Hidup hiperkompetitif, kaum muda Korea Selatan kerja jorjoran, dambakan perubahan
Dijuluki 'generasi N-Po', kaum muda Korea Selatan terpaksa tunda nikah, punya anak, dan impian lainnya akibat ketidakpastian dunia kerja dan biaya hidup yang tinggi.
SEOUL: Di siang hari ia bekerja sebagai desainer web, dan malam harinya menjaga dua toko kelontong, termasuk di akhir pekan. Sejak Maret lalu, Kim Jaram bekerja lebih dari 100 jam per pekan, melampaui dua kali lipat jam kerja wajar dari 9 pagi hingga 6 sore.
"Di Korea (Selatan) sekarang ini, kalau mau bertahan hidup dengan gaji bulanan, kerjanya harus di perusahaan besar (atau punya) pekerjaan-pekerjaan spesifik," ujar perempuan usia 32 tahun ini. Ia tinggal di Seongnam, kota satelit di sisi tenggara Seoul.
"Untuk orang biasa, kalau mau menabung untuk masa depan, ya terpaksa punya dua pekerjaan."
Bagi Jaram, jadwal kerjanya sekarang terlalu padat. Menyandang gelar sarjana di bidang pangan dan nutrisi, ia memutuskan untuk banting setir setelah mengambil kursus desain web.
"Saya toh tidak berencana hidup begini selamanya," tuturnya, menanggapi jadwal kerjanya yang hanya menyisakan waktu tidur tiga jam per hari — di luar hari-hari libur.
"Target saya itu mencapai yang namanya kebebasan finansial di usia antara 40 dan 45 tahun. ... Kenapa tidak kerja jorjoran sekarang saja, ya kan?"
Korea Selatan merupakan negara maju yang berkembang pesat. Namun, seperti beberapa negara Asia lain, generasi mudanya cenderung merasa mandek ketimbang orang tua mereka, meski mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
Kaum muda negara ini kini dijuluki "generasi N-Po". Daftar impian yang harus mereka lepaskan kian panjang akibat ketidakpastian dunia kerja dan tingginya biaya hidup dan tempat tinggal. (Istilah tadi berakar pada "generasi Sampo", mengacu pada kaum muda yang harus rela tidak pacaran, menikah, ataupun memiliki anak karena ketidakpastian ekonomi yang diperburuk oleh krisis keuangan global tahun 2008).
Ada pula istilah “Neraka Joseon”, beredar sejak sekitar delapan tahun silam, mengibaratkan Korea modern bak dinasti Joseon — dengan sistem kelasnya yang timpang — versi candradimuka.
Kisah Kim — juga muda-mudi lain yang ditemui CNA Insider di Korea Selatan belum lama ini — mempertegas teruknya dampak dari sistem yang begitu keras dan hiperkompetitif sedari bangku sekolah hingga mereka dewasa.
Ada akar kultural yang menjerat kaum muda negeri itu. Namun, di jalan-jalan sempit berliku, masih ada yang gigih berjuang menerobos rintangan. Apa saja yang perlu dilakukan agar semangat generasi mereka kian menggelora?
EKSPEKTASI ORANG TUA
Menurut kaum muda dan para pakar, ekspektasi yang dibebankan di pundak orang-orang Korea Selatan terbentuk sejak dini.
Orang tua "memaksakan" ekspektasi dan mimpi yang tak terwujud pada anak-anak mereka, mendorong mereka masuk ke sekolah terbaik dan meraih pekerjaan yang mapan, kata Ko Gang-seob, peneliti kebijakan terkait pemuda yang kini anggota dewan legislatif.
Berawal dari perubahan setelah Perang Korea. Ekonomi Korea Selatan kala itu berkembang dan tumbuh pesat hingga tahun 1990-an. Gagasan tentang kesuksesan dan "menghasilkan uang dengan cepat" tertanam kuat sejak saat itu, kata Gang-seob.
Sebagai anak seorang sopir bus dan buruh jahit di pabrik, Geong-seob pernah bekerja di Young Professionals Institute of Korea. Kini dia anggota Dewan Distrik Jungnang.
Dulu, setelah lolos masuk universitas, ia dibebaskan oleh orang tuanya untuk mengejar karier apa pun. "Anak muda sekarang, lingkungan keluarganya memang sedikit berbeda," ujarnya.
Jaram, misalnya, sempat ingin kuliah psikologi kriminal saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Sayangnya, nilainya tak cukup untuk langsung diterima di universitas, membuatnya ingin menjajal desain busana. Namun, kemungkinan karier yang tidak stabil membuat orang tuanya khawatir.
Ia lantas memilih jurusan pangan dan nutrisi, kuliah selama dua tahun untuk memperoleh gelar ahli muda. Sebagai ahli gizi, ia bisa menabung, namun Jaram sadar ia tak ingin menjalani profesi itu selamanya.
Ia pun berhenti, lantas belajar desain web melalui program yang didanai pemerintah yang disebut Tomorrow Learning Card. Kata Jaram, hal tersebut membuat orang tuanya tak lagi mengatakan kepada teman-teman mereka: "Anak kami ahli gizi", melainkan: "Anak kami kerja".
Lain halnya dengan Kim Myung-jun, 27. Ketika kecil, ia ingin menjadi aktor, di samping memiliki banyak minat lain, termasuk sepak bola. Orang tuanya menganggap hal-hal itu menggangu studinya, sehingga pendapat mereka kerap bentrok. Masa SMP dan SMA-nya merupakan "masa paling gelap dan menyedihkan" dalam hidupnya.
Ibunya, seorang guru, menyadari pentingnya pendidikan. Dia memindahkan keluarganya ke Mok-dong, sebuah daerah di sebelah barat Seoul yang terkenal dengan institusi pendidikan swasta dan sekolah-sekolah yang bagus.
Upayanya berbuah manis ketika Myung-jun diterima di Yonsei, salah satu universitas paling bergengsi di negara itu, untuk belajar administrasi bisnis. Putranya pun sangat bersemangat untuk keluar dari rumah dan pindah ke perguruan tinggi, mengganggap itu sebagai bagian dari "awal baru".
PENDIDIKAN MEMIHAK SI KAYA
Di Korea Selatan, persaingan ketat untuk masuk ke sekolah-sekolah elit sudah bukan rahasia lagi. Para pengamat berpendapat, sistem ini justru menguntungkan golongan kaya.
Semua siswa SMA senior wajib mengikuti ujian masuk perguruan tinggi nasional. Saking pentingnya ujian ini, pesawat terbang bahkan dilarang terbang atau dialihkan agar para peserta ujian tak terganggu oleh bising.
Banyak siswa mempersiapkan diri bertahun-tahun lamanya untuk ujian krusial ini. Sebagian menghabiskan ratusan hingga ribuan dolar per bulan di lembaga-lembaga bimbingan belajar yang disebut "hagwon".
Pada 2022 , masyarakat Korea Selatan menggelontorkan 26 triliun won (sekitar Rp312 triliun) untuk pendidikan swasta, melonjak 10,8% dari tahun sebelumnya, menurut Badan Statistik Korea Selatan. Data Kantor Berita Yonhap melaporkan, rata-rata pengeluaran per siswa mencapai 410.000 won (Rp4,8 juta) per bulan, naik 11,8% dari 2021.
Tujuan mereka adalah memperoleh bangku di kampus-kampus terbaik: Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University. Ketiganya dikenal dengan singkatan SKY.
Siswa yang nilainya tak cukup memenuhi syarat biasanya akan mengulang ujian berkali-kali demi menembus gerbang perguruan tinggi papan atas.
Sekitar seperlima pendaftar bahkan rela menangguhkan pendidikan formal selama setahun untuk fokus persiapan ujian ulang, ungkap riset Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2022 berjudul "Policies to Increase Youth Employment in Korea" (kebijakan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja di kalangan kaum muda Korea).
Persaingan tak berhenti sampai di situ. Di bangku kuliah, para mahasiswa "tak cukup hanya berprestasi di kelas, tapi juga harus mengikuti kelas-kelas tambahan, seperti bahasa Inggris dan kegiatan ekstrakurikuler lain" demi memoles curriculum vitae dan agar lebih dihargai di dunia kerja, tutur Kwak Yoon-kyung, peneliti di Korea Institute for Health and Social Affairs, satu lembaga yang didanai pemerintah.
Dukungan finansial orang tua pun jadi krusial, belum lagi jaringan koneksi yang mungkin bisa membuka pintu ke karier atau industri tertentu di masa depan, tambahnya.
“BUKAN NEGARA PELUANG KEDUA”
Di Korea Selatan, banyak anak muda jorjoran berusaha masuk universitas prestisius serta memperelok CV mereka. Alasan di balik fenomena ini bercabang, dan dampaknya pun meluas hingga ke pasar kerja dan masyarakat Negeri Ginseng tersebut.
Salah satu alasannya adalah akses ke jaringan sosial yang bisa membantu mereka menanjakkan karier di kemudian hari, ujar Eun Suk, asisten profesor departemen kesejahteraan sosial di Duksung Women’s University.
Alasan lain, Korea Selatan "bukan negara peluang kedua," tegasnya. "Sungguh brutal bahwa jalan hidup seseorang ditentukan oleh satu ujian masuk perguruan tinggi."
Masuk universitas elite meningkatkan peluang bekerja di perusahaan besar atau menjadi pegawai negeri sipil.
Minat anak muda terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) tergolong minim: hanya 4% dari mereka yang kalangan usia 13–34 tahun, menurut survei pemerintah 2021.
Penelitian OECD mencatat bahwa perusahaan dengan minimal 300 karyawan menggaji pekerja muda 50% lebih tinggi dibanding perusahaan dengan 10 karyawan atau kurang. Ketimpangan ini melebar seiring usia pekerja. Selain itu, di perusahaan kecil, risiko menjadi pekerja tidak tetap dengan perlindungan sosial dan ketenagakerjaan yang rendah pun lebih tinggi.
"Jarang sekali anak muda yang memulai karier di bisnis kecil bisa pindah ke perusahaan besar," imbuh Eun Suk. Namun, dengan jumlah pelamar yang membeludak untuk kursi terbatas di perusahaan besar, "persaingannya pun makin sengit."
Dua pertiga responden survei pemerintah ingin bekerja di perusahaan besar, instansi pemerintah, atau BUMN. Lulusan perguruan tinggi lebih memilih mengantre untuk pekerjaan di salah satu dari ketiganya daripada memenuhi kekurangan tenaga kerja di UKM, ungkap penelitian OECD.
Inilah salah satu alasan mengapa tingkat pengangguran kaum muda Korea Selatan lebih rendah dari rata-rata di antara 38 negara anggota OECD: hampir 9 poin persentase lebih rendah pada 2021, di angka 44,2 persen.
Di sana, lebih dari 1,26 juta kaum muda (usia 15 hingga 29 tahun) menganggur. Menurut data pemerintah per Mei 2023, lebih dari setengahnya, sekitar 678.000 orang, menyandang gelar sarjana atau lebih tinggi.
Bagi kelompok usia 25 hingga 29 tahun, tingkat pengangguran mencapai 6,1 persen, lebih dari dua kali tingkat pengangguran keseluruhan sebesar 2,7 persen.
Proporsi generasi muda yang menjadi pekerja tidak tetap (paruh waktu, kontrak jangka waktu tertentu, dan pekerja atipikal) juga relatif tinggi, yaitu 42,1 persen pada tahun 2021, menurut Badan Statistik Korea.
MENGURUNG DIRI
Jalan menuju kesuksesan yang kian sempit berdampak pada kesehatan mental kaum muda. Yoo Seung-gyu, 30, tak sekadar mengetahui hal ini — ia pernah mengalaminya sendiri.
Di usia 19 tahun, ia menarik diri dari dunia dan mengurung diri di kamar selama lebih dari dua tahun. Setelah menjalani wajib militer, ia kembali jadi “pertapa” selama sekitar dua tahun.
Seung-gyu mengaku tertekan oleh ayahnya, dan perasaannya makin buruk tiap kali kedua orang tuanya bertengkar. "Ada semacam rasa tidak berdaya — mau bagaimana pun saya bicara, mereka tidak bakal mendengarkan," ujarnya.
Masa-masa ia mengurung diri — dikenal di Jepang dengan istilah "hikikomori" — berakhir ketika ia mencari informasi online dan menyadari bahwa ia termasuk dalam kategori ini. Ia pun menemukan organisasi Jepang yang tak lagi aktif, K2 International, yang membantu orang-orang seperti dirinya.
Organisasi tersebut mengelola rumah bersama untuk para “pertapa” ini serta, yang lebih penting, memberikan perhatian dan dukungan guna menanamkan bahwa "gagal itu wajar," ujarnya.
Ada beragam faktor yang mendorong anak muda mengurung diri, mulai dari gagal memperoleh pekerjaan atau masuk institusi pendidikan tertentu hingga kandasnya hubungan. "Kebanyakan dari mereka jadi agak terpuruk ketika merasa tak sebaik orang lain di masyarakat yang kompetitif," jelas Seung-gyu.
Kini ia menjalankan perusahaan sosial bernama Not Scary untuk membantu orang-orang yang mengurung diri, umumnya yang sudah berdiam di rumah saja dan menghindari hubungan sosial selama enam bulan atau lebih. Kelompok usia paling umum adalah 20-an dan 30-an tahun, ujarnya.
Sekitar 3,1 persen warga Korea Selatan usia 19 hingga 39 tahun teridentifikasi mengurung diri, dan pemerintah telah mengumumkan akan berupaya lebih untuk membantu mereka.
Pada April 2023, Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga menyatakan akan memberikan tunjangan bulanan hingga 650.000 won (Rp7,6 juta) kepada individu berusia 9 hingga 24 tahun dalam keluarga yang berpenghasilan di bawah median nasional.
Tunjangan ini, berikut subsidi lain bagi yang layak menerimanya, bertujuan membantu mereka "memulihkan kehidupan sehari-hari dan kembali berintegrasi ke masyarakat," jelas kementerian itu.
Not Scary saat ini mengelola rumah bersama dengan sembilan penghuni, termasuk Seung-gyu. Pihak keluarga penghuni membayar biaya bulanan sebesar 1,55 juta won. Kegiatan kelompok di rumah tersebut meliputi sesi olahraga dan persiapan untuk pertunjukan drama atau komedi.
Ruang tinggal bersama merupakan metode "paling efektif" untuk membantu orang-orang ini membangun kembali hubungan sosial, sebab "ada batasnya kalau cuma mengandalkan konseling dan rumah sakit", ungkapnya. "Penting sekali untuk punya ruang fisik tempat bisa bertemu dengan sesama, seperti dulu waktu masih bersekolah."
Proses rehabilitasi rata-rata membutuhkan waktu 18 bulan, dan Not Scary menawarkan dukungan berkelanjutan serta mengundang para mantan penghuni untuk reuni, ujarnya. Ia menambahkan, organisasi ini tidak menerima dana pemerintah, namun memperoleh pemasukan lain dari penyelenggaraan lokakarya dan ceramah, produksi konten, serta pendanaan dari beberapa yayasan swasta.
USULAN KEBIJAKAN
Para ahli berpendapat, Korea Selatan perlu lebih memperhatikan prospek lulusan universitas non-SKY dan lembaga kejuruan untuk merangkul potensi kaum muda secara lebih luas.
Dari ratusan ribu peserta ujian masuk perguruan tinggi di Korea Selatan, hanya 2% yang diterima di kampus-kampus SKY yang prestisius.
"Anak-anak muda lulusan non-SKY harus punya jalan untuk mewujudkan impian ... meskipun tidak mendapatkan hasil yang diharapkan dalam ujian masuk perguruan tinggi," ujar Eun Suk, salah satu pakar.
Ia juga menyoroti kurangnya minat generasi muda dalam berwirausaha. Ia mendorong pemerintah untuk meningkatkan pembinaan bisnis kecil dan memastikan akses kredit yang lebih mudah.
"Sulit bagi anak muda untuk bangkit kembali setelah mengalami kegagalan."
Laporan OECD menganjurkan universitas untuk menghapus batasan penerimaan mahasiswa berdasarkan jurusan, agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Rekomendasi lainnya adalah perluasan sekolah-sekolah Meister, model pendidikan kejuruan ala Jerman yang memadukan pendidikan dan pengalaman kerja.
TEMPAT TINGGAL SEADANYA
Muda-mudi yang diwawancarai CNA Insider memanfaatkan berbagai sumber daya pemerintah yang ada untuk bertahan.
Warga Seoul, Park Jong-min, 30, ingin meraih masa depan yang lebih baik melalui pemrograman web, setelah melewati masa kecil yang sulit dan lepas dari kecanduan game.
Ibunya minggat ketika dia berumur satu tahun, dan dia serta ayahnya pindah selagi ayahnya gonta-ganti pasangan. Selain itu, ayahnya gemar minum-minum. Park Jong-min kabur di usia 16 tahun, berlindung di pusat penampungan remaja, kemudian di rumah sepupunya.
Ia mencoba melanjutkan pendidikan di universitas yang didanai negara, namun kecanduan game menyeretnya ke liang hutang sebesar 50 juta won.
Pernah berpikir untuk bunuh diri, dia membuat saluran YouTube untuk bicara tentang kehidupannya. Berkat simpati dari berbagai pihak, ia berubah pikiran dan terdorong untuk terus maju.
Selama lima tahun terakhir, ia tinggal di “goshiwon”, fasilitas sempit bergaya asrama yang ditujukan untuk orang-orang berpenghasilan rendah serta mereka yang tengah belajar untuk ujian ulang. Jong-min telah membayar utangnya selama delapan tahun, dan masih tersisa enam tahun lagi.
Dia hidup dari tunjangan negara sebesar sekitar 1,5 juta won (Rp17,6 juta) tiap bulannya, dan sebagai gantinya dia bekerja di satu fasilitas pemerintah yang membuat tas belanja. Dia berharap bisa mendaftar di akademi pemrograman web yang didanai pemerintah tahun depan.
“SAYA TIDAK MENYESAL”
Sementara banyak anak muda Korea Selatan berlomba-lomba mengejar kursi di ketiga kampus SKY, Kim Myung-jun memilih jalan berbeda. Ia bekerja untuk membiayai kehidupannya sendiri, sementara orang tuanya membiayai pendidikannya.
Keputusan ini tentu tak mudah. Di tahun terakhir kuliahnya pada 2020, Myung-jun terpaksa mengambil cuti karena keterbatasan finansial. Ditambah lagi, pandemi membuat kuliah berlangsung online, yang menurutnya kurang optimal.
Ia pun banting tulang dengan dua pekerjaan: manajer infrastruktur di perusahaan IT dan menjalankan bisnis keamanan pribadi, Guardius .
Ide perusahaan keamanan ini lahir dari pengalaman Myung-jun yang pernah bekerja sebagai petugas keamanan paruh waktu. Kini, Guardius memiliki enam karyawan tetap dan mempekerjakan sekitar 100 pekerja lepas di musim sibuk.
Hari-harinya tak kenal henti. Saat tidak mengejar target 12 jam di perusahaan IT, ia mengurusi Guardius. Saat ditemui CNA Insider, jam tangan pintarnya menunjukkan ia hanya tidur 3 jam 13 menit pada malam sebelumnya.
“Saya merasa kesehatan saya agak memburuk, tapi saya berusaha olahraga dan tidur sebaik mungkin. Saya juga mengonsumsi suplemen nutrisi,” ujarnya. “Saat ini saya terlalu sibuk.”
Tak sekadar menanggung beban biaya hidup sendiri, ia juga berupaya menata masa depan dengan cermat. Ia sadar harga rumah kian melambung dan khawatir kaum muda Korea Selatan kelak tak bisa sepenuhnya mengandalkan dana pensiun negara, mengingat populasi lansia terus meningkat pesat.
Kita kembali ke Kim Jaram, yang tinggal sendirian di “officetel” — studio apartemen dalam gedung serba guna. Impiannya sederhana: punya waktu luang untuk berolahraga, bertemu kawan-kawan, dan bepergian — serta mungkin bisa berbulan madu keliling dunia bersama pasangan suatu saat nanti.
Dulu, di umur 20 tahun, ia tak pernah membayangkan hidup akan seperti ini. Tadinya ia mengira ia cukup bekerja seperti orang tuanya dan menikah di usia 20-an akhir atau 30-an awal.
“Ternyata berbeda, tapi saya tidak menyesal,” ujarnya. “Saya ingin (pembaca dan penonton) tahu bahwa ada orang Korea yang bersemangat dan menikmati pekerjaan mereka.”