Skip to main content
Iklan

Asia

Konflik Iran dengan AS-Israel memanas, perusahaan India waspadai potensi gangguan Selat Hormuz

Dengan mayoritas impor minyak dan gas dunia melintasi Selat Hormuz, gangguan di titik itu bisa segera mengguncang perekonomian, menurut pengamat.

Konflik Iran dengan AS-Israel memanas, perusahaan India waspadai potensi gangguan Selat Hormuz

Warga berbelanja di supermarket di Amritsar, India. (Foto: Reuters/Francis Mascarenhas)

SINGAPURA: Perusahaan-perusahaan di India mulai bersiap menghadapi gejolak setelah konflik yang semakin memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi mengguncang salah satu koridor ekonomi paling vital bagi negara tersebut.

Tanda-tanda awalnya sudah terlihat jelas. Harga minyak mentah bergerak naik di tengah kekhawatiran bahwa konflik bisa mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman.

Selat Hormuz bukan sembarang perairan. Sebagian besar pasokan minyak dan gas dunia melintasinya.

Bagi banyak perusahaan, dari produsen biskuit dan permen hingga kontraktor proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar AS, Selat Hormuz kini berubah menjadi titik rawan yang menentukan.

India sendiri merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council setelah China. Nilai perdagangan bilateral keduanya mencapai US$158 miliar (sekitar Rp2.659 triliun) pada 2024, setara sekitar 10 persen dari total perdagangan blok tersebut.

Sektor yang paling rentan adalah industri padat energi dan berorientasi ekspor seperti tekstil, kulit, permata dan perhiasan, produk kelautan, serta garmen. Kenaikan biaya transportasi dan bahan baku dapat langsung memangkas margin mereka.

Perusahaan multinasional asal Mumbai, Parle Products, produsen biskuit Parle-G yang populer di supermarket kawasan Teluk, memperkirakan biaya kemasan akan naik karena terkait langsung dengan turunan minyak mentah.

Biaya pengiriman ekspor ke Timur Tengah juga diprediksi ikut meningkat, kata wakil presiden Parle Products, Mayank Shah.

Jika konflik terus meningkat, pengeluaran perusahaan akan terdorong naik dan pada akhirnya beban tersebut bisa sampai ke konsumen, ujarnya kepada Press Trust of India.

"Harapannya situasi ini tidak berlangsung lama, dan itu yang kami inginkan," kata dia.

Salah satu iklan biskuit Parle-G produksi India. (Foto: Instagram/@officialparleg)

Meski kontribusi pasti pendapatan Parle-G dari kawasan Teluk tidak dijabarkan secara rinci, perusahaan itu tidak memiliki fasilitas produksi di Timur Tengah. Artinya, seluruh pasokan bergantung pada ekspor. 

Jika ketegangan berkepanjangan, biaya pengiriman dan energi yang lebih tinggi akan langsung berdampak.

Untuk perusahaan lain, tingkat ketergantungannya bahkan lebih besar.

Raksasa infrastruktur Larsen & Toubro (L&T) mempekerjakan lebih dari 58.000 orang di Timur Tengah. Wilayah tersebut menyumbang hampir 40 persen dari total bisnis perusahaan, menurut data dari platform analitik pasar saham Trendlyne.

L&T menyatakan tengah memantau perkembangan di Timur Tengah secara ketat dan memastikan bahwa para karyawan serta aset perusahaan tetap dalam kondisi aman.

Namun, pasar sudah menunjukkan kegelisahannya. Harga saham L&T turun lebih dari 12,5 persen sejak 27 Februari 2026, menurut laporan media lokal. Penurunan ini menjadi sinyal meningkatnya kekhawatiran para investor terhadap dampak konflik di Timur Tengah yang berpotensi meluas.

ENERGI: INDUSTRI PALING TERDAMPAK

Energi tetap menjadi kekhawatiran terbesar, menurut para pengamat.

Pada 2025, hampir setengah dari impor minyak mentah dan LNG India serta lebih dari 85 persen impor liquefied petroleum gas atau LPG melewati Selat Hormuz, menurut Ajay Srivastava, pendiri Global Trade Research Initiative atau GTRI.

"Penutupan Selat Hormuz tidak hanya akan mendorong kenaikan harga minyak global, tetapi juga mengancam ketersediaan pasokan fisik," ujarnya.

Selat tersebut menangani sekitar seperlima konsumsi minyak mentah dan LNG global. Hingga 13 juta barel ekspor minyak mentah per hari, atau sekitar sepersepuluh dari permintaan global, bisa terdampak jika terjadi gangguan serius.

Sekitar 50 hingga 60 persen impor minyak mentah India, setara 2,5 hingga 2,7 juta barel per hari, melewati selat itu, bersama dengan sebagian besar pasokan LNG negara tersebut.

Lonjakan harga minyak akan membuat tagihan impor India membengkak, memperlebar defisit transaksi berjalan, serta menambah tekanan inflasi.

Setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, harga minyak mentah acuan global melonjak hampir 10 persen di tengah kekhawatiran akan guncangan pasokan.

"Harga minyak sudah naik tajam, dan tagihan impor India akan meningkat," kata Karthik Nachiappan, peneliti di Institute of South Asian Studies.

Kenaikan harga bensin, diesel, dan LPG akan menjalar ke seluruh perekonomian, mendorong naik biaya transportasi dan manufaktur serta menekan anggaran rumah tangga, tambahnya.

Para karyawan sedang bekerja di dalam kantor di Bengaluru pada 23 Februari 2026. (Foto: Reuters/Priyanshu Singh)

PERDAGANGAN, TEKNOLOGI, DAN REMITANSI

Di luar industri minyak, kawasan Teluk merupakan pasar penting bagi ekspor India sekaligus sumber investasi yang terus berkembang.

Pengiriman barang ke Uni Emirat Arab (UEA) naik 25,6 persen menjadi US$27,4 miliar pada tahun fiskal 2023-24, terutama didorong oleh barang nonmigas. Smartphone saja menyumbang US$2,5 miliar (Rp42 triliun) dari total ekspor tersebut.

"Sebagian besar modal besar untuk sektor teknologi bergantung pada uang dari Timur Tengah. Ini akan terdampak, karena investor kecil kemungkinan akan berkomitmen di tengah krisis," kata Nachiappan.

Perdagangan dengan Iran memang tetap terbatas akibat sanksi Amerika Serikat yang telah berlangsung lama. Namun, bahkan arus perdagangan yang relatif kecil - sekitar US$1,2 miliar (Rp20,2 triliun) ekspor India dan US$408,6 juta (Rp6,88 triliun) impor pada 2025 - bisa menghadapi komplikasi tambahan jika jalur pelayaran terganggu.

Remitansi dari luar negeri menjadi diperkirakan terhambat.

Lebih dari 8,8 juta warga India tinggal di kawasan Teluk, termasuk lebih dari 3,5 juta orang di UEA dan hampir 2,5 juta orang di Arab Saudi. Mereka mengirim sekitar US$45 miliar (Rp760 triliun) ke India setiap tahun.

Setiap ketidakstabilan yang memengaruhi lapangan kerja atau arus modal dapat menekan konsumsi di sejumlah negara bagian India seperti Kerala dan Odisha yang sangat bergantung pada pendapatan dari kawasan Teluk, menurut para pengamat.

"Mereka yang bekerja di kawasan Teluk kemungkinan harus menabung lebih banyak untuk menghadapi potensi guncangan di ekonomi tempat mereka bekerja. Itu berarti uang yang bisa mereka kirim dari luar negeri ke India menjadi lebih sedikit," ujar Nachiappan.

Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan tersebut juga muncul sebagai sumber modal penting bagi sektor teknologi India. Selama 18 bulan terakhir, pendanaan dari Teluk telah menopang layanan teknologi informasi, perusahaan kecerdasan buatan, serta proyek pusat data.

PERUSAHAAN CHINA MASIH BERJALAN NORMAL, UNTUK SAAT INI

Timur Tengah semakin menjadi tujuan penting bagi perusahaan-perusahaan China, didorong oleh hubungan perdagangan, investasi, dan infrastruktur yang terus berkembang, termasuk proyek-proyek yang terkait dengan Belt and Road Initiative (BRI) milik Beijing.

Pusat-pusat ekonomi di kawasan Teluk seperti Dubai dan Riyadh kini menampung semakin banyak perusahaan dan pekerja asal China yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari teknologi, logistik, energi hingga layanan jasa.

Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut, sejumlah perusahaan China yang beroperasi di sana mengatakan kepada CNA bahwa mereka terus memantau perkembangan situasi, dengan banyak di antaranya melaporkan gangguan langsung yang masih terbatas sejauh ini.

Platform pengantaran makanan Keeta, unit internasional dari raksasa teknologi China Meituan, mengatakan operasionalnya hanya mengalami gangguan kecil, dengan penyesuaian dilakukan sesuai arahan pemerintah setempat.

"Kami terus berkomunikasi dengan otoritas terkait dan secara ketat mengikuti seluruh panduan pemerintah serta arahan resmi, termasuk instruksi yang berkaitan dengan penghentian operasional atau penyesuaian layanan," kata perusahaan tersebut dalam pernyataan kepada CNA. Mereka menambahkan bahwa layanan dapat dibatasi sementara di area tertentu demi memastikan keselamatan.

CNA memahami bahwa kondisi berbeda-beda di setiap lokasi. Di beberapa wilayah, operasional sempat dihentikan sementara setelah adanya pemberitahuan resmi, tetapi kembali berjalan dalam waktu satu hari seiring perubahan situasi.

Perusahaan tidak mengungkapkan jumlah karyawannya di kawasan tersebut, meski banyak staf direkrut secara lokal.

Para karyawan telah dianjurkan untuk bekerja dari rumah bila diperlukan dan menghindari area berisiko tinggi.

Sejumlah profesional China di kawasan Teluk menggambarkan situasi yang penuh kehati-hatian namun tetap tertib.

"Iris", seorang digital nomad China berusia 28 tahun yang bekerja di sektor Web3 dan baru tiba di Dubai, mengatakan perusahaannya telah menginstruksikan staf untuk bekerja jarak jauh dan tetap berada di dalam ruangan sebagai langkah pencegahan.

"Perusahaan mengirimkan panduan tentang apa yang harus dilakukan dan meminta kami tetap di dalam ruangan. Manajer aku juga mengecek untuk memastikan aku baik-baik saja," ujarnya.

Meski ada laporan ledakan di wilayah lain di kawasan tersebut, ia menilai situasi di Dubai tetap stabil.

"Dibandingkan dengan yang terlihat di internet, situasinya lebih terkendali di sini. Kota tetap beroperasi seperti biasa, meski beberapa layanan dan toko tutup dan pengiriman mengalami keterlambatan. Orang-orang tampak tegang, tetapi tidak ada kepanikan luas," katanya.

Zhang, pekerja administrasi berusia 25 tahun yang berbasis di Riyadh, mengatakan kehidupan sehari-hari di ibu kota Arab Saudi itu sebagian besar tetap normal, meski penerbangan dihentikan sementara.

"Tidak banyak dampak yang terasa, dan aku tidak mendengar adanya ledakan. Semuanya pada dasarnya normal, kecuali seluruh penerbangan dihentikan," kata Zhang, yang telah tinggal di Arab Saudi selama tujuh tahun dan bekerja di perusahaan swasta yang mendukung bisnis China.

Ia menambahkan bahwa perusahaannya belum menerapkan pengaturan khusus, dan supermarket serta pasokan kebutuhan harian tetap berjalan tanpa gangguan.

Meski keluarganya di China kini lebih sering menghubungi untuk memastikan kondisinya, ia belum mempertimbangkan untuk memperpendek masa tinggalnya.

"Untuk saat ini, aku hanya menunggu kabar tentang penerbangan yang kembali dibuka," ujarnya.

Collapse

MENCARI PENOPANG BARU

Untuk meredam potensi guncangan, kilang minyak India diperkirakan akan mendiversifikasi sumber pasokan minyak mentah ke Rusia, Amerika Serikat, Kanada, Afrika Barat, dan Amerika Latin, sambil memanfaatkan cadangan minyak strategis.

Namun, alternatif tersebut sering kali berarti rute pengiriman yang lebih panjang, biaya angkut yang lebih tinggi, serta lebih sedikit keuntungan kontrak jangka panjang dibandingkan pemasok tradisional dari kawasan Teluk.

"Krisis yang sedang berlangsung kembali memunculkan seruan untuk mereset strategi energi India," kata Srivastava, seraya mencatat bahwa pada 1985, India memproduksi hampir 85 persen kebutuhan minyaknya sendiri, tetapi kini justru mengimpor hampir 85 persen.

Para eksportir juga dapat melirik Asia Tenggara dan kawasan Pasifik sebagai pasar baru, atau lebih mengandalkan kekuatan konsumsi domestik India.

Namun, rantai pasok yang telah dibangun selama puluhan tahun tidak dapat dengan mudah diubah, kata Nachiappan.

Secara strategis, India juga berpotensi menghadapi tekanan untuk memperluas perannya dalam keamanan maritim guna melindungi jalur perdagangan di Samudra Hindia. Hal ini bisa mencakup peningkatan pengawalan angkatan laut serta kerja sama yang lebih erat dengan mitra di kawasan Teluk.

Pada Rabu, perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sudah mencapai perairan India, ketika kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka.

Kapal Iran tersebut sedang dalam perjalanan pulang dari India setelah mengikuti latihan angkatan laut multinasional dan International Fleet Review. Insiden itu memicu pertanyaan dari sejumlah politikus di India, termasuk pemimpin Partai Kongres Pawan Khera, mengenai pengaruh India di kawasan sekitarnya sendiri.

Kementerian Luar Negeri India membantah klaim yang disampaikan oleh saluran berbasis di Amerika Serikat, One America News Network, yang menyebut Amerika Serikat menggunakan pelabuhan India untuk menyerang Iran. Pemerintah India menyebut klaim tersebut "palsu dan tidak benar".

India menyatakan "keprihatinan mendalam" atas eskalasi konflik di Timur Tengah dan menyerukan penahanan diri serta dialog.

Untuk saat ini, New Delhi bergerak dengan penuh kehati-hatian. Pengamat menilai, kontrak energi yang sudah berjalan dan cadangan yang tersedia di India membuat potensi gangguan parah, jika terjadi, kemungkinan akan berkembang dalam hitungan pekan, bukan hari.

Namun, dengan harga minyak yang bergejolak, nilai tukar rupee yang berada di bawah tekanan, serta sentimen investor yang rapuh, dunia usaha India kini bersiap menghadapi periode ketidakpastian yang berkepanjangan di salah satu pasar luar negeri terpenting mereka.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan