Skip to main content
Iklan

Asia

Ibu rumah tangga di Singapura teradikalisasi akibat konflik Israel-Hamas, dikenakan pembatasan gerak

Secara terpisah, seorang pria Malaysia di Singapura yang mendukung ISIS di Irak dan Suriah dipulangkan kembali ke negaranya.

SINGAPURA: Seorang ibu rumah tangga di Singapura dikenakan pembatasan gerak berdasarkan Undang-undang Keamanan Dalam Negeri (ISA) setelah teradikalisasi oleh konflik Israel-Hamas.

IRT berusia 56 tahun bernama Hamizah Hamzah itu mendapatkan pembatasan bulan lalu, seperti diumumkan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri Singapura (ISD) pada Senin (10/2).

Berdasarkan aturan pembatasan ISA, Hamizah dilarang berpindah alamat, pekerjaan atau bepergian keluar negeri tanpa persetujuan ISD. Dia juga dilarang mengakses internet dan media sosial.

Radikalisasi Hamizah dimulai setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, kata ISD. Dia mengikuti dan mendukung operasi militer yang dilakukan oleh Axis of Resistance (AOR), sebuah jaringan organisasi militan dan teroris Islam, dan mengonsumsi konten tentang penderitaan Palestina.

Setelah bergabung dengan grup media sosial yang mempromosikan aksi kekerasan AOR, ia mengembangkan kebencian terhadap Israel dan Pasukan Pertahanan Israel dan percaya bahwa mereka harus diberantas. Ia menjadi "pendukung setia" AOR, dan membenarkan tindakan kekerasan yang dilakukan anggotanya, seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi.

Dia juga sangat mengagumi juru bicara Hamas, Abu Obaidah, dan bersedia berbicara dengan para militan yang terkait dengan AOR jika dia dihubungi.

ANCAMAN KEKERASAN TERHADAP PENDUKUNG ISRAEL

Karena ia tidak dapat bergabung secara fisik dalam konflik, Hamizah mempromosikan AOR secara online, mengunggah konten yang mengagungkan kekerasan bersenjata dan kemartiran.

"Dia berkomitmen untuk menggalang dukungan bagi AOR, dan akan membuat akun baru setiap kali akunnya diblokir karena konten kekerasan yang dia posting," kata ISD.

Hamizah juga membuat ancaman kekerasan terhadap para pendukung Israel dan mendorong orang lain untuk terlibat dalam kekerasan bersenjata melawan pasukan pertahanan Israel. Dia mengelola beberapa grup media sosial pro-AOR, dengan keanggotaan mulai dari 16 hingga lebih dari 1.000 orang.

ISD mengatakan bahwa Hamizah "bangga" menjadi administrator grup-grup tersebut, dan merasa bertanggung jawab untuk menyebarkan narasi pro-AOR dan anti-Israel di dalamnya.

Meskipun dia tidak berniat terlibat dalam kekerasan bersenjata di dalam maupun di luar negeri, dukungannya yang getol terhadap AOR dan operasi kekerasan mereka serta kesediaannya menyebarkan propaganda membuatnya menjadi masalah keamanan, kata ISD.

Keluarganya tidak mengetahui tentang radikalisasi yang dialaminya, karena ia sengaja menyembunyikan pandangan ekstremisnya karena takut dikecam.

KURANGNYA DANA MEMBUAT WARGA MALAYSIA BATAL PERGI KE SURIAH DAN GAZA

Secara terpisah, seorang warga Malaysia berusia 34 tahun yang bekerja sebagai petugas pembersih di Singapura ditangkap di bawah ISA pada November tahun lalu dan direpatriasi ke Malaysia, kata ISD.

Radikalisasi Saharuddin Saari dimulai pada 2014 ketika ia menemukan konten terkait ISIS yang berkaitan dengan konflik Suriah. Pada tahun 2017, ia menjadi pendukung setia ISIS, berbaiat kepada pemimpinnya Abu Bakr al-Baghdad, yang tewas setelah meledakkan rompi bunuh diri dalam serangan militer AS pada Oktober 2019.

Bahkan setelah kematian Baghdadi, Saharuddin terus mempromosikan ISIS dan jihad bersenjata secara online, bercita-cita untuk mati sebagai martir dan memperjuangkan kekhalifahan Islam di Asia Tenggara.

Dia mencari cara untuk masuk ke Suriah dan menghubungi para militan ISIS untuk mendapatkan bimbingan. Seorang kontak online yang mengidentifikasi dirinya sebagai anggota ISIS asal Malaysia memberinya saran mengenai rute perjalanan, namun Saharuddin tidak memiliki dana untuk berangkat.

Setelah konflik Israel-Hamas meletus pada Oktober 2023, ia menunjukkan dukungannya kepada Hamas dan Brigade Izz ad-Din al-Qassam (AQB) dan mempertimbangkan untuk pergi ke Gaza untuk bertempur bersama mereka. Sekali lagi, kendala keuangan mencegahnya untuk pergi.

Menurut ISD, Saharuddin tidak memiliki rencana serangan terhadap Singapura atau meradikalisasi orang lain di negara tersebut. Namun, dia bersedia melakukan kekerasan jika dia menganggap "Singapura berpihak pada musuh-musuh Islam".

Setelah penyelidikan ISD, izin kerjanya dicabut dan dia dipulangkan ke Malaysia dan diserahkan ke Cabang Khusus Malaysia.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan