‘Jangan dipaksakan kepada kami’: Mengapa kebijakan bensin campuran etanol di India menuai penolakan
Para pengendara mengunggah video kendaraan mogok dan konsumsi bahan bakar yang lebih boros. Namun, para ahli mengatakan, komponen kendaraan yang sudah tua, perawatan yang buruk, dan bensin yang terkontaminasi juga dapat menjadi penyebab masalah tersebut.
Tehseen Poonawalla, tokoh masyarakat di New Delhi dan pendukung Partai Kongres India, memegang sebuah poster saat ia dan yang lainnya ikut serta dalam aksi protes menentang penerapan kebijakan pencampuran bahan bakar etanol E20 oleh pemerintah di Jantar Mantar, New Delhi, India, pada 5 Juli 2026. (Foto: Reuters/Anushree Fadnavis)
SINGAPURA: Awal Juli 2026, YouTuber India Manish Kashyap mengunggah video yang menuduh campuran bensin baru India dengan kandungan etanol lebih tinggi, menyebabkan mobil Toyota Innova miliknya mogok.
Toyota membantah tuduhan tersebut dan menyatakan penyebabnya adalah kontaminasi bahan bakar. Kepolisian Siber Nagpur kemudian mendaftarkan perkara pidana terhadap Kashyap atas dugaan menyebarkan informasi yang menyesatkan, menurut media lokal.
Insiden itu memicu gelombang klaim serupa dari para pengendara di media sosial. Sebagian memperlihatkan bensin yang dikuras dari tangki kendaraan mereka dengan lapisan cairan yang tampak terpisah, dan mengklaim campuran bahan bakar tersebut telah merusak kendaraan mereka.
Keputusan India untuk meningkatkan kandungan etanol dalam bensin menjadi 20 persen tahun lalu, serta menjadikan campuran tersebut sebagai pilihan standar bagi para pengendara sejak April, telah memicu kontroversi di negara itu. Kebijakan energi yang sebelumnya bersifat teknis kini berubah menjadi perdebatan hangat di kalangan konsumen.
Pemerintah mempromosikan bahan bakar yang dikenal sebagai E20 itu untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak mentah, meningkatkan pendapatan petani, dan menekan emisi kendaraan. Etanol di India terutama diproduksi dari tebu dan biji-bijian yang dibudidayakan di dalam negeri.
Langkah tersebut diambil lima tahun lebih cepat dari target semula pada 2030. Sebelumnya, kandungan etanol maksimum dalam bensin di India adalah 10 persen.
Percepatan transisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai penurunan efisiensi bahan bakar, kompatibilitas dengan kendaraan lama, serta terbatasnya ketersediaan bensin murni dan varian E10, menurut para pengendara dan mekanik yang diwawancarai CNA.
Seorang pengendara di Pune yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan kepada CNA bahwa skuter milik istrinya berulang kali mogok dan akhirnya tidak dapat dinyalakan kembali. Menurutnya, pusat servis menyatakan bahan bakar E20 memperburuk masalah yang sudah ada pada filter bahan bakar.
Pengendara lain melaporkan konsumsi bahan bakar yang lebih boros dan mengaku khawatir terhadap dampak E20 pada kendaraan yang lebih tua.
"Saya jelas khawatir karena mobil saya sudah berusia hampir 12 tahun," kata Denzil Dmello, eksekutif layanan TI berusia 44 tahun dari Mumbai yang memiliki sebuah mobil dan sebuah skuter.
Gaurav Deshpande, mekanik sekaligus pemilik bengkel mobil di Thane, kota dekat Mumbai, mengatakan kepada CNA bahwa ia memang menerima kendaraan yang mogok.
"Ada dua kendaraan yang masuk ke bengkel saya dengan masalah pada pompa bahan bakar," ujarnya.
Namun, menurutnya, kerusakan tersebut bisa disebabkan oleh kontaminan yang masuk ke bahan bakar selama penyimpanan di SPBU, bukan semata-mata akibat campuran E20.
Para ahli sependapat. Namun, mereka mengatakan, India dapat memperlancar transisi dengan meningkatkan standar penyimpanan bahan bakar, tetap memberikan pilihan kepada konsumen, serta belajar dari negara-negara yang memperkenalkan campuran etanol lebih tinggi secara bertahap bersamaan dengan hadirnya kendaraan yang kompatibel dan berbagai pilihan bahan bakar.
APA YANG MELATARBELAKANGI KEBIJAKAN E20 INDIA?
India mempercepat penerapan campuran etanol 20 persen untuk mengurangi biaya impor minyak mentah sekaligus memperkuat ketahanan energinya.
Langkah tersebut dilakukan ketika perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Nilai impor minyak mentah India pada kuartal April-Juni 2026 melonjak 60 persen menjadi US$49,8 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data pemerintah. India merupakan importir minyak terbesar ketiga di dunia setelah China dan Amerika Serikat.
Berdasarkan data Kementerian Perminyakan dan Gas Alam India tahun 2025, pemerintah memperkirakan, kebijakan E20 akan menghemat devisa sebesar 430 miliar rupee (Rp81,2 triliun) dan menambah pendapatan petani domestik sebesar 400 miliar rupee (Rp75,5 triliun) dalam setahun.
Dalam 11 tahun hingga Juli 2025, program pencampuran etanol India diklaim telah menghemat lebih dari 1,44 triliun rupee devisa, menggantikan sekitar 24,5 juta ton minyak mentah, serta mengurangi sekitar 73,6 juta ton emisi karbon—setara dengan menanam 300 juta pohon—berdasarkan data pemerintah.
APA SAJA KEHAWATIRANNYA?
Analisis Thomson Reuters Foundation tahun lalu terhadap data pemerintah dan industri menunjukkan bahwa hanya sekitar 20 persen kendaraan bensin baru yang terjual di India dalam 15 tahun terakhir yang sudah kompatibel dengan bahan bakar E20.
Meski produsen otomotif mulai meluncurkan model dengan sistem bahan bakar yang kompatibel dengan E20 sejak April 2023, lebih dari 60 persen kendaraan yang saat ini beroperasi di jalan raya India diproduksi sebelum 2023, berdasarkan estimasi dari data industri otomotif India.
Para mekanik dan pakar otomotif yang diwawancarai CNA mengatakan, kekhawatiran utama berpusat pada kendaraan yang lebih tua.
Menurut mereka, kendaraan yang dirancang untuk menggunakan campuran etanol lebih rendah berpotensi mengalami keausan lebih cepat pada beberapa komponen sistem bahan bakar serta penurunan performa jika menggunakan E20. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan belum ada bukti kuat yang mendukung anggapan tersebut.
"Masyarakat khawatir komponen kendaraan akan lebih cepat aus. Kemungkinan itu memang ada, tetapi prosesnya membutuhkan waktu lama. Kerusakan yang terjadi umumnya terbatas pada sistem penyaluran bahan bakar, seperti komponen karet, seal, selang, dan dalam beberapa kasus pompa bahan bakar," kata Hormazd Sorabjee, pakar otomotif sekaligus editor Autocar India.
Sorabjee mengatakan, kendaraan yang lebih tua memang dapat mengalami sejumlah masalah seiring waktu akibat penggunaan E20, tetapi tidak akan mengalami kerusakan besar atau mendadak yang menyebabkan mesin tiba-tiba mati.
Sebuah studi yang dipublikasikan pada 14 Juli oleh para peneliti dari Indian Institute of Technology (IIT) Kanpur juga tidak menemukan bukti bahwa E20 merusak mesin kendaraan baru maupun kendaraan lama.
"Memang ada peningkatan pertanyaan dari pelanggan, tetapi itu tidak otomatis berarti terjadi peningkatan gangguan teknis yang berkaitan dengan E20," kata Kepala Eksekutif Federation of Automobile Dealers Association (FADA), Saharsh Damani.
"Kami juga menemukan sejumlah kasus dugaan awal yang menyalahkan E20 ternyata kemudian diketahui disebabkan oleh kerusakan mekanis yang sama sekali tidak berkaitan."
Menurut Damani, banyak faktor yang dapat menjadi penyebab, termasuk kualitas bahan bakar, kasus pencampuran bahan bakar yang tidak sesuai standar di lokasi tertentu, keterlambatan perawatan kendaraan, usia komponen pada kendaraan lama, maupun masalah mekanis lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan E20.
"Setiap kasus harus melalui pemeriksaan diagnostik yang tepat sebelum diambil kesimpulan," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa komponen pada kendaraan berusia delapan hingga 10 tahun seperti karet, seal, dan selang yang berpotensi terdampak E20 sebenarnya relatif murah.
"Harganya hanya ratusan rupee, bahkan tidak sampai ribuan rupee," katanya.
Sementara itu, Sorabjee memperkirakan, biaya penggantian komponen tersebut berkisar antara 25.000 hingga 70.000 rupee selama periode penggunaan 10 tahun, tergantung model mobilnya.
MENGAPA PENOLAKAN SEMAKIN LUAS?
Waktu penerapan kebijakan diduga menjadi salah satu penyebab meningkatnya penolakan.
Hanya beberapa bulan setelah E20 diwajibkan, para pengendara mulai mengunggah video yang mengaitkan berbagai masalah kendaraan dengan bahan bakar tersebut. Pada saat yang sama, musim hujan pada Juni meningkatkan risiko masuknya air ke dalam tangki penyimpanan bawah tanah di SPBU yang kurang terawat.
Deshpande mengatakan, sejumlah sampel bahan bakar dalam botol yang beredar di media sosial tampak memiliki lapisan cairan di bagian bawah yang jauh lebih banyak dibandingkan kadar etanol 20 persen.
Menurutnya, sampel tersebut kemungkinan telah terkontaminasi air.
"Banyak SPBU belum mengganti tangki penyimpanan logam dengan tangki nonlogam dan masih menggunakan tangki logam yang ditanam di bawah tanah. Etanol merupakan sejenis alkohol yang mudah menyerap air. Jika berada di sekitar logam, kondensasi dapat terjadi dan menarik uap air dari luar masuk ke dalam tangki," jelasnya.
Sorabjee sependapat.
"Yang sedang terjadi saat ini lebih berkaitan dengan kontaminasi bahan bakar daripada E20 itu sendiri," katanya.
"Sebagian besar keluhan datang dari India bagian utara. Keluhan tidak banyak berasal dari wilayah barat maupun selatan. Hal itu mengindikasikan adanya persoalan kontaminasi di wilayah utara. Jika E20 memang menjadi penyebabnya, kendaraan di seluruh India seharusnya mengalami kerusakan," tuturnya.
Para ahli mengatakan, sifat etanol yang mudah menyerap kelembapan membuat standar penyimpanan dan penanganan bahan bakar harus jauh lebih ketat.
Selain itu, etanol juga memiliki sifat seperti deterjen yang dapat meluruhkan endapan kotoran di dalam tangki bahan bakar kendaraan yang jarang dirawat. Kotoran tersebut kemudian dapat menyumbat filter atau injektor bahan bakar.
"Etanol menghukum praktik perawatan yang buruk," kata Sorabjee.
Ia menambahkan bahwa media sosial turut memperbesar dampak kasus-kasus yang sebenarnya bersifat terisolasi, karena sebagian kreator konten menyajikan spekulasi seolah-olah merupakan bukti teknis.
Meski demikian, E20 memang memiliki kelemahan yang sudah diketahui.
Karena kandungan energi etanol lebih rendah dibandingkan bensin, konsumsi bahan bakar kendaraan menjadi lebih boros.
Para pengendara dan mekanik yang diwawancarai CNA mengaku melihat penurunan efisiensi bahan bakar sekitar 15 hingga 20 persen.
"Kalau sebelumnya mobil saya menempuh sekitar 14 kilometer per liter saat lalu lintas padat, sekarang mungkin turun menjadi sekitar 12 hingga 12,5 kilometer per liter," kata Dmello.
Sementara itu, pengendara dari Pune mengatakan, konsumsi bahan bakarnya turun hingga sekitar 30 persen setelah beralih ke E20.
"Dulu di jalan tol saya bisa mencapai 24 hingga 25 kilometer per liter. Sekarang turun drastis menjadi sekitar 18 hingga 19 kilometer per liter," katanya.
Pengujian Autocar India menemukan penurunan efisiensi antara 3,8 persen hingga 12,6 persen, bergantung pada jenis kendaraan dan kalibrasi mesinnya. Sorabjee mengatakan, penurunan tersebut bisa lebih besar pada kendaraan yang lebih tua.
Namun, penelitian IIT Kanpur memperkirakan penurunan efisiensi akibat E20 kurang dari 5 persen.
Para ahli menegaskan bahwa konsumsi bahan bakar juga dipengaruhi oleh kondisi lalu lintas, tekanan ban, perawatan kendaraan, gaya mengemudi, dan usia kendaraan. Karena itu, sulit menyimpulkan bahwa seluruh penurunan efisiensi yang dialami seorang pengendara semata-mata disebabkan oleh kandungan etanol.
Namun, persoalan yang paling banyak dipermasalahkan adalah turunnya efisiensi bahan bakar tidak diikuti penurunan harga bensin di SPBU.
"Konsumen merasa dirugikan, dan pada akhirnya pengendara merasa tidak mendapatkan nilai yang sepadan," kata Sorabjee.
"Pemerintah seharusnya memberikan potongan harga yang cukup besar untuk bahan bakar E20."
Harga bensin eceran di kota-kota seperti Mumbai dan New Delhi naik sekitar 7 hingga 8 persen dalam setahun terakhir, menurut data pemerintah. Kenaikan tersebut terjadi setelah empat kali penyesuaian harga berturut-turut pada Mei yang mendorong harga bensin ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir, menurut Bloomberg.
Para pengendara dan mekanik juga mengeluhkan minimnya pilihan bensin E10 maupun bensin murni di SPBU.
"Berikan kami pilihan. Jangan dipaksakan kepada kami," kata Dmello.
Ia juga menyoroti mahalnya harga alternatif yang tersedia sehingga sebagian besar pengendara praktis tidak memiliki pilihan selain menggunakan E20.
"Hanya sedikit SPBU di India, atau di Mumbai, yang menawarkan bensin oktan 95 atau 100. Memang ada beberapa yang menyediakan pilihan itu, tetapi selisih harganya sangat besar. Kalau E20 dijual sekitar 110 rupee (Rp20.787) per liter di Mumbai, bensin 95 atau 100 oktan bisa mencapai 170 hingga 175 rupee (Rp32.125-Rp33.070) per liter," ujarnya.
Laporan NITI Aayog, lembaga pemikir kebijakan utama pemerintah India, juga merekomendasikan agar bahan bakar dengan kandungan etanol lebih tinggi dijual lebih murah daripada bensin konvensional untuk mengompensasi penurunan efisiensi bahan bakar. Lembaga tersebut juga mengusulkan keringanan pajak untuk E10 dan E20 guna mengimbangi penurunan efisiensi tersebut.
Di sisi lain, peningkatan penggunaan etanol juga memiliki konsekuensi. NITI Aayog mencatat bahwa tebu, bahan baku utama etanol di India, membutuhkan air dalam jumlah sangat besar, yakni sekitar 2.860 liter air untuk menghasilkan satu liter etanol.
Sejumlah laporan juga menunjukkan perusahaan minyak membayar harga etanol yang lebih tinggi dibandingkan biaya produksi bensin sebelum pajak.
PELAJARAN DARI BRASIL DAN NEGARA LAIN
Brasil kerap dijadikan contoh oleh pemerintah India untuk menunjukkan bahwa penggunaan campuran etanol dalam kadar tinggi dapat berhasil diterapkan.
Pada 14 Juli, pemerintah Brasil menaikkan kewajiban pencampuran etanol dalam bensin dari 30 persen menjadi 32 persen selama 180 hari, menurut Reuters. Sebelumnya, kadar campuran dinaikkan dari 27 persen menjadi 30 persen pada Agustus 2025.
Namun, perjalanan Brasil menuju penggunaan bensin dengan kandungan etanol tinggi sangat berbeda dengan langkah India yang relatif cepat beralih dari E10 ke E20.
Society of Indian Automobile Manufacturers (SIAM) menyatakan, transisi Brasil menuju campuran etanol yang lebih tinggi berlangsung selama lebih dari 30 tahun dan bahkan hingga kini bensin murni atau E0 masih tersedia bagi konsumen. Pernyataan tersebut juga dikutip dalam laporan NITI Aayog.
SIAM menyarankan India tetap mempertahankan E10 sebagai pilihan bagi pemilik kendaraan yang lebih tua.
Menurut laporan tersebut, keberhasilan transisi Brasil juga ditopang oleh industri etanol domestik yang kuat, kendaraan yang sejak awal dirancang untuk menggunakan berbagai jenis campuran bahan bakar, serta infrastruktur yang memungkinkan konsumen memilih bahan bakar berdasarkan harga dan ketersediaannya.
Negara dan kawasan lain yang juga menggunakan etanol dalam bensin antara lain Amerika Serikat, Uni Eropa, Indonesia, Paraguay, Bolivia, Zimbabwe, Thailand, dan Filipina.
Menurut US Energy Information Administration, sebagian besar bensin yang dijual di Amerika Serikat mengandung 10 persen etanol.
Pada April lalu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dilaporkan mengatakan bahwa Komisi Eropa akan mempertimbangkan penggunaan campuran etanol yang lebih tinggi dalam bensin, termasuk kemungkinan beralih ke E20. Saat ini, E10 telah tersedia secara luas di negara-negara Uni Eropa.
Indonesia mulai menjalankan program pencampuran bensin dengan etanol 5 persen pada bulan ini dan menargetkan transisi menuju E20 pada 2028, menurut laporan media setempat.
Paraguay telah mewajibkan penggunaan E30, sementara Thailand menyediakan E20 dan E85 dengan subsidi.
Filipina saat ini menggunakan bensin E10 dan berencana mulai memasarkan E20, menurut laporan Economic Times.
Namun, para ahli menekankan bahwa hampir semua negara tersebut tetap menyediakan berbagai pilihan campuran bensin di sebagian besar SPBU sehingga konsumen dapat memilih sesuai kebutuhan.
Mereka mengatakan, penerapan campuran etanol yang lebih tinggi seperti di Brasil mengharuskan India beralih secara bertahap ke kendaraan flex-fuel yang memang dirancang untuk menggunakan berbagai jenis campuran bahan bakar. Proses tersebut juga harus disertai pengujian yang matang serta masa transisi selama beberapa tahun guna melindungi jutaan kendaraan lama yang masih beroperasi.
Para ahli menambahkan, keberhasilan India jika suatu saat ingin melampaui E20 akan sangat bergantung pada kemampuannya menjaga kepercayaan masyarakat.
"Yang terpenting adalah transisi ini tetap didasarkan pada bukti ilmiah, dilakukan secara transparan, dan berorientasi pada kepentingan konsumen. Prioritas saat ini adalah terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat serta memastikan kendaraan dirawat dengan baik," kata Saharsh Damani dari FADA.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.