Skip to main content
Iklan

Asia

Kabut asap memburuk, perusahaan Singapura lindungi pekerja luar ruangan

Sejumlah perusahaan membagikan masker N95, mengingatkan pekerja untuk menjaga kesehatan, dan bersiap menyesuaikan pola kerja jika kualitas udara memburuk.

Kabut asap memburuk, perusahaan Singapura lindungi pekerja luar ruangan

Karyawan SingPost menerima masker N95 sebagai bagian dari langkah-langkah untuk mengurangi paparan mereka terhadap kabut asap. (Gambar: CNA)

SINGAPURA: Sejumlah perusahaan di Singapura meningkatkan langkah perlindungan bagi karyawan di tengah kabut asap yang masih berlangsung dan siap menerapkan langkah tambahan jika kualitas udara semakin parah.

Beberapa perusahaan di Singapura mulai membagikan masker N95 dan mengingatkan karyawan untuk menjaga kesehatan.

Bagi karyawan yang bekerja berjam-jam di luar ruangan, perusahaan juga menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi paparan jika kondisi memburuk.

MASKER N95 DAN ARAHAN HARIAN BAGI PETUGAS POS

Di Singapore Post (SingPost), kegiatan berjalan seperti biasa dengan karyawan tetap menyortir dan mengantarkan surat serta paket.

Namun, sebelum mulai mengantar kiriman, petugas dibekali masker N95 untuk membantu menyaring partikel di udara.

SingPost telah menyiapkan persediaan masker untuk sembilan minggu yang akan dibagikan setiap hari kepada karyawan di seluruh operasionalnya.

"Kami juga mengingatkan karyawan untuk mengisi penuh botol minum dan menjaga tubuh tetap terhidrasi," kata kepala operasional SingPost Goh Chee Hiong.

"Mereka juga harus memantau kondisi kesehatan, terutama jika mengalami sesak napas atau iritasi mata."

Goh menambahkan, karyawan yang mengalami gejala sakit diminta melapor kepada atasan agar dapat beristirahat.

Karyawan juga mendapat informasi harian mengenai tingkat Pollutant Standards Index (PSI) di wilayah kerja masing-masing. Dengan begitu, mereka dapat mengatur rute dan waktu istirahat karena petugas pos bisa berada di luar ruangan hingga enam jam dalam satu sif.

Petugas Pos Muhammad Aizuddin Musa mengatakan tenggorokannya pernah sakit saat bekerja di tengah kabut asap.

"Biasanya saya minum lebih banyak air. Itu yang saya lakukan agar bisa menyelesaikan pekerjaan," katanya.

SingPost mengatakan para atasan diminta memantau karyawan yang lebih rentan terhadap kabut asap serta menyesuaikan atau membagi ulang beban kerja jika diperlukan.

Aizuddin menambahkan, karyawan boleh beristirahat kapan pun diperlukan tanpa harus memaksakan diri menyelesaikan seluruh pengiriman terlebih dahulu.

"Kami tidak pernah dipaksa bekerja hanya demi mengejar target. Keselamatan tetap menjadi prioritas. Kami memastikan semua orang bisa pulang dengan selamat," katanya.

Goh mengatakan jika kualitas udara mencapai tingkat berbahaya, SingPost akan tetap melakukan pengiriman penting, tetapi mengurangi beban kerja agar karyawan dapat beristirahat lebih lama.

KURANGI PEKERJAAN DI LUAR RUANGAN

Berdasarkan pedoman kabut asap Kementerian Tenaga Kerja Singapura (MOM), PSI 24 jam antara 101 hingga 200 tergolong tidak sehat, 201 hingga 300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 berbahaya.

MOM mengimbau perusahaan melakukan penilaian risiko dan mencari cara untuk mengurangi pekerjaan berat atau terlalu lama di luar ruangan selama kabut asap.

Di SPBU Shell, petugas pengisian bahan bakar diimbau lebih sering masuk ke dalam ruangan ketika PSI melampaui 100, misalnya beristirahat di minimarket berpendingin udara.

Seorang petugas SPBU Shell mengatur arus lalu lintas di tengah kabut asap. (Foto: CNA)

General Manager Mobility and Convenience Shell Singapura Doong Shiwen mengatakan karyawan dibekali masker N95 dan diingatkan untuk tetap terhidrasi.

"Bagi petugas yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, kami berupaya memberi waktu istirahat lebih banyak dan memastikan mereka cukup minum selama periode ini," kata Doong.

"Jika diperlukan dan PSI semakin tinggi, tentu kami akan menyesuaikan penempatan mereka."

Shell mengatakan secara umum mengikuti panduan National Environment Agency (NEA) dan ketentuan regulator lainnya. Sejauh ini, belum ada peningkatan permintaan dari karyawan untuk mendapat waktu istirahat tambahan.

Doong mengatakan jika kondisi memburuk, Shell dapat meminta karyawan masuk ke dalam ruangan saat beristirahat atau ketika aktivitas sedang sepi.

Ia menambahkan, Shell belajar dari pengalaman menghadapi kabut asap sebelumnya. Kini stok masker N95 lebih memadai dan komunikasi dengan petugas di SPBU lebih jelas.

KERJA FLEKSIBEL JIKA KABUT ASAP MEMBURUK

Bagi karyawan yang bisa bekerja dari jarak jauh, perusahaan juga mempertimbangkan pengaturan kerja fleksibel.

Bank OCBC mengatakan kebijakan itu dapat diterapkan jika kabut asap semakin parah, terutama bagi karyawan lanjut usia, ibu hamil, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Untuk saat ini, bank tersebut telah menyediakan masker N95 dan mengimbau karyawan untuk tidak terlalu lama berada di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Karyawan juga diingatkan untuk cukup minum, memantau informasi resmi mengenai kualitas udara, dan mencari pertolongan medis jika mengalami gejala akibat kabut asap.

Kepala Group Operational Risk Management OCBC Gary Chong mengatakan bank menyadari sebagian karyawan lebih rentan terhadap dampak kabut asap.

"Jika kabut asap semakin parah, pengaturan kerja fleksibel dapat diterapkan jika memungkinkan untuk menjaga kesehatan mereka," katanya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan