Skip to main content
Iklan

Asia

'Kami tidak bisa melupakan mereka': Sedekade berlalu, duka tragedi MH370 tak juga surut

'Kami tidak bisa melupakan mereka': Sedekade berlalu, duka tragedi MH370 tak juga surut

Keluarga para korban tragedi MH370 memang sudah mengikhlaskan kepergian orang terkasih mereka, tapi harapan ditemukannya pesawat itu masih ada.

KUALA LUMPUR: V P R Nathan sudah bekerja di Beijing kurang dari setahun saat istrinya berencana berkunjung.

Nathan yang merupakan pemandu dan instruktur lalu lintas udara asal Malaysia tengah ditugaskan di kantor cabang Organisasi Penerbangan Sipil Internasional regional Asia Pasifik di ibu kota China. Dua bulan sudah dia tidak bertemu dengan istrinya, Anne Daisy, 56 tahun.

"Saya rencananya akan pulang untuk merayakan Natal bersama istri," kenang pria 67 ini. "Lalu dia bilang mau datang dan menghabiskan akhir pekan di Beijing bersama saya."

Anne kemudian memesan tiket untuk penerbangan dengan pesawat MH370 pada 8 Maret 2014.

"Saya menerima pesan WhatsApp dari istri saya sebelum dia terbang. Dia sudah ada di bandara, memberitahu ini dan itu," kata Nathan. "Karena itu adalah penerbangan pukul 1 pagi, jadi saya pergi tidur sebelum pesawat berangkat."

Pensiunan pemandu lalu lintas udara dan instruktur V.P.R. Nathan menyaksikan pesawat lepas landas dan mendarat.

Nathan bangun di pagi harinya dan menuju bandara. Ketika tiba, dia tidak mendapati informasi apapun soal penerbangan istrinya di papan pengumuman. "Staf Malaysia Airlines di sana juga tidak punya informasi apa-apa ... termasuk jam berapa pesawat akan mendarat".

"Saya mulai merasa sedikit cemas, ada sesuatu yang salah. Saya duduk, lalu saya menjadi sangat emosional karena ...," Nathan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Sudah 10 tahun berlalu sejak MH370 menghilang tak tahu rimbanya. Tragedi ini masih menjadi salah satu misteri dunia terbesar yang belum terpecahkan. Biaya pencarian yang dikeluarkan juga merupakan yang terbesar dalam sejarah dunia penerbangan.

Di dalam pesawat tersebut terdapat 227 penumpang dan 12 awak kapal dari 14 negara. Bagi keluarga yang ditinggalkan, duka masih tak juga surut.

CNA mengulas satu dekade tragedi MH370 dalam sebuah tayangan dokumenter berikut ini:

TEORI KONSPIRASI DAN FRUSTRASI

Salah satu teori yang paling awal muncul setelah MH370 hilang adalah serangan teroris. Teori ini mengemuka setelah diketahui ada dua penumpang warga Iran yang terbang di dalamnya dengan menggunakan paspor Eropa curian.

Teori ini berhasil dipatahkan, namun teori-teori konspirasi lainnya kemudian bermunculan. Salah satu teori konspirasi menyebutkan bahwa pesawat itu ditembak jatuh setelah diterbangkan di atas pangkalan militer rahasia Amerika Serikat di pulau Diego Garcia.

Teori lain mengatakan ada pihak-pihak jahat yang memang mengincar pesawat itu. Mereka, bunyi teori tersebut, bermaksud mencegah pengiriman kargo perangkat elekstronik sensitif ke China.

Namun, ahli penerbangan Jean-Luc Marchand dan pilot Patrick Blelly memiliki teori mereka sendiri. Menggunakan latar belakang teknis dan operasional mereka di dunia aviasi, keduanya mencoba memahami hilangnya MH370 berdasarkan serpihan fakta-fakta yang terserak dan mencoba menerka apa yang terjadi saat itu.

Jean-Luc Marchand, mantan manajer program penelitian dalam proyek Single European Sky Air Traffic Management Research.

Tidak ditemukannya banyak serpihan membuat keduanya meyakini bahwa pesawat itu jatuh secara terkendali. Jika jatuh di kecepatan tinggi, misalnya 200 knots (370km/jam), "maka akan tercipta ratusan ribu serpihan", kata Marchand.

Mereka menyimpulkan bahwa seorang pilot yang berpengalaman dan piawai berhasil mengendalikan pesawat hingga akhir, menerbangkannya keluar radar Malaysia dan melintasi perbatasan negara lain, menghindari deteksi sebelum akhirnya jatuh di Samudera Hindia.

