Perang logam tanah jarang makin panas: Ini strategi India lepas dari bayang-bayang China
Logam tanah jarang merupakan komponen penting untuk kendaraan listrik (EV), semikonduktor smartphone, hingga sistem pertahanan militer, sehingga diperebutkan banyak negara dalam persaingan teknologi dan geopolitik global.
Contoh mineral tanah jarang (dari kiri ke kanan) antara lain oksida cerium, bastnasite, oksida neodymium, dan karbonat lantanum, di Molycorp Mountain Pass Rare Earth di Mountain Pass, California, pada 29 Juni 2015. (Foto: Reuters/David Becker)
SINGAPURA: India tengah berencana membangun Koridor Logam Tanah Jarang (Rare Earth Corridor) yang membentang dari Odisha, Kerala, Andhra Pradesh, hingga Tamil Nadu. Rencana yang diumumkan dalam Union Budget India bulan ini merupakan langkah negara itu mengubah cadangan mineralnya menjadi kekuatan strategis melawan dominasi China.
India memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar ketiga di dunia, mencapai 6,9 juta ton, hanya kalah dari China dan Brasil. Namun, negara tersebut masih menghadapi tantangan dalam penambangan dan pengolahannya, dengan kontribusi kurang dari 1 persen terhadap produksi global.
Sebaliknya, China menguasai tahapan krusial dalam rantai pasok. Menurut International Energy Agency (IEA), negara itu menyumbang sekitar 60 persen dari total penambangan logam tanah jarang di dunia, dan 91 persen dari output pemurnian, tahap yang justru menjadi sumber daya tawar paling besar dalam industri ini.
Kontrol tersebut terlihat jelas tahun lalu ketika Beijing memberlakukan pembatasan ekspor terhadap logam tanah jarang dan produk turunannya, termasuk pengiriman ke India.
Logam tanah jarang, yang terdiri dari 17 jenis logam, merupakan komponen penting untuk motor kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), turbin angin, semikonduktor smartphone, sistem kedirgantaraan, hingga peralatan pertahanan. Perannya yang vital menempatkan komoditas ini di pusat strategi keamanan nasional banyak negara.
Saking pentingnya, logam tanah jarang bahkan disebut "vitamin bagi teknologi modern", karena kerap digunakan dalam jumlah kecil, namun tetap tidak tergantikan dalam pembangunan sistem teknologi yang canggih, menurut konsultan dari Mining and Metals Advisor di Geoxplorers Consulting Services, Saurabh Priyadarshi.
Mengingat pentingnya logam tanah jarang, India berambisi membangun Koridor Logam Tanah Jarang, sebuah ekosistem domestik berlokasi di beberapa negara bagian India yang akan terintegrasi penuh, mulai dari penambangan oksida logam tanah jarang hingga memproduksi magnet utuh (finished magnets).
Koridor yang diusulkan pemerintah India bertujuan membangun pasokan domestik magnet permanen dari logam tanah jarang, yang disebut "sangat penting".
Pemerintah India juga memperkirakan proyek ini akan mendorong penambangan, pengolahan, riset, dan manufaktur material logam tanah jarang, guna mengurangi ketergantungan impor serta memperkuat posisi India dalam rantai nilai material berteknologi tinggi.
Tantangan utamanya kini adalah apakah India secara realistis mampu bertransformasi dari sekadar pemilik sumber daya menjadi negara yang mampu mengolah berbagai logam tanah jarang tersebut, serta berapa lama proses transformasi itu akan berlangsung.
Rajnish Gupta, Partner di EY’s Tax and Economic Policy Group, mengatakan kepada CNA bahwa India menghadapi dua tantangan besar: yakni "akses terhadap teknologi pengolahan" dan "pembuangan tailings yang dapat bersifat radioaktif", mengingat adanya kandungan thorium dalam cadangan logam tanah jarang. Tailing sendiri merupakan istilah dalam industri pertambangan untuk menyebut limbah sisa hasil pengolahan bijih setelah mineral berharganya diambil.
Meski hambatan tersebut signifikan, ia menekankan bahwa dukungan pemerintah menjadi faktor kunci. Tanpa intervensi yang kuat, India berisiko berada di posisi yang sama dalam satu atau dua dekade mendatang.
"Pesaing kita didukung negaranya, memiliki teknologi, skala, kekuatan harga, dan memandang ini sebagai sesuatu yang strategis," tambahnya.
SEBERAPA REALISTIS KORIDOR INI?
Kekayaan logam tanah jarang India sebagian besar terkonsentrasi di pasir pantai pesisir.
Logam tanah jarang yang terdapat di pasir pantai bukanlah partikel yang muncul secara bebas, melainkan tertanam dalam mineral tertentu yang harus dipisahkan secara kimia, ujar PV Sunder Raju, Chief Scientist di National Geophysical Research Institute (NGRI), laboratorium riset di bawah Council of Scientific & Industrial Research (CSIR), kepada CNA.
Ia menambahkan bahwa komposisi deposit bervariasi di sepanjang koridor yang diusulkan, karena pasir tersebut berasal dari batuan daratan yang mengalami erosi. Akibatnya, teknologi ekstraksi harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lokasi.
Secara global, logam tanah jarang dikategorikan menjadi jenis ringan dan berat.
Logam tanah jarang ringan, termasuk neodymium dan praseodymium, relatif melimpah di India dan dapat dimurnikan hingga tingkat kemurnian tinggi.
Namun, cadangan logam tanah jarang berat seperti dysprosium dan terbium, saat ini tidak tersedia dalam jumlah yang dapat diekstraksi di India, menurut Department of Atomic Energy (DAE) India.
Logam tanah jarang berat sangat krusial untuk dibentuk menjadi magnet canggih yang diperlukan sebagai komponen kendaraan listrik dan sistem pertahanan.
Sementara, logam tanah jarang ringan menjadi komponen penting dalam semikonduktor dan perangkat elektronik.
Ketiadaan logam tanah jarang berat menjadi keterbatasan struktural bagi India.
Gupta dari EY mencatat bahwa sekitar 60 hingga 70 persen pasokan logam tanah jarang berat saat ini berasal dari Myanmar, dan sebagian besar diproses di China.
"Pasokan itu sangat terbatas. Logam tanah jarang berat memang ada di Myanmar, ada juga sebagian di China, yang juga menjadi titik hambatan," kata Gupta.
India mengimpor antara 80 hingga 90 persen magnet logam tanah jarang dan material terkait dari China pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025, dengan nilai sekitar US$190 juta (Rp3,2 triliun), berdasarkan data pemerintah.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, pemerintah India mendorong akuisisi sumber daya di luar negeri. Pada 2019, India membentuk Khanij Bidesh India Limited (KABIL), perusahaan joint venture milik negara yang bertugas mengamankan aset mineral kritis dan strategis di luar negeri guna memastikan pasokan yang stabil untuk kebutuhan domestik.
Pada Januari 2024, KABIL menandatangani perjanjian dengan Argentina untuk proyek eksplorasi dan penambangan lithium, serta dilaporkan tengah berdiskusi terkait aset lithium di Australia.
Raju mengatakan bahwa skema kerja sama serupa di luar negeri juga dapat dieksplorasi untuk logam tanah jarang.
Baru-baru ini, India juga melakukan pembahasan dengan Brasil, Kanada, Prancis, dan Belanda terkait kerja sama dalam eksplorasi, ekstraksi, pemrosesan, dan daur ulang mineral kritis, dengan fokus pada logam tanah jarang, menurut laporan Reuters awal Februari lalu.
Kendala besar lainnya adalah radioaktivitas. Pasir pantai yang mengandung logam tanah jarang kerap juga mengandung thorium, logam radioaktif, sehingga aktivitas penambangannya berada di bawah regulasi energi atom.
Priyadarshi menjelaskan bahwa keberadaan monazite, mineral yang mengandung thorium, secara historis membuat deposit pasir pantai India diklasifikasikan sebagai zat yang diawasi secara khusus (prescribed substances) oleh pemerintah India.
Status tersebut mewajibkan pengawasan ketat oleh Atomic Minerals Directorate (AMD) di bawah DAE, yang pada praktiknya membatasi partisipasi sektor swasta karena sensitivitas strategis yang berkaitan dengan material nuklir.
Artinya, entitas yang didukung pemerintah akan tetap mendominasi kegiatan penambangan, sementara pemain swasta kemungkinan lebih banyak berfokus pada pemrosesan dan manufaktur hilir.
Kondisi ini membuat pelaku swasta bergantung pada operasi penambangan milik negara untuk mendapatkan bahan baku, yang menurut laporan lokal, pernah mengalami keterlambatan di masa lalu.
Saat ini, India hanya memiliki satu tambang logam tanah jarang yang beroperasi di Andhra Pradesh, yang dijalankan oleh perusahaan milik negara IREL, sebelumnya dikenal sebagai India Rare Earths Ltd.
Regulasi di wilayah pesisir juga menambah kompleksitas masalah ini. Monazite ditemukan di area yang diatur oleh aturan Coastal Regulation Zone, serta perlindungan kawasan mangrove dan permukiman.
Bahkan ketika deposit telah diidentifikasi, masih ada proses panjang hingga tambang benar-benar siap beroperasi.
Eksplorasi di wilayah baru (greenfield exploration) saja dapat memakan waktu hingga tiga tahun, kata Priyadarshi, sementara "matriks regulasi" berupa perizinan lingkungan dan kelayakan teknis-ekonomi dapat menambah panjang prosesnya dua hingga lima tahun lagi sebelum perusahaan swasta dapat memulai operasi penambangan.
PENAMBANGAN JUSTRU BAGIAN PALING MUDAH
Semua pakar yang diwawancarai CNA sepakat pada satu hal: penambangan hanyalah titik awal.
"Bagian paling penting dari rantai pasok logam tanah jarang adalah pemrosesannya," kata Raju.
Ia juga menekankan bahwa keunggulan utama China bukan hanya pada aktivitas tambang, melainkan pada penyempurnaan metalurgi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Hal ini mencakup proses pelindian asam, ekstraksi pelarut, serta teknologi pemisahan yang sangat terpersonalisasi.
Berbeda dengan bijih besi atau tembaga, proses pemisahan logam tanah jarang tidak terstandarisasi.
"Pasir Kerala berbeda dengan pasir Odisha," jelas Raju, seraya menambahkan bahwa setiap deposit membutuhkan proses ekstraksi yang berbeda satu sama lain.
"Teknologi pemrosesannya juga berbeda. Jika suatu teknologi dikembangkan, belum tentu cocok untuk oksida logam tanah jarang di lokasi lain," ujarnya.
Amit Bhargava, Partner dan National Leader - Metals and Mining di KPMG India, mengatakan bahwa meskipun India telah mengembangkan teknologi untuk memproses oksida logam tanah jarang, negara tersebut masih sepenuhnya bergantung pada teknologi asing untuk tahapan selanjutnya, yaitu pembuatan paduan dan produksi magnet logam tanah jarang.
DAE juga menyatakan bahwa fasilitas skala besar untuk manufaktur magnet saat ini "belum tersedia" karena keterbatasan teknologi.
Yang krusial, teknologi ini tidak bisa begitu saja diimpor. China menjaga ketat keahlian pemrosesannya, dan Raju mengingatkan bahwa sekalipun peralatannya tersedia, belum tentu sesuai dengan karakteristik deposit spesifik di India.
Untuk menutup celah tersebut, India mulai berinvestasi dalam fasilitas riset dan pengembangan, salah satunya adalah fasilitas di Bhabha Atomic Research Centre yang diresmikan pada 2023.
Sementara, ada pula inisiatif terpisah berbasis kemitraan publik dan swasta yang menargetkan produksi 5.000 ton magnet per tahun pada 2030.
Pada November 2025, pemerintah India menyetujui skema manufaktur Rare Earth Permanent Magnet (REPM) senilai 72,8 miliar rupee (sekitar Rp13,4 triliun), yang menargetkan produksi 6.000 ton magnet logam tanah jarang per tahun sepanjang tujuh tahun.
Skema tersebut menawarkan subsidi senilai 7,5 miliar rupee (Rp1,38 triliun) untuk menarik hingga lima perusahaan melalui proses tender global guna membangun fasilitas manufaktur di India.
Para pakar mengatakan kepada CNA bahwa pendanaan tersebut belum cukup untuk sepenuhnya membangun industri magnet logam tanah jarang, namun menjadi langkah awal yang penting dan berpotensi menarik investasi swasta.
Selain itu, pengelolaan lingkungan juga menjadi hambatan besar. Pemisahan logam tanah jarang membutuhkan asam dalam jumlah besar dan menghasilkan limbah radioaktif serta limbah kimia, ujar Raju.
Ia menambahkan bahwa China dapat melakukan ekspansi dengan cepat karena negara itu juga mentoleransi dampak lingkungan, hal yang mungkin tidak mudah dilakukan oleh negara lain.
Pada akhirnya, pengembangan rantai pasok logam tanah jarang di India hanyalah soal waktu, menurut para pakar.
Investasi Jepang dalam pemrosesan logam tanah jarang meningkat setelah China memberlakukan pembatasan ekspor pada 2011. Lebih dari satu dekade kemudian, Jepang masih mengimpor 60 hingga 70 persen kebutuhannya dari China, menurut Gupta dari EY.
Para pakar yang berbicara kepada CNA menilai bahwa meskipun kemungkinan kecil bahwa India akan segera dapat menyamai dominasi China, namun negara itu berpotensi untuk membangun ekosistem pemrosesan yang fungsional, dengan kebijakan yang berkesinambungan, investasi modal yang berkelanjutan, dan kemajuan teknologi.
Namun, untuk mewujudkan hal itu, India diperkirakan membutuhkan waktu delapan hingga 10 tahun.
MENGHINDARI JEBAKAN HARGA DARI CHINA
Pasar global logam tanah jarang diproyeksikan bernilai US$7,8 miliar (Rp131,7 triliun) pada 2026 dan tumbuh menjadi US$15,4 miliar (Rp259,1 triliun) pada 2033, menurut Persistence Market Research.
Sebagai perbandingan, industri minyak dan gas bernilai triliunan dolar AS, sementara pasar semikonduktor telah melampaui US$600 miliar (Rp10.132 triliun).
Namun, meskipun ukuran pasarnya relatif lebih kecil, dampak hilir logam tanah jarang terhadap kendaraan listrik, energi angin, semikonduktor, kedirgantaraan, dan pertahanan sangat besar.
Ketimpangan ini - ketika pasar di hulu yang kecil tetapi memiliki konsekuensi strategis yang luas - yang membuat logam tanah jarang sulit diabaikan oleh negara seperti India.
Menurut laporan Amicus Growth Advisors pada Desember 2025, kontrol ekspor China pada 2025 memicu gangguan pasokan global yang signifikan, memaksa produsen otomotif seperti BMW dan Ford menghentikan lini perakitan.
"Gangguan itu bukan disebabkan oleh tambang runtuh atau bencana alam. Itu terjadi karena satu regulasi," tulis laporan tersebut.
Pelaku industri juga memperingatkan bahwa China dapat menekan harga untuk sementara, guna melemahkan negara pesaing yang sedang membangun kapasitas pemrosesan logam tanah jarang dan manufaktur magnet.
"China, ketika melihat ada pabrik-pabrik lain bermunculan di berbagai negara, mereka akan menurunkan harga sehingga tidak ada yang membeli produk dari negara lain yang lebih mahal," kata Bhaktha Keshavachar, co-founder dan CEO Chara Technologies, startup asal India yang mengembangkan motor tanpa logam tanah jarang.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Priyadarshi mengatakan pemerintah India dapat memperkenalkan mekanisme harga dasar.
"Harga dasar adalah ketika pemerintah menjamin kepada produsen bahwa harga jual produk mereka tidak akan turun di bawah tingkat tertentu. Jika turun di bawah harga tersebut, mereka akan dikompensasi atas selisihnya," jelas Priyadarshi dari Geoxplorers Consulting Services.
Ia mencatat bahwa Amerika Serikat telah mengadopsi mekanisme serupa untuk industri mineral yang penting. Ia juga menyarankan India mungkin perlu instrumen kebijakan serupa.
Secara lebih luas, para analis menilai bahwa pola pikir industri global telah berubah.
"Sepuluh tahun lalu, semuanya berfokus pada efisiensi. Hari ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga ketahanan," kata Gupta dari EY.
Bagi India, Koridor Logam Tanah Jarang (Rare Earth Corridor) bukan semata soal daya saing dalam jangka pendek, melainkan upaya mengurangi kerentanan strategis.
Tujuannya, menurut para pakar yang diwawancarai CNA, bukan murni pada optimalisasi komersial, melainkan memastikan keamanan pasokan.
"Di masa depan, orang tidak lagi akan berperang memperebutkan air atau senjata, tetapi memperebutkan mineral," kata Raju.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.