Ketika Phuket jadi tempat pelarian warga Rusia yang kabur dari wajib militer
Sejak invasi di Ukraina, beberapa warga Rusia berbondong-bondong ke Thailand, kabur untuk menghindari wajib militer atau perekonomian yang memburuk. Namun, bagaimana tanggapan para penduduk lokal terhadap semakin banyaknya orang Rusia?
Bagi banyak pelancong yang pergi ke Thailand, Phuket menjadi pilihan destinasi mereka.
PHUKET: Empat tahun yang lalu, Vladimir Yeremenko pindah ke Phuket usai berkarier di negara-negara lain.
Pekerjaannya adalah di bidang properti. Vila-vila bermunculan di sekitar pulau dekat pantai barat daya Thailand itu. Harganya berkisar mulai dari US$300.000 (Rp4,7 miliar) hingga US$18 juta atau lebih.
Biasanya, pasar properti mewah di Thailand didominasi oleh orang China. Tapi dengan permintaan pasar yang terus meningkat, Yeremenko melihat satu kelompok klien yang makin berkembang sejak tahun 2022: orang Rusia.
"Setiap segmen (ada) permintaannya tersendiri. Semakin ke sini, semakin banyak orang yang menanyakan properti mewah, seperti vila di tepi pantai atau setidaknya ... vila (dengan pemandangan laut)," ujarnya.
Sejak menginvasi Ukraina – yang sudah berlangsung dua tahun per 24 Februari lalu - Rusia mengalami aliran modal keluar asing (capital outflow) besar-besaran.
Menurut Center for Macroeconomic Analysis and Short-Term Forecasting, lembaga wadah pemikir asal Moskow, aliran keluar bersih (net outflow) Rusia mencapai US$239 miliar pada 2022, empat kali lebih banyak dibandingkan 2021.
Jumlah ini meningkat karena banyak warga Rusia mengalihkan investasinya ke negara lain akibat dari sanksi ekonomi berat yang mempengaruhi negaranya. Alhasil, Phuket “menjadi salah satu destinasi utama” mereka, kata Phattanan Phisutvimol, Sekretaris Jenderal dan Wakil Presiden Asosiasi Real Estat Phuket (P-REA).
"Kenaikan di sektor barang mewah sangatlah besar. Tahun ini saja ada hampir 4.000 vila mewah yang sedang dibangun di Phuket dan ini sudah terhitung banyak, belum lagi kondominium mewah."
Ia menyebutkan bahwa lima investor asing yang menguasai sektor properti di Phuket berasal dari China, Rusia, Amerika, Jerman, dan Eropa. Bangkok Post melaporkan bahwa di tahun 2022, Rusia menjadi kelompok pembeli asing terbesar untuk kondominium.
"Untuk pasar Rusia, saya pikir ini baru saja dimulai," kata Phattanan.
Selain berinvestasi, beberapa orang kaya dari Rusia ingin membangun rumahnya di pulau yang terletak di Laut Andaman tersebut. Situs berita Khaosod English melansir laporan dari petugas imigrasi bahwa pada bulan September, 9.275 orang Rusia yang tinggal di sini memiliki jenis visa jangka-panjang.
Visa ini dikenal sebagai Thailand Privilege Card. Harganya berkisar mulai dari 900.000 baht (Rp391 juta) untuk lima tahun, hingga 5 juta baht jika ingin menetap selama 20 tahun atau lebih.
"Orang-orang mulai banyak mencari rumah kedua mereka," kata Yeremenko, yang kini bekerja di grup properti FazWaz.
"Banyak orang memutuskan untuk pindah ke Phuket karena Phuket itu salah satu destinasi paling populer dan menarik bagi mereka para turis. Dan tempatnya juga tidak begitu jauh dari Rusia bagian timurnya."
Tahun lalu, terdapat lebih dari satu juta turis Rusia yang mengunjungi Pulau Phuket, menjadikannya kelompok pengunjung asing terbesar di Thailand, menurut Asosiasi Turis Phuket (PTA). Kelompok ini kian bertambah, meramaikan pulau Phuket dengan toko-toko bertuliskan bahasa Sirilik dan iklan properti untuk pembeli Rusia.
Karena semakin banyak wisatawan dan investor properti yang datang ke Pulau Phuket, program Insight CNA ingin mencoba menelusuri dampaknya terhadap 400.000 penduduk setempat.
HARGA MELONJAK
Di bawah hukum Thailand, orang asing boleh memiliki unit kondominium sepenuhnya, namun hanya dalam batas jumlah tertentu. Meski begitu, mereka tidak bisa membeli atau memiliki lahan atas nama mereka.
Namun, tetap saja, ada celah. Orang asing bisa menyewa tanah atau rumah orang Thailand hingga 30 tahun. Mereka bisa membeli properti melalui sebuah perusahaan kalau, misalnya, 51 persen saham perusahaan dipegang oleh orang Thailand.
"Ini yang jadi masalah, yang dikhawatirkan pemerintah," kata Phattanan, menyinggung perusahaan-perusahaan calo. "Pemerintah sedang mencari cara bagaimana mengatasinya tanpa mengganggu investasi.
"Itu dia, celah hukumnya. Tidak melanggar hukum.”
Selama pandemi, pengembang properti mau tidak mau harus menjeda atau membatalkan proyek pembangunannya karena tidak ada investasi atau turis yang masuk ke negaranya. Ketika pengunjung kembali berdatangan, dan industri konstruksi - yang masih belum dapat bangkit kembali - tidak dapat menyanggupi semua permintaan; alhasil, harga properti melonjak.
"Awal tahun lalu, sebidang tanah seluas 1,600 meter persegi di Laguna, Bang Jo atau daerah sekitarnya bisa menelan biaya sekitar tiga hingga lima juta baht," kata Phattanan. "Sekarang, ... Anda harus bayar delapan hingga 15 juta baht.
"Artinya, para pengusaha saat ini sedang menanggung biaya yang sangat tinggi, belum lagi biaya konstruksi yang juga sudah naik. Faktor-faktor ini semua yang menyebabkan kenaikan harga pasar real estate."
Sebagian harganya "lebih tinggi dari harga rumah di luar negeri," kata pebisnis Katesiree Wise yang juga pindah dari Bangkok ke Phuket dua tahun yang lalu dan kini tinggal di rumah sewaan bersama suaminya.
Ia menyinggung sebuah kompleks perumahan yang menarik perhatiannya yang baru saja selesai dibangun. Harganya mulai dari 35 juta baht hingga mencapai "lebih dari 100 juta baht."
"Tempat itu mungkin, targetnya orang asing ketimbang orang Thailand," ucapnya sembari menceritakan tentang Kecamatan Choeng Thale.
Meski pembeli asing cenderung menyasar pasar barang mewah, hal ini tetap mengakibatkan naiknya harga sewa dan biaya hidup bagi penduduk setempat yang tinggal di kawasan tempat wisata populer seperti kota tua.
"Tahun 2023, setelah negara kami dibuka, dan turis mulai kembali berdatangan, harga sewa bisa naik dua hingga tiga kali lipat." kata Katesiree. Ia sebelumnya menyebut bahwa tempat cuci pakaian dan toko sepeda termasuk ke dalam bisnis-bisnis yang "menghadapi kenaikan" harga sewa "besar-besaran."
"Kemungkinan, tantangan yang dihadapi oleh bisnis-bisnis lama dan lokal di kota lama akan semakin meningkat dalam waktu dekat." Mungkin hanya mereka yang punya modal besar yang bisa datang ke sini untuk berinvestasi."
Dia sendiri punya toko suvenir yang ia kelola bersama dengan suaminya. Rencananya, mereka ingin merambah bisnis penginapan. Saat ini, mereka sedang mencari tempat yang bisa disewa untuk disewakan kembali kepada turis-turis yang ingin menginap. Tapi, di beberapa wilayah, harganya berada di luar bujet mereka.
Isu mengenai dampak membludaknya investor asing terhadap warga lokal adalah hal "jarang kita bicarakan," kata Chayanon Phucharoen dari Fakultas Perhotelan dan Pariwisata, Price of Songkla University di Phuket.
"Orang yang berpenghasilan rendah jadi yang paling terdampak. Contohnya, orang yang ... punya restoran nasi ayam kini punya saingan asing yang juga tertarik untuk menyewa tempat itu. Akibatnya, harga sewa ... akan meningkat," tuturnya.
"Kita perlu banyak mencari tahu tentang masalah ini agar industri pariwisata kita bisa lebih berkelanjutan. Keberlanjutan dalam konteks ini tidak hanya mencakup soal lingkungan saja, tapi juga bagaimana penduduk lokal bisa memperoleh manfaat dari pariwisatanya."
MENCURI PEKERJAAN
Selain harga properti, ada juga gesekan yang terjadi antara penduduk lokal dan pendatang baru asal Rusia, menyangkut mata pencaharian di beberapa sektor lainnya.
"Sejak awal perang, banyak sekali orang Rusia yang mulai datang ke Thailand dan Phuket. Dan masalah pekerjaan ilegal semakin meningkat," kata Letnan Kolonel Akachai Siri, Kepala Polisi Turis Phuket.
Beberapa pekerjaan yang ada di Thailand, seperti pemandu wisata, tukang potong rambut dan supir taksi, merupakan jatahnya orang Thailand. Dari semua laporan tentang pekerja asing ilegal di Phuket, terdapat banyak sekali orang Rusia yang mengambil pekerjaan penduduk setempat yang sedang berusaha pulih dari dampak pandemi.
"Mereka biasanya bawa mobil sewaan untuk jemput penumpang. Setelah itu baru mereka tawarkan paket tur juga, karena penumpangnya sudah jadi pelanggan," kata Krich Tehpbamrung, seorang pemandu wisata.
"Pemandu wisata Thailand yang bisa bahasa Rusia (juga) protes bahwa mereka tidak mendapat pekerjaan di perusahaan Rusia yang melayani pelanggan asal Rusia. Salah satu alasannya, sudah ada orang Rusia yang bekerja di sana."
Kepada CNA, ia menunjukkan sebuah foto stiker iklan tur keliling Phuket dalam bahasa Rusia. Tulisan seperti ini, katanya, bisa ditemukan di tempat-tempat yang populer di kalangan turis Rusia.
"Taksi Rusia terbaik. Kunjungi Patung Buddha raksasa, taman safari harimau, penangkaran gajah, pabrik perhiasan, ... topeng monyet, pertunjukan ular dan mal," ucapnya, membaca pesan yang diterjemahkannya. "Mereka juga ada mencantumkan nomor telepon mereka."
Setiap hari, polisi turis berkeliling di wilayah pesisir dan kota tua untuk mengawasi aktivitas ilegal.
"Orang Rusia lebih pandai daripada pebisnis Thailand karena mereka tahu bagaimana memasarkan jasa mereka," kata Akachai. "Mereka bisa pakai aplikasi mobile yang banyak digunakan orang Rusia, seperti Telegram, WhatsApp dan Facebook.
Kalau mereka tertangkap, mereka bisa ... dikirim kembali ke negara asal mereka. Mereka tidak bisa masuk kembali (ke Thailand) karena mereka nanti akan masuk ke daftar hitam."
Pun, ini bukan masalah baru di Phuket. Lagi pula, sebelumnya ada juga kelompok turis lain yang masuk dalam pengawasan polisi, menurut Bhummikitti Ruktaengam, penasihat Asosiasi Turis Phuket (PTA).
"Sekitar 10 tahun yang lalu, ada banyak pasangan Korea (Selatan) yang berbulan madu. Saat itu, kami mengalami masalah yang sama persis, di mana orang Korea mulai membangun usaha di pulau ini, mulai dari restoran hingga agensi travel. Ketika jumlah mereka mulai turun, masalah ini hilang," ingatnya.
Masalah itu terulang kembali ketika turis China berduyun-duyun masuk ke Phuket. Jadi dia "tidak kaget" ketika melihat orang-orang Rusia mencoba "mencari kesempatan" dari teman sebangsanya yang tinggal di sini.
"Banyak penduduk setempat yang bilang kepada saya bahwa mereka lihat orang Rusia bawa turis Rusia keliling naik vans. Ketika polisi mendekati mereka, mereka bilang semua yang ada di dalam vans adalah temannya," imbuhnya.
"Kendala pertama" yang dihadapi polisi turis saat melakukan interogasi adalah bahasa, kata Akachai. "Semua polisi turis sudah lulus tes bahasa, tapi bahasa Inggris," tambahnya. "Kalau bahasa Rusia, sangat sulit sekali."
Berdasarkan investigasi mereka dan penangkapan sebelumnya terhadap orang Rusia yang bekerja secara ilegal, sekitar 90 persen dari mereka masuk ke Thailand dengan menggunakan visa turis. "Sebagian datang ke sini untuk pertama kalinya. Yang lain sudah mengurus perpanjangan visa," ungkapnya.
"Kami tidak ingin tujuan utama pemerintah, yaitu untuk menarik wisatawan sebanyak-banyaknya, dieksploitasi oleh oknum-oknum yang mengaku sebagai turis. ... Sebagian besar turis Rusia adalah turis yang berkualitas."
DORONGAN UNTUK PULIH
Jadi, meskipun ada laporan mengenai ketegangan antara orang Thailand dan pelancong Rusia, apa yang CNA temukan di lapangan tidak sesederhana itu. Banyak warga Phuket, seperti Apichai Mohamad, yang menyambut para pendatang baru dengan kepala dingin.
"Di mana-mana ada berita tentang geng mafia, tapi itulah yang mereka katakan. Saya sendiri belum pernah mengalaminya. Mungkin, mereka punya masalah dan bentrok dengan orang-orang mereka sendiri, tapi masalah-masalah ini masih bisa diatasi pihak berwenang," kata Apichai.
Orang baik dan orang jahat ada di mana saja, terlepas dari negara mana mereka berasal."
Thailand sangat bergantung pada pariwisata, yang menyumbang hampir seperlima dari ekonominya sebelum pandemi. Bahkan, ini lebih terasa ketika berada di tempat seperti Phuket, di mana pendapatan tahunan yang dihasilkan dari turis adalah sekitar 400 miliar baht.
Tahun lalu, masuknya turis Rusia ke Phuket membantu industri pariwisata setempat pulih. Dan bagi orang seperti Supradit Chariyasophit, yang sudah menjalankan sekolah bahasa di sini selama 14 tahun, kedatangan mereka menjadi dorongan yang diperlukan bisnisnya.
"Jumlah siswa asal Rusia ... sebelum COVID-19 bisa sekitar 100 siswa per tahunnya," kata pemilik Genius Language School. "Tahun 2022, jumlahnya naik tajam menjadi 300 hingga 400 mahasiswa. ... Mereka belajar bahasa Thailand dan Inggris.
"Saking banyaknya orang Rusia yang datang ke sini akibat dari perang ... jumlah kursi tidak cukup untuk menampung mereka. Itu sebabnya banyak sekolah yang membuka banyak cabang. Mereka-mereka yang melihat kesempatan ini juga ikut membuka sekolah bahasa baru."
Semakin banyak orang Rusia yang menetap lama di Phuket, kata Bhummikitti. Sebelumnya, ia menyebut bahwa tahun lalu, sebanyak 6.000 visa pelajar telah diberikan kepada kelompok ini.
"Kelompok yang menetap lama sangat menguntungkan negara Thailand karena mereka bisa merangsang pertumbuhan ekonomi dan membantu mendistribusikan uang ke berbagai sektor," imbuh Supradit.
"Kemungkinan, orang-orang yang mengambil kursus di sekolah bahasa juga akan membawa anak-anaknya ke Thailand dan bersekolah di sekolah internasional. Mereka akan membawa orang tuanya untuk membantu menjaga anak-anaknya. Akibatnya, ada banyak uang yang dikeluarkan."
Tahun lalu, warga Rusia menjadi kelompok pengunjung terbesar kelima yang datang ke Thailand. Tampaknya, tren ini akan terus berlanjut. Januari ini, kerajaan Thailand menyambut hampir 220.000 pelancong Rusia - kelompok pengunjung terbesar keempat, setelah China, Malaysia, dan Korea Selatan.
Di bulan Oktober, pemerintah mengumumkan kabar yang membuat Thailand menjadi menarik di mata orang Rusia. Mulai November hingga April ini, mereka diperbolehkan untuk tinggal selama 90 hari tanpa visa, meningkat dari sebelumnya yang hanya 30 hari.
"Dimitri" menjadi salah satu orang yang memanfaatkan kesempatan ini. Dia meninggalkan Rusia pada musim gugur 2022 lalu, saat kondisi di kampung halamannya semakin memburuk dan Rusia mulai menggalakkan wajib militer kepada warganya untuk turut berpartisipasi dalam perang. Ia bersedia diwawancarai oleh CNA, namun dengan syarat identitasnya dirahasiakan.
"Saya kabur dari perang; saya pindah ke Georgia. Tapi keluarga saya masih di Rusia," kata Dimitri, seorang ayah beranak dua. "Saya tidak sempat lagi (untuk membawa mereka ke sini) karena sekolah, karena kondisi keuangan."
Saat tinggal di Georgia, dia mengunjungi Phuket. Ia "suka dengan tempatnya" dan kembali ke Thailand setelah masa berlaku visa untuk wisatawan Rusia diperpanjang. Dia bekerja dari jarak jauh (remote) dan rutin mengirimkan uang untuk menghidupi keluarganya di kampung halaman.
"Mungkin, (dalam waktu dekat) keluarga saya juga akan ke sini. Atau mungkin saya harus pulang dulu untuk mencari solusi sementara. Tapi saya masih belum memutuskan," ucapnya. "Kondisinya sangat sulit bagi keluarga kami."