"Tanpa secara resmi menuding pilot, kita tidak bisa menafikan (dirinya) karena dia berpengalaman dan seorang instruktur pilot," kata Marchand. "Sampai kita menemukan serpihannya, kita tidak akan pernah tahu."

Kemunculan berbagai macam teori hanya menambah rasa frustrasi bagi Jacquita Gonzales, 61. Dia hidup dengan trauma kehilangan suaminya, Patrick Gonzales, yang berada di pesawat itu sebagai pengawas awak kabin.

"Semua orang bilang 'mungkin begini, mungkin begitu.' Saya katakan, 'Terlalu banyak mungkin, ... tidak ada yang terkonfirmasi,'" kata dia. "Kita tidak punya semacam tanda X seperti di peta bajak laut untuk menandai lokasi harta karun."

Suami Jacquita Gonzales, Patrick Francis Gomes, berusia 56 tahun saat MH370 lenyap.

Banyak orang, termasuk Jacquita dan Nathan, merasa pencarian harus tetap dilanjutkan. "Apapun yang dikatakan orang cuma teori atau konspirasi ... Temukan saja kotak hitamnya, maka kita bisa mengurai informasi di dalamnya," kata Nathan.

"Banyak dari kami telah mengikhlaskan bahwa tidak ada yang selamat. Tapi yang terpenting adalah, kami ingin tahu yang terjadi sebenarnya ... Apakah karena tindak kejahatan atau kecelakaan?

"Jika karena kecelakaan, mungkin lebih mudah diterima. Jika ada kerusakan besar pada pesawat, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kecelakaan bisa saja terjadi. Tapi jika seseorang membajak pesawat itu, maka kondisinya bisa berbeda."

Malaysia pada Januari 2018 menghentikan pencarian dan mengalihkannya kepada perusahaan robotik kelautan Ocean Infinity. Jika perusahaan itu mampu menemukan MH370 dalam waktu 90 hari, Malaysia berjanji akan memberikan mereka US$70 juta (Rp1,1 triliun).

Kapal Australia, Ocean Shield, ikut serta dalam pencarian penerbangan MH370. (Gambar: The Associated Press)

Ocean Infinity mengerahkan drone bawah laut otonom untuk pencarian tersebut. Piranti canggih ini mengeluarkan sinyal akustik untuk menciptakan peta digital medan bawah laut sehingga para ahli akan mampu menemukan serpihan dari pesawat Boeing 777 itu. Tapi, pencarian kembali dengan tangan kosong.

"Dalam pencarian pertama, banyak keresahan sekaligus harapan. Saat pencarian kedua dilakukan, kami sedikit percaya diri karena perangkat yang mereka bawa. Seharusnya itu adalah alat-alat terbaik," kata Jacquita.

"Ketika pencarian berakhir ... saya menolak hilang harapan. Karena kami selalu berdoa dan mengatakan, 'baiklah, sekali, dua kali, ketiga kalinya mungkin berhasil', jadi harapan untuk pencarian berikutnya itu ada.

"Mungkin nantinya akan ada pencerahan bagi kami. Karena sampai hari ini, masih tidak jelas, masih menggantung, dan terus bercokol di pikiran kami."

Jacquita telah menikahi suaminya selama 28 tahun ketika MH370 hilang.

DI MANA GERANGAN MH370?

Beralih ke China, negara tempat lebih dari setengah penumpang MH370 berasal. Pengadilan di Beijing melakukan sidang dengar klaim kompensasi pada November tahun lalu, tujuh tahun setelah salah satu keluarga korban mengajukan gugatan.

Seiring berjalannya waktu, banyak keluarga korban yang merasa tidak senang. Mereka juga ingin agar pencarian kembali dilanjutkan.

"Dengan teknologi pencarian yang ada saat ini, dana yang dibutuhkan akan lebih kecil jika dibanding puluhan juta dolar yang sebelumnya diperlukan untuk melakukan pencarian seperti ini," kata Jiang Hui, yang ibunya Jiang Cuiyun, 71, berada di pesawat MH370.

Sudah lebih dari US$150 juta dihabiskan untuk membiayai pencarian MH370. Pemerintah Malaysia telah membuka kemungkinan untuk kembali melakukan pencarian.

Biayanya memang masih akan mahal, mencapai jutaan dolar. Tapi seiring kemajuan teknologi dalam satu dekade terakhir, maka pemetaan bawah laut di wilayah yang belum terjamah akan lebih cepat. Meski demikian, tidak ada jaminan upaya ini akan berhasil.

Charitha Pattiaratchi, profesor di University of Western Australia Oceans Institute, merujuk pada sejarah. Dia mengatakan, butuh 73 tahun sampai Titanic berhasil ditemukan setelah tenggelam. "Itu juga lokasinya sudah ketahuan," kata dia.

Dia juga menyinggung penerbangan maskapai Air France 667 yang jatuh di pesisir Brazil pada 2009. "Mereka sudah tahu lokasi (serpihannya). Tapi masih butuh dua tahun untuk menemukannya," kata Charitha.

Pada kasus MH370, para ahli meyakini pesawat itu bersemayam di "Seventh Arch", sebuah wilayah di selatan Samudera Hindia. Namun pencarian di wilayah seluas 120.000km persegi itu tidak juga membuahkan hasil.

Samudra Hindia, di lepas pantai Perth, Australia.

Pattiaratchi selalu yakin pesawat itu pada akhirnya akan ditemukan, entah dalam "pencarian khusus" atau "tidak disengaja", misalnya ketika sebuah kapal penelitian secara kebetulan menemukan MH370.

"Tapi jika tidak dicari, maka tidak akan ditemukan," kata Pattiaratchi.

Sebelumnya Pattiaratchi berhasil merancang simulasi komputer arah gelombang laut yang secara tepat memprediksi serpihan MH370 akan terdampar di pantai Madagaskar dan benua Afrika.

Lantas, di mana gerakan MH370? Pattiaratchi juga meyakini pesawat itu ada di Seventh Arch, tepatnya di sekitaran palung Broken Ridge yang memiliki lebar hingga 1,5 km. "Besar sekali, dan medannya sangat berat."

Dia menganalogikannya dengan negara bagian Tasmania di Australia yang pulau utamanya memiliki luas hampir 64.700km persegi.

"Bayangkan Anda mencari pesawat di pulau tersebut, yang dipenuhi hutan belantara dan banyak penghalang lainnya. Dan bayangkan Anda mencarinya dari helikopter, 4 km di atas udara, tapi dengan mata tertutup," kata dia.

"Anda harus mencari melalui suara dengan sinyal akustik. Cuma itu yang Anda punya."

Profesor Charitha Pattiaratchi berbicara kepada CNA.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, kenangan indah akan orang tercinta berkelindan dengan duka yang masih menghantui.

"Saya kira semua anggota keluarga tidak akan melupakan ingatan akan hari pertama dan hari-hari setelahnya (MH370 hilang) - apa yang telah kami lakukan, apa yang kamu lalui," kata Jacquita. "Sampai hari ini, masih segar di ingatan ketika kami dengar kabar soal MH370.

"Tanggal 8 Maret seakan menjadi tombol pengulang bagi kami. Tapi sekarang sudah 10 tahun berlalu, sepertinya kami mulai bisa menerimanya, dan kami tidak berharap mereka bisa pulang, meskipun jika itu terjadi akan sangat menggembirakan."

Harapan Jacquita hanya satu, tragedi MH370 tidak lagi menjadi misteri. Jika memang misterinya tidak terungkap di masa hidupnya, Jacquita berharap anak-anaknya nanti bisa mengetahuinya. "Agar mereka mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi pada ayah mereka dan orang-orang di pesawat".

Foto anak-anak Jacquita saat masih kecil. Mereka sekarang berusia 20-an dan 30-an.

"Kami tidak bisa melupakan mereka begitu saja tanpa mendapat penjelasan. Sampai hari ini, saya tidak membuat pengingat apapun akan Patrick, karena memang saya tidak tahu apa-apa," kata dia.

"Saya tidak berjalan di lorong gereja sambil membawa fotonya. Saya tidak melakukan itu. Saya tidak menguburnya di mana pun. Saya tidak punya kuburan untuk diziarahi."

Sepuluh tahun berlalu, tidak banyak yang berubah bagi keluarga penumpang MH370. "Dari awal sampai sekarang, yang terpenting adalah mencari penumpang dan pesawatnya. Ini selalu menjadi tujuan kami. Kami berusaha keras," kata Jiang, 51.

Saat ini, Nathan seharusnya sudah menikmati masa pensiun. Tapi, hilangnya MH370 telah membuat hidupnya menjadi hampa.

Sebuah potret keluarga yang dipajang di rumah Nathan sekadar jadi pengingat masa-masa bahagia mereka.

"Rencananya setelah pensiun kami akan bepergian," kata dia. "Anak-anak akan menyelesaikan studi mereka. Mereka sudah bisa mandiri, lalu kami tinggal berdua saja.

"Istri saya, dia suka bercocok tanam. Tanamannya ada di seluruh sudut rumah, dan berencana membuat air mancur dan semacamnya ... Setelah kejadian itu, rumah ini sangat kosong."

Di luar sana istri Nathan, satu dari 239 orang di pesawat Malaysia Airlines MH370 sedang menanti untuk ditemukan.

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan