Skip to main content
Iklan

Asia

Jenderal tertinggi China diselidiki, mengapa kasus ini langka dan mengejutkan?

Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat China (CMC) diselidiki atas dugaan pelanggaran bersama dengan anggota komisi lainnya, Liu Zhenli, pada Sabtu (24/1). Para analis menilai langkah ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun pihak yang kebal dalam upaya Presiden Xi Jinping merombak militer.

Jenderal tertinggi China diselidiki, mengapa kasus ini langka dan mengejutkan?

Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat China, berkemas untuk meninggalkan sebuah pertemuan dalam agenda tahunan “Dua Sesi” di Beijing pada 4 Maret 2025, saat Presiden Xi Jinping melintas di belakangnya. (Foto: CNA/Hu Chushi)

BEIJING: Penyelidikan dugaan pelanggaran terhadap Zhang Youxia, jenderal berpangkat tertinggi di China, menandai salah satu perkembangan paling mencolok dalam upaya reformasi militer negara itu, mengingat latar belakang, jabatan serta kedekatannya dengan Presiden Xi Jinping, ujar para analis.

Sebagai seorang veteran perang, putra dari jenderal pendiri Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), serta salah satu orang dekat Xi yang paling lama bertugas di lingkungan militer, Zhang selama ini dipandang aman secara politik—bahkan nyaris tak tersentuh—di dalam angkatan bersenjata.

Namun persepsi tersebut kini runtuh.

China pada Sabtu (24/1) mengatakan Zhang, yang masih menjabat sebagai wakil ketua Komisi Militer Pusat China (CMC), tengah menjalani proses penyelidikan atas “pelanggaran disiplin dan hukum serius”, ungkapan yang lazim digunakan pemerintah Beijing sebagai eufemisme untuk kasus korupsi.

Liu Zhenli, sesama anggota CMC sekaligus kepala Departemen Staf Gabungan, juga menjalani penyelidikan, menurut pengumuman yang disiarkan media pemerintah.

Analis mengatakan kasus yang menjerat Zhang menunjukkan beberapa hal, di antaranya terkikisnya kepercayaan antara dirinya dan Xi, serta upaya lebih luas dari pemimpin China itu untuk menegaskan kendali atas militer dan membentuk ulang CMC jelang Kongres Partai ke-21 pada 2027.

Kasus ini juga menegaskan bahwa tidak ada yang kebal dari upaya Xi dalam mereformasi PLA, termasuk mereka yang sebelumnya dipandang sebagai orang dalam yang terpercaya, tambah para analis.

“Fakta bahwa Zhang Youxia, putra seorang jenderal pendiri (PLA), kini tengah diselidiki menunjukkan bahwa jaringan generasi kedua tentara merah atau generasi kedua militer bukanlah prioritas bagi Xi,” kata Lin Ying-yu, lektor kepala di Graduate Institute of International Affairs and Strategic Studies, Universitas Tamkang, Taiwan.

“Bagi Xi saat ini, tidak ada hubungan yang absolut, tidak ada sahabat yang absolut, dan tidak ada bawahan yang absolut,” ujarnya kepada CNA.

Para pengamat memperingatkan, gejolak di puncak militer dapat menjalar ke rantai komando dan mengganggu kesiapan serta tempo operasi tempur akibat pengambilan keputusan yang melambat dan kecenderungan menghindari risiko.

MENGAPA KASUS ZHANG YOUXIA MENONJOL

Pengumuman penyelidikan dugaan korupsi terhadap Zhang muncul setelah beredarnya beragam spekulasi yang dilaporkan media berbahasa China di luar negeri serta media berbasis Taiwan.

Laporan-laporan tersebut menyoroti ketidakhadiran Zhang pada 20 Januari dalam sebuah sesi pembelajaran tingkat tinggi terkait pleno keempat yang dihadiri para pemimpin senior partai dan militer.

Dalam rekaman acara yang disiarkan CCTV, wakil ketua CMC yang baru dilantik, Zhang Shengmin, terlihat duduk di barisan depan bersama anggota Politbiro lainnya. Zhang Youxia, yang juga anggota Politbiro, tidak tampak.

Zhang dan Liu terakhir kali terlihat di hadapan publik pada 22 Desember, ketika mereka menghadiri upacara penganugerahan pangkat jenderal kepada dua perwira senior.

Xi Jinping yang merupakan ketua CMC hadir dalam acara tersebut, dan Zhang Youxia membacakan surat keputusan kenaikan pangkat yang ditandatangani presiden.

Penyelidikan terhadap Zhang Youxia memiliki bobot tersendiri, mengingat posisinya yang sangat senior serta hubungan lamanya dengan Xi, kata para analis.

“Sangat langka melihat sosok seperti Zhang Youxia, dengan rekam jejak pengabdian yang panjang dan kedekatan pribadi yang mendalam dengan Xi, dijatuhkan,” kata Yang Zi, peneliti di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Singapura, kepada CNA.

“Pasti terjadi sesuatu yang serius. Xi kemungkinan memandangnya tidak loyal dan sebagai potensi ancaman.”

Sebagai veteran perang perbatasan China–Vietnam pada 1979 dan kemudian komandan sejumlah wilayah militer kunci, Zhang Youxia, 75, menapaki karier melalui jalur tempur dan organisasi di PLA, hingga akhirnya membawahi urusan operasi, pelatihan, dan pengembangan persenjataan.

Dylan Loh, lektor kepala Program Kebijakan Publik dan Urusan Global di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, menyebut langkah ini sebagai salah satu yang paling berdampak di pucuk PLA dalam beberapa dekade.

Penyelidikan terhadap Zhang Youxia, katanya, berpotensi menjadikannya “figur militer aktif berpangkat tertinggi sejak 1980-an yang menjadi sasaran penyelidikan”. Sebelumnya pada 1989, para perwira senior disingkirkan atau dipinggirkan setelah gejolak politik terkait insiden Tiananmen.

Insiden Tiananmen memicu perombakan besar di jajaran pimpinan militer, saat Partai Komunis China kembali menegaskan kendali dan menyingkirkan tokoh yang secara politik dianggap tidak dapat dipercaya.

Kampanye antikorupsi Xi sebelumnya telah menjerat mantan menteri pertahanan seperti Li Shangfu dan Wei Fenghe, serta mantan wakil ketua CMC yang telah pensiun, Xu Caihou dan Guo Boxiong. Kampanye tersebut juga sempat menyasar seorang wakil ketua CMC yang masih menjabat, yakni He Weidong—pejabat peringkat kedua—yang dicopot pada Oktober tahun lalu.

Namun, kasus Zhang Youxia paling menonjol karena dia adalah salah satu pemimpin militer aktif paling senior yang diselidiki.

Zhang Youxia (tengah) menghadiri sidang pleno Kongres Rakyat Nasional China dalam agenda tahunan “Dua Sesi” di Beijing pada 8 Maret 2025. (Foto: CNA/Hu Chushi)

Kondisi kian mencolok mengingat Zhang selama ini disebut pengamat sebagai figur kunci di balik penyelidikan antikorupsi terhadap perwira senior, khususnya mereka yang terkait dengan jaringan militer di Fujian dan komando bagian tenggara China.

Para pengamat menilai peran tersebut sempat membuat pengaruh Zhang sangat kuat, namun juga berpotensi membuatnya rentan seiring upaya Xi yang terus membongkar pusat-pusat kekuasaan di tubuh PLA.

Lin dari Universitas Tamkang mengatakan latar belakang Zhang Youxia sejak lama dipandang sebagai sumber perlindungan politik.

“Secara politik ia tergolong stabil,” kata Lin, seraya menyinggung status Zhang sebagai figur generasi kedua militer serta rekam jejak dinasnya yang tumpang tindih dengan perwira senior lain di China tenggara. “Namun pada akhirnya, semua itu tidak berarti.”

Menurut Lin, kasus Zhang Youxia mencerminkan perubahan yang lebih dalam di pucuk kekuasaan.

“Bagi Xi saat ini, tidak ada hubungan yang absolut,” ujarnya. “Yang terpenting adalah kendali.”

CMC YANG KIAN TERGERUS

Perkembangan terbaru ini semakin menggerus CMC yang sejak awal sudah menyusut. Para petinggi CMC memulai masa jabatan saat ini usai Kongres Partai ke-20 pada 2022 dengan tujuh anggota—Xi sebagai ketua, dua wakil ketua, dan empat anggota lainnya.

Sejak itu, tiga anggota telah dicopot di tengah upaya pemberantasan antikorupsi besar-besaran di tubuh PLA yang intensitasnya menguat sejak 2023, menjerat tokoh-tokoh senior di Pasukan Roket, Polisi Bersenjata Rakyat, serta di sejumlah basis komando.

Li, mantan menteri pertahanan, dikeluarkan dari Partai Komunis pada Juni 2024 setelah diselidiki atas pelanggaran serius terhadap disiplin partai dan hukum. Kasusnya kemudian dilimpahkan ke peradilan militer untuk proses pidana.

Beberapa bulan lalu, beberapa jenderal berpangkat tinggi—termasuk mantan wakil ketua CMC He Weidong dan mantan kepala Departemen Urusan Politik CMC Miao Hua—secara resmi dikeluarkan dari Partai Komunis dan militer.

Dengan pengungkapan penyelidikan Zhang Youxia pada Sabtu lalu, artinya CMC sebagai badan pengambil keputusan militer tertinggi kini diawaki oleh Xi dan wakil ketua CMC Zhang Shengmin, yang dikenal sebagai pemburu koruptor kawakan.

“CMC pada dasarnya kini hanya tersisa dua orang, salah satunya Xi,” kata Loh dari NTU, menyebut situasi ini sebagai sesuatu yang “luar biasa”.

Para analis mengatakan CMC kini lebih didominasi orang-orang dengan kekuatan politik ketimbang pengalaman operasional militer.

Konfigurasi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya karena membuat CMC tidak memiliki satu pun figur senior yang dikenal berpengalaman memimpin komando tempur di garis depan, kata Lin.

“Ini adalah pertama kalinya CMC begitu kuat didominasi pejabat berlatar belakang politik, tanpa komandan lapangan atau perwira dengan pengalaman tempur nyata,” ujarnya.

Sebagai contoh, Zhang Shengmin, wakil ketua CMC peringkat kedua, merupakan pejabat penegak disiplin kawakan yang sepanjang kariernya menggeluti pengawasan politik, bukan komando di medan perang.

Pria 67 tahun itu menghabiskan sebagian besar kariernya di sistem politik dan disiplin militer, serta menjabat sebagai sekretaris Komisi Inspeksi Disiplin CMC sejak 2017, memimpin kampanye antikorupsi besar-besaran Xi di tubuh angkatan bersenjata.

Ketimpangan tersebut, kata para analis, mencerminkan prioritas utama Xi untuk memperketat kendali atas militer, meski harus mengorbankan kecakapan operasional.

Lim Tai Wei, pengamat urusan Asia Timur dan profesor di Soka University, mengatakan perkembangan ini menandakan bahwa loyalitas kepada pemimpin tertinggi China kini menjadi faktor di atas semua pertimbangan lain untuk bisa bertahan di puncak.

Zhang Shengmin (baris kedua, kedua dari kiri) dan Liu Zhenli (baris kedua, ketiga dari kiri) menyaksikan kedatangan Presiden China Xi Jinping (depan, kedua dari kanan) di Balai Agung Rakyat saat agenda tahunan “Dua Sesi”. (Foto: CNA)

Hasilnya adalah CMC yang lebih tersentralisasi dan dinilai andal secara politik, namun dengan spektrum pengalaman yang lebih sempit, tambahnya.

Yang dari RSIS mencatat, konsentrasi kewenangan seperti itu juga membawa risiko, karena Xi tidak dapat menjalankan PLA seorang diri dan pada akhirnya harus bergantung pada bawahan yang ia percayai untuk melaksanakan keputusan di organisasi yang sangat besar dan kompleks.

DAMPAKNYA BAGI MILITER CHINA

Para analis menilai pengosongan peran di CMC memperkuat kesan bahwa fokus kepemimpinan telah bergeser ke dalam, pada konsolidasi dan pengendalian, ketimbang proyeksi kekuatan militer ke luar.

Dengan Kongres Partai ke-21 yang dijadwalkan berlangsung tahun depan, mereka mengatakan pembersihan yang sedang berlangsung mengindikasikan niat kepemimpinan untuk semakin mengonsolidasikan otoritas Xi Jinping atas PLA, sekaligus membuka ruang membentuk ulang struktur komando senior.

Dalam jangka pendek, gejolak di tingkat paling atas diperkirakan akan mendorong kehati-hatian, bukan manuver yang berisiko, kata para pengamat.

Gangguan di struktur komando cenderung menjalar ke bawah, mempersulit koordinasi dan memperlambat pengambilan keputusan di seluruh matra, tambah mereka.

Ketidakstabilan komando juga diperkirakan memengaruhi moral dan kepercayaan diri di seluruh jajaran, sehingga menurunkan dorongan untuk mengambil langkah berisiko tinggi, meski kapabilitas dasar PLA tidak akan terganggu, kata Yang.

“Akibatnya, peluang terjadinya konflik militer besar dalam waktu dekat dinilai rendah, terutama mengingat fokus kepemimpinan saat ini yang tersita pada pengendalian internal,” ujarnya.

Lin dari Universitas Tamkang mengatakan operasi berskala besar kemungkinan akan ditangguhkan sampai persoalan personel dirampungkan. Namun, ia mengatakan bahwa tekanan terhadap Taiwan—pulau yang berpemerintahan sendiri dan dipandang China sebagai bagian dari wilayahnya—tidak akan hilang.

Sebaliknya, Beijing diperkirakan akan mengandalkan patroli rutin, latihan kesiapsiagaan tempur gabungan, serta aktivitas zona abu-abu guna menjaga sinyal terhadap Taiwan tanpa melampaui ambang eskalasi, tambahnya.

Pada saat yang sama, Lin memperingatkan bahwa perombakan pucuk pimpinan dapat menimbulkan dampak yang tidak merata di tingkat bawah.

“Sebagian komandan yang lebih muda, yang ingin menunjukkan loyalitas dan kapabilitas dalam sistem di mana peluang promosi mungkin segera terbuka, bisa menjadi lebih aktif dalam operasi udara dan maritim,” katanya.

Menurut Lin, tindakan semacam itu lebih dipicu dorongan pribadi untuk tampil menonjol di masa transisi, bukan pertimbangan strategis.

Pengamat lain menyoroti implikasi jangka panjang terhadap cara diberikannya masukan terkait pertahanan.

Dengan CMC kini lebih condong ke arah pengawasan politik, para analis mengatakan masih ada tanda tanya apakah pertimbangan operasional dan penilaian risiko akan disampaikan seterbuka sebelumnya.

Meski demikian, perombakan ini tidak serta-merta menandakan melemahnya kemampuan PLA untuk bertindak. Para pengamat menilai, langkah itu lebih mencerminkan fase fokus ke dalam, seiring Xi yang berupaya memulihkan disiplin dan membentuk struktur komando yang selaras dengan prioritasnya menjelang siklus politik berikutnya.

Ke depan, kata para analis, sinyal kunci berikutnya adalah siapa yang dipromosikan, karena penunjukan baru akan memberi petunjuk paling jelas tentang arah PLA di bawah Xi.

Identitas, usia, dan latar belakang karier para pengganti akan dicermati dengan saksama, terutama apakah mereka berasal dari komando operasional, lembaga politik dan disiplin, atau struktur gabungan yang lebih baru, tambah mereka.

Promosi perwira yang lebih muda dengan masa karier yang masih panjang dapat mengisyaratkan upaya mengunci pengaruh melampaui siklus politik saat ini, kata Lin.

Waktu penunjukan pejabat baru juga akan menjadi penentu. Kekosongan jabatan yang berkepanjangan atau ditunjuknya pelaksana sementara dapat menandakan adanya tarik-menarik internal, sementara penunjukan yang terlalu cepat menunjukkan adanya prioritas untuk memulihkan stabilitas di pucuk pimpinan, ujar para pengamat.

Selain pergeseran personel, Lin mengatakan penting untuk mencermati apakah aktivitas militer China di sekitar Taiwan dan perairan sekitarnya menunjukkan perubahan yang kentara.

“Meski latihan berskala besar atau eskalasi dinilai kecil kemungkinannya dalam waktu dekat, perubahan pada tempo atau intensitas patroli, latihan, dan operasi zona abu-abu dapat mencerminkan bagaimana para komandan tingkat bawah merespons perombakan ini,” ujarnya.

Yang dari RSIS mencatat bahwa variabel kuncinya adalah apakah ketidakpastian di tingkat atas diterjemahkan menjadi kehati-hatian atau justru reaksi berlebihan di tingkat bawah.

“Sistem komando bersifat hierarkis, dan ketidakpastian di pucuk pimpinan pada akhirnya akan memengaruhi perilaku di lapisan bawah,” katanya.
 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan