Skip to main content
Iklan

Asia

Mengapa ilmuwan badan antariksa India eksodus - dan bisakah aturan lebih ketat membuat mereka bertahan?

Seiring berkembang pesatnya sektor teknologi antariksa swasta India, persaingan memperebutkan ilmuwan paling berpengalaman memunculkan pertanyaan tentang bagaimana negara itu dapat membangun industri antariksa komersial yang kuat tanpa menggerus institusi yang memungkinkan perkembangan tersebut.

Mengapa ilmuwan badan antariksa India eksodus - dan bisakah aturan lebih ketat membuat mereka bertahan?

Naga Bharath Daka dan Pawan Kumar Chandana, pendiri Skyroot Aerospace, berpose di depan Vikram-I, roket komersial swasta pertama India, di kampus Skyroot Aerospace di Hyderabad, India, pada 27 November 2025. (Foto: Reuters/PriyanshU Singh)

BENGALURU: Pemerintah India mengambil langkah untuk mempersulit sebagian ilmuwan antariksa terbaiknya meninggalkan badan antariksa nasional, setelah lebih dari 100 ilmuwan dan staf teknis mengundurkan diri atau mengambil pensiun dini dari Indian Space Research Organisation (ISRO) dalam beberapa bulan terakhir.

Pekan lalu, kantor berita ANI melaporkan, Departemen Antariksa India memperketat aturan pengajuan pensiun dini dan pengunduran diri ilmuwan yang terlibat dalam misi-misi penting seperti Gaganyaan, program penerbangan antariksa berawak pertama India. Sebuah memorandum internal tertanggal 14 Juli menyebutkan bahwa lonjakan pengajuan pengunduran diri belakangan ini telah menyebabkan proyek-proyek yang dinilai penting bagi kepentingan nasional terlambat.

Ketua ISRO V Narayanan mengatakan kepada media lokal bahwa perpindahan pegawai merupakan "bagian dari setiap organisasi". Kebijakan baru itu dimaksudkan agar proyek-proyek penting "tidak tiba-tiba terdampak".

Aturan yang lebih ketat tersebut diterapkan ketika sektor antariksa swasta India memasuki fase pertumbuhan baru. Para pelaku industri menyatakan, persaingan mendapatkan talenta dengan keahlian yang sangat spesifik kini semakin ketat.

Pada Sabtu (18/7), Perusahaan rintisan teknologi antariksa Skyroot Aerospace menjadi perusahaan swasta India pertama yang berhasil meluncurkan roket hasil pengembangan swasta yang membawa satelit ke orbit dari wilayah India. Perusahaan yang berbasis di Hyderabad itu didirikan oleh mantan ilmuwan ISRO.

(Ketiga dari kiri) V. Narayanan, Ketua ISRO, (paling kanan) Pawan Goenka, Ketua IN-SPACe, (tengah) pendiri bersama Skyroot, Pawan Chandana dan Naga Daka, berpose bersama model roket Vikram-1 setelah peluncuran sukses roket Vikram-1 milik Skyroot Aerospace ke orbit (Foto: REUTERS/Priyanshu Singh)

"Industri teknologi antariksa India telah matang., Kini ada ratusan perusahaan antariksa dan mereka tidak lagi hanya mencari insinyur. Mereka membutuhkan orang-orang yang pernah memimpin misi antariksa secara menyeluruh. Selama puluhan tahun, keahlian itu dibangun di dalam ISRO," kata Abhishek Raju, mantan salah satu pendiri perusahaan intelijen geospasial India SatSure, kepada CNA.

Perkembangan ini memunculkan pertanyaan yang lebih luas mengenai apakah aturan keluar yang lebih ketat mampu mempertahankan keahlian penting. Selain itu, apakah India dapat membangun industri antariksa swasta yang kini berkembang tanpa melemahkan institusi yang selama ini menjadi fondasinya.

KEAHLIAN YANG TAK BISA DIBANGUN “STARTUP” DALAM SEMALAM

Raju mengatakan, selama beberapa dekade, program antariksa India nyaris identik dengan ISRO.

"Dengan reformasi yang dilakukan baru-baru ini dan masuknya modal ventura setelah pandemi, perusahaan-perusahaan teknologi antariksa yang sebelumnya hanya memiliki 20 hingga 25 karyawan kini mempekerjakan 150 hingga 200 orang," kata Raju, yang juga pemegang saham dan mentor bagi sejumlah perusahaan teknologi antariksa lain seperti Bellatrix.

Para pakar berpendapat bahwa berbeda dengan Perusahaan rintisan perangkat lunak, perusahaan antariksa membutuhkan keahlian yang umumnya memerlukan waktu puluhan tahun untuk dikuasai, mulai dari integrasi sistem dan propulsi hingga manajemen program serta operasi peluncuran.

"Satu-satunya sumber yang benar-benar kredibel bagi kami adalah ISRO," ujar  Raju.

Menurutnya, ilmuwan yang telah bertahun-tahun bekerja di ISRO tidak hanya membawa keahlian teknis yang mendalam, tetapi juga pengalaman mengelola keseluruhan misi antariksa - kemampuan yang tidak dapat dengan cepat direplikasi oleh startup.

Seorang petugas keamanan berdiri di belakang logo Organisasi Penelitian Antariksa India (ISRO) di kantor pusatnya di Bengaluru, India, pada 12 Juni 2019. (Foto: Reuters/Francis Mascarenhas)

Sanjay Nekkanti, pendiri sekaligus CEO Dhruva Space, perusahaan penyedia solusi rekayasa antariksa, menuturkan, ketergantungan industri terhadap mantan ilmuwan ISRO merupakan konsekuensi alami dari perkembangan sektor-sektor strategis India.

"Selama beberapa dekade, sebagian besar keahlian ini berada di ISRO, DRDO (Defence Research and Development Organisation), laboratorium pertahanan, dan perusahaan milik negara karena lembaga-lembaga inilah yang diberi mandat mengembangkan teknologi strategis India," tutur Sanjay kepada CNA.

Ia menambahkan bahwa ilmuwan ISRO yang telah pensiun masih membimbing tim teknik dan berkontribusi dalam pengembangan produk di Dhruva Space, bersama para pakar yang pernah bekerja di NASA dan European Space Agency (ESA).

Meski belum ada data komprehensif perpindahan ilmuwan dari ISRO ke perusahaan swasta, Raju mengatakan, Perusahaan rintisan kini semakin menarik bagi talenta berpengalaman. Selain menawarkan gaji yang kompetitif, mereka juga memberikan posisi kepemimpinan, opsi kepemilikan saham bagi karyawan (employee stock options/ESOP), serta kesempatan mengembangkan teknologi dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Laporan Economic Times pada Maret 2025 menyebut, Perusahaan rintisan teknologi antariksa India secara aktif merekrut mantan ilmuwan ISRO untuk memperkuat kepemimpinan, komersialisasi, dan ekspansi global.

"Mungkin mereka bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dalam satu tahun dibandingkan yang bisa mereka lakukan dalam lima atau tujuh tahun," kata Raju.

APAKAH ATURAN LEBIH KETAT BISA MEMPERTAHANKAN TALENTA TERBAIK?

Aturan baru tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran atas hilangnya ilmuwan berpengalaman. Namun, para pelaku industri berpendapat bahwa mempersulit proses keluar tidak akan dengan sendirinya menyelesaikan persoalan.

Raju mengatakan, kekhawatiran pemerintah dapat dipahami.

"Pemerintah telah berinvestasi untuk membangun kumpulan talenta ini," katanya, seraya menambahkan bahwa ilmuwan yang menangani misi-misi unggulan membawa pengetahuan dan pengalaman khusus yang dibangun selama puluhan tahun.

Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Uni India, Jitendra Singh, memegang replika ‘Vikram-S’, roket swasta pertama di India, selama konferensi pers setelah peluncuran roket tersebut, di Pusat Antariksa Satish Dhawan di Sriharikota, Andhra Pradesh, India, pada 18 November 2022. (Foto: EPA/IDREES MOHAMMED)

Menurut Raju, kehilangan personel senior di tengah berlangsungnya proyek-proyek penting dapat mengganggu jadwal misi serta kesinambungan pekerjaan.

Namun, Raju menilai, pembatasan semata tidak akan mampu mempertahankan talenta.

"Kalau seseorang sudah memutuskan untuk pergi, tidak ada yang bisa menghentikannya," ujarnya.

Ia mengusulkan sejumlah langkah, seperti memperpanjang masa transisi bagi posisi-posisi penting, menerapkan skema konsultasi, atau memberi kesempatan kepada ilmuwan untuk bekerja beberapa tahun di sektor swasta sebelum kembali ke ISRO.

Menurut Raju, pengaturan semacam itu memungkinkan keahlian beredar di seluruh ekosistem sekaligus menjaga pengetahuan institusional.

Nekkanti dari Dhruva Space sependapat bahwa solusinya terletak pada penguatan kolaborasi, bukan membatasi perpindahan tenaga ahli.

"Hubungan antara ISRO dan industri adalah hubungan penciptaan bersama (co-creation)," katanya.

Ia menambahkan, sementara ISRO terus memelopori teknologi mutakhir dan menjalankan misi-misi nasional, perusahaan swasta dapat mengindustrialisasi inovasi tersebut, memproduksinya dalam skala besar, dan membawanya ke pasar komersial.

PELAJARAN BAGI INDIA

Perdebatan mengenai perpindahan talenta ISRO juga memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: seperti apa ekosistem antariksa India dalam jangka panjang?

Di negara-negara dengan industri antariksa yang telah matang, seperti Amerika Serikat dan berbagai negara di Eropa, badan antariksa pemerintah semakin banyak bekerja berdampingan dengan perusahaan komersial, alih-alih menangani sendiri setiap aspek misi, kata Raju dari SatSure.

Logo NASA terlihat di Pusat Antariksa Kennedy di Florida, Amerika Serikat, pada 16 April 2021. (Foto: Reuters /Joe Skipper)

"Kalau melihat NASA maupun ESA (European Space Agency), memang seperti itulah sistemnya," katanya, seraya menambahkan bahwa India seharusnya bergerak ke arah yang sama.

Menurutnya, ISRO sebaiknya tidak lagi hanya memandang perusahaan swasta sebagai pemasok, melainkan sebagai mitra.

Model kemitraan tersebut, menurut para pelaku industri, sebenarnya sudah mulai terbentuk.

"Pertumbuhan sektor antariksa swasta India dan perpindahan talenta di seluruh ekosistem merupakan konsekuensi alami dari ekspansi sektor ini. Hal tersebut tidak seharusnya dipandang secara hitam-putih," kata Shweta Rajpal Kohli, Presiden sekaligus CEO Startup Policy Forum, organisasi industri yang bekerja sama dengan berbagai startup, termasuk perusahaan teknologi antariksa, dalam isu kebijakan publik.

Ia mengibaratkannya dengan Unified Payments Interface (UPI), sistem pembayaran instan India, di mana infrastruktur publik menjadi fondasi sementara perusahaan swasta mendorong lahirnya inovasi.

"Tujuannya bukan melihat perpindahan talenta sebagai permainan menang-kalah (zero-sum), melainkan memastikan kedua bagian ekosistem sama-sama menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu," katanya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ar(ew)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan