Skip to main content
Iklan

Asia

‘Tidak mengejutkan’: Mengapa tragedi di tempat hiburan malam terus berulang di Thailand

Thailand berjanji memperketat keselamatan di tempat hiburan malam setelah kebakaran besar sebelumnya. Namun, usai kebakaran maut di sebuah bar di Bangkok pada pekan lalu, pemilik bar, pengunjung, dan para ahli mengungkapkan kepada CNA berbagai masalah serupa masih terjadi.

 ‘Tidak mengejutkan’: Mengapa tragedi di tempat hiburan malam terus berulang di Thailand

Petugas forensik kepolisian memeriksa lokasi kebakaran yang menewaskan 34 orang di sebuah bar di Bangkok, Thailand, pada 13 Juli 2026. (Foto: Reuters/Arnun Chonmahatrakool)

BANGKOK: Saat warga Bangkok terbangun pada Senin (13/7) pagi dengan kabar kebakaran hebat di sebuah bar pada malam sebelumnya, Vorada Hankijjakul mulai menerima pesan yang menanyakan apakah ia baik-baik saja.

Sebagai pengunjung rutin tempat hiburan malam, ia tidak keluar pada Minggu. Sesaat sebelum tengah malam, saksi melihat asap muncul di dekat panggung musik di tempat hiburan Rong Beer Na Lat Phrao. Tak lama kemudian terdengar ledakan, dan tempat itu dilalap api serta diselimuti asap beracun yang pekat.

Korban tewas kini mencapai 34 orang. Sebanyak 23 orang masih dirawat di rumah sakit di Bangkok, termasuk 13 di unit perawatan intensif (ICU).

Bagi analis berusia 26 tahun itu, insiden tersebut memperkuat perasaan yang dirasakan banyak orang di dunia hiburan malam Bangkok: tragedi seperti ini bisa terjadi pada siapa saja, di mana saja. Ini mencerminkan risiko yang disadari banyak warga Thailand, tetapi sebagian besar mereka abaikan saat pergi menikmati hiburan malam.

Bagi Vorada, pengunjung lain, dan pemilik bar di ibu kota yang berbicara kepada CNA setelah kebakaran itu, insiden seperti ini bukan hal baru maupun sesuatu yang mengejutkan.

"Reaksi pertama saya, 'Sial, ini tragis'. Syukurlah itu tidak terjadi di klub yang saya datangi malam sebelumnya. Dampaknya pasti jauh lebih buruk, apalagi melihat banyaknya orang yang mereka coba masukkan," katanya.

"Sebagian dari diri saya merasa kejadian seperti ini memang tinggal menunggu waktu."

Setelah tragedi pada Minggu (12/7), Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan standar keselamatan harus ditingkatkan menjadi "agenda nasional". Ia memerintahkan instansi terkait menyelesaikan inspeksi gedung dan tempat hiburan di seluruh negeri dalam 30 hari.

Menurutnya, inspeksi harus berfokus pada sistem proteksi kebakaran, pintu darurat, kapasitas pengunjung, serta kepatuhan ketat terhadap hukum dan standar keselamatan.

Sebuah gitar listrik yang hangus tergeletak di luar bar Rong Beer Na Lat Phrao di Bangkok, Thailand, 13 Jul 2026. (FOTO: CNA/Jack Board)

Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt juga memerintahkan aparat kota melakukan inspeksi menyeluruh untuk mengidentifikasi risiko kebakaran dan memastikan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.

Penyelidikan saat ini berfokus pada dugaan pintu darurat yang terhalang, renovasi bangunan yang tidak semestinya, serta penggunaan bahan mudah terbakar untuk dekorasi panggung dan peredam suara.

"Tentu reaksi pertama adalah syok dan sedih bagi para korban serta keluarga dan teman-teman mereka," kata Fah, pengelola bar di Bangkok yang meminta hanya disebut dengan nama panggilannya.

"Tapi reaksi kedua adalah, 'Kejadian lagi?' Sayangnya, peristiwa semacam ini tidak mengejutkan di Thailand."

Thailand berulang kali berjanji meningkatkan keselamatan di tempat hiburan malam setelah kebakaran-kebakaran besar. Insiden terbaru ini—yang terjadi kurang dari 3km dari Pasar Akhir Pekan Chatuchak—membuat negara itu kembali mempertanyakan sejumlah hal yang sama yang sudah diperdebatkan selama hampir dua dekade.

Pada malam pergantian tahun 2009, kebakaran melanda Santika Club di kawasan Ekkamai, Bangkok. Sebanyak 67 orang tewas dan lebih dari 220 lainnya terluka, menjadikan kebakaran di klub malam ini paling mematikan dalam sejarah Thailand.

Penyelidik menyimpulkan api kemungkinan dipicu efek piroteknik atau kembang api di dalam ruangan yang menyulut busa akustik sangat mudah terbakar di langit-langit dan dinding.

Pengunjung berlari saat api berkobar di sebuah bar di Bangkok, Thailand, dalam tangkapan layar yang diambil dari video media sosial yang dirilis pada 13 Juli 2026. (txng.di.kwa.deim.hi.di via Facebook/via REUTERS)

Situasi serupa terjadi di Mountain B Club di Sattahip, Provinsi Chonburi, pada 2022. Api melalap busa akustik mudah terbakar yang dipasang di seluruh tempat hiburan itu, menewaskan 26 orang.

Penyelidik menemukan pelanggaran keselamatan yang serius, termasuk pintu keluar belakang yang terkunci, sehingga pengunjung praktis hanya memiliki satu jalur evakuasi yang bisa digunakan.

Setelah kedua kebakaran tersebut, pemerintah berjanji memperketat penegakan aturan. Namun, menurut para pengamat, banyak persoalan yang sama kini kembali menjadi fokus penyelidikan dalam insiden terbaru ini.

"Ini adalah mimpi buruk yang terus berulang dan tidak ingin dilihat siapa pun terjadi lagi," kata Presiden Khaosan Road Business Association, Sanga Ruangwattanakul. Asosiasi itu menaungi kawasan Khaosan Road di Bangkok yang terkenal sebagai pusat hiburan malam.

"Dan kali ini, kepercayaan publik benar-benar terguncang."

Jalan Khaosan merupakan salah satu kawasan hiburan paling populer di Bangkok. (Foto: CNA/Jack Board)

BEKAS LUKA MASA LALU

Kebakaran Santika meninggalkan trauma mendalam, terutama bagi banyak anak muda yang gemar berpesta di Bangkok. Trauma itu masih terasa hingga kini dan kembali muncul setiap kali tragedi serupa terjadi.

"Saya masih ingat Santika seperti baru kemarin. Waktu itu saya sudah sering datang ke tempat-tempat seperti itu. Kejadiannya saat malam tahun baru, dan saya ingat perasaan bahwa itu bisa saja terjadi di klub mana pun," kata Cha, yang meminta hanya disebut dengan nama panggilannya dan kini mengelola sebuah bar di Bangkok.

Ia mengaku terkejut dengan kebakaran di Rong Beer Na Lat Phrao, tetapi "tidak terkejut", mengingat pengalamannya melihat cara industri hiburan malam beroperasi dan lemahnya penegakan aturan keselamatan.

Di bar yang telah beroperasi sekitar setahun itu, katanya, belum pernah ada satu pun inspeksi keselamatan.

"Tidak ada sama sekali. Tidak pernah ada pemeriksaan resmi. Bukan dari pemilik gedung, bukan dari pemilik bar sebelumnya, dan tidak pernah dari polisi," katanya.

Karena itu, ia dan rekan-rekan usahanya mengambil tanggung jawab sendiri dengan memasang alarm asap dan alat pemadam api untuk melindungi para pengunjung.

Mereka bahkan memasang tangga tali di balkon bar agar orang bisa turun dari lantai tiga jika kebakaran terjadi di ruko tua yang dialihfungsikan menjadi bar di kawasan Bang Rak, Bangkok, itu.

Setelah menghadiri pengarahan wajib tentang keselamatan kebakaran yang digelar otoritas setempat pada Selasa (14/7) menyusul kebakaran di Lat Phrao, ia merasa tanggung jawab masih lebih banyak dibebankan kepada pemilik bar.

"Yang saya rasakan adalah, 'ini tanggung jawab kalian'. Memang benar, tapi di saat yang sama mereka juga punya peran. Mereka bilang akan ada inspeksi, jadi kita lihat saja apakah itu benar-benar dilakukan," katanya, merujuk pada pihak berwenang.

Bagi "P", pemilik bar lain di Bangkok yang meminta identitasnya dirahasiakan, tragedi seperti kebakaran Santika telah membentuk cara generasi baru pemilik usaha merancang bisnis mereka, dengan keselamatan sebagai prioritas sejak awal.

Menurutnya, langkah-langkah keselamatan harus benar-benar diterapkan, bukan sekadar tertulis di atas kertas. Namun, dari pengalamannya, aturan itu jarang ditegakkan sehingga tragedi seperti di Rong Beer Na Lat Phrao lebih mudah terjadi.

"Ini kejadian yang seharusnya tidak pernah terjadi, apalagi bukan yang pertama. Rasanya sangat menyedihkan," katanya.

"Kami semua berasal dari generasi yang tumbuh dengan berita tentang kebakaran Santika Club. Saat itu kami masih anak-anak dan melihat betapa dahsyatnya tragedi tersebut. Padahal seharusnya itu menjadi hari penuh perayaan dan kebahagiaan.

"Berita itu membuat kami sadar bahwa ketika ingin membuka tempat hiburan, restoran, pub, atau bar sendiri, kami harus melakukan segala yang kami bisa agar hal seperti itu tidak terjadi."

Vorada dan pengunjung lain mengatakan mereka masih sering menemukan berbagai risiko keselamatan saat mendatangi bar dan klub di Bangkok.

"Banyak tempat berusaha memasukkan meja dan pengunjung sebanyak mungkin demi memaksimalkan keuntungan. Ini bukan hal baru, bahkan kadang hampir tidak ada ruang untuk bergerak," katanya.

"Kalau tempat-tempat seperti itu masih bisa lolos meski kelebihan kapasitas atau pintu keluar daruratnya terhalang, kita jadi mempertanyakan seberapa efektif sebenarnya inspeksi yang dilakukan."

Natthida Duangtamchai, yang sedang minum di kawasan utara Bangkok pada Selasa (14/7) malam, mengaku ia sering berada di tempat penuh sesak hingga nyaris tidak bisa berjalan.

"Kalau terjadi sesuatu, saya mungkin tidak akan tahu harus keluar lewat mana. Saat itu saya tidak terlalu memikirkannya, tetapi setelah kejadian seperti ini, saya sadar situasinya memang bisa sangat berbahaya," kata bankir berusia 29 tahun itu.

"Saya berharap insiden ini membuat pemilik tempat hiburan maupun para pengunjung lebih serius soal keselamatan."

Garis polisi dan tumpukan furnitur di luar tempat hiburan yang hangus terbakar di Distrik Chatuchak, Bangkok, 13 Jul 2026. (FOTO: CNA/Jack Board)

PEMBUNUH DALAM SENYAP

Setelah kebakaran Santika, pemerintah Thailand memerintahkan inspeksi terhadap pub, bar, dan klub malam di seluruh negara itu untuk memeriksa pintu darurat, kapasitas pengunjung, izin usaha, serta keselamatan bangunan. Ratusan tempat diperiksa dan sejumlah di antaranya ditutup sementara karena melanggar aturan.

Karena kebakaran pada Minggu (12/7) kembali mengikuti pola yang sama seperti insiden-insiden sebelumnya, Presiden Asosiasi Insinyur Struktur Thailand Amorn Pimanmas menyerukan perlunya "semacam revolusi" dalam prosedur keselamatan kebakaran.

"Bukan berarti kita tidak punya undang-undang. Masalahnya adalah bagaimana aturan itu bisa ditegakkan secara ketat mulai sekarang," katanya. "Pemerintah harus menjawab pertanyaan itu."

Penyelidik kebakaran masih menelusuri laporan bahwa pintu darurat terhalang atau terkunci, setelah banyak korban ditemukan di kamar mandi di bagian belakang tempat hiburan tersebut, yang mengindikasikan mereka tidak dapat menyelamatkan diri dari kepulan asap tebal.

Sanga mengatakan persoalan seperti itu "masih mengintai" di banyak tempat hiburan, terutama yang dialihfungsikan dari ruko.

Menurutnya, praktik berbahaya lain seperti mengunci pintu darurat dengan gembok untuk mencegah orang keluar-masuk tanpa izin juga masih terjadi.

"Ini pembunuh dalam senyap yang sering diabaikan pengelola demi kemudahan sesaat atau karena kelalaian."

Undang-undang zonasi dan klasifikasi usaha juga perlu ditinjau, kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Mahidol, Punchada Sirivunnabood.

"Saat ini kondisinya sangat semrawut di Thailand. Ada tempat yang terdaftar sebagai restoran, tetapi beroperasi sebagai klub malam. Ketika aturan tidak mengikuti perkembangan, orang jadi bisa mencari celah," katanya.

Pejabat mengatakan Rong Beer Na Lat Phrao berizin sebagai restoran dengan pertunjukan live music bukan tempat hiburan, karena lokasinya berada di luar zona yang ditetapkan untuk usaha semacam itu.

Menurut Amorn, yang berbicara kepada wartawan di lokasi kebakaran, status tersebut membuat tempat itu tidak wajib memenuhi persyaratan keselamatan kebakaran yang lebih ketat bagi tempat hiburan.

Santika juga berizin sebagai restoran, bukan klub malam, dan diduga telah beroperasi secara ilegal selama bertahun-tahun meski pernah beberapa kali tersandung kasus kepolisian.

Selama pandemi COVID-19, banyak pelaku usaha hiburan malam beralih menggunakan izin restoran agar bisa kembali beroperasi sesuai aturan kesehatan masyarakat.

Para pengkritik mengatakan sebagian tempat kemudian tetap beroperasi sebagai bar atau klub malam, tetapi masih menggunakan izin restoran sehingga menciptakan area abu-abu dalam pengawasan regulasi dan keselamatan.

Ibu korban, Kanokthip Srisuk, mengunjungi bar Rong Beer Na Lat Phrao—lokasi kebakaran maut—untuk memberikan penghormatan kepada Srisuk dan korban lain yang tewas dalam kebakaran bar tersebut, sehari setelah kejadian, di Bangkok, Thailand, 14 Juli 2026. (Foto: Reuters/Chalinee Thirasupa)

Punchada mengatakan praktik korupsi yang masih terjadi membuat klub malam bisa membayar untuk memperoleh izin usaha atau persetujuan perluasan bangunan, "sehingga pejabat terkadang menutup mata atau mengabaikan persoalan tersebut".

"Tidak ada yang datang melakukan inspeksi pada malam hari. Akibatnya, mereka tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu," katanya.

"Hal ini menyebabkan inspeksi tidak dilakukan secara serius dan pengawasan berkelanjutan tidak berjalan, sehingga kejadian seperti ini terus berulang."

Sanga mengatakan sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak tempat memanfaatkan "celah" dengan beroperasi sebagai restoran untuk menghindari audit keselamatan yang lebih ketat bagi klub malam.

Faktor-faktor itu membuat pengunjung bar merasa semakin tidak aman, kata Rachaphum Panichsombat, 38, saat mengunjungi sebuah bar di Bangkok pada Selasa (14/7) malam.

"Ini jelas membuat saya berpikir dua kali. Menurut saya, standar keselamatan dan inspeksinya tidak terlalu ketat. Thailand juga tidak punya langkah pencegahan yang kuat untuk hal-hal seperti ini," katanya.

"Namun, ini mungkin tidak membuat saya berhenti pergi ke tempat hiburan. Saya hanya akan lebih selektif memilih tempat."

Dalam jangka pendek, Sanga memperkirakan pelaku usaha yang patuh aturan akan terbebani birokrasi yang memakan waktu atau biaya, sementara tempat yang tidak memenuhi standar berisiko ditutup.

Namun, ujian sesungguhnya, katanya, akan datang ketika waktu berlalu dan perhatian publik memudar, saat "semuanya perlahan kembali sunyi".

"Ini kelemahan kronis kami," katanya. Menurutnya, undang-undang tidak perlu diperketat atau ditulis ulang karena sebenarnya sudah "sangat komprehensif".

"Yang harus dilakukan adalah membuat hukum benar-benar berarti: ditegakkan secara konsisten, adil, dan sepanjang tahun, bukan hanya sesaat setelah bencana terjadi," katanya.

Karangan bunga dan berbagai persembahan diletakkan di luar bar Rong Beer Na Lat Phrao pada 14 Jul 2026 untuk mengenang para korban yang tewas dalam kebakaran. (FOTO: Reuters/Chalinee Thirasupa)

Pandangan itu diamini Fah, pemilik bar.

"Setiap kali kejadian seperti ini terjadi, kita memang jadi lebih waspada. Tapi setelah beberapa bulan, sayangnya kita kembali lengah atau tidak terlalu peduli," katanya.

"Menurut saya, pengelola tempat hiburan juga harus mencari cara agar pengunjung tetap waspada. Harus ada perubahan perilaku."

Menurut Cha, di situlah akar persoalan Thailand.

Ia menyebut kata dalam bahasa Thailand, pramath, yang berarti bersikap ceroboh atau mengambil keputusan secara sembrono.

Menurutnya, istilah itu mencerminkan budaya yang lebih luas, di mana langkah-langkah keselamatan sering dianggap sebagai pilihan, bukan keharusan.

Pola pikir itulah yang, menurutnya, menjelaskan mengapa meski tragedi terus berulang dan janji reformasi terus diucapkan, pembahasan yang sama selalu muncul kembali.

"Ini memang sangat khas Thailand. Alasannya sama seperti mengapa orang Thailand tidak memakai helm saat mengendarai motor," katanya.

"Ini sangat dipengaruhi budaya, dan juga karena penegakan hukum di sini sangat longgar. Seolah-olah tidak ada aturan yang benar-benar ditegakkan, dan orang beranggapan itu tidak akan terjadi pada dirinya."

Laporan tambahan oleh Jarupat Karunyaprasit.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ps)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan