'Skalanya gila': Melihat dari dekat kompleks penipuan di perbatasan Kamboja-Vietnam
Dalam bagian kedua dari seri mengintip operasi penipuan di Kamboja, CNA menelusuri wilayah timur negara itu yang berbatasan dengan Vietnam, di mana lahan pertanian menjelma menjadi pusat penipuan online jalanan-jalanan baru, deretan kasino dan kompleks dengan penjagaan ketat.
Kompleks #8 Park di Provinsi Prey Veng, Kamboja, yang diyakini sebagai kompleks penipuan terbesar di negara itu. (Foto: CNA/Jack Board)
PHNOM PENH: Sebuah jalan utama yang ramai, berdebu, dan semrawut menghubungkan Kamboja dengan Vietnam melalui kota perbatasan Bavet.
Puluhan pekerja berdesakan di bak belakang truk, diangkut menuju dan dari pabrik maupun lokasi konstruksi. Anak-anak bermain di dekat kompleks yang dijaga ketat, tumpukan sampah dibakar tak jauh dari pintu masuk kasino yang berwarna keemasan, sementara kendaraan mewah melintas di depan deretan asrama pekerja yang sederhana.
Paling mencolok di tengah semua itu adalah iklan perjudian online yang seakan membanjiri, terlihat di mana-mana. Padahal praktik tersebut sebenarnya ilegal di Kamboja.
Berbagai iklan kasino siber dan perusahaan judi olahraga asal China menjulang di sepanjang jalan raya. Para petugas keamanan berteduh di bawah payung bergambar chip poker dan perempuan berbikini.
Semua itu menjadi penunjuk arah menuju dunia gelap yang selama bertahun-tahun tumbuh subur di kawasan ini.
Menuju sesuatu yang lebih besar dan tersembunyi—sering kali berada jauh di balik, atau di atas, lantai kasino, di dalam kompleks apartemen maupun kawasan bisnis.
Menuju praktik perdagangan manusia, kekerasan dan penyiksaan, perjudian ilegal, serta operasi penipuan canggih yang menyasar korban di berbagai belahan dunia.
“Tempat ini benar-benar liar. Sulit dipercaya. Ini taman bermain para mafia,” kata Nathan Southern, Direktur Operasi Eyewitness Project, organisasi yang menyelidiki kejahatan, konflik, dan korupsi di kawasan Asia, saat melintasi kemacetan di perbatasan, melewati deretan restoran seafood dan tumpukan bir China.
Bavet dan kota-kota serupa sudah lama menjadi magnet bagi kasino, perjudian, dan kejahatan terorganisasi yang umumnya berkembang di wilayah perbatasan dengan pengawasan yang longgar.
Kini, kota-kota tersebut telah menjadi bagian dari mesin penipuan global yang jauh lebih besar, tempat para korban diperdagangkan ke dalam kompleks-kompleks tertutup dan dipaksa menipu orang lain di dunia maya.
Modus penipuannya beragam, mulai dari asmara, nasihat investasi palsu, perdagangan kripto, perjudian online, hingga tawaran pekerjaan fiktif.
Sejumlah peneliti memperkirakan, industri penipuan di Kamboja menghasilkan antara US$12,5 miliar hingga US$19 miliar per tahun (sekitar Rp225 triliun sampai Rp342 triliun). Namun, angka tersebut sulit diverifikasi karena sebagian besar aliran dana bergerak melalui mata uang kripto, jaringan perbankan bawah tanah, dan struktur keuangan luar negeri (offshore).
Selama ini, perhatian publik lebih banyak tertuju pada pusat-pusat penipuan yang sudah terkenal seperti Sihanoukville di wilayah selatan Kamboja dan Poipet di perbatasan barat dengan Thailand. Namun di sepanjang perbatasan timur negara itu, sebuah ekosistem serupa diam-diam berkembang.
Pemerintah Kamboja menyatakan, kini mereka berupaya membongkar sistem bernilai miliaran dolar tersebut. Negara itu telah memberlakukan undang-undang baru antipenipuan sejak April dan selama beberapa bulan terakhir gencar menargetkan berbagai kompleks yang diduga menjadi pusat operasi scam.
Namun, jaringan-jaringan ini telah berakar kuat. Mereka juga sudah menancapkan pengaruh yang signifikan di sepanjang perbatasan Vietnam—sesuatu yang, menurut para ahli, tidak akan mudah diberantas.
“Ini adalah bentuk kejahatan transnasional yang sangat terintegrasi. Mereka tidak beroperasi hanya di satu negara dan tidak mengenal batas wilayah,” ujar Jason Tower, pakar senior di Global Initiative Against Transnational Organised Crime, organisasi non-pemerintah internasional yang berkantor pusat di Jenewa.
Menurut Lindsey Kennedy, Direktur Riset Eyewitness Project, kompleks-kompleks besar dan klaster operasi yang berada dekat perbatasan Vietnam tampaknya menggunakan pola lama yang memanfaatkan jalur penyelundupan yang telah lama eksis serta jaringan perantara lintas negara untuk memindahkan orang, peralatan, dan uang.
Kasino sendiri sudah lama mengakar di kawasan perbatasan ini dan berdampingan dengan bisnis ilegal lawas, seperti perdagangan kayu dan penyelundupan narkoba.
Dalam banyak kasus, kata Kennedy, jaringan yang mengendalikan bisnis-bisnis ilegal tersebut juga menguasai kasino, yang digunakan untuk memindahkan sekaligus mencuci uang hasil kejahatan.
“Sering kali kawasan-kawasan ini sebelumnya sudah mengalami penebangan hutan secara masif. Pihak yang menguasai lahan itu kemudian mencari cara baru untuk mengeksploitasi nilai ekonominya.
“Meski dari luar perkembangan ini terlihat aneh, sebenarnya prosesnya sangat logis,” ujarnya.
Penyelundupan manusia—terutama dari China dan Vietnam sendiri—melintasi perbatasan Kamboja-Vietnam yang membentang sepanjang 1.158 kilometer menuju kompleks-kompleks penipuan telah banyak terdokumentasikan.
“Beberapa kompleks bahkan tampak berada di semacam wilayah abu-abu di antara kedua negara. Sangat mudah untuk membawa orang masuk dan keluar,” tambah Kennedy.
TERTUTUP RAPAT DAN TUMBUH PESAT
Berlokasi tepat di tepi perbatasan Vietnam dan membentang di sekitar sebuah waduk kecil, A7 Country and Resort Casino di Bavet merupakan contoh kompleks penipuan berskala besar yang, menurut pemerintah Kamboja, tidak akan lagi ditoleransi.
Pemerintah Kamboja telah melancarkan operasi besar-besaran terhadap kompleks-kompleks penipuan di seluruh negeri, dan intensitas penindakannya meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Sebanyak 300 fasilitas berbeda telah menjadi sasaran operasi kepolisian sejak Juli, kata Chhay Sinarith, Menteri Senior sekaligus Ketua Komisi Pemberantasan Penipuan Online Kamboja, kepada CNA dalam sebuah wawancara.
CNA memperoleh akses ke kompleks A7 yang digerebek awal tahun ini. Menurut pejabat Provinsi Svay Rieng, kompleks ini sebelumnya digunakan untuk menjalankan operasi penipuan.
Dengan pengamanan puluhan personel bersenjata lengkap, kompleks yang terkunci rapat itu dibuka untuk memperlihatkan puluhan bangunan di dalamnya.
Salah satu bangunan yang ditunjukkan kepada media menyimpan berbagai barang bukti dugaan aktivitas kriminal yang berlangsung di lokasi tersebut, mulai dari kartu identitas, kartu keluarga, boarding pass, puluhan kartu kredit, obat-obatan, hingga makanan yang ditinggalkan begitu saja.
Pihak berwenang mengatakan, lebih dari 2.200 orang yang berada di dalam kompleks itu telah ditangkap. Sebagian besar merupakan warga negara China, sementara lainnya berasal dari Myanmar dan Vietnam.
Untuk saat ini, Gubernur Provinsi Svay Rieng, Peng Pursa, menyampaikan bahwa belum jelas siapa pemilik lahan tersebut maupun siapa pihak yang menjalankan operasinya. Menurut dia, kompleks itu disamarkan sebagai kawasan perumahan.
“Dulu, ukurannya masih kecil sehingga operasinya sangat tertutup dan menyulitkan pemerintah untuk menindak semuanya. Namun, mereka tumbuh sangat cepat, terutama sepanjang 2025 hingga tahun ini, 2026,” kata Pursa.
“Kamboja bukan negara yang mendukung atau melindungi para kriminal dan pelaku penipuan. Kami akan menindaknya dan tidak akan membiarkannya bangkit kembali. Kampanye ini masih jauh dari selesai. Kami akan terus melanjutkannya selama lima, 10, 20, 30 tahun, bahkan lebih lama lagi.”
Lebih dekat ke pos perlintasan utama di Bavet, sebuah kawasan berisi hampir 200 rumah deret juga telah dikosongkan oleh polisi. Yang tersisa hanyalah tumpukan kasur, sampah, dan puntung rokok.
Di salah satu bangunan, terdapat deretan ruangan kecil kedap suara yang diduga digunakan para pelaku penipuan untuk menyamar sebagai petugas kepolisian dari berbagai negara. Di lantai yang kotor berserakan replika uang pecahan US$100 berukuran mini.
Tak jauh dari situ ditemukan pula naskah percakapan tulisan tangan dan daftar calon target penipuan asal India yang memuat nama, nomor telepon, serta alamat email.
Di tempat penyimpanan barang bukti milik kepolisian di Svay Rieng, ratusan kartu identitas warga Indonesia termasuk di antara barang-barang yang disita.
Muhammad Fadly, pria berusia 29 tahun asal Sumatra, mengaku pernah berada di sebuah kompleks di Bavet dan mengalami kekerasan fisik hingga penyiksaan saat dipaksa menjalankan modus penipuan asmara atau love scam.
“Itu karena kami tidak mencapai target. Tekanan datang setiap hari,” ujarnya di Phnom Penh ketika sedang berupaya meninggalkan Kamboja setelah berhasil melarikan diri dari kompleks tersebut bersama sejumlah pekerja asal Indonesia lainnya.
“Penyiksaan terburuk yang saya alami adalah diborgol, disiram air, ditelanjangi, lalu disetrum. Rasanya sangat sakit. Tapi meskipun ada yang disiksa, kami hanya fokus pada diri sendiri. Bahkan, kalau ada yang meninggal, kami tetap harus bekerja.”
Lampu-lampu industri perjudian di Bavet belum juga padam, meski pemerintah terus melakukan pembersihan dan berbagai laporan investigasi dari organisasi internasional telah mengaitkan kasino dengan perdagangan manusia serta operasi penipuan.
Menurut Kennedy, perusahaan perjudian online apa pun yang beroperasi dari Bavet seharusnya dipandang sebagai bagian dari jaringan kriminal, mengingat pemerintah Kamboja sendiri telah melarang aktivitas tersebut selama lebih dari enam tahun.
Pursa membenarkan bahwa masih ada 10 kasino yang beroperasi secara legal di kawasan Bavet.
“Mereka yang masih beroperasi melakukannya karena memiliki izin dan tidak terlibat dalam penipuan online,” katanya.
Ketika ditanya mengenai maraknya papan iklan perjudian online yang terlihat di seluruh Bavet, ia menjawab, “kami tidak pernah mengizinkan iklan semacam itu.”
SKALANYA “GILA”
Menjauh dari klaster Bavet dan bergerak lebih ke utara, bentang alam mulai terbuka menuju dataran rendah Provinsi Prey Veng. Di sinilah terlihat dengan jelas betapa masifnya infrastruktur yang dibangun khusus untuk industri penipuan.
Selama beberapa generasi, wilayah ini dikenal sebagai hamparan sawah yang diselingi kanal, pohon palem, kolam, serta desa-desa kecil yang berjajar di sepanjang jalan yang ditinggikan.
Kini, hamparan dataran itu dipenuhi kompleks-kompleks besar yang tampak seperti kota mandiri. Beberapa di antaranya diperkirakan dapat menampung puluhan ribu orang, dengan indikasi bahwa sebagian besar penghuni berada di sana untuk menjalankan operasi yang serupa.
Padahal, kawasan ini nyaris tidak memiliki aktivitas industri. Tidak ada pusat permukiman besar selain desa-desa pertanian kecil yang tersebar. Pos perlintasan perbatasan baru yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir kini sudah tercantum di peta, tetapi tampak jarang digunakan.
“Skalanya gila. Dan semua ini dibangun hanya untuk penipuan, untuk mengeksploitasi orang serta memperdagangkan korban,” kata Kennedy.
“Jelas terlihat bahwa seluruh kawasan di sepanjang perbatasan itu telah dirancang secara terencana. Tidak ada alasan logis untuk memindahkan bisnis berskala besar yang mempekerjakan 10.000 hingga 20.000 pekerja internasional ke daerah terpencil di Kamboja, kecuali jika memang ingin beroperasi tanpa terlihat.”
Salah satu contohnya adalah #8 Park, yang juga dikenal sebagai Mansion 8. Kompleks raksasa ini terdiri atas deretan blok hunian dengan area halaman tengah yang luas, arsitektur megah, dan tembok-tembok menjulang tinggi. Menurut pemerintah Inggris, tempat ini diyakini sebagai kompleks penipuan terbesar di Kamboja.
“Ini sudah jauh melampaui sebuah kawasan kecil yang tertutup. Ini adalah kota dengan benteng,” kata Erin West, pendiri sekaligus CEO Operation Shamrock, organisasi nirlaba yang memerangi penipuan global.
Para peneliti mengaitkan kompleks tersebut dengan Prince Group dan Huione Group, dua konglomerasi yang mantan ketuanya telah diekstradisi dari Kamboja ke China karena dugaan keterlibatan dalam jaringan penipuan lintas negara dan perjudian.
Legend Innovation Co merupakan perusahaan yang secara terbuka disebut pemerintah Inggris sebagai operator #8 Park. Pada Maret lalu, Inggris menjatuhkan sanksi kepada perusahaan tersebut dan direkturnya, Eang Soklim, dengan menyatakan bahwa kompleks itu memiliki keterkaitan dengan Prince Group.
Para peneliti juga menemukan indikasi hubungan dengan Huione, termasuk melalui data registrasi, sistem pembayaran, dan layanan logistik yang terhubung dengan kompleks tersebut.
Saat CNA mengunjungi kawasan itu pada Mei, kompleks tersebut tampak sudah sepenuhnya dikosongkan. Dokumen yang ditempel di gerbang depan dari Pengadilan Kota Phnom Penh menunjukkan bahwa barang bukti telah disita dan fasilitas itu resmi ditutup.
Dalam radius hanya beberapa kilometer dari #8 Park, sejumlah kompleks raksasa lain juga telah dibangun dalam beberapa tahun terakhir, termasuk proyek saudara bernama #7 Park.
Bahkan bulan lalu masih terlihat tanda-tanda bahwa ekspansi baru sedang disiapkan, meskipun pemerintah tengah gencar melakukan penindakan.
Pengamanan ketat juga masih terlihat di sekitar kompleks lain yang dikenal dengan nama “Space”. Di bawah derek-derek yang menjulang, alat berat dan truk pengangkut tanah masih hilir mudik mengerjakan proyek perluasan kawasan tersebut.
“Bagi semua pihak yang terlibat dalam upaya pemberantasan kejahatan ini, kawasan perbatasan itu merupakan sumber frustrasi besar,” kata Michael Brosowski, pendiri sekaligus Direktur Strategis Blue Dragon Children's Foundation, organisasi nirlaba berbasis di Vietnam yang fokus menyelamatkan anak jalanan dan korban perdagangan manusia.
“Tidak ada alasan yang masuk akal bagi kompleks-kompleks itu untuk dibangun. Sangat jelas bahwa tujuannya bukan untuk kegiatan yang sah, tetapi mereka tetap berdiri. Pagar kawat berduri yang tinggi, penjaga bersenjata, kompleks berukuran masif—semua itu bukan pemandangan yang lazim ditemukan di kawasan perdagangan,” ujarnya.
Lebih ke selatan, Chrey Thum dulunya merupakan kota kecil yang tenang di tepi sungai. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Kamboja justru mempromosikannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang dinamis.
Di sini pun pemandangannya serupa. Kawasan-kawasan baru tampak bermunculan dari tengah hamparan sawah. Jalan-jalan baru mengarah ke kompleks-kompleks luas dengan kamera pengawas yang menghadap ke dalam, fasilitas berbahan semen, serta lokasi konstruksi.
Di sekelilingnya berdiri berbagai fasilitas yang lazim ditemukan di kota perbatasan berbasis perjudian: klinik kuku, layanan botox, restoran, hingga papan nama perusahaan konstruksi asal China.
Kini, sebagian besar kawasan tersebut tampak lengang, terdampak gelombang penindakan pemerintah.
Namun, aktivitas konstruksi masih berlanjut di sejumlah titik. Mobil-mobil Range Rover tetap lalu lalang, sementara iklan lowongan kerja yang terbit baru-baru ini masih mencari pekerja asing dengan kemampuan bahasa tertentu untuk ditempatkan di kawasan tersebut.
Menurut Tower, sindikat-sindikat tersebut tampaknya hanya melakukan jeda sementara di tengah meningkatnya pengawasan dan tekanan dari pemerintah. Mereka belum benar-benar meninggalkan investasi besar yang telah ditanamkan.
“Banyak pemain besar saat ini berada di titik persimpangan. Mereka memilih menunggu dan melihat perkembangan situasi,” katanya. Mungkin mereka sedang tinggal nyaman di ibu kota negara tertentu di ASEAN atau Asia Selatan.
“Begitu tekanan mulai berkurang sedikit saja, saya rasa aktivitas ini akan bangkit kembali di Kamboja dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kita sudah melihat pola yang sama terjadi di Myanmar,” ujarnya.
Namun, pemerintah Kamboja memiliki pandangan berbeda. Menurut mereka, ini adalah akhir perjalanan bagi kelompok-kelompok kriminal tersebut.
“Lokasi-lokasi yang telah kami tindak kini berada di bawah kendali pemerintah dan telah diambil alih menjadi aset negara,” kata Sinarith.
Trauma membekas meski berhasil kabur
Mimpi Selam adalah pindah dan bekerja di Australia. Mantan pramugari asal Ethiopia ini bahkan mengira jalan menuju impiannya sudah terbuka. Seorang agen menjanjikan visa Australia untuk dirinya dan sang suami. Mereka hanya diminta berangkat ke Thailand, sementara seluruh proses administrasi akan diurus.
Pada Januari tahun ini, setelah menunggu sekitar sebulan di Bangkok agar dokumen mereka diproses, pasangan tersebut diberitahu untuk pindah ke satu hotel terakhir. Namun, alih-alih menjadi tahap akhir perjalanan mereka, tempat itu justru menjadi awal dari mimpi buruk.
Mereka diselundupkan melintasi perbatasan menuju Kamboja, dibawa ke sebuah kota perbatasan, lalu langsung dimasukkan ke dalam kompleks penipuan.
Setelah dipisahkan dari suaminya, Selam—yang meminta nama lengkapnya tidak disebutkan—dipaksa menjalankan love scam. Ia harus mencari korban dari berbagai negara melalui LinkedIn dan Facebook, membangun kepercayaan mereka, lalu membujuk mereka mengirimkan uang.
Namun, rasa cemas yang mendalam segera menghantuinya. Ia mengaku tidak sanggup melakukan pekerjaan tersebut. Akan tetapi, para pengelola kompleks menolak membebaskannya. Sejak saat itu, kehidupannya berubah menjadi jauh lebih buruk.
“Mereka menyeret saya. Mereka menyuntik saya. Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang mereka suntikkan. Setelah itu saya tidak bisa membuka mata dan tidak bisa bergerak.
“Mereka membawa saya ke sebuah ruangan, dan saya memiliki banyak kenangan buruk tentang tempat itu. Di sana saya diperkosa setiap hari. Ketika saya sudah tidak punya tenaga lagi, mereka memindahkan saya ke tempat lain dan memberi saya cairan glukosa. Saya tidak makan apa pun selain itu. Saya terbangun, lalu mereka membawa saya kembali. Hal yang sama terjadi selama tiga bulan,” katanya.
Setelah berbulan-bulan mengalami penyiksaan, kesempatan langka akhirnya datang bagi Selam. Saat seorang pria ditemukan tewas setelah terjatuh dari gedung kompleks penipuan dan para penjaganya teralihkan oleh insiden tersebut, ia memanfaatkan momen itu untuk melarikan diri. Ketika berlari keluar melewati gerbang kompleks, satu-satunya orang lain yang melakukan hal yang sama ternyata adalah suaminya, yang sudah berbulan-bulan tidak ia temui.
“Kami langsung lari dari tempat itu, naik taksi dan pergi sejauh mungkin, meskipun kami tidak punya uang untuk membayar sopirnya,” katanya.
Keduanya berhasil menyeberangi Kamboja dan mencapai sebuah rumah perlindungan yang dikelola organisasi non-pemerintah internasional yang berafiliasi dengan Gereja Katolik. Berkat penggalangan dana, mereka akhirnya berhasil mengumpulkan biaya untuk membeli tiket pesawat pulang ke Ethiopia.
Namun, kembali ke kampung halaman tidak serta-merta menghapus penderitaannya.
“Saya masih terus mengingat banyak hal yang terjadi di Kamboja,” ujar Selam.
“Sekarang saya mengidap hepatitis B. Penyakit itu tidak bisa disembuhkan. Dulu saya bekerja di maskapai penerbangan, tetapi perusahaan tempat saya bekerja tidak mau mempekerjakan saya lagi karena penyakit tersebut.”
Ia memahami mengapa banyak orang di Afrika berusaha mencari peluang hidup di luar negeri. Menurutnya, iming-iming kehidupan yang lebih baik memang sangat menggoda, dan ada pula orang-orang yang secara sadar bersedia melakukan penipuan demi mendapatkan uang. Namun, katanya, para agen justru memanfaatkan keputusasaan tersebut.
“Para agen itu menjual manusia seperti barang murah. Mereka bahkan tidak melihat Anda sebagai manusia,” ujarnya.
Kini, Selam berharap kisahnya bisa menjadi peringatan bagi siapa pun yang tergoda mengambil keputusan secara gegabah atau menerima tawaran pekerjaan yang belum jelas keamanannya maupun legalitasnya. Terutama karena, menurut dia, orang-orang yang menjalankan sindikat penipuan semacam ini semakin banyak bermunculan di berbagai penjuru dunia.
“Kalau mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Anda, mereka akan membunuh Anda. Mereka tidak punya rasa kemanusiaan. Anda tidak ada nilainya bagi mereka kecuali bisa menghasilkan uang.
“Itulah kenyataan yang pahit.
“Sekarang saya telah kehilangan segalanya. Saya kehilangan uang saya. Saya kehilangan diri saya sendiri.”
DORONGAN DAN TARIK-MENARIK VIETNAM
Menurut Tower, meski perbatasan Vietnam telah menjadi salah satu kawasan terpenting sekaligus paling jarang disorot dalam bisnis penipuan Kamboja, wilayah ini juga berpotensi menjadi titik masuk bagi kerja sama regional yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Thailand dan Vietnam, misalnya, dapat meningkatkan koordinasi dan pertukaran informasi dalam upaya pemberantasan kejahatan lintas negara.
“Langkah itu bisa mempercepat penindakan dan mencegah pusat-pusat penipuan semakin mengakar di perbatasan Vietnam, sebagaimana mereka mulai bergeser dari kawasan perbatasan Thailand,” ujarnya.
Maraknya aktivitas ekonomi abu-abu di perbatasan Kamboja-Thailand semakin terungkap selama konflik berkepanjangan antara kedua negara.
Sebagian besar wilayah perbatasan telah dimiliterisasi dan jalur perlintasan ditutup selama hampir satu tahun setelah bentrokan terkait sengketa wilayah di sepanjang garis perbatasan pada 2025.
Thailand memanfaatkan keberadaan kompleks-kompleks penipuan di kawasan perbatasan untuk menegaskan bahwa operasi militernya tidak hanya menyasar posisi militer Kamboja, tetapi juga infrastruktur kejahatan lintas negara.
Dalam bentrokan yang terjadi pada Desember lalu, militer Thailand menyerang sejumlah kompleks kasino dan hotel di Kamboja yang dituduh digunakan oleh pihak lawan, namun juga diidentifikasi oleh pemantau independen sebagai pusat operasi penipuan.
Pemerintah Thailand telah menjanjikan aksi internasional yang terkoordinasi dan menyatakan bahwa kompleks-kompleks tersebut merupakan ancaman terhadap keamanan nasional negara itu.
“Situasi seperti itu tidak benar-benar terjadi di sisi perbatasan Vietnam. Ketimpangan inilah yang menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk membangun mekanisme penindakan yang lebih efektif, karena Vietnam belum melakukan mobilisasi seperti yang dilakukan Thailand,” kata Tower.
Secara umum, Vietnam berupaya menampilkan diri sebagai negara yang tidak menoleransi keberadaan kompleks penipuan di wilayahnya sendiri. Namun, negara itu tetap menghadapi dua persoalan yang datang dari luar: warga Vietnam yang diperdagangkan ke Kamboja serta warga Vietnam yang terlibat dalam operasi penipuan dari kompleks-kompleks di Kamboja, kata Brosowski.
Pemerintah Vietnam berulang kali menangkap warganya yang dipulangkan dari Kamboja karena terlibat dalam operasi penipuan, termasuk 343 orang yang ditangkap di Provinsi Dong Nai pada Maret lalu.
“Vietnam melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan segera menangkap para pelaku begitu mereka mulai beroperasi dan tidak memberi ruang bagi aktivitas itu untuk berkembang. Pesan yang disampaikan sangat jelas: Vietnam tidak mentoleransi praktik semacam ini,” ujarnya.
Meski risiko dan bahaya bekerja di Kamboja—atau bahkan di wilayah dekat perbatasannya—sudah semakin dikenal luas, masih ada faktor-faktor pendorong kuat yang membuat banyak warga Vietnam rentan menjadi korban perdagangan manusia.
Riset Blue Dragon menunjukkan bahwa banyak korban asal Vietnam yang dibawa ke kompleks-kompleks penipuan merupakan laki-laki muda dari daerah pedesaan miskin, dengan tingkat pendidikan terbatas dan sedikit peluang kerja.
“Keadaan ekonomi di kampung halaman mereka sulit. Lapangan pekerjaan tidak ada. Akhirnya mereka merantau untuk mencari penghasilan. Namun, kebutuhan untuk mendapatkan pekerjaan itulah yang justru membuat mereka rentan terhadap para pelaku perdagangan manusia,” kata Brosowski.
Organisasi tersebut menemukan bahwa sekitar 98 persen korban yang mencari pekerjaan di luar daerah atau luar negeri tertipu dan diperdagangkan melalui tawaran pekerjaan palsu.
Perbatasan antara Kamboja dan Vietnam membentang panjang, dengan hubungan sosial dan aktivitas ekonomi yang sangat dinamis. Orang-orang melintas untuk berdagang, mengunjungi keluarga, bekerja, maupun menjalankan bisnis informal, sehingga pengawasannya menjadi sulit.
Di celah-celah itulah para pelaku perdagangan manusia berkembang. Seiring waktu, reputasi Kamboja pun semakin identik dengan aktivitas penipuan.
“Kamboja kini identik dengan penipuan. Tidak menyenangkan memiliki pandangan negatif terhadap negara tetangga, meskipun itu bukan karena rasa takut,” ujar Brosowski.
Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Vietnam merupakan salah satu dari tiga negara asal utama korban yang dipaksa terlibat dalam aktivitas kriminal.
Blue Dragon menemukan bahwa kriminalitas paksa menjadi bentuk perdagangan manusia ketiga yang paling sering diproses hukum di Vietnam sepanjang 2022 hingga 2024. Analisis organisasi itu mencakup 21 perkara pengadilan yang melibatkan 130 korban dan 43 pelaku perdagangan manusia. Hasilnya menunjukkan jumlah kasus yang sampai ke meja hijau meningkat tiga kali lipat dalam periode tersebut.
Meski Vietnam tidak mengalami kemunculan “kota-kota penipuan” seperti di Kamboja, negara itu tetap harus menanggung dampak sosial dan kemanusiaan yang besar.
Menurut Brosowski, proses pemulihan para penyintas bisa memakan waktu bertahun-tahun. Banyak dari mereka pulang membawa trauma, utang, rasa malu, dan tanpa kepastian mengenai pekerjaan di masa depan.
Di sebuah trotoar di pusat Kota Phnom Penh, Muhammad Fadly asal Sumatra sedang menjalani fase awal dari proses pemulihan itu.
Ditemani istri dan anaknya yang masih kecil, ia menunggu tiket pesawat pulang dan kesempatan untuk memulai hidup baru. Satu hal yang pasti baginya: ia tidak ingin kembali ke Kamboja.
“Saya akan membuka usaha kecil di Indonesia,” katanya.
“Mulai dari yang sederhana. Demi keluarga saya, demi istri dan anak saya, serta ibu saya.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.