Skip to main content
Iklan

Asia

Iran sebut perundingan damai 'tidak masuk akal' usai serangan Israel di Lebanon

Ketegangan meningkat setelah serangan besar Israel di Lebanon memicu ancaman balasan Iran, yang menilai upaya dialog dengan AS tidak realistis dalam kondisi saat ini.

Iran sebut perundingan damai 'tidak masuk akal' usai serangan Israel di Lebanon

Tim penyelamat mengoperasikan ekskavator di lokasi serangan Israel yang dilancarkan pada Rabu, di Ain Al Mraiseh, Beirut, Lebanon, 9 April 2026. (REUTERS/Mohamed Azakir)

09 Apr 2026 10:32AM (Diperbarui: 09 Apr 2026 03:27PM)

DUBAI: Israel melancarkan serangan terberatnya sejauh ini ke Lebanon pada Rabu (8/4), menewaskan ratusan orang dan memicu ancaman balasan dari Iran, yang menyatakan bahwa melanjutkan perundingan damai dengan Amerika Serikat akan menjadi “tidak masuk akal”.

Peringatan tersebut disampaikan oleh ketua parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammed Bager Qalibaf, yang menyoroti masih tingginya ketegangan di kawasan setelah pengumuman gencatan senjata oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa.

Iran dan AS memiliki agenda yang sangat berbeda menjelang perundingan damai yang dijadwalkan dimulai Sabtu. Namun, belum jelas apakah gencatan senjata selama dua pekan itu akan bertahan hingga saat tersebut.

Qalibaf menilai, Israel telah melanggar sejumlah ketentuan gencatan senjata dengan meningkatkan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Ia juga menuding AS melanggar kesepakatan dengan menuntut Iran menghentikan ambisi nuklirnya.

“Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau perundingan tidak masuk akal,” kata Qalibaf dalam sebuah pernyataan.

Israel dan Amerika Serikat menyatakan bahwa gencatan senjata dua pekan tersebut tidak mencakup Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan serangan akan terus berlanjut.

Wakil Presiden AS JD Vance, yang akan memimpin delegasi negaranya dalam perundingan, mengatakan Iran keliru jika menganggap Lebanon termasuk dalam kesepakatan tersebut.

Di sisi lain, kedua pihak juga masih berbeda pandangan terkait program nuklir Iran—yang menjadi salah satu alasan utama perang menurut Trump.

Trump menyatakan Iran telah setuju untuk menghentikan pengayaan uranium dan bersedia menyerahkan stok yang ada. Gedung Putih juga menyebut Iran memberi sinyal akan menyerahkan cadangan tersebut.

Namun, Qalibaf menegaskan Iran tetap diperbolehkan melanjutkan pengayaan uranium sesuai ketentuan gencatan senjata.

Meski AS dan Iran sama-sama mengklaim kemenangan dalam konflik lima minggu yang menewaskan ribuan orang, perbedaan mendasar di antara keduanya belum terselesaikan.

Di tengah ketidakpastian, indeks saham global melonjak sementara harga minyak anjlok hingga 14 persen ke sekitar US$95 per barel, setelah sempat turun ke US$90,40. Namun, harga minyak Brent masih sekitar US$25 lebih tinggi dibanding sebelum serangan gabungan AS-Israel dimulai.

Kemampuan Iran mengganggu pasokan energi di Teluk melalui Selat Hormuz menunjukkan perubahan dinamika kekuatan di kawasan tersebut.

KORBAN TERUS BERTAMBAH

Netanyahu mengatakan Israel siap kembali berperang “kapan saja”.

Layanan pertahanan sipil Lebanon melaporkan 254 orang tewas akibat serangan Israel di seluruh negeri pada Rabu, dengan korban terbanyak di ibu kota Beirut sebanyak 91 orang. Warga mengatakan beberapa serangan dilakukan tanpa peringatan evakuasi.

Hizbullah pada Kamis dini hari menyatakan telah menembakkan roket ke wilayah utara Israel sebagai respons atas “pelanggaran gencatan senjata”.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras serangan Israel yang disebutnya tidak pandang bulu, dan menegaskan Lebanon harus sepenuhnya tercakup dalam gencatan senjata.

Para pemimpin dari 13 negara Eropa, Jepang, dan Kanada juga mengeluarkan pernyataan bersama yang menyambut gencatan senjata dan menyerukan penghentian permusuhan guna mencegah krisis energi global.

Sebuah sumber dari industri minyak menyebut Iran juga menyerang fasilitas energi di negara-negara Teluk, termasuk jaringan pipa di Arab Saudi. Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab turut melaporkan adanya serangan rudal dan drone.

Selat Hormuz masih ditutup bagi kapal tanpa izin, sementara pelaku industri pelayaran menunggu kejelasan sebelum melanjutkan aktivitas.

PENGUASA IRAN TETAP BERTAHAN

Di Iran, warga turun ke jalan merayakan situasi tersebut, meski kekhawatiran tetap ada bahwa kesepakatan tidak akan bertahan.

“Israel tidak akan membiarkan diplomasi berjalan dan Trump bisa berubah pikiran besok. Tapi setidaknya malam ini kami bisa tidur tanpa serangan,” kata seorang warga Teheran.

Perang ini dimulai pada 28 Februari oleh Trump dan Netanyahu, yang menyatakan tujuannya adalah menghentikan pengaruh Iran di kawasan, mengakhiri program nuklirnya, dan membuka jalan bagi perubahan politik di Iran.

Namun hingga kini, Iran masih mempertahankan cadangan uranium yang diperkaya mendekati tingkat senjata nuklir serta kemampuan menyerang negara tetangga dengan rudal dan drone. Kepemimpinan Iran juga tetap bertahan meski menghadapi tekanan besar.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ar(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan