ke Filipina juga murah, rutin dan cuma memakan waktu beberapa jam.

Salah satunya Nelson Chua, pria 60 tahunan asal Fujian yang kini tinggal di Kota Davao. Dia menjalankan usaha impor truk dari China dan mengekspor buah-buahan tropis lokal seperti pisang dan nanas ke berbagai kota di negara asalnya.

Setelah lebih dari 40 tahun berkecimpung dalam bisnis, ia akhirnya memutuskan pensiun dan menetap di Davao. “Tentu saja saya akan pensiun di Filipina. Seluruh keluarga saya ada di sini,” kata Chua kepada CNA, merujuk pada istri dan dua anaknya.

“Kami menyukai Davao karena tidak seperti Manila atau kota-kota besar di China yang padat dan penuh polusi. Di sini kami dekat dengan alam, pegunungan, dan pantai.”

Nelson Chua telah menghabiskan empat dekade di Davao, tempat ia membesarkan keluarga dan membangun bisnis perdagangan lintas negara yang menghubungkan Tiongkok dan Filipina. (Photo: Nelson Chua)

Di China, negara yang mengalami penuaan penduduk dengan cepat, berkembang pesat sebuah tren.

Para pensiunannya mulai tertarik tinggal di luar negeri dan menetap di negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Padahal dulu, orang-orang tua di China menghabiskan sisa hidup mereka untuk tinggal bersama anak-anak atau di panti jompo. 

Cuaca yang lebih baik, biaya hidup yang lebih rendah, serta kedekatan wilayah ini dengan kota-kota di China daratan menjadi daya tarik besar bagi mereka, berdasarkan pengakuan para pelaku industri.

Selain itu, visa tinggal jangka panjang yang fleksibel dan skema asuransi juga sangat membantu dalam menarik para lansia China dengan daya beli mereka yang semakin meningkat.
 

Meski bertambahnya jumlah diaspora pensiunan asal China membawa dampak positif bagi para pelaku usaha lokal serta membenuk permintaan akan layanan ramah lansia, perawatan lansia, properti, dan pariwisata, namun kehadiran mereka bukannya tanpa kontroversi.

Warga lokal di berbagai wilayah menyuarakan kekhawatiran tentang kenaikan harga, sistem kesehatan yang mulai kewalahan, dan perlunya pengawasan visa yang lebih ketat. Berbagai sentimen ini kemungkinan besar akan memengaruhi cara pandang terhadap China di Asia Tenggara.

Persepsi terhadap China tetap terbelah di kawasan, berdasarkan survei tahunan terbaru yang diterbitkan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute pada 3 April yang menobatkan China sebagai kekuatan ekonomi dan politik paling berpengaruh di Asia Tenggara.

Lebih dari 60 persen responden Asia Tenggara yang memilih China sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh, mengaku khawatir terhadap pengaruh ekonomi Tiongkok yang terus berkembang.

“Negara-negara ASEAN terbelah dalam hal kepercayaan mereka terhadap China,” kata ISEAS, seraya menambahkan bahwa tingkat ketidakpercayaan tinggi di enam negara, termasuk Vietnam, Indonesia, dan Filipina.

“Persepsi yang terus berkembang ini mencerminkan campuran optimisme terhadap prospek ekonomi China dan pesimisme terkait ketegangan geopolitik, sebuah faktor penting yang akan terus membentuk persepsi jangka panjang ASEAN terhadap China.”

MENGAPA PENSIUN DI ASIA TENGGARA?

Di Asia Tenggara, hanya lima negara yang menawarkan skema visa pensiun untuk warga asing yaitu Thailand, Malaysia, Filipina, Indonesia, dan Kamboja.

Filipina menawarkan dua jenis visa tinggal bagi warga asing — salah satunya adalah Special Resident Retiree's Visa (SRRV), yaitu visa non-imigran yang memungkinkan warga asing untuk tinggal, bekerja, dan berinvestasi di negara tersebut, serta menawarkan manfaat seperti pembebasan pajak, izin masuk ganda, dan izin tinggal tanpa batas waktu.

“Visa-visa ini memberikan berbagai hak istimewa bagi para penerimanya,” kata Samantha Laureola, Kepala Riset di kelompok Global Commercial Real Estate Services (CBRE Philippines), yang mencatat bahwa 78.000 SRRV telah diterbitkan sejak pertengahan 2024, dengan hampir 40 persen atau sekitar 30.000 penerimanya adalah warga China.

Chua mengatakan Filipina “sangat cocok untuk pensiun” karena biaya hidup yang lebih rendah.

“Biaya hidup di Davao jauh lebih murah dibandingkan China atau kota-kota lain di Asia seperti Singapura,” tambahnya. “Uang yuan Anda bisa lebih berdaya beli — bisa membeli lebih banyak dengan biaya lebih sedikit dan menikmati masa pensiun yang lebih nyaman.”

“Ketika saya semakin tua dan membutuhkan pengasuh atau perawat, biayanya juga jauh lebih terjangkau di sini dibandingkan negara lain.”

Seorang turis berpose di atraksi River of Life di Kuala Lumpur.

Warga negara China juga merupakan kelompok pensiunan asing terbesar di Malaysia saat ini, berdasarkan angka pada data resmi yang dirilis Menteri Pariwisata Malaysia Tiong King Sing pada Maret lalu.

Dari 22.282 aplikasi visa yang disetujui sejak 2015, hampir setengahnya diberikan kepada pensiunan asal China, kata Tiong.

“Malaysia menawarkan kombinasi langka antara biaya hidup yang rendah, layanan medis yang sangat baik, dan budaya yang semarak — yang dianggap para pensiunan sebagai sesuatu yang mudah diakses dan memperkaya kehidupan mereka,” menurut survei tahun 2025 yang diterbitkan majalah Irlandia International Living, yang menempatkan Malaysia di peringkat ketujuh dalam daftar tahunan destinasi pensiun terbaik.

MIGRASI KE SELATAN SAAT MUSIM DINGIN

Wisata lansia asal China atau "silver tourism" terus meningkat, dan beberapa pensiunan telah mengadopsi gaya hidup "migrasi burung”, yaitu terbang menuju selatan ke tempat yang lebih hangat untuk menghindari musim dingin di China.

Menurut data Trip.com yang dirilis Januari lalu, jumlah pemesanan oleh pelancong berusia 50 tahun ke atas meningkat 34 persen hingga akhir 2024 dibanding tahun sebelumnya.

Lansia juga menyumbang hampir 20 persen dari seluruh wisatawan luar negeri, memperkuat posisi para lansia sebagai segmen kunci dalam pasar pariwisata, menurut laporan tersebut.

Lanna Inthan Hotel Resort Spa adalah salah satu dari banyak resor kesehatan dan kebugaran di Thailand yang melayani kebutuhan wisatawan lansia China bergaya "migrasi burung”. (Foto: CNA/Siddhar Tungaparhar)

Terletak di antara perbukitan dan lembah, Lanna Inthan Hotel Resort Spa di distrik Doi Saket, Chiang Mai, telah menjadi tempat peristirahatan favorit bagi pelancong lansia asal China yang datang musiman.

Hanya berjarak sekitar 20 menit berkendara dari beberapa rumah sakit terbaik di Chiang Mai, fasilitas ini secara khusus melayani wisatawan lansia dengan menawarkan aktivitas harian yang dikurasi, layanan antar-jemput, hingga opsi tinggal jangka panjang lengkap dengan perawatannya.

Saat CNA mengunjungi resor tersebut pada Januari, sekelompok pensiunan asal China terlihat tengah asyik menikmati fasilitas seperti lapangan golf dan kolam renang.

“Menenangkan sekali. Saya bisa benar-benar menyatu dengan alam,” kata Cai Qing, pensiunan berusia 58 tahun dari kota Suzhou, China, yang datang bersama teman-temannya untuk berlibur. “Kami bangun siang, makan, berenang, terkadang main golf, dan benar-benar bersantai tanpa beban.”

Pensiunan lainnya, Qinzi, 64 tahun, telah beberapa kali mengunjungi Chiang Mai dan sering merekomendasikan Lanna Inthan kepada teman-temannya. “Keliling seharian terlalu melelahkan,” katanya kepada CNA. “Jenis perjalanan seperti ini sangat cocok untuk lansia.”

“Itulah kenapa saya datang setiap satu atau dua bulan sejak pensiun, atau setidaknya selama musim dingin di China.”

Sekelompok pensiunan di Lanna Inthan Hotel Resort Spa di Chiang Mai. (Foto: CNA/Melody Chan)

Manajer umum resor, Jimmy Qu, seorang warga negara China-Kanada yang mengelola hotel ini untuk ayahnya yang berusia 73 tahun, mengatakan kepada CNA bahwa properti ini dimiliki oleh empat orang, dua di antaranya adalah warga China yang merupakan pemegang saham minoritas.

Bisnis ini mencerminkan permintaan yang terus tumbuh dari pensiunan China, kata Qu. “Chiang Mai memiliki banyak layanan kesehatan untuk lansia yang membutuhkan perawatan, tapi hotel khusus kesehatan dan kebugaran seperti ini masih jarang.”

PERSEPSI TERHADAP CHINA

Dengan populasi etnis Tionghoa Malaysia yang besar, Penang menjadi rumah bagi banyak pensiunan asal China yang menikmati harga properti terjangkau dan keberagaman kulinernya.

Salah satunya Grace Ng, pensiunan perencana keuangan dari Hong Kong, yang mengaku nyaman berada di tengah komunitas lokal yang berbahasa Mandarin.

Baru-baru ini, ia berinvestasi pada properti di sepanjang Pantai Batu Ferringhi senilai sekitar HK$2,2 juta (sekitar Rp4,5 miliar).

“Kami suka iklim tropis dan di sini banyak orang Tionghoa,” ujar Ng kepada CNA, seraya menambahkan bahwa standar layanan kesehatan yang tinggi dan kekayaan budaya Penang juga membuat proses adaptasinya lebih mudah.

Agen properti Malaysia juga menyambut baik kedatangan warga China.

“Bekerja sama dengan mereka adalah situasi saling menguntungkan bagi kami,” kata Shawn Hong, seorang makelar properti di Penang yang telah bekerja sama dengan beberapa agen dan pembeli asal China.

“Kami mengenal Penang dan pasar lokal dengan baik, jadi kami membantu mereka dan menunjukkan properti yang sesuai kebutuhan klien agar bisa mencapai kesepakatan.”

Thailand, yang secara rutin menempati peringkat teratas destinasi wisata favorit warga China, kini juga semakin banyak didatangi para lansia asal China.

Pelaku usaha dan pedagang di Chiang Mai mengatakan kepada CNA bahwa meningkatnya jumlah warga China membawa dampak positif bagi bisnis lokal.

Ampun Tadee, pemilik toko furnitur di distrik Hang Dong, mengatakan bahwa usahanya meningkat 30 persen hanya dalam dua tahun.

Beberapa warga China memesan lemari built-in khusus yang harganya mencapai sekitar 10.000 baht (Rp4,5 juta). “Banyak kafe dan restoran baru juga mulai buka,” ujarnya.

Warga lokal lainnya, seperti Nattawadee Saewang yang berusia 16 tahun dan tinggal di desa dekat Hang Dong, juga menyambut baik kehadiran warga China.

“Mereka membawa keberagaman dan membeli barang untuk mendukung ekonomi lokal,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka.

Best Pakapond, menyadari betul kebutuhan akan wisatawan China yang jumlahnya kian bertambah. Pada 2022, dia akhirnya mendirikan Som Visa Agency, sebuah agen pariwisata lokal di Thailand.

Setiap bulannya, aa menangani hingga 300 klien asal China, sebagian besar adalah pensiunan yang mencari visa pensiun jangka panjang.

Pensiunan China menyumbang hampir sepertiga dari total kliennya, kata dia.

“Lambat laun, jumlah warga China yang bertanya setiap hari semakin bertambah. Menurut saya, fokus pada audiens ini menjadi semakin penting.”

Sebuah toko furnitur di distrik Hang Dong, Chiang Mai – yang menjadi tempat tinggal banyak warga China – mengalami lonjakan bisnis sebesar 30 persen dalam dua tahun terakhir. (Foto: CNA/Melody Chan)

Selama satu dekade terakhir, pembeli asal China membanjiri Chiang Mai dan memborong properti dengan total nilai hingga lima miliar baht (sekitar Rp2,2 triliun), menurut Asosiasi Real Estat Chiang Mai.

Distrik seperti Hang Dong, San Kamphaeng, dan San Sai mengalami lonjakan harga tanah yang dipicu oleh kedatangan pembeli dari China.

Di distrik San Sai, tempat tinggal warga lokal dan ekspatriat, sebuah proyek komplek vila mewah baru sudah menarik perhatian kalangan elite dari China.

Proyek Miyuan Lakeview Villa yang sedang dibangun ini mengusung gaya modern China dengan sentuhan tradisional. Para pengembang mengatakan, klien yang mereka tuju adalah orang-orang kaya asal China.

“Beberapa rumah sudah dibeli,” ujar salah satu pengembang, Luo Jianyu.

Di antara para pembeli terdapat eksekutif teknologi asal China dan aktor Huang Xiaoming yang membeli vila mewah untuk orang tuanya.

“Fase pertama akan mencakup sekitar 100 rumah,” kata Luo.

Di distrik San Sai, Chiang Mai, Miyuan Lakeview Villa mencakup area seluas 10 hektare dan menarik pembeli kaya asal China yang mencari tempat tinggal untuk orang tua mereka yang pensiun. (Foto: CNA/Melody Chan)

“Sudah jelas bahwa warga China membawa manfaat ekonomi yang signifikan bagi Thailand,” ujar Dr Danaitun Pongpatcharatorntep, Wakil Dekan dan Kepala Pusat Intelijen China di Universitas Chiang Mai.

“Biaya hidup di sini sangat rendah. Banyak orang China membicarakan Thailand sebagai tempat yang terjangkau biayanya.”

Agen properti senior, Sanun Thakamsang, awalnya ragu dengan kehadiran warga China.

“Saya merasa mereka datang ke sini untuk memanfaatkan negara yang lebih miskin,” katanya. “Tapi sekarang, semuanya masuk akal. Beberapa orang China juga baik.”

“Mereka masih membutuhkan kami untuk menghubungkan dengan pemilik tanah lokal,” tambahnya. “Sekarang sudah ada jaringan agen asal China membawa klien, dan kami yang menjembatani.”

Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, juga mulai menarik perhatian para pensiunan asal China yang mencari properti unggulan di kota-kota populer seperti Bali dan Jakarta, menurut sejumlah agen properti lokal yang diwawancarai CNA.

Namun, aturan kepemilikan asing di Indonesia masih ketat, kata Nicky Rahardjo, agen properti di Surabaya.

Seperti pembeli asing lainnya, pensiunan asal China hanya diperbolehkan membeli jenis properti tertentu seperti apartemen dan harus memenuhi ambang batas harga minimum.

“Meskipun beberapa pembeli asal China mendapatkan informasi dari agen-agen mereka sendiri, pada akhirnya mereka tetap harus bekerja sama dengan profesional Indonesia agar transaksi dan pengelolaan properti berjalan lancar,” ujarnya.

“Mereka butuh kami untuk memahami pasar, mengurus proses legal, dan mengelola properti – itu jadi keunggulan kompetitif kami.”

Distrik Hang Dong adalah salah satu kawasan paling populer di kalangan warga China yang menetap di Chiang Mai. (Foto: CNA/Melody Chan)

PELANGGARAN YANG MENGKHAWATIRKAN

Namun, sebuah survei pada tahun 2023 oleh lembaga pemikir Thailand, The Glocal, menemukan bahwa 60 persen responden di Thailand percaya investasi asal China telah berdampak negatif pada bisnis lokal, terutama di sektor properti, disusul pariwisata dan ritel.

Sebanyak 17 dari 30 responden juga menyatakan dukungan terhadap regulasi yang lebih ketat terhadap masuknya modal asal China.

Masalah visa pensiunan asal China menjadi perhatian utama di Filipina setelah empat anggota mafia asal China tertangkap pada 2024 menggunakan visa pensiunan khusus untuk tinggal di negara tersebut.

Insiden itu memicu kewaspadaan dan prosedur penyaringan yang lebih ketat. Hasilnya, ditemukan sekitar 30.000 warga China penerima visa pensiunan yang tidak memenuhi syarat usia minimum resmi 50 tahun – dan diketahui berusia antara 35 hingga 50 tahun.

“Jumlah warga asing asal China yang masuk dan keluar negeri menggunakan dokumen sah pemerintah Filipina – baik sebagai pedagang maupun pensiunan – kini menjadi persoalan keamanan nasional,” kata senator Filipina Nancy Binay.

“Ini benar-benar mengkhawatirkan karena kita tahu dokumen sah itu diperoleh dengan cara yang tidak semestinya.”

Meskipun properti yang luas dan terjangkau menjadi daya tarik tersendiri, pensiunan China juga menghadapi sejumlah tantangan di negara tujuan, kata para ahli.

Di Thailand, muncul kekhawatiran dari pejabat setempat tentang kurangnya tenaga kerja dan fasilitas yang memadai untuk menangani pensiunan asal China yang jumlahnya terus meningkat.

“Kelompok pensiunan adalah demografi yang saat ini belum dapat ditangani dengan baik oleh Thailand,” ujar Dr Danaitun Pongpatcharatorntep dari Universitas Chiang Mai.

“Tidak ada kebijakan yang jelas untuk melatih tenaga profesional dalam mendukung kelompok usia ini,” lanjutnya.

“Merawat mereka membutuhkan sumber daya medis dalam jumlah besar,” ujarnya lagi.

“Jika Thailand tidak memastikan ketersediaan tenaga medis sebelum menerima lebih banyak pensiunan (dari China), hal ini bisa membebani layanan kesehatan publik negara tersebut.”

Laporan tambahan oleh Amir Yusof.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan