Dari Jakarta hingga Lembah Klang, mengapa ikan sapu-sapu sulit sekali diberantas?
Berasal dari Amerika Selatan, ikan sapu-sapu menjadi invasif dan memenuhi sungai-sungai di beberapa negara Asia Tenggara.
Seekor ikan sapu-sapu yang baru ditangkap, spesies invasif yang berasal dari Amerika Selatan. Di Indonesia. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
JAKARTA/KUALA LUMPUR: Warga berkerumun di tepian Sungai Ciliwung yang dipenuhi sampah, menyaksikan para petugas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melemparkan jala ke air berwarna cokelat setinggi leher.
Beberapa saat kemudian, jala yang terisi penuh diangkat dari air, disambut sorak-sorai puluhan warga sekitar.
Hanya dalam dua jam pada Kamis (30/4) pagi itu, petugas berhasil menjala lebih dari 200 ikan. Kesemuanya adalah ikan suckermouth alias sapu-sapu, atau disebut juga "janitor fish" di beberapa tempat di Asia Tenggara.
Ikan pemakan dasar yang termasuk dalam genus Pterygoplichthys ini berasal dari perairan tropis Amerika Selatan, di belahan bumi lainnya.
Kini ikan ini telah mendominasi - bahkan terkadang satu-satunya spesies - di hampir seluruh sungai, danau, waduk, dan kanal Jakarta yang tercemar. Keberadaan mereka telah secara tajam mengurangi populasi ikan-ikan lokal seperti baung merah, wader, atau gabus.
"Warga di sini pertama kali menyadari keberadaan sapu-sapu pada tahun 1980-an,” kata Baharuddin, 69, warga setempat, kepada CNA. “Dulu, mudah menemukan jenis ikan lain. Tapi sekarang, bagian sungai ini 100 persen sapu-sapu.”
Invasi sapu-sapu tidak hanya terjadi di Jakarta.
Di Filipina, ikan ini telah menyebar ke berbagai jalur air di sekitar Manila, termasuk Sungai Pasig dan Danau Laguna, membuat spesies lokal terusir dan mengubah ekosistem setempat.
Sementara itu di Malaysia, ikan ini telah mendominasi sebagian Sungai Klang serta perairan lain di Kuala Lumpur dan Selangor.
Pada 2024, Departemen Perikanan Malaysia memperkirakan bahwa 80 hingga 90 persen populasi ikan di Lembah Klang didominasi oleh tiga jenis ikan sapu-sapu. Pemerintah setempat memperingatkan bahwa kehidupan akuatik lokal di sana bisa segera menghilang.
Pada awal bulan ini, Direktur Jenderal Departemen Perikanan Adnan Hussain mengatakan, berbagai langkah pengendalian telah ditempuh, tetapi kondisinya sudah “mencapai tingkat kritis”, dengan ikan lele sapu-sapu menjadi faktor yang paling merusak.
Makalah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2025 menyebutkan bahwa di beberapa wilayah sungai Jakarta yang tercemar, tingkat invasi sapu-sapu mencapai 100 persen. Bahkan, di jalur air yang lebih bersih di Jawa Barat, tempat 13 sungai di Jakarta bermula, prevalensi ikan ini berkisar antara 20 hingga 30 persen.
Dalam konteks ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meluncurkan operasi penertiban berskala kota.
Sejak 17 April lalu, pasukan oranye berpindah menyisir sejumlah badan air, menangkap sebanyak mungkin ikan sapu-sapu. Dalam sepekan, lebih dari 10 ton spesies invasif ini telah ditangkap dan dimusnahkan.
Upaya serupa juga berlangsung di Malaysia, di mana pemerintah setempat dan organisasi nonpemerintah telah menangkap lebih dari 100 ton ikan sapu-sapu sejak 2021.
Perjuangan kedua negara melawan ikan sapu-sapu merupakan gambaran akan masalah yang ditimbulkan spesies invasif asing di seluruh dunia.
Kerugian ekonomi global akibat spesies invasif ini melebihi US$423 miliar per tahun, menurut perkiraan sebuah badan antarpemerintah pada 2023.
Menurut laporan Invasive Alien Species dari Intergovernmental Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), aktivitas manusia telah membuat lebih dari 37.000 spesies asing ke berbagai wilayah di seluruh dunia.
Selain merugikan spesies lokal dan ekosistem setempat, para ilmuwan menyebut spesies invasif juga dapat menyebabkan kematian, misalnya spesies nyamuk invasif yang menyebarkan penyakit mematikan seperti malaria dan demam berdarah.
Akan sangat sulit memusnahkan spesies asing ini jika mereka sudah menetap, seperti yang terjadi pada kasus ikan sapu-sapu.
Para ahli mempertanyakan efektivitas penangkapan massal. Pasalnya, ikan sapu-sapu cepat sekali berkembang biak, bertelur ratusan butir dalam sekali waktu, dan tidak memiliki predator alami di perairan Asia Tenggara.
“Mengendalikan ikan sapu-sapu melalui penangkapan massal … hanyalah solusi sementara,” kata Mahawan Karuniasa, dosen di Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, kepada CNA.
Ia mengatakan, fokus seharusnya dialihkan pada penanganan pencemaran yang telah menghancurkan spesies lokal, serta penerapan langkah yang lebih ketat untuk mencegah masuk dan menyebarnya spesies asing.
DARI AKUARIUM KE ALAM LIAR
Ikan bertubuh bintik dan memiliki lapisan pelindung keras di tubuhnya ini sudah lama populer di kalangan pehobi karena mampu mengikis alga dari kaca akuarium. Dari sinilah ikan itu mendapatkan julukan "sapu-sapu".
Permintaan yang tinggi mendorong toko hewan peliharaan di seluruh Asia Tenggara membudidayakannya di penangkaran, sebagian berlokasi dekat dengan badan air.
“Entah mereka lepas saat banjir, praktik biosekuriti yang buruk, atau sengaja dilepaskan oleh pemilik yang sudah tidak menginginkannya. Ikan sapu-sapu kemudian masuk ke sungai dan danau, tempat mereka cepat beradaptasi tanpa menghadapi predator alami,” kata Mahawan.
Dengan kemampuan berkembang biak yang cepat, sifat agresif terhadap spesies lain, serta tubuh yang memiliki lapisan seperti tameng yang sulit ditembus predator, ikan sapu-sapu dengan cepat mengungguli spesies akuatik lokal.
Ikan ini juga memiliki kemampuan untuk menyerap oksigen langsung dari udara, bukan hanya melalui insang. Hal ini memungkinkannya bertahan hidup di perairan keruh dan tercemar dengan kadar oksigen rendah.
“Dominasi mereka di Asia Tenggara menunjukkan kemampuan adaptasi evolusioner yang luar biasa serta toleransi terhadap tekanan fisikokimia yang ekstrem,” kata Nur Azalina Suzianti Feisal dari Management and Science University di Selangor kepada CNA.
Azalina, yang memimpin Centre of Climate Resilience and Strategy di universitas tersebut, mengatakan, sifat-sifat ini memungkinkan sapu-sapu berkembang di perairan sungai perkotaan yang berkualitas buruk, tempat kebanyakan ikan lokal tidak dapat bertahan.
Para ahli memperingatkan bahwa spesies ini menjadi ancaman besar terhadap lingkungan. Ikan sapu-sapu menggali tepi dan dasar sungai, mempercepat erosi serta merusak tanaman air dan area pemijahan spesies lain.
Sebagai pemakan dasar, mereka juga menelan logam berat dari endapan yang tercemar dalam jumlah besar, sehingga berbahaya bagi manusia dan hewan yang mengonsumsinya.
“Penelitian kami menunjukkan saluran pencernaan mereka menampung konsentrasi logam beracun yang sangat tinggi, khususnya timbal dan arsenik,” kata Azalina.
Kekhawatiran akan kontaminasi telah menghambat penangkapan komersial dan konsumsi ikan ini, berbeda dengan beberapa spesies invasif lain di Asia Tenggara seperti nila — yang berasal dari Afrika dan Timur Tengah — serta ikan red devil cichlid dari Amerika Tengah.
Bahkan di perairan yang kurang tercemar, warga juga enggan memakan ikan sapu-sapu.
“Orang di sini menganggap sapu-sapu beracun. Kalau tertangkap, biasanya langsung dibuang,” kata Arief Kamarudin, 35, warga Jakarta, seraya menambahkan bahwa bagian luarnya yang keras juga membuat ikan sapu-sapu sulit diolah.
"Jika tidak hati-hati tangan bisa terluka. Dengan kesulitan mengolahnya, ditambah dagingnya yang sedikit, warga lebih memilih tidak memakannya - bahkan saat ini, ketika ikan jenis lain sulit ditemukan."
WARGA BERUSAHA MEMBERANTAS
Namun, rendahnya nilai ekonomi dari ikan sapu-sapu tidak menyurutkan sebagian orang untuk mengambil langkah mandiri.
Pada 2022, sekelompok warga Malaysia membentuk Skuad Pemburu Ikan Asing (SPIA) dengan tujuan membersihkan perairan Lembah Klang dari spesies ikan hias invasif seperti sapu-sapu, peacock bass, dan lele Afrika.
Hampir setiap hari, puluhan relawan menyebar ke seluruh wilayah, mendatangi sungai dan kanal untuk menangkap hingga setengah ton ikan bandaraya — sebutan untuk ikan sapu-sapu di Malaysia.
“Harapan saya, semua orang, bukan hanya pemilik ikan hias, ikut menjaga ekosistem kita,” kata pendiri SPIA Mohamad Haziq A Rahman kepada CNA saat kegiatan penangkapan di Puchong, Selangor, Selasa (28/4).
“Jangan melepaskan ikan (invasif) ini, karena dampaknya spesies lokal kita bisa punah.”
Sekitar 20 orang mengikuti kegiatan tersebut, menyisir anak Sungai Klang untuk mencari spesies invasif. Pada akhir kegiatan, mereka berhasil mengangkat sekitar 2.500kg ikan bandaraya dari lokasi tersebut.
Haziq mengatakan, SPIA kerap bekerja sama dengan pemerintah daerah, universitas, dan perusahaan dalam program tanggung jawab sosial. Misalnya dalam program kolaborasi dengan Dewan Kota Kuala Langat pada 28 April lalu, para peserta mendapatkan RM1 (Rp4.300) untuk setiap kilogram ikan sapu-sapu yang mereka tangkap.
Namun, masih banyak yang perlu dilakukan karena operasi penangkapan ini membutuhkan dana dan peralatan yang besar, termasuk perahu dan truk. “Faktor utama adalah tenaga manusia. Jika lebih banyak orang terlibat, itu sudah sangat membantu kami,” ujarnya.
Di Jakarta, Arief telah mengedukasi publik tentang bahaya ikan sapu-sapu bagi lingkungan melalui TikTok sejak 2019. Ia memiliki lebih dari 380.000 pengikut.
“Banyak orang tidak tahu bahwa sapu-sapu itu invasif. Banyak juga yang tidak tahu bahwa ikan ini bukan berasal dari Jakarta,” kata Arief, yang tinggal di bantaran Ciliwung, sungai terbesar di Jakarta.
“Banyak orang juga tidak tahu bahwa sapu-sapu mengancam spesies lokal dan harus diberantas dari danau serta sungai di Jakarta.”
Arief secara rutin membuat video pendek saat berada di atas perahu karet, melempar jala ke Sungai Ciliwung, untuk menunjukkan cara menangkap dan membuang ikan invasif tersebut serta menemukan lokasi sarangnya.
“Rekor pribadi saya 70 ekor sapu-sapu dalam satu kali tebar jala,” ujarnya.
Sementara itu, sejumlah universitas dan organisasi berbasis komunitas mengumpulkan ikan lokal dari Sungai Ciliwung untuk diselamatkan dan dikembangbiakkan secara ex situ, dengan harapan suatu hari dapat dilepasliarkan kembali ke alam.
Upaya-upaya ini tidak hanya meningkatkan kesadaran publik, tetapi juga mendorong lahirnya kebijakan di tingkat pemerintah Jakarta.
Menanggapi kekhawatiran warga atas penyebaran ikan sapu-sapu di lingkungan mereka, Gubernur Jakarta Pramono Anung memerintahkan perburuan secara besar-besaran di seluruh kota.
Gubernur belum menetapkan jangka waktu maupun target program tersebut, dan menyatakan bahwa upaya ini akan berlangsung selama masih diperlukan.
POPULASI CEPAT PULIH
Meski pemerintah kota dan para relawan telah berhasil mengangkat berton-ton ikan sapu-sapu, para ahli menilai upaya tersebut kerap bersifat lokal dan sementara.
“Populasi cenderung cepat pulih. Saat ini, bukti penurunan populasi yang berkelanjutan pada tingkat ekosistem masih terbatas, meskipun perbaikan lokal dapat terjadi setelah penangkapan intensif,” kata Azalina dari Management and Science University di Selangor.
Peneliti tersebut mendorong lembaga pengelola lingkungan di kawasan untuk memprioritaskan program pemusnahan terarah terhadap ikan sapu-sapu.
“Pada saat yang sama, ada kebutuhan mendesak akan kampanye kesehatan publik yang ketat untuk mencegah komunitas rentan mengonsumsi ikan ini, disertai pengawasan regulasi yang lebih kuat serta edukasi publik guna menghentikan pelepasan ikan hias ke perairan tawar,” tambahnya.
Di Indonesia, unsur kekejaman menjadi sorotan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap praktik Pemerintah DKI Jakarta yang mengubur ikan sapu-sapu hidup-hidup. Sejak itu, pejabat kota berjanji bahwa semua ikan akan dipastikan mati sebelum dikuburkan.
Sejumlah pihak mengusulkan pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi kompos atau pakan ternak, seperti yang dilakukan di Thailand, atau dijadikan arang seperti di Brasil.
Namun, Yusli Wardiatno, profesor bidang kelautan dan perikanan di Institut Pertanian Bogor (IPB), menolak usulan tersebut.
“Risiko kesehatan tetap ada meskipun ikan diolah menjadi produk nonpangan seperti pakan, pupuk, atau bahan industri. Logam berat berpotensi kembali masuk ke rantai makanan atau diserap tanaman melalui pupuk jika proses pengolahannya tidak benar-benar bersih,” ujarnya, seperti dikutip dari situs IPB.
Para ahli menegaskan bahwa pencemaran harus terlebih dahulu dikendalikan di sungai-sungai Asia Tenggara, yang sebagian di antaranya telah menjadi sangat beracun.
“Barulah kita dapat dengan aman membuang bangkai sapu-sapu atau mengolahnya menjadi produk bernilai komersial tanpa menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia maupun lingkungan,” kata Mahawan.
Ia menambahkan, Indonesia juga harus memperketat langkah biosekuriti dengan mengendalikan impor dan penjualan spesies asing yang berpotensi membahayakan spesies endemik.
Langkah ini telah diterapkan di Australia dalam menangani katak tebu (cane toad), yang berubah menjadi hama setelah pertama kali diperkenalkan di Queensland pada 1935 untuk melindungi perkebunan tebu dari kumbang.
Amfibi beracun tersebut kemudian menyebar ke tiga negara bagian lain di Australia dan dikaitkan dengan penurunan hingga kepunahan sejumlah spesies lokal.
Mahawan mengatakan, negara-negara harus memantau seluruh hewan dan tumbuhan asing yang berpotensi mengancam spesies asli. “Jika (spesies asing) dilepas ke alam liar, baik sengaja maupun tidak, deteksi dini dan respons cepat sangat krusial,” ujarnya.
“Langkah harus segera diambil untuk menghentikan (spesies asing) berkembang biak, menyebar, dan pada akhirnya mendominasi ekosistem lokal. Jika itu terjadi, waktu, biaya, dan upaya yang dibutuhkan untuk memulihkan kerusakan bisa jauh lebih besar.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.