Kopi Thailand di tengah paradoks: Permintaan tinggi, panen menyusut
Kopi sedang naik daun di Thailand, dengan permintaan yang meningkat di dalam negeri. Tapi industri ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk buruknya hasil panen karena perubahan iklim, biaya tanam yang naik serta persaingan yang sengit.
Chatree Saeyang, petani kopi veteran, sedang memeriksa perkebunannya di provinsi Chiang Mai. (Foto: CNA/Jack Board)
CHIANG MAI: Saat kabut menyelimuti pegunungan di Chiang Mai, Chatree Saeyang menaiki tangga kayu curam menuju kafe miliknya, sebuah hidden gem di atas awan bagi para pencinta kopi.
Chatree, 39, adalah petani kopi generasi ketiga sekaligus peracik ulung.
Di balik meja kafe, bertebaran berbagai peralatan untuk kreasi minuman kopinya. Di tengah dengung suara mesin espresso, Chatree menyiapkan kopi dari biji yang ditanam, difermentasi dan disangrai sendiri.
Dia tahu persis pepohonan mana yang menghasilkan biji pilihan dan bagaimana meraciknya ke dalam cangkir. Kopi spesialti racikannya dikenal luas, bagian dari gerakan nasional yang semakin menghargai proses organik dan artisanal.
Namun ekosistem alami yang menopang praktik para petani seperti Chatree menghadapi tantangan.
Industri kopi Thailand tengah menghadapi paradoks: perubahan iklim berdampak pada perkebunan di dataran tinggi dan menggerus hasil panen, sementara budaya kafe tengah berkembang pesat di kota-kota besar sehingga memicu lonjakan permintaan dalam negeri.
Dengan harga yang terus naik dan impor melonjak untuk menutup kekurangan, dunia kopi Thailand memasuki fase transformasi cepat yang ditandai persaingan ketat, inovasi berani, dan dorongan besar menuju keberlanjutan.
Di awal rantai produksi adalah para petani kopi seperti Chatree.
Perkebunan kopi di hutan tua milik Chatree terletak di Desa Khun Chang Kian, yang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi paling awal di Thailand. Lokasinya terletak sekitar satu jam perjalanan melewati jalan pegunungan berkelok dari pusat Kota Chiang Mai.
Keluarga Chatree telah menanam kopi selama lima dekade, dan pengalaman panjang di lahan ini membuatnya menyadari bahwa kondisi mulai berubah.
Hujan kini semakin tak menentu, ujarnya, dan pepohonan kopi pun menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Dampaknya akan terlihat saat biji kopi siap dipanen beberapa bulan lagi; rasa akan berubah, dan jika kondisi tidak mendukung, jumlah yang bisa diproses juga berkurang.
“Semakin sedikit panen berarti semakin sedikit keuntungannya. Tapi tanaman kopi itu tangguh seperti kami; mereka harus beradaptasi untuk bertahan di kondisi yang berubah,” katanya.
“Pemanasan global jelas berdampak, tapi itu bukan akhir bagi kopi. Masih ada masa depan.”
PERUBAHAN IKLIM MENGGEMPUR INDUSTRI KOPI
Optimisme Chatree berlawanan dengan tren dunia, di mana cuaca ekstrem semakin mengganggu kemampuan petani memproduksi kopi arabika -jenis yang lebih mahal daripada robusta- memiliki rasa yang kompleks, dan digemari kafe-kafe artisanal.
Produktivitas anjlok. Pada 2023, Thailand hanya menghasilkan 15.651 ton biji kopi, sekitar dua pertiganya arabika, padahal pada 2001 produksi pernah tembus lebih dari 86.000 ton.
Kenaikan suhu, hujan yang tak menentu dan merusak, kekeringan berkepanjangan, serta serangan hama semakin mengancam hasil panen.
Luas lahan kopi juga menyusut karena banyak petani beralih ke tanaman lain seperti jagung, atau komoditas bernilai lebih tinggi seperti durian.
“Dampaknya bukan hanya hasil panen menurun. Kualitas juga merosot. Tanaman tak lagi memenuhi standar yang biasa kami harapkan,” kata Jiraporn Inthasan, master trainer pertanian regeneratif di Universitas Maejo, Chiang Mai.
“Dalam 20 tahun, mungkin sudah tidak ada lagi arabika di Thailand. Tidak akan mungkin menanamnya,” ujarnya.
Thailand bukan satu-satunya yang bergulat dengan krisis iklim. Brasil dan Vietnam, dua produsen kopi terbesar dunia, mengalami musim tanam yang buruk pada 2024, mendorong harga kopi global menyentuh rekor tertinggi dalam 50 tahun terakhir pada Februari.
Ada kekhawatiran di kalangan industri bahwa petani kecil bakal meninggalkan budidaya kopi dan generasi baru tidak tertarik untuk melanjutkan. Padahal, 70 persen produksi kopi dunia justru bergantung pada mereka.
Sentra produksi kopi berada di kawasan yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Tanaman ini umumnya tumbuh di Sabuk Kopi, yakni wilayah antara 20 derajat lintang utara hingga 30 derajat lintang selatan, yang dikenal sebagai salah satu zona paling terpapar dampak iklim.
“Ini serius, Saya bahkan menganggapnya parah,” kata Naruemon Taksaudom, pendiri HILLKOFF, sebuah usaha yang bergerak di bidang inovasi kopi, pelatihan, dan pengembangan rantai nilai.
Di perbukitan Chiang Dao, utara Chiang Mai, PANA Coffee—perusahaan yang mengelola seluruh proses kopi dari benih ke cangkir—kehilangan sekitar 11 hektare lahannya akibat kebakaran hutan tahun lalu.
Setahun sebelumnya, perusahaan itu kehilangan banyak tanaman akibat hujan di luar musim, kata pendirinya, Kompit Panasupon.
Kondisi ini menjadi pengingat tantangan yang dihadapi semua orang, ujarnya, ketika berhadapan dengan kerentanan tanaman di tengah perubahan iklim.
“Semua orang merasakan dampaknya sekarang. Ini masalah besar yang harus kita hadapi dengan serius. Dan ini bukan hanya soal kopi. Pada dasarnya semua bisnis yang terkait pertanian dan semua pekerjaan petani ikut terdampak,” kata Kompit.
Adaptasi bisa dicapai melalui pengembangan varietas kopi tahan iklim serta penerapan diversifikasi tanaman dan agroforestri yang lebih luas. Namun, waktu kian mendesak di tengah pemanasan bumi yang semakin parah.
PERMINTAAN YANG TAK TERBENDUNG
Saat budidaya kopi dimulai di Thailand pada akhir 1960-an, nyaris tidak ada yang minum kopi di negara itu. Awalnya, arabika diperkenalkan di dataran tinggi utara dan dipromosikan sebagai bagian dari model pembangunan alternatif untuk menggantikan budidaya opium ilegal.
Sektor ini terus berkembang, dan pada 2025, nilai pasar domestik diperkirakan mencapai 65 miliar baht (sekitar Rp33,7 triliun), menurut Kementerian Perdagangan Thailand.
Dari 1995 hingga sebelum pandemi 2020, konsumsi kopi tahunan di Thailand melonjak lebih dari sepuluh kali lipat. Kini, rata-rata orang Thailand mengonsumsi 340 cangkir kopi setiap tahun.
Di tingkat global, Precedence Research memperkirakan pasar kopi bernilai US$245 miliar (sekitar Rp4.010 triliun) tahun lalu dan diproyeksikan tumbuh sekitar 4,5 persen per tahun menjadi US$382 miliar (sekitar Rp6.245 triliun) pada 2034.
Segmen kopi organik diperkirakan akan mencatat pertumbuhan tercepat di pasar kopi selama periode proyeksi, menurut hasil riset.
Di dalamnya, Thailand mulai membangun ceruk tersendiri, bukan sebagai pemain besar dari sisi volume, melainkan sebagai produsen kopi berkualitas tinggi, kopi spesialti, dan hasil petani kecil. Arah yang dituju adalah peningkatan nilai.
Kopi spesialti di Thailand hanya menyumbang sekitar 10 persen dari volume atau sekitar 5.000 ton per tahun, namun nilainya 20 persen dari total pasar. Bagi mereka yang tahu cara mengelolanya di tengah lingkungan tanam yang kian sulit, ini menjadi ladang cuan.
Istilah “kopi spesialti” sebenarnya merupakan terminologi teknis industri yang memiliki standar penilaian tersendiri untuk atribut seperti aroma, rasa, keasaman, body, keseimbangan, dan aftertaste. Namun, di Thailand istilah ini lebih sering dipakai untuk menggambarkan kopi hasil petani kecil, yang punya keterlacakan asal usul, dan disajikan di kafe kopi spesialti.
Sebagian kopi Thailand memang melalui proses penilaian teknis, tetapi “spesialti” lebih sering digunakan sebagai label kultural yang tidak terlalu ketat penerapannya.
“Thailand cukup beruntung: Konsumen menerima budaya kopi, dan permintaan—bersama minat pada varietas serta profil rasa baru—tumbuh lebih cepat daripada pasokan,” kata Naruemon.
Di kota Chiang Mai yang kian padat, tanda-tanda permintaan itu terlihat jelas.
Tahun lalu, 1.700 kedai kopi baru dibuka di Chiang Mai, sementara 400 lainnya tutup pada periode yang sama, menurut laporan platform pengantaran dan gaya hidup LINE MAN Wongnai.
Akha Ama Coffee Roasters termasuk generasi baru kafe yang mendorong permintaan kopi Thailand. Bahkan sebelum buka pukul 08.00, para pelanggan sudah mengintip dari balik pagar kawat di pintu masuk.
Lebih dari sekadar toko ritel, salah satu pendirinya, Lee Ayu Chuepa, ingin menjadikannya sebagai perusahaan sosial yang berkomitmen pada keberlanjutan dan mendukung komunitas adat pegunungan yang menanam kopi.
Lee juga memperluas promosi kopi Thailand ke luar negeri; sebuah rumah sangrai Akha Ama dibuka di Tokyo tahun lalu.
“Kami tidak bisa menghentikan permintaan. Itu pasti akan terus tumbuh, dan itu memang hal yang baik,” ujarnya.
Ia mengatakan, konsumen ingin tahu asal kopi mereka; dan ia bisa menceritakannya sekaligus mendapatkan dukungan bagi komunitasnya.
“Kami sedang mencari keseimbangan lintas generasi. Keluarga kami punya kearifan lama soal bertani, lalu kami padukan dengan teknik modern sehingga anak muda bisa menemukan pekerjaan yang bisa menghidupi mereka,” kata Lee.
Tidak semua petani punya pilihan seperti itu. Produksi kopi spesialti masih menjadi kegiatan terbatas yang menuntut keterampilan, pengetahuan, peralatan, dan sering kali juga pemasaran.
“Kebanyakan petani di pegunungan adalah komunitas adat atau petani kecil yang tidak punya waktu menyortir biji secara manual. Jadi, perusahaan besar datang membeli kopi mereka lalu mengembangkan merek sendiri. Sembilan puluh persen petani pada dasarnya fokus pada satu hal: bagaimana memaksimalkan hasil panen,” kata Naruemon.
Namun ia mengakui, permintaan kopi spesialti bisa menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan taraf hidup jika dikelola dengan tepat.
“Itu bisa menjadi siklus yang menguntungkan. Dari sudut pandang saya: tanah yang sehat, hasil panen baik, kualitas meningkat, dan hidup lebih sejahtera,” ujarnya.
PANA Coffee adalah salah satu perusahaan yang berusaha menghubungkan petani kecil dengan konsumen.
Untuk mendorong produksi kopi spesialti berskala besar, perusahaan ini menanamkan investasi besar dalam infrastruktur di kompleksnya di pinggiran Kota Chiang Mai guna meningkatkan pengolahan biji kopi organik kelas premium.
Filosofi PANA, kata Kompit, adalah mengangkat seluruh industri kopi dari benih hingga cangkir, demi memperbaiki kesejahteraan, nilai, dan kenikmatan minum kopi.
PANA juga menjalankan inisiatif bernama Project Shade yang melibatkan 22 kelompok petani di berbagai provinsi untuk membantu mereka menerapkan praktik organik dalam usaha tani.
“Thailand tidak memproduksi kopi yang cukup untuk kebutuhan sendiri. Jadi masih ada ruang untuk berkembang. Apakah tersedia lahan yang cukup, itu cerita lain. Tapi saya benar-benar percaya dengan lahan yang ada, dan jika lebih banyak petani mau menerapkan praktik organik bersama, mereka bisa menghasilkan jauh lebih banyak kopi berkualitas spesialti,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan ini menyelenggarakan kursus pendidikan melalui akademi untuk meningkatkan keterampilan para profesional di bidang kopi dan juga mengundang petani mencicipi kopi sendiri, sebuah pengalaman langka bagi mereka.
“Ketika mereka pulang, mereka mengalami pergeseran paradigma, ‘Oh, kalau saya lakukan ini atau itu, rasa kopi saya akan seperti ini, dan lebih banyak orang akan ingin membelinya’,” katanya.
“Intinya, ini memberi wawasan tentang apa yang disukai konsumen, sehingga para petani tahu bagaimana mengelola hasil panennya. Bisa dibilang ini seperti membangun sebuah jembatan.”
Bagi Lee, perubahan itu mulai terlihat di komunitas lokal: anak muda memilih tetap tinggal di pegunungan alih-alih mencari kerja di kota, atau kembali pulang dengan keterampilan dan semangat baru.
“Kalau dilihat dari pekerjaan lain di bidang pertanian, tidak banyak orang yang bangga melakukannya. Tapi di kopi, rasanya seperti jadi pionir dan kami bangga menjalaninya,” ujarnya.
“Saya pikir ini bisa jadi titik balik bagi Thailand, jika kami bisa terus meningkatkan kualitas.”
DARI KOMODITAS KE PRODUK MEWAH?
Rumah sangrai kopi dan kafe spesialti di Thailand kini harus menapaki garis tipis antara melayani tren yang sedang naik dan menjaga bisnis tetap berjalan di tengah biaya inflasi, ekonomi dalam negeri yang lesu, serta keterbatasan pasokan biji kopi di pasar.
Lonjakan harga kopi global sangat terasa dalam satu dekade terakhir, terutama pada tahun ini.
Harga kopi arabika naik 63 persen sejak 2015 hingga 2024, ketika rata-ratanya mencapai US$5,63 per kilogram (sekitar Rp92 ribu). Pada Februari tahun ini, harganya tembus US$9 per kg (sekitar Rp147 ribu).
Robusta, dengan kandungan kafein lebih tinggi dan umumnya dipakai untuk kopi instan atau campuran, mengalami tren serupa, dengan kenaikan hampir tiga kali lipat sejak 2020.
Seiring menurunnya hasil panen di Thailand, perebutan biji berkualitas yang sesuai permintaan konsumen makin gencar.
Kafe-kafe bersaing memperebutkan pasokan dalam negeri yang sama, bahkan harus mengamankan kopi lewat kontrak beberapa tahun ke depan.
“Persaingannya sangat ketat, hampir konyol. Anda harus berkomitmen membayar kopi yang bahkan belum tumbuh di pohon. Dan bagi sebagian orang, itu bisa jadi risiko besar,” kata Han Wang, roaster kopi artisanal sekaligus salah satu pendiri PHIL Coffee di Bangkok.
Pemerintah Thailand menyatakan pada Maret lalu, negara itu juga perlu mengimpor sekitar 80.000 ton biji kopi, kopi instan, dan produk kopi lainnya tahun ini untuk memenuhi permintaan dalam negeri.
Kopi dari luar pasar ASEAN, termasuk negara-negara populer di Afrika dan Amerika Selatan, dikenai bea masuk hingga 90 persen.
Beban biaya itu ditanggung para rumah sangrai dan pengecer, kata Wang. Persaingan yang sangat ketat membuat harga secangkir kopi sulit dinaikkan terlalu besar, jelasnya.
“Satu-satunya cara melawan bea masuk adalah dengan meningkatkan kopi lokal. Kualitasnya jauh lebih baik dibanding dua dekade lalu. Sekarang ini benar-benar luar biasa bagus,” katanya.
“Tapi, kami masih menghadapi masalah kuantitas dalam produksi lokal.”
Dengan ribuan kafe baru buka setiap tahun di Thailand, kondisi pasar yang berat membuat tingkat penutupan juga tinggi. LINE MAN Wongnai melaporkan 43 persen kafe di Thailand gulung tikar dalam tahun pertama.
Untuk membenarkan biaya yang lebih tinggi bagi pelanggan, kafe kini membingkai kopi spesialti lebih sebagai sebuah pengalaman kuliner, kata Wasin Kusakabe dari Nana Coffee Roasters sekaligus juara Thailand National Brewers Cup 2024.
“Filosofi kami bukan menjual kopi, tapi menjual pengalaman,” ujarnya.
Cabang-cabang grup ini dirancang berbeda, dengan variasi rasa kopi yang meliputi tingkat keasaman, kemanisan, sensasi di mulut, tekstur, dan body.
Wasin mengatakan industri kopi bergerak ke arah memposisikan kopi sebagai “produk mewah” seperti anggur atau wiski, di mana orang rela membayar 400–600 baht (Rp208.000–Rp312.000) per gelas. Sebuah kafe kekinian di Bangkok biasanya menjual cafe latte atau americano seharga 100–140 baht (sekitar Rp52.000–Rp73.000).
“Selama ini orang menganggap kopi hanya komoditas, tapi sekarang persepsi itu mulai berubah,” katanya.
“Kami tidak ingin menaikkan harga, tapi ada alasannya. Kami berusaha keras menahan biaya sebanyak mungkin,” ujarnya.
“Tapi kami juga ingin orang sadar akan situasi dunia yang kita hadapi saat ini.”
Laporan tambahan oleh Jarupat Buranastidporn
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